Kebersihan Batin Kunci Kesuksesan Pelajar

Photo by sam sul on Unsplash

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى النَّظَافَةِ

“Agama Islam didirikan atas dasar kebersihan.”

Pada dasarnya, kalimat ini memiliki banyak sekali perspektif. Ketika menggunakan pandangan dzahiriyyah, maka yang dikehendaki adalah tentang kebersihan lingkungan, badan, alat sandang, dan semua hal yang dapat dilihat oleh mata. Sedangkan jika dilihat dari kacamata bathiniyyah, maka yang dipandang adalah kebersihan jiwa. Seperti menjauhkan diri dari akhlak madzmumah (tercela).

Kebersihan dalam kacamata bathiniyyah

Sebagai orang yang berstatus pelajar, mereka dituntut untuk membersihkan jiwa dari beberapa akhlak tercela di atas, yang berupa penyakit rohani seperti: sombong, dengki, ujub dan lain sebagainya. Karena ketika melalaikan hal tersebut, konsekuensi yang didapat adalah tidak diterimanya cahaya ilmu oleh jiwa (hati). Ini selaras dengan syair dari Imam Syafi’i yang berbunyi:

شَكَوتُ إِلى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي * فَأَرشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ المَعَاصِي

“Aku mengadukan kepada Waki’ atas jeleknya hafalanku * lalu beliau menunjukkan kepadaku untuk meninggalkan maksiat

وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ * وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Dan mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya * dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

Menjaga kebersihan hati, harus memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi