HomeAngkringFenomena Kecil-kecil Mondok

Fenomena Kecil-kecil Mondok

0 0 likes 84 views share

Beberapa tahun belakangan ini Pondok Pesantren Lirboyo -mungkin juga yang lainnya- kebanjiran santri di bawah umur, ketika awal ajaran baru tiba tidak sedikit dari para pengais ilmu itu dari kalangan anak–anak, meski mungkin tidak pernah di lakukan pendataan langsung, kenyataannya jumlah mereka semakin banyak di jumpai dilingkungan Pondok.

Jauh dari orang tua mungkin sudah biasa bagi usia remaja, namun ketika hal demikian di hadapkan pada anak-anak, adalah sebuah tantangan tersendiri, baik dari sisi orang tua maupun si anak itu .

Lingkungan pesantren, layaknya bengkel yang menangani kerusakan-kerusakan pada sebuah mesin, disana bercampur baur mana yang memang pada awalnya baik dan yang perlu untuk di perbaiki, jadinya pengaruh satu sama lainnya tidaklah bisa di hindari, sehingga semua santri bisa kenal dengan bermacam karakter dan latar belakang teman seperjuangannya.

Biasanya, santri yang masih kecil di jadikan sebagai bahan guyonan, semisal, berhubung usia mereka masih terbilang paling belia, cekletukan kawan-kawannya yang lebih tua “kecil-kecil sudah mondok”, atau yang sedikit rusuh “kamu baligh di pondok ya“ tapi tidaklah perlu di risaukan, yang pasti dengan mau di pesantren semua ingin memperbaiki hidupnya.

Motif orang tua memondokkan anaknya semenjak dini, jelas bermacam-macam. Ada yang mungkin sudah merasa antiklimaks dengan model pendidikan non-pesanten, karena alih-alih kemumpunan siswa dalam intelektual yang di dapat, tapi malah kemerosotan moral yang di bawa pulang, sehingga mereka lebih memercayai prinsip pendidikan model pesantren. atau merasa takut dengan lingkungan yang memprihatinkan di sekitar anak dan bermacam sebab lainnya.

Meskipun demikian patut di sadari, seperti yang telah di singgung di atas, bahwa lingkungan pesantren sangatlah kompleks soal hal-ihwal dan latar belakang santrinya. Sehingga pengaruh lingkungan bisa saja sangat berperan , lebih-lebih pada anak usia dini yang masih sangat labil.

Tanpa memandang tujuan-tujuan tadi, sebenarnya bagaimana pandangan syariat menyoal kewajiban orang tua atau siapa saja yang berada dibawah wewenangnya,berkaitan pendidikan anak di usia dini, dan bagaimana fase-fase awal mecari ilmu yang di wajibkan bagi anak dan lain-lainnya.

Pada mulanya semua ilmu itu baik dan satu, tidak ada penyekatan seperti sekarang ini, kalau yang mempelajari tentang shalat, zakat, haji dan sejenisnya di namakan ilmu agama, sedangkan yang mengkaji selain itu seperti Matematika, fisika, kimia adalah ilmu umum. Tidak demikian, semua ilmu hanya satu tujuannya, yakni menuju terhadap Tuhan, dengan ilmu seseorang mampu menjadi hamba yang mengenal dan taat kepadaNya . Penyekatan semacam ini merupakan hal baru, sebab Al-Quran yang merupakan induk bermacam ilmu, mengemasnya menjadi satu paket, semua ilmu yang sudah adamaupun yang belum diketahui manusia ada di dalamnya. Dan keseluruhannya bertujuan satu, Menemukan Tuhan.

hukum mencari ilmu, sebagaimana yang lumrah kita ketahui adalah fardlu ‘ain. Namun ilmu seperti apakah yang di hukumi sedemikian itu ? ulama merumuskan, bahwa hukum fardlu mencari ilmu dalam konteks macamnya ilmu itu sendiri adalah ilmu yang sifatnya mendesak dan sedang di hadapi, selebihnya tidak. Sehingga bukan semua jenis ilmu wajib di pelajari.

Semisal anak sedang melakukan transaksi sewa, maka hukum-hukum yang terdapat Mengenai sewa-menyewa sudah di ketahui, mulai dari syarat-rukunnya, perkara yang merusak akad dan lainnya.  Atau yang jelas-jelas bersentuhan di setiap harinya seperti shalat, anak harus sudah tahu apa berkaitan dengan shalat, mulai dari syarat, rukun dan yang membatalkannya.

Sehingga dengan posisinya berada di pesantren kiranya sudah sangat tepat dan juga sudah menggugurkan kewajiban orang tua terhadap pendidikan anak, demi mencetak generasi terbaik di zamannya kelak dan terhindar dari kemerosotan moral yang semakin menjadi-jadi, semoga.