97 views

Perbedaan Adalah Rahmat

Negara Indonesia adalah negara yang memiliki sejuta kekayaan budaya dan kepercayaan. Dengan slogan “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda namun tetap satu jua, negara indonesia mampu bersama-sama berlayar dibawah satu bendera yakni merah putih.

Namun, oleh pihak tertentu yang mengatasnamakan agama, perbedaan yang seharusnya memunculkan indahnya keberagaman, malah dijadikan sebagai bahan untuk menyalahkan dan memojokkan yang tidak sefaham. Padahal tidak demikian yang dicontohkan oleh para ulama terdahulu yang katanya mereka jadikan sebagai panutan.

Di masa-masa keemasan islam sejarah mencatat, salah satunya di dalam kitab Jazilu al Madzahib, imam As-Suyuti bercerita bahwa, manakala khalifah Harun al Rosyid yang memiliki kedekatan dengan imam Malik bin `Anas, berkeinginan untuk menjadikan madzhab imam Malik sebagai madzhab resmi negara yang beliau pimpin. Beliau berkata kepada imam malik;

“Wahai Abu Abdillah (Imam Malik) hendaknya kita tulis kitab ini (Muwatho’ imam Malik) kemudian kita sebarkan keseluruh penjuru negara islam supaya kita bisa mengatur semua orang dengan aturan yang ada di dalamnya”

Namun imam Malik menolak keinginan sang khalfiah dan menjawab;

“Wahai amiral mu’minin, sungguh perbedaan para Ulama merupakan rahmat dari Allah SWT. untuk umat. Semua Ulama itu berpegang dengan pendapat yang benar menurutnya, berdasar hidayah dari Allah SWT.”

Perkataan imam malik tersebut tentu merupakan sebuah kabar yang menggembirakan bagi kita. Bagaimana tidak, kita sebagai umat islam bisa mengikuti pendapat Ulama sesuai keinginan kita (tentunnya tetap pada aturan yang ada) tanpa ada satupun melarang. Bahkan ada satu kaidah dalam fiqh,

لَيْسَ لِلْاِمَامِ حَمْلُ النَّاسِ عَلَى مَذْهَبِهِ

“Tidak boleh bagi imam untuk mengintervensi masyarakat untuk mengikuti pendapatnya (dalam urusan agama)”

Sehingga dalam komentarnya mengenai cerita di atas Imam as-Suyuti berpendapat bahwa perbedaan pendapat dalam agama merupakan kenikmatan besar dan memiliki rahasia yang hanya bisa di fahami oleh orang-orang tertentu dan para penolak pebedaan tersebut tidak akan pernah bisa memahaminya. Ungkapan dari imam as-Sya’roni di bawah ini mungkin akan memberikan pencerahan kepada kita tentang maksud dari rahasia yang disampaikan imam as-Suyuti di atas:

فَامْتَحِنْ يَاأَخِيْ مَا قُلْتُهُ لَكَ فِيْ كُلِّ حَدِيْثٍ وَمُقَابِلِهِ أَوْ كُلَّ قَوْلِ وَمُقَابِلِهِ تَجِدُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَا بُدَ أَنْ يَكُوْنَ مُخَفِّفًا وَالْآَخَرُ مُشَدِّدًا وَلِكُلِّ مِنْهُمَا رِجَالٌ فِيْ حَالِ مُبَاشَرَتِهِمْ الأَعْمَالَ وَمِنَ الْمُحَالِ أَنْ لَا يُوْجَدَ لَنَا قَوْلَانِ مَعًا فِيْ حُكْمٍ وَاحِدٍ مُخَفِّفَانِ أَوْ مُشَدِّدَانِ وَقَدْ يَكُوْنُ فِيْ الْمَسْئَلَةِ الْوَاحِدَةِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ أَوْ أَكْثَرُ أَوْ قَوْلٌ مُفَصَّلٌ فَالْحَاذِقُ يَرُدُّ كُلَّ قَوْلٍ إِلَى مَا يُنَاسِبُهُ وَيُقَارِبُهُ فِيْ التَّخْفِيْفِ وَالتَّشْدِيْدِ حَسْبَ الْإِمْكَانِ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّ إِعْمَالَ الْحَدِيْثَيْنِ أَوْ الْقَوْلَيْنِ أَوْلَى مِنْ إِلْغَاءِ أَحَدِهِمَا وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ كَمَالِ مَقَامِ الْإِيْمَانِ.

“Maka buktikanlah wahai saudaraku apa yang aku sampaikan kepadamu, dalam setiap Hadist dan bandingannya atau setiap pendapat dan bandingannya maka akan kamu temukan bahwa setiap dari keduanya terdapat (hukum) meringankan dan memberatkan. Dan dari setiap pendapat tersebut ada orang yang mengamalkan. Termasuk hal mustahil apabila tidak di temukan dua pendapat Ulama keduanya dalam satu hukum memperingan atau memberatkan. Dan terkadang dalam satu masalah terdapat tiga pendapat Ulama atau lebih atau ada pendapat yang memberikan rincian. Maka orang pandai adalah yang bisa menggunakan pendapat sesuai dengan keadaan dan sesuai dengan prinsip takhfif (memperingan) dan tasydid (memberatkan). Sungguh imam Syafi’i dan Ulama lain mengatakan, mengamalkan dua Hadis (yang berbeda) atau dua pendapat (hal itu) lebih utama dari pada mengabaikan salah satunya dan hal itu adalah termasuk kesempurnaan derajat iman.”

Mengenai perbedaan ulama, KH. Azizi Hasbullah dalam satu kesempatan mengisi kuliah usul fiqh di pondok pesantren lirboyo menjelaskan bahwa perbedaan umat merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, karena sudah diterangkan dalam hadist bahwa;

ثَلَاثٌ لَا يَنْفَكُّ الْمُؤْمِنُ عَنْهُنَّ الْحَسَدُ وَالظَّنُّ وَالطِّيَرَةُ

“Tiga hal yang tidak bisa dihindari oleh orang yang beriman hasud, praduga dan thiyaroh.”

Sifat hasud yang sudah menjadi karakter setiap orang mendorongnya untuk tidak rela seandainya ia kalah saing dengan sesamanya. Imam al ghozali dalam ihya’ ulumuddin menjelaskan;

وَمَا مِنْ إِنْسَانٍ إِلَّا وَهُوَ يَرَى فَوْقَ نَفْسِهِ جَمَاعَةً مِنْ مَعَارِفِهِ وَأَقْرَانِهِ يُحِبُّ مَسَاوَاتَهُمْ وَيَكَادُ يَنْجُرَ ذَلِكَ إِلَى الْحَسَدِ الْمَحْظُوْرِ إِنْ لَمْ يَكُنْ قَوِيَّ الْإِيَمَانِ رَزِيْنَ التَّقْوَى

“tidak ada orang kecuali ketika ia melihat orang lain yang lebih ungul darinya yang masih seumuran maka ia senang jika bisa mengimbanginya dan hal itu sangat mungkin menariknya untuk hasud jika tidak kuat iman dan takwanya.”

Sehingga perasaan hasud yang demikian jika tidak dipelihara dengan baik dengan membekali diri dengan ilmu, akan mendorong seseorang pada lembah kebencian, tidak bisa menghargai perbedaan antar sesama dan berakhir pada perpecahan.

Betapa dulu perbedaan diantara ulama salaf adalah suatu hal yang wajar, sehingga walaupun imam ahmad sering memiliki pendapat yang berbeda dari gurunya yakni imam syafi’i beliau tetap mendo’akan imam syafi’i setiap selesai salat.

Sikap yang demikianlah yang akhir-akhir ini hilang, perbedaan seolah menjadi jurang yang begitu lebar sehingga sudah tidak bisa disatukan kembali. Padahal seharusnya perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan atau ajang saling bully, namun sebagai rahmat bagi umat, membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk menjalankan ritual agama tanpa keluar dari batas syariat. Sekian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Menyempurnakan Iman dengan Menjaga Kebersihan, Kebersihan Batin Kunci Kesuksesan Pelajar

Subscribe: Pondok Lirboyo

Follow: @pondoklirboyo

1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.