51 views

Sahabat Nabi Hijrah Pasca Baiat Aqobah II

Pasca Baiat Aqobah II, ketika tujuh puluh orang sahabat berbaiat kepada Rasulullah Saw., beliau merasa senang. Sebab, Allah telah menetapkan baginya “pertahanan” dan sekelompok orang yang piawai dalam urusan perang, senjata, dan pembelaan. Lantas, Pasca Baiat Aqobah II ini, musibah dan cobaan yang menimpa kaum Muslim semakin berat.

Kaum musyrik menyiksa, mencaci, dan mengintimidasi para sahabat Nabi Saw. dengan intensitas yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Akhirnya, para sahabat menemui Rasulullah Saw. dan meminta izin untuk hijrah. Rasulullah menjawab, “Aku telah diberitahu bahwa Yatsrib adalah tempat hijrah kalian. Siapa saja yang ingin pergi, pergilah ke sana.” Peristiwa ini dicatat oleh Ibnu Sa‘d, yang diriwayatkan dari Aisyah r.a.

Maka, para sahabat segera mempersiapkan diri, saling berjanji, dan saling membantu, kemudian berangkat diam-diam. Abu Salamah bin Abdul Asad datang lebih dulu di Madinah. Lalu disusul Amir bin Rabiah bersama istrinya, Layla binti Abu Hasymah. Ia adalah perempuan pertama yang tiba di Madinah dengan unta bersekedup. Setelah itu para sahabat Rasulullah Saw. datang secara bergelombang.

Mereka singgah di rumah-rumah kaum Anshar yang memberi mereka tempat bernaung dan menolong mereka.

Sayyidina Umar Sebelum Hijrah

Sahabat Rasulullah Saw. hijrah secara diam-diam ke Yatsrib. Terkecuali Umar bin Al-Khathtab r.a. Ali bin Abi Thalib r.a. meriwayatkan, bahwa saat Sayyidina Umar r.a. hendak pergi hijrah, ia mengikat pedang di pinggangnya serta membawa busur, panah, dan tongkatnya, lalu berjalan menuju Ka`bah yang dipadati kaum Quraisy.

Umar r.a. melakukan thawaf tujuh kali dengan mantap dan tenang. Setelah itu ia menghampiri Maqam Ibrahim dan mendirikan shalat. Lalu ia berdiri seraya berkata, “Hai wajah-wajah yang celaka! Wajah-wajah yang hanya akan dikalahkan Allah! Siapa saja yang ingin ibunya kehilangan anaknya, atau anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, temuilah aku di balik lembah ini.”

Ali r.a. menuturkan, “Yang mengikuti Umar hanyalah sekelompok orang yang tertindas. Umar pun memberi mereka pengarahan, lalu ia melanjutkan perjalanannya.” Demikianlah seterusnya. Sambung-menyambung kaum Muslim hijrah ke Madinah. Yang tersisa hanya Rasulullah, Abu Bakar, Ali, orang yang disiksa, orang yang dikurung, orang yang sakit, atau orang yang terlalu lemah untuk pergi.

Sumber : Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah

1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.