Keamanan atau perdamaian termasuk nikmat agung yang diberikan Allah SWT. Tanpa adanya rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, maka akan sulit kiranya untuk melakukukan aktifitas. Oleh karena itu, termasuk awal dari do’a Nabi Ibrahim AS agar Allah SWT memberikan anugerah keamanan kepada negerinya. Hal ini terekam dalam QS. al-Baqarah ayat 126 Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa. Dia berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman. Berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya.”
Menurut Fakhru ad-Din ar-Razi, alasan Nabi Ibrahim AS berdo’a lebih dahulu memintakan perdamaian atau keamanan pada negerinya. Hal ini merupakan bukti bahwa perdamaian atau rasa aman termasuk nikmat yang paling agung yang diberikan Allah SWT. Karena dengan tanpa adanya perdamaian atau rasa aman pada suatu negara kemaslahatan agama dan dunia tidak akan tercapai.[1]
Menjaga keamanan tidak sekedar dengan memperkuat kedaulatan negara
Menjaga keamanan tidak sekedar dengan memperkuat kedaulatan negara dalam bidang kemiliteran. Usaha menjaga keamanan negara termasuk membentengi negara dari ideologi pemecah belah persatuan negara. Ideologi ini seperti radikalisme, terorisme dan lain sebagainya. Karena ketika negara telah terkontaminasi ideologi ini, maka perang saudara setanah air akan sangat rentan terjadi. Sehingga pertumpahan darah akan terjadi dan negara akan mudah dikuasai oleh penjajah. Maka dari itu, amatlah berharga perdamaian dan keamanan pada suatu negara.
Belajar dari negara-negara lain yang hancur
Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang hancur karena tidak adanya perdamaian di negara tersebut. Kita selalu belajar dari negara lain yang porak-poranda akibat tidak adanya keamanan dan perdamaian. Maka, kita akan mengetahui betapa bernilainya sebuah keamanan pada suatu negara. Karena dengan tidak adanya perdamaian dan keamanan suatu negara, maka akan mudah diekspansi oleh pihak lain.
Baca Juga: Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP)
[1] Fakhr ad-Din ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cetakan ke; 1, 2000), vol. 19 hal. 107.
اعلم أنه سبحانه وتعالى حكى عن إبراهيم عليه السلام في هذا الموضع أنه طلب في دعائه أموراً سبعة: المطلوب الأول طلب من الله نعمة الأمان وهو قوله رَبّ اجْعَلْ هَاذَا الْبَلَدَ امِنًا ( البقرة 126 ) والابتداء بطلب نعمة الأمن في هذا الدعاء يدل على أنه أعظم أنواع النعم والخيرات وأنه لا يتم شيء من مصالح الدين والدنيا إلا به.
Ikuti Juga Social Media Kami





