Memantapkan Peran Aswaja

    LirboyoNet, Kediri – Malam Jum’at memang “sakral”, terlebih kemarin (05/11). Pasalnya, di Aula Al Muktamar dilaksanakan agenda tahunan Jam’iyyah Nahdliyyah. Kegiatan ini menjadi salah satu tanggungjawab yang dibebankan kepada M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien).

    Dalam kesempatan kali ini, para santri berkesempatan untuk berdialog dengan KH. Muhibul Aman Ali, salah satu pengasuh Ponpes Roudlotul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan. Manual acara kurang lebih serupa dengan seminar keagamaan yang sudah-sudah, yakni penjabaran materi yang diikuti oleh sesi tanya jawab.

    Menurut Bapak Abdul Kholiq Dauli, Ro’is Am M3HM, mengutip dari dawuh almaghfurlah KH. Ahmad Idris Marzuqi, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat akidah yang semakin hari semakin dirongrong oleh pihak-pihak luar. Karena sangat riskan untuk melepas santri bergumul dengan masyarakat tanpa membekali mereka dengan akidah yang cukup, karena permasalahan akidah kontemporer di masyarakat terus berkembang.

    Gus Muhib, panggilan akrab KH. Muhibul Aman Ali, membuka orasi beliau malam itu dengan mengisahkan latar belakang lahirnya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. “Perkembangan aliran Wahabi di tanah kelahiran Islam pada waktu itu, membuat para alim Nusantara waswas. Gerakan mereka semakin gencar untuk meratakan monumen-monumen bersejarah milik umat muslim.” Kemudian, sebagai reaksi dari membabi-butanya Wahabi, dibentuklah Komite Hijaz, yang bertugas untuk mereduksi kegiatan wahabi dengan berdiplomasi. Beberapa kiai dikirim ke Arab Saudi. “Jadi lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) adalah bentuk reaksi keprihatinan para ulama, terkait masa depan Islam nantinya,” ujar beliau. Itu pula yang mendasari kembali dilahirkannya aliran ahlussunnah wal jamaah oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.