Menyempurnakan Iman dengan Menjaga Kebersihan
«إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الجُودَ، فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ »
“Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal suci. Maha Bersih yang menyukai kebersihan. Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan. Dia Maha Indah yang menyukai keindahan. Karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. At-Tirmidzi)
Masalah kebersihan menjadi tanggung jawab bersama. Dan juga membuang sampah sembarangan atau mengotori sesuatu adalah kesalahan. Akan tetapi kenapa sampai saat ini masih banyak yang menghiraukan akan pentingnya kebersihan?
Baca Juga: Riqīqa binti Nabāta; Tanda Kedatangan Nabi dan Hujan Besar
Orang seperti ini dapat terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, karena mereka tidak menyadari. Kedua, benar-benar tidak mau sadar. Ketiga, (ini yang paling parah) dia sadar dan tahu kalau membuang sampah sembarangan berdampak buruk. Dalil النظافة من الإيمان juga ia hafal, akan tetapi tidak menjalankannya.
Begitulah manusia, terkadang ilmu pengetahuan yang telah ia dapat tidak ia amalkan. Bukankah seseorang yang berilmu namun tidak ia amalkan adalah orang yang pertama kali Allah siksa sebelum para kafir penyembah berhala.
Keistimewaan Tukang Sapu Masjid Nabawi
Ada sepenggal kisah menarik tentang kebersihan yang oleh Sayyid Muhammad al-Maliki jelaskan. Ada seorang perempuan yang menjadi tukang sapu masjid Nabi meninggal dunia. Saat itu para sahabat tidak mengabarkannya kepada Nabi. Ketika Nabi mendengar kabar meninggalnya tukang sapu itu, jenazahnya telah dikebumikan.
Nabi kemudian marah, karena tidak ada yang mengabarinya. Nabi lalu datang ke kuburannya dan mendoakannya. Begitu istimewa kah orang yang bertugas dalam kebersihan.
Baca Juga: Kisah Hafshah binti Umar: Keteguhan Hati Putri Sang Khalifah
Kesucian Dilakukan oleh Orang yang Bertakwa
Dalam riwayat hadis juga disebutkan bahwa Islam telah mengajarkan kebersihan, bahkan bukan hanya dengan kata bersih melainkan suci.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ وَالْحَمْدُ لله تَمْلأُ الْمِيْزَانَ. وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا.
Rasulullah SAW. bersabda: “Kesucian itu sebagian dari iman, ‘alhamdulillah’ memberatkan timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ memenuhi ruang antara langit dan bumi, salat itu cahaya, sedekah itu bukti nyata, sabar itu pelita, al-Qur’an itu hujjah (yang membela atau menghujat). Setiap manusia bekerja sampai ada yang menjual dirinya, hingga ia jadi merdeka atau jadi celaka.” (HR. Muslim).
Dari sabda Rasulullah SAW yang berupa الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ sangat jelas menandakan bahwa keimanan seseorang bisa dipandang dari caranya menjaga kebersihan dan kesucian. Bahkan menjaga kebersihan juga termasuk dari tanda-tanda orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman:
وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا
“Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 13)
Menjaga kebersihan adalah bentuk murni seruan dari Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga kesucian hanya orang bertakwa yang melakukannya.
Baca Juga: Doa Nabi Ibrahim: Negeri Aman dan Makmur
Balasan bagi Orang yang Menjaga Kebersihan
Melansir dari Fiqih Taharah karya Ibnu Abdullah, Rasulullah SAW mengatakan bahwasa Allah SWT menjanjikan surga bagi orang yang mau membersihkan dahan pohon di jalanan.
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ : وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهُمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
Ada seorang lelaki yang membuang dahan pohon yang menghalani jalan, lalu ia berkata, “Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum Muslimin.” Maka Allah pun memasukkannya ke surga.” (HR. Muslim)
Semua orang pasti menyukai kebersihan dan kesucian. Bahkan Allah SWT juga menyukainya, sebagimana dalam firmannya: berfiman dalam
…إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرينَ
“…sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Baca Juga: Benarkah Hormat Bendera Merah Putih Syirik?
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





