61 views

Kritik Nalar Mu’tazilah atas “Kebaikan” dan “Keburukan”

Kritik Nalar Mu’tazilah atas “Kebaikan” dan “Keburukan”

Oleh : Muhammad Bagus Fatihulridla

Secara bahasa, Mu’tazilah berasal dari kata “I’tazala” yang bermakna memisahkan diri. Istilah ini diambil berdasar sejarah awal kemunculan kelompok ini, yakni sejak pemisahan diri pencetus paham ini: Washil bin Atho’ dari Majelis Imam Hasan Al-Bashri. Mu’tazilah muncul sejak era Dinasti Umayyah, kemudian ajarannya berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasyiah.[1]

Kelompok ini berciri-khaskan pemberian porsi yang berlebihan terhadap akal dalam memahami agama. Tak pelak, pemahaman ini melahirkan penyelewengan demi penyelewengan. Termasuk pemahaman mereka mengenai “kebaikan” dan “keburukan”.

Di sini, keburukan diartikan sebagai suatu tindakan yang dipuji di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat, bertolak belakang dengan keburukan yang merupakan suatu tindakan yang dicela di dunia dan mendapat siksa di akhirat.

Mu’tazilah meyakini bahwa kebaikan dan keburukan (dengan term di atas) dapat dinilai berdasarkan akal manusia. Nilai-nilai kemaslahatan yang ditemukan akal pada suatu pekerjaan dapat mengantarkan pekerjaan tersebut dihukumi baik, dan sebaliknya. Sebagaimana kejujuran adalah kebaikan, kebohongan adalah keburukan. Keadilan adalah kebaikan, aniaya adalah keburukan, dan lain sebagainya. Mu’tazilah berpandangan, kedatangan syari’at hanya merupakan penegas terhadap hal-hal tersebut.

Pemahaman semacam ini berimplikasi pada keyakinan sekte Mu’tazilah bahwa orang-orang yang hidup pada masa kosongnya utusan (fatroh) dikenai tuntutan hukum (taklif). Begitu juga orang-orang yang hidup semasa Rasul akan tetapi ajarannya tidak sampai pada mereka.

Tak berhenti di situ, nas-nas yang secara jelas menentang keyakinan sekte ini, akan mereka ta’wil. Sebagaimana ayat:

(15 : وَمَاكُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّي نَبْعَثَ رَسُوْلًا (الإسراء

“Aku (Allah) bukanlah dzat yang mengadzab sampai aku mengutus Rasul.” (Qs. Al-Isra: 15)

            Mu’tazilah menta’wil lafadz رسول (Rasul) dalam ayat di atas dengan عقل (akal).

            Secara sepintas, pemahaman ini menemui ruang dalam pembenaran kita. Akal kita secara sepintas memang bisa menemukan nilai-nilai kebaikan secara naluriah tanpa andil syari’at. Benarkah demikian?

baca juga: Kelahiran Ahlusunnah

Mengkritik Pemikiran Mu’tazilah

            Secara sepintas memang harus diakui, bahwa akal dapat menemukan nilai-nilai kebaikan atau keburukan secara naluriah. Akan tetapi ketika ini diposisikan menjadi sebuah “hukum” bernama kebaikan yang diridhoi-Nya dan sebuah “hukum” bernama keburukan yang dibenci-Nya, maka pola pikir ini akan menemui masalah.

            Pertama, nilai-nilai yang ditemui akal bagaimanapun baiknya, ia akan membuka ruang relativitas. Dengan artian ia secara manusiawi akan dinilai baik ketika sesuai dengan kecendrungan dari penilai itu sendiri dan memungkinkan pandangan yang berbeda, semisal:

            Kematian seorang raja adalah musibah bagi rakyat-rakyat yang senantiasa memujanya. Di sisi lain, kematiannya merupakan anugerah bagi pihak musuh. Maka kematian dalam kasus ini adalah kebaikan bagi sebagian manusia, justru merupakan keburukan di sisi yang lain. Ketika produk kecendrungan ini digunakan sebagai hukum yang mengikat manusia, maka ia akan menemui jalan buntu.

            Kedua, penilaian akal tak akan menemukan kesejatian disebabkan ia dilatari oleh kecenderungan prasangka. Prasangka ini dalam prakteknya,akan menuntut akal memberikan keputusan secara tergesa-gesa.semisal : orang melihat tali dalam kegelapan dan berprasangka bahwa itu ular,maka secara langsung ia akan memastikan bahwa itu orang tersebut dan menjauhinya.Kembali ia menemui jalan buntu2

            Kedua masalah di atas tidak akan ditemui ketika sumber nilai baik atau buruk tersebut adalah syari’at. Ia adalah sumber nilai yang melepaskan manusia dari ikatan kecendrungan yang berbeda-beda mengenai kebaikan dan keburukan[2]. Karena syari’at berada di luar manusia. Syari’at akan bersifat kukuh sebagai hukum, karena bersumber dari Allah swt. Syari’at suci dari kecendrungan-kecendrungan yang menghalanginya dari kesejatian atas suatu hal.

            Pada akhirnya, seberapa hebat apapun kekuatan akal, ia bersifat terbatas. Menggunakannya sebagai sumber utama nilai hanya akan berujung kegagalan. Maka, menempatkannya sesuai posisinya adalah keniscayaan. Wallahua’lam.

tonton juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Kritik Nalar Mu’tazilah atas “Kebaikan” dan “Keburukan”

[1] Aswaja Center PWNU Jatim, Khazanah Aswaja, hlm. 333.
[2] Abu Ishaq As-Syatibi, Al-Muwafaqot, vol. 2. Hlm. 30. Cetakan. Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.