Tag Archives: mubahitsin

Pembukaan Bahtsul Masail Akhir Tahun

LirboyoNet, Kediri – Para sahabat adalah golongan yang hidup pada sebaik-baik kurun. Mereka mendapat ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Meski begitu, mereka tetap bermusyawarah ketika akan memutuskan suatu hal.

Maka tak heran, jika musyawarah menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam dari generasi ke generasi. Apalagi generasi pesantren. Bagi mereka, terutama Ponpes Lirboyo, musyawarah sudah menjadi motor dalam gerak-gerik sehari-hari.

Hal ini disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam pembukaan Bahtsul Masail Penutupan di Serambi Kuning Masjid Lawang Songo, Rabu (06/04). Jika permasalahan diputuskan tanpa melalui musyawarah, keputusan akan cenderung subyektif dan kurang relevan. “Dengan bermusyawarah, akan teradopsi keputusan-keputusan yang lebih mashlahah (bijak),” ujar beliau.

Menurut KH. Ma’ruf Amin (Rois Am PBNU) banyak dari nahdliyin, –sebutan bagi para pengikut Nahdlatul Ulama- yang berkemampuan tinggi dalam bermusyawarah dan bahtsul masail. Mereka sering menghasilkan keputusan-keputusan sulit. Yang masih disayangkan adalah, kecerdasan ini tidak diimbangi dengan kemampuan mereka berorganisasi. Walhasil, sangat sedikit diantara mereka yang dapat masuk dalam kepengurusan PBNU. Harapan Yai Kafa -panggilan akrab KH. Abdullah Kafabihi Mahrus-, dalam masa-masa selanjutnya para mubahitsin juga wajib pandai berorganisasi.

Yang perlu dicatat adalah, kepandaian hanya akan menjadi fitnah jika tidak diiringi dengan tashawwuf. Satu ulama mengatakan, “man tafaqqah bila tashawwufin, takabbara”. Mereka yang bekerja keras dalam mencari ilmu agama, akan cenderung sombong jika mereka menafikan tasawuf dari kehidupannya.

Ketika sudah seperti itu, kehancuran hanya menunggu waktu. “Sebab al kibr minal muhlikaat, kesombongan adalah salah satu hal yang merusak,” lanjut beliau. Padahal, kepandaian dan kecerdasan adalah alat untuk mensyukuri nikmat. Sementara kesombongan hanya akan mewujudkan penghinaan dan pelecehan kepada orang lain. Dan musyawarah sangat jauh dari hal-hal rendah seperti itu.

Dalam sambutan sebelumnya, KH. Athoi’llah S. Anwar menyebut bahwa musyawarah adalah ajang bagi para santri untuk mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Di samping itu, bahtsu kali ini adalah kesempatan bagi para mubahitsin untuk bertemu dengan senior-senior mereka yang sudah berumah dan bermasyarakat. “Ini adalah jalan pembuka bagi keinginan pengurus LBM selanjutnya. Karena pada tahun depan, insyaallah akan ada sinergi antara LBM P2L dengan LBM Himasal.”

Bentuk kerjasamanya masih dipertimbangkan. Namun tentu hal ini dinilai positif. Selain menghubungkan antara santri dengan alumni, juga demi memperluas lahan dakwah dan cakupan hukum yang lebih beragam.][

Berbahtsu Demi Harapan Baru

LirboyoNet, Kediri – Bersamaan dengan agenda Kamis Legi (17/03), para santri Ponpes Lirboyo Unit Darussalam (PPDS) memiliki hajat besar. Dilaksanakan di bangunan baru, Bahtsul Masail dibuka pukul 08.00 Waktu Istiwa’. Bahtsu ini merupakan langkah perdana bagi PPDS untuk mengadakan acara serupa di kemudian hari.

Peserta berdatangan dari berbagai utusan. Selain utusan Ponpes Lirboyo unit lain, juga terlihat perwakilan dari pondok-pondok kawasan Kediri, seperti Ponpes Sumbersari dan Pethuk.

Dalam kesempatan ini, para peserta dihadapkan pada beberapa permasalahan waqi’iyah. Satu diantaranya mengenai status profesi pengacara di mata fiqh. Permasalahan ini diangkat oleh panitia, mengingat masih belum ditemukannya formula pasti dari fikih untuk menilai kadar profesi pengacara.

Beberapa ustadz diminta sebagai perumus, demi menjaga arah pembahasan agar tidak keluar dari jalur. Para perumus ini tidak serta merta menjadi pengarah jalan secara mutlak. Terbukti, ketika perumus memilih beberapa hal untuk dipertimbangkan, mubahitsin (para peserta bahtsul masail) menawarkan hal lain yang dianggap lebih mashlahah untuk dijadikan pertimbangan.

Peserta bergantian menunjukkan ibarat-ibarat (tendensi hukum) dari berbagai kitab salaf. Meski berkutat pada halal dan haram, status profesi ini tidak bisa diputuskan sesederhana memilih antara hitam atau putih. Terbukti, hingga sore hari, peserta bahtsu masih mencari-cari titik temu yang bisa diterima secara sharih (jelas).

Dengan ditemani putra beliau, Agus Aminulloh Mahin, KH. A. Mahin Thoha menutup bahtsul masail. Beliau yang juga pengasuh PPDS ini berharap, santri-santri dapat terus mengembangkan diri dan intelektualitas yang mereka punya.

Kegiatan bahtsul masail memang telah membudaya dalam keseharian para santri lirboyo. Tidak serta merta berkembang memang. Para santri lirboyo terlebih dahulu harus mengawali tempaan keberanian dan keuletan bermusyawarah di kelas. Setelahnya, mereka harus melewati tantangan berupa musyawarah antar kelas, antar tingkatan, bahtsul masail daerah, dan sebagainya. Walhasil, para santri Lirboyo, seperti yang menjadi harapan masyayikh, akan memiliki mental kokoh dalam bermasyarakat, dan tidak mudah menyalahkan orang lain.][