67 views

Kebersihan Batin Kunci Kesuksesan Pelajar

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى النَّظَافَةِ

“Agama Islam didirikan atas dasar kebersihan.”

Pada dasarnya, kalimat ini memiliki banyak sekali perspektif. Ketika menggunakan pandangan dzahiriyyah, maka yang dikehendaki adalah tentang kebersihan lingkungan, badan, alat sandang, dan semua hal yang dapat dilihat oleh mata. Sedangkan jika dilihat dari kacamata bathiniyyah, maka yang dipandang adalah kebersihan jiwa. Seperti menjauhkan diri dari akhlak madzmumah (tercela).

Kebersihan dalam kacamata bathiniyyah

Sebagai orang yang berstatus pelajar, mereka dituntut untuk membersihkan jiwa dari beberapa akhlak tercela di atas, yang berupa penyakit rohani seperti: sombong, dengki, ujub dan lain sebagainya. Karena ketika melalaikan hal tersebut, konsekuensi yang didapat adalah tidak diterimanya cahaya ilmu oleh jiwa (hati). Ini selaras dengan syair dari Imam Syafi’i yang berbunyi:

شَكَوتُ إِلى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي * فَأَرشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ المَعَاصِي

“Aku mengadukan kepada Waki’ atas jeleknya hafalanku * lalu beliau menunjukkan kepadaku untuk meninggalkan maksiat

وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ * وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Dan mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya * dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

Menjaga kebersihan hati, harus memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi

Tidak hanya itu, untuk menjaga kebersihan bathin, seseorang harus memperhatikan kehalalan barang yang dikonsumsi. Agar jangan sampai ada perkara haram yang masuk ke dalam perut. Jika yang dikonsumsi adalah perkara yang halal, maka akan sangat berpotensi pada kesehatan tubuh seseorang.

Badan akan menjadi lebih bergairah dalam melakukan belajar dan beraktifitas. Karena hati, pikiran dan jiwa, dalam keadaan yang tenang. Tanpa adanya hal-hal yang menghantui di kemudian hari sebab makanan yang makanan yang dikonsumsinya.

Kritik pedas dari Rasulullah SAW pernah dilayangkan, bagi orang yang tidak memperhatikan apa yang dikonsumsinya. Dalam hadis, beliau menjelaskan:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Kemudian beliau Rasulullah SAW menyebutkan, seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku.” Namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim)

Hadis ini memberi pesan bahwa seberapa pun banyaknya seseorang beribadah, giat bagaimana pun dalam belajar, bila tidak memperhatikan persoalan halal haram akan perkara yang dimakan, tetap saja Rasulullah SAW meragukan do’a orang tersebut, sebagaimana uraian hadis di atas. []

Referensi:
  1. Al-Ghozali, Minhajul Muta’alim.
  2. Tim Forum Kajian Ilmiah Mahasantri Pondok Lirboyo tahun akademik 2022-2023, Nafas Sang Nabi
  3. As-Syafi’i, Diwan Syafi’i
  4. Muslim, Shahih Muslim

baca juga: MUNAS HIMASAL Ke IV & MUNAS I LIM
tonton juga: Akun Wali Santri dalam Aplikasi SIMPONI LIRBOYO

Kebersihan Batin Kunci Kesuksesan Pelajar

1