Tag Archives: sukur

Khotbah Jumat: Memahami Pola Hidup

الْحَمْدُ للهِ الّذِيْ وَعَدَ لِلصَّابِرِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ جَزَاءً مَوْفُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَاإلهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. فَإِنَّهُ قَالَ فيِ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Dari mimbar khotbah ini, terlebih dahulu saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan hadirin sekalian, marilah kita meneguhkan hati untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt yaitu melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Di dalam dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang selama hidupnya selalu menemui apa yang diingini, selalu mendapatkan semua yang diharapkan dan segala cita-citanya menjadi nyata. Dalam hidupnya, manusia pasti menjumpai berbagai hal yang tidak ia harapkan. Sedih dan bahagia datang silih berganti. Oleh karenanya, harus kita barengi pula dengan sikap yang bisa mengimbangi kepastian itu. tidak lain adalah sifat sabar dan sukur

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Allah berfirman dalam AlQuran surat al Insan ayat 2 :

هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١) إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Artinya: 1. Bukankah pernah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? 2. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. 3. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus ; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Allah juga berfirman dalam surat al Mulk ayat 1 dan 2 :

(تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢

Artinya: 1. Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. 2. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

 

Ayat-ayat Alquran ini memberi pengertian kepada kita bahwa apapun yang diberikan kepada kita adalah ujian dan cobaan. Saat hidup kita bahagia dan tercukupi, itu berarti kita sedang diuji, bisakah kita bersyukur kepada Dzat Yang Maha Memberi Nikmat. Lalu bisakah kita mempergunakan anugerah-anugerahNya dengan baik dan benar. Adapun saat kita berduka atau hidup dalam kekurangan, itu juga artinya kita sedang diuji, bisakah kita bersabar menghadapi cobaan.

Jadi pada hakikatnya, nikmat dan musibah, semua itu adalah ujian. Karena itulah, apapun dan bagaimanapun yang terjadi di hari-hari kehidupan dunia yang fana ini, jangan sampai kita lupa kepada Tuhan kita, Tuhan semesta alam, Alloh SWT. Dengan senantiasa mengingatNya, hati kita akan menjadi tenang dan tentram. Agar kita selalu mendapatkan petunjuk dan bimbinganNya untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat yakni surgaNya, kehidupan yang dirahmati dan abadi.

Ayat-ayat ini juga hendaknya menyadarkan kita bahwa kenyataan apapun, cobaan apapun dalam hidup, semestinya kita jadikan pendorong untuk meningkatkan kualitas pribadi kita dan untuk menjadikan hidup kita lebih bermanfaat, bermartabat dan bermakna.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Kemana Kita Harus Pergi?

Tentunya pergi ke ruang kebahagiaan. Hal yang satu ini memang kerap diperbincangkan oleh khalayak dari semua tingkatan berbagai golongan mulai yang bersifat mulia hingga pengobral dosa. Kiranya perbincangan terkait kebahagiaan tidak berlebihan jika melihat naluri insani. ‘Bahagia itu sederhana’ ungkapan itu deras mengguyur beberapa kalangan akhir-akhir ini sederas perkembangan teknologi hari ini. Kiranya ungkapan sederhana tidak sesederhana ditafsiri dengan arti yang sederhana. Secara garis besar, kebahagiaan memiliki beberapa faktor yang berperan penting terhadap dan dalam kemunculannya. Faktor -faktor itu erat kaitannya dengan pengetahuan, pengalaman dan lingkungan yang berperan membangun pola pikir(mindset).

Tidak sedikit para motivator yang menyebarkan ide-ide menghadapi problematika hidup  yang tertuang dalam karya-karya yang jumlahnya tidak sedikit pula. Siapa dari sekian banyak cendekia yang telah berhasil dalam hidup sesuai teori hidupnya? Benarkah para motivator telah hidup dalam ruang yang syarat kebahagiaan?. Mungkin ini yang perlu kelanjutan dalam pengkajian cermat dan serius.

Ihya’ Ulumiddin, sebuah buku yang disusun oleh al-Allamah Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atThusi yang sufi itu, telah diperhitungkan dalam kancah percaturan intelektual dunia. Banyak dari mereka yang dalam karyanya mengutip karya al-Ghazali mulai dari teologi, sosiologi dan kajian khusus lainnya yang hanya membidik misi keagamaan dan beberapa tema lain.

Nrimo ing pandum”, ungkapan yang para pengkaji karya al-Ghazali lebih akrab dengan istilah Qona’ah ini telah berlalu-lalang dalam keseharian beberapa kalangan khususnya mereka yang bersentuhan dengan nuansa jawa. Selain Qona’ah, mereka akan sering menemui kata Syukur dalam ekspedisi penelusuran beberapa halaman di lembar lembar karya al-Ghazali.

Dalam  hal ini, salah satu ulama menyatakan  bahwa Syukur  memiliki keterkaitan antara tiga komponen dasar berupa pengetahuan, kondisi dan realisasi (alAmal). Ketiga hal tersebut bersifat kronologis mulai dari pengetahuan seseorang terhadap nikmat yang bersumber dari yang menjadikan dan memberi nikmat. Hal ini berkelanjutan pada kebahagiaan (alFarh) seseorang disebabkan kenikmatan yang diberikan kepadanya. Dua komponen itu akan menimbulkan reaksi upaya merealisasikan Syukur.

“والعمل هو القيام بما هو مقصود المنعم ومحبوبه”

Dalam konteks ini, alAmal diartikan dengan melaksanakan atau mengolah suatu  nikmat sesuai tujuan Tuhan yang maha memberi dan kekasih-Nya. Sederhananya, jika ada orang diberi pakaian dengan harga yang fantastis, maka sudah seharusnya orang tersebut memakainya sesuai tujuan pemberinya yaitu menutup anggota tubuh. Kiranya bagaimana reaksi pemberi jika orang yang diberi pakaian menjadikannya sebagai keset yang akan terus di injak setiap kaki yang berdiri di atasnya seraya acuh terhadap tujuan yang memberi?

Dalam menyikapi hal ini, semua nalar normal akan sepakat terkait perasaan yang memberi dan etika yang diberi. Secara garis besar alAmal erat kaitannya dengan hati, anggota tubuh dan lisan sebagai perwujudan interaksi terhadap Tuhan, sesama dan diri sendiri. Pentingnya pengetahuan dalam berislam sesuai undang-undang akan berpengaruh terhadap kesadaran Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin yang akan dirasakan dalam dunia nyata yang tidak hanya bias-bias cahaya pada air yang sebentar lagi akan menguap begitu saja.

“وبالله المستعان وعليه التكلان”

Wallahu A’lam

Penulis: M. Ibnu Najib, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Magelang