Silaturahim FORSIB BMPD Jawa Timur

(lirboyo.net) Sabtu, 23 Nopember 2013. Suasana Masjid Al Hasan sedikit berbeda, beberapa permadani tertata rapi, di sebelah selatan mihrab terdapat tulisan Silaturrahim FORSIB (Forum Silaturahim Insan Bank) BMPD dan Pondok Pesantren Lirboyo.

Rombongan tiba di Pondok Pesantren Lirboyo sekitar pukul 10.00 Wib dengan menggunakan armada tiga bus dan langsung disambut Pimpinan Pondok serta  beberapa pengurus. Kedatangan rombongan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan.

Acara silaturahim dimulai pukul 10.30 WIB setelah para peserta istirahat sejenak. Pembawa acara langsung memimpin dengan mengawali pembacaan surat Al Fatihah dengan harapan Acara Silaturrohim berjalan lancar dan bermanfaat.

Sambutan selamat datang dari Pengurus diwakili oleh Bapak HM. Mukhlas Noer, beliau sedikit menjelaskan manfaat silaturahim yang begitu besar. Tak lupa menyampaikan rasa terimakasih kepada para insan perbankan yang telah meluangkan waktu untuk bersilaturrahim dan juga menimba ilmu walaupun tidak lama.

Sambutan diteruskan oleh perwakilan dari rombongan selaku ketua FORSIB bapak Budi, beliau mengucapkan terimakasih atas kedatangannya kepondok Pesantren Lirboyo diterima dengan santun dan ramah, harapannya semoga kegiatan ini bisa bermanfaat bagi para anggota.

Pengenalan Pondok Pesantren Lirboyo dipaparkan oleh KH. An’im Falahudin Mahrus. Berawal dari perjalanan sang pendiri yaitu KH. Abdul Karim yang dulu dikenal dengan nama Manab. MbaKarim menimba ilmu pada Syaikhuna Kholil Bangkalan Madura selama 27 tahun dan diteruskan ke Tebuireng yaitu hadrotus syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang tak lain adalah teman ketika belajar di Bangkalan. Setelah menimba ilmu cukup lama beliau dinikahkan dengan putri KH. Sholeh Banjar Melati Kediri dan dibuatkan rumah gubug di Desa Lirboyo yang kelak menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Lirboyo yang sekarang sudah berumur 100 tahun. Gus An’im (sapaan beliau) menjelaskan perkembangan Pondok Lirboyo yang sudah pesat dengan  jumlah santri sekitar 12.000 orang.

Penerus Pondok dilanjutkan oleh dua menantu yaitu KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Keduanya bertugas didalam pondok dan berinteraksi dengan masyarakat luar. Gus Anim menyayangkan pejuangan pesantren tidak dihargai, padahal ketika zaman penjajahan para santri khususnya Lirboyo terus bergerilya, salah satunya beliau bercerita ketika zaman penjajahan jepang, Kiai Mahrus mengutus  santri yang masih kecil namanya Sulaiman, santri disuwuk (jawa) kemudian diutus untuk mengintai markas jepang. Hal ini membuktikan betapa besar perjuangan Pondok Pesantren demi kemerdekaan negara.

Para alumni juga diharapkan bisa berkembang di semua bidang. Dalam dunia perbankan ada salah satu Alumni Lirboyo yang sekarang menjadi Dewan Pengawas Syariah yaitu Drs. Hasanudin. Harapannya bisa muncul alumni-alumni lain yang berkiprah dimasyarakat.

Di akhir penjelasannya beliau mengambil sebuah hadis bahwa kalau orang yang berhutang kemudian dia sanggup membayarnya maka allah akan memberikan pertolongan dengan syarat mempunyai niat untuk membayar dan pemasukannya mampu untuk membayar . beliau menambahkan modal pokok untuk kehidupan seseorang adalah dengan sifat shidiq (kejujuran) dan amanah (dipercaya). Acara  ditutup dengan doa dipimpin langsung oleh Gus Anim dan penyerahan cindera mata dari FORSIB dan Pondok, setelah itu, dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah.

KAJIAN SPIRITUAL

Setelah ishoma, acara silaturrohim dilanjutkan dengan kajian spiritual yang disampaikan oleh KH. Reza Ahmad Zahid LC. MA. Gus reza (sapaan akrab) mengawali penjelasannya tentang perjalanan penyebaran dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah sampai pada kepiawaian nabi dalam mengatur perekonomian pada saat itu, perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah diharapkan bisa berkembang dengan pesat baik dalam bidang keagamaan maupun perekonomian. Setelah menjelaskan sekitar satu jam dilanjutkan tanya jawab. Muncul pertanyaan dari para anggota, yaitu bagaimana untuk memotivasi anggotanya agar aktif dalam kegiatan FORSIB?. Beliau mengambil kisah Nabi Ilyas as. yang sampai sekarang masih hidup, ketika menjelang ajal Nabi Ilyas as. didatangi malaikat Izroil, tapi Nabi Ilyas menangis karena ketika di bumi ada perkumpulan, majelis dzikir dan halaqah kelimuan siapa yang akan menjaganya, dengan penjelasan tersebut Nabi Ilyas diberi umur sampai hari akhir. Ada satu pertanyaan menarik yaitu bagaimana anak agar mau mondok? Beliau menjawab ajak anak ke pondok-pondok, silaturahim kiai dan tak lupa disuwuk langsung disambut tawa.

Di penghujung pemaparanya beliau berbagi ilmu tentang konsep untuk berorganisasi yang diambil dari syair nadzam Alfiyah Ibnu Malik bahwa angkatlah bersama, terbukalah untuk semua dan kerjakanlah tugas yang diberikan sehingga bisa berjalan bersama seperti ketika berdzikir kepada Allah. Beliau menambahkan empat hal yang menjadi benteng untuk orang lebih baik dengan adab, Ilmu , bersungguh-sungguh dan amanah. Acara ditutup dengan shalat ashar berjamaah. akhlis

Peringatan 7 & 40 Hari serta Fida’ Kubro Wafatnya KH. M. Thohir Marzuqi

LirboyoNet, Kediri – Bakda isya malam Jum’at (10/10/13), yang bertepatan dengan tujuh harinya KH. M. Thohir atau adik kandung KH. A. Idris Marzuqi, ratusan santri sudah memenuhi isi serambi. Tak sedikit yang sudah mulai mengantuk,  sebagian yang lain masih tetap dengan mata menyala melihat layar yang disediakan di setiap ruang serambi. Namun hingga pukul delapan kurang, acara tersebut belum juga mulai. Hingga Romo KH. M. Abdul Aziz Manshur rawuh, sekitar pukul 08:12, acara tersebut dibuka di ndalem kasepuhan.

Pembukaan yang dibawakan oleh HM. Mukhlas Noer selaku MC, menyebutkan beberapa nama yang akan mengisi acara tersebut. Yakni pertama, pembacaan ayat suci Al-Quran bittartil, yang dilantun syahdukan oleh Ajmil Ikhwan, santri kamar N7 yang dengan daya pikatnya, mampu menghening ratakan suasana.

Kemudian disusul pembacaan surat Yasin oleh KH. Abd. Hamid Abd. Qodir, dan belaiu, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. A. Idris Marzuqi sendiri yang langsung menyambungnya dengan pembacaan tahlil. Setelah usai, Yai Aziz memberikan sambutannya perihal ucapan terimakasih kepada para hadirin, para santri, dan orang yang bersangkutan.

Beliau juga sempat menuturkan pentingnya acara seperti ini, Sebagian yang bisa kita ambil pelajaran adalah: Barang siapa yang mendoakan orang yang telah meninggal, niscaya orang-orang akan mendoakannya ketika ia meninggal kelak.

Selepas itu,  acara Fida’ Kubro segera pindah lokasi ke serambi masjid yang telah dipenuhi oleh santri. Diawali dengan pembacaan Al-ikhlas 100 kali, oleh HM. Mukhlas Noer, dan dipuncak acara KH. M. Abd. Aziz Manshur kembali mengisi acara dengan Mauidzhohnya yang mendapat tanggapan indah oleh semua santri. Beliau menuturkan beberapa pentingnya mendoakan orang yang telah wafat. Keutamaan menghadiri acara seperti itu, dan beberapa kisah pembawa hikmah tentang kematian dan orang yang telah meninggal itu sendiri,

“Orang atau mayat yang diziarahi pada hari Jum’at, sesungguhnya bisa melihat sang peziarah yang mengunjunginya seolah hanya terpisah oleh kaca yang bening.” Tentunya, santri manapun itu, seperti apapun ia, yang ikut membacakan bacaan dalam acara tersebut, telah disaksikan sendiri oleh KH. M. Thohir, pada malam itu. Betapa beruntungnya.

Dan beliau juga menjelaskan bahwa orang dalam kubur itu merindukan sanak keluarganya, berikut orang yang dekat dengannya untuk datang berziarah.

ما ميت في قبره الا كالغارق المتغوث  يرجو دعاء الى اقاربه واحبته واصدقائه-

Yang artinya kurang lebih: tak ada seorang mayyit di dalam kuburnya kecuali ia laksana orang yang tenggelam, ia membutuhkan doa (sebagai penolong) dari kerabatnya, orang yang dicintainya, dan teman-temannya”

Acara tersebut ditutup dengan do’a. semoga kita mendapatkan barokah ilmu yang banyak lantaran menghadiri acara tersebut, Aminallahumma amien.

Peringatan 40 hari

Hujan mengguyur lirboyo sejak siang, langit mendung menyelimuti suanan 40 hari wafatnya KH. Tohir Marzuqi. Peringatan ini sedikit berbeda dengan 7 hari, pasalnya tidak bertepatan malam Jum’at, sehingga santri tidak bisa mengikuti karena aktivitas pondok. Selain Dzuriyah juga pengurus dan pengajar diundang serta masyarakat lirboyo dan sekitarnya.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB diawali dengan qiratul qur’an bittartil, selanjutnya membaca surah Yasin yang dipimpin oleh KH. Abdul Hamid Abdul Qodir dari Pondok Ma’unah Sari dan dilanjutkan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur sekaligus doa. Suasana begitu tenang dan khidmat sampai acara pada sambutan atas nama keluarga yang diwakili oleh KH. A. Idris Marzuqi, beliau menyampaikan rasa terimakasih atas kehadiran para tamu dan juga minta maaf mungkin dalam penyambutan dan hidangan kurang berkenan dihati para tamu, diakhir sambutannya beliau juga menyampaikan maaf atas nama almarhum mungkin selama hidupnya mempunyai kesalahan begitu juga ketika ada yang masih mempunyai hak adami dengan almarhum mohon menghubungi keluarga. (ais)

Sambung Silaturahim dengan Mengaji

(lirboyo.net) Jika biasanya serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo dipenuhi oleh para santri muda, Kamis (24/10) giliran alumni yang memenuhi serambi. Ya, pagi itu ada acara rutin yang diadakan Pengajian Kamis Legi.

     Pengajian ini tercetus pada tahun 1990-an atas inisiatif para alumni, jauh sebelum terbentuk Himasal. Jamaah pengajian adalah para alumni baik yang masih berkhidmah di Pesantren Lirboyo maupun sudah mengabdi di masyarakat. Kenapa diutamakan alumni? Komentar para jamaah kebanyakan adalah untuk tetap menjaga hubungan silaturrahim dan ta’alluq bathiniyyah dengan para masyayikh.

      Selain itu karena memang ada banyak berkah dari forum silaturrahim seperti ini. Mungkin ketika di rumah sedang dirundung masalah bisa sharing dengan teman-teman lama. Yang pasti satu semangat yang dibawa alumni dari kediaman masing-masing ke Pengajian Kamis Legi ini adalah agar tak putus tali silaturrahim yang telah dijalin sejak lama.

     Agenda yang dilaksanakan pada setiap acara pagi itu sebenarnya tak seberapa lama. Paling lama mungkin 2 jam. Yang pertama adalah tahlil bersama yang diimami oleh KH. M. Anwar Mashur. Kemudian dilanjutkan dengan pengajian kitab Al Hikam yang dibacakan oleh KH. A. Idris Marzuqi berikut mau’idhoh singkat, terutama menyangkut kabar Lirboyo terkini, menyangkut masalah politik, agenda, atau perkembangan yang lain. Karena tujuan utama adalah sebagai forum silaturahim pengajian Al Hikam sengaja tidak dipercepat khatam, tidak seperti kitab yang lain.

   Dan terakhir sungkem masyayikh. Ada juga beberapa rombongan alumni yang menambahinya dengan agenda sendiri. Seperti sowan masyayikh, ziarah makam mbah kiai sepuh atau mayoran, untuk mengenang masa-masa indah waktu di pondok.

    Setelah sekian tahun berjalan ternyata respon alumni dari berbagai daerah cukup antusias. Terbukti dalam setiap pertemuan Serambi Kuning dan Keramik yang mejadi lokasi acara selalu penuh oleh para jamaah. Bahkan tak sedikit rombongan alumni dari daerah luar karesidenan Kediri yang hadir. Pada pengajian Kamis kemarin saja ada yang dari Surabaya, Malang, bahkan Semarang dan Sragen jawa tengah.

   Dalam Pengajian Kamis Legi kemarin ada satu poin menarik yang disampaikan oleh Romo Kiai Idris, yakni terkait masalah pemilihan calon legislatif yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Pihak keluarga pesantren Lirboyo tidak ada hubungan dengan para caleg nantinya. Menawi mangkeh njenengan nemu wonten spanduk caleg kok mbeto-mbeto nami Lirboyo nopo majang foto kulo nopo Pak Anwar niku nggeh mboten bener. Menawi nyaleg nggeh mboten nopo-nopo tapi mboten sah mbeto nami dzuriyyah bani Abdul Karim,” pesan beliau kepada pada jamaah. Memang pada hari-hari ini sedang gencar-gencarnya para calon wakil rakyat itu mempromosikan dirinya sebagai persiapan untuk berlaga di ajang pemilu kelak.

    Harapan kita semua para santri dan alumni tentunya semoga pengajian Kamis legi yang kian mempererat ta’alluq antara guru dan murid ini akan selalu eksis dan istiqomah ila yaumil qiyamah. Sesuai dengan harapan Romo Kiai Anwar, “Mugi kito tetep diparingi istiqomah saget ngaos KemisLegi.” Amien. (ais)

Peran Kiai Meneguhkan Kedaulatan RI

Jauh sebelum Kiai Mahrus diamanati menjadi anggota Musytasyar Pengurus Besar NU, hasil muktamar NU yang ke-27 di Situbondo pada tahun 1984 M, peran serta kiai mahrus dalam NU sudah dimulai, seperti waktu mengadakan kongres Nu se-Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 dalam menghadapi kedatangan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiai Mahrus beserta iiai yang lain diantaranya kiai-kiai dari Jawa barat, seperti; Kiai Abbas Buntet, Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu mengadakan forum musyawarah untuk menentukan sikap.

Rapat darurat ini dipimpin oleh kiai Wahab Hasbulloh dan menemukan titik temu pada 23 oktober di forum musyawaroh NU. Hadratus syaikh KH. Hasyim Asya’ri atas nama HB [pengurus besar] organisasi Nu mendeklarasikan sebuah seruan Jihad Fi-sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Pesantren dalam konteks buku sejarah Nasional Proporsi yang diberikan pada kurikulum sejarah pengajaran belumlah banyak berpihak pada sejarah pesantren. Apresiasi justru dari pihak sipil, sebagai contoh kecil datang dari Prof. Mansur Suryanegara (sejarawan) yang telah banyak mengulas perjuangan para santri dan kiai tempo dulu dalam memperjuangkan NKRI.

Kita ketahui bersama 10 november dijadikan sekaligus diperingati sebagai hari pahlawan Nasional. Dibalik penetapan itu telah banyak korban yang menjadi Syuhada adalah para Kiai  dalam membentuk barisan tentara Hizbullah (Laskar Santri) dan sabilillah (laskar Kiai) kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang dan mendapat kemiliteran di Cibarusah, Kab. Bekasi Jawa Barat.

Dari sini terdapat suatu keterkaitan dari teks utuh resolusi BAB MEMUTUSKAN, yang telah disepakati pada Muktamar NU ke, 16 Di Purwoketo ‘’Berperang menolak dan melawan penjajah itu Fardlu ‘Ain [yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam,laki-laki, perempian, anak-anak, bersenjata atau tidak] bagi orang yang serada dalam jarak lingkungan 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.’’

Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia, meskipun disisihkan dalam sejarah. Dalam hal ini, kekuatan santri yang tersatukan dalam wadah perjuangan laskar rakyat Hizbullah dan Sabilillah untuk para kiyai ikut andil dalam perjuangan fisik peristiwa 10 november 1945. Laskar ini telah mendapatkan motivasi dari para kiyai kemudian diberangkatkan ke Surabaya.

Para laskar ini berkumpul dan dipusatkan di Singosari, dengan bersenjatakan bambu runcing, katapel, dan senjata tajam. Kekuatan yang tak sebanding, tepat pada tanggal 10 november 1945, pagi-pagi sekali tentara inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan kekuatan persenjataan yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang berbagi bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Arek-arek suroboyo pun berkobar di seluruh kota tanpa terkecuali heroisme jihad dari kiai dan santri, dengan bantuan aktif dari penduduk. Ribuan penduduk yang tak berdosa menjadi korbannya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Urgensi Penulisan Ulang Sejarah

Sebagai wujud untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, kiranya semua element masyarakat berpadu bahu membahu bersatu. Mustahil hal ini tercapai bila perjuangan dijalankan menurut kemauannya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno ”kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”.

Dalam hal ini pesantren mengambilperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, seperti laskar Hizbullah yang didirikan pada 4 Desember 1944, inisiatif dari KH. Wahid Hasyim untuk melatih para pemuda pesantren sebagai tentara regular. Setahun sebelumnya tanggal 03 oktober 1943 atas usulan para ulama, PETA (pembela tanah air) didirikan. Niat dan tujuan para ulama untuk membentuk PETA adalah membangkitkan kembali sifat keprajuritan pemuda Indonesia untuk tetap konsisten memerangi, melawan, dan mengusir kaum penjajah dari muka bumi Indonesia.

Dari pada itu kita sebagai pemuda berkelanjutan (masa depan) sepatutnya untuk lebih peka lagi dalam mempelajari, mewacanakan, menganalisis akan peran kiai pesantren dalan berdiri tegaknya NKRI. Penulis meyakini walaupun belum meneliti secara langsung, hak sejarah pesantren dalam hal ini perjuangan kiai dan santri belum banyak diekspos secara transparan.

Untuk itu tugas kita (baca: santri) bersama untuk lebih mengenali akan perjuangan para kiai, paling tidak untuk ukuran sederhananya mengetahui bahwa kiyai-kiyai pesantren adalah seorang pejuang yang pada masanya tidak hanya berkutat pada kitab semata. Sinkronisasi antara kealiman dan keagamaannya dan mempunyai jiwa nasionalisme wujudkan Indonesia yang bermartabat. Muamir

Istighatsah Akbar 1 Muharram 1435 H.

LirboyoNet, Kediri – Hari Senin (4/11/2013) cuaca siang cukup gelap, langit diselimuti awan mendung yang cukup besar, rintikan hujan sempat turun tapi tak lama. Selang kemudian pancaran sinar matahri kembali turun sehingga sedikit menyengat kulit, tapi tidak menyurutkan semangat para santri untuk istighosah dan doa bersama di Masjid Agung Kota Kediri.

Para santri berduyun-duyun jalan kaki menuju Masjid  Agung dengan memakai baju putih dan sajadah. mengingat kapasitas masjid yang tidak memadai maka jamaah meluber  sampai kejalan raya dan sekitarnya. menjelang detik terakhir pergantian tahun, jamaah terus berdatangan yang didominasi santri sehingga menambah luberan jamaah.

Tampak hadir KH. A. Idris Marzuqi, KH. M. Anwar Manshur, KH. Abdul Qodir Abdul Hamid, KH. Anwar Iskandar  dan KH. A. Mahin Toha. Pukul 16.30 WIB istighotsah pun dimulai yang dipimpin oleh KH. Ilham Nadzir. Setelah itu, sambutan oleh KH. Anwar Iskandar. Beliau menjelaskan bahwa pada zaman sahabat Abu Bakar Shidiq atas usul Sahabat Umar Bin Khottob ditentukanlah awal tahun Hijriyah pada bulan Muharam karena banyak sekali peristiwa yang terjadi pada bulan ini. Harapan beliau membuka lembaran baru hendaknya diisi dengan amaliyah yang baik dan lebih ditingkatkan lagi kualitas iman dan takwa. Pembacaan doa akhir tahun dipimpin langsung oleh KH.M. Anwar Manshur yang diikuti ribuan jamaah termasuk santri  Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah itu, dilanjutkan sholat maghrib berjamaah dan pembacaan doa  awal tahun. (ais)

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah