736 views

Stalking Foto Atau Video Lawan Jenis Saat Puasa

Bagi muda-mudi zaman sekarang stalking foto dan video lawan jenis merupakan hal yang sangat wajar. Terlebih lagi dengan adanya platform yang ada seperti Instagram, saat semua orang berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dari dirinya. Namun, di momen Ramadhan bagi sebagian orang, aktivitas yang dilakukan saat rebahan tersebut dianggap agak tabu bila dilakukan bagi orang yang sedang puasa.

Maka dari itu, dengan maksud ingin sedikit memberi kejelasan terkait hukum stalking foto dan video saat puasa, kami akan mencoba menguraikan hukum melihat foto dan video lawan jenis saat puasa dari dua sisi. Pertama hukum melihat foto dan video itu sendiri, dan kedua adalah hukum puasanya.

Baca juga

Baca juga Keindahan Islam dalam Bertetangga

Melihat Foto Atau Video Lawan Jenis

Melihat foto dan video lawan jenis hukumnya adalah boleh, karena foto dan video bukanlah bentuk riil dari seseorang. Legalitas tersebut bisa kita fahami dari analogi ulama mengenai hukum melihat lawan jenis lewat pantulan kaca. Hal tersebut diperbolehkan sebab pantulan kaca bukanlah bentuk riil dari yang kita lihat. Namun hukum tersebut bisa berubah haram apabila melihat foto atau video tersebut disertai syahwat.

Hukum Puasanya Orang Yang Melihat Foto Dan Video Lawan Jenis

Di bulan puasa orang yang menjalankan ibadah tersebut dituntut untuk menahan diri. Menahan diri dari makan dan semua yang membatalkan puasa. Salah satu yang membatalkan puasa adalah keluarnya sperma sebab menyentuh dengan sengaja. Berikut adalah perincian batal atau tidaknya puasa disebabkan keluarnya sperma:

  • Sengaja mengeluarkan sperma, seperti onani dan oral seks, puasanya batal dengan syahwat atau tidak, dengan penghalang atau tidak
  • Menyentuh orang lain yang menurut orang yang sehat akalnya tidak mengundang syahwat, seperti amrod (rupawan) dan potongan tubuh manusia, puasanya tidak batal dengan syahwat ataupun tidak
  • Menyentuh lawan jenis yang masih mahram, puasanya batal apabila menyentuh tanpa penghalang dan dengan syahwat
  • Menyentuh lawan jenis yang bukan mahram tanpa penghalang, puasanya batal baik menyentuh besertaan syahwat atau tidak.
  • Menyentuh lawan jenis yang bukan mahram dengan penghalang walau tipis, puasanya tidak batal baik menyentuh besertan syahwat atau tidak
  • Melihat atau menghayal objek (dalam hal ini seperti foto dan video) yang menurut kebiasan pribadi dapat menimbulkan keluarnya sperma, puasanya batal
  • Melihat atau menghayal objek yang menurut kebiasan pribadi tidak dapat menimbulkan keluarnya sperma, puasanya tidak batal
  • Ihtilam (Keluar mani saat tidur), puasanya tidak batal

Baca juga Menyiasati Imam Tarawih Yang Terlalu Cepat

Berikut adalah keterangan ulama terkait kesimpulan hukum di atas:

(واسْتِمْنَاءٍ) أَيْ طَلَبُ خُرُوجِ الْمَنِيّ وَهُوَ مُبْطِلٌ لِلصَّوْمِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ كَانَ بِيَدِهِ أَو بِيَدِ حَلِيْلَتِهِ أَو غَيْرِهِمَا بِحَائِلٍ أَوْ لَا بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا أَمَّا إِذَا كَانَ الْإِنْزَالُ مِنْ غَيْرِ طَلَبِ خُرُوْجِ الْمَنِيّ فَتَارَةً يَكُوْنُ بِمُبَاشَرَةِ مَا تَشْتَهِيْهِ الطِّبَاعُ السَّلِيْمَةُ أَوْ لَا فَإِنْ كَانَ لَا تَشْتَهِيْهِ الطِّبَاعُ السَّلِيْمَةُ كَاْلأَمْرَدِ الْجَمِيْلِ وَالْعَضْوِ الْمَبَانِ فَلَا فِطْرَ بِالْإِنْزَالِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ كَانَ بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا بِحَائِلٍ أَوْ لَا وَإِنْ كَانَ تَشْتَهِيْهِ الطِّبَاعُ السَّلِيْمَةُ فَتَارَةً يَكُوْنُ مِنْ مَحَارِمِهِ وَتارَةً لَا فَإِنْ كَانَ مِنْ الْمَحَارِمِ وَكَانَ بِشَهْوَةٍ وَبِدُوْنِ حَائِلٍ أَفْطَرَ وَإِلَّا فَلَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْمَحَارِمِ فَإِنْ كَانَ بِدُوْنِ حَائِلٍ أَفْطَرَ سَوَاءٌ كَانَ بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا أَمَّا وَإِنْ كَانَ بِحَائِلٍ وَلَوْ رَقِيْقًا جِدَّا فَلَا إِفْطَارَ وَلَوْ بِشَهْوَةٍ كَمَا قَالَ (لَا بِضَمِّ بِحَائِلٍ) وَالْمرَادُ بِالشَّهْوَةِ أَنْ يَقْصِدَ مُجَرَّدَ اللَّذَّةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقْصِدَ خُرُوْجَ الْمَنِيّ وَإِلَّا كَانَ اسْتِمْنَاءً وَهُوَ مُفْطِرٌ مُطْلَقًا كَمَا مَرَّ وَخَرَجَ بِالْمُبَاشَرَةِ النَّظْرُ وَالْفِكْرُ فَلَوْ نَظَرَ أَوْ تَفَكَّرَ فَأَمْنَى فَلَا فِطْرَ مَا لَمْ يَكُنْ مِنْ عَادَتِهِ الْإِنْزَالُ بِذَلِكَ وَإِلَّا أَفْطَرَ

“Istimna` (Sengaja mengeluarkan sperma) dapat membatalkan puasa dengan mutlak, dengan tangan sendiri, tangan istri atau yang lain, diberi penghalang atau tidak, disertai syahwat atau tidak. Adapun keluarnya sperma tanpa sengaja, adakalanya sebab menyentuh obyek yang tidak dapat mendatangkan syahwat menurut orang yang memiliki akal sehat dan adakalanya dapat mendatangkan syahwat. Yang pertama, seperti menyentuh pria rupawan dan anggota tubuh yang terputus, tidak membatalkan puasa, baik disertai syahwat atau tidak, pakai ada penghalang atau tidak. Yang kedua, adakalanya sebab menyentuh mahram dan bukan mahram. Jika disebabkan menyentuh mahram dengan disertai syahwat dan tanpa penghalang maka puasa batal, jika tidak, maka tidak batal. Jika disebabkan menyentuh bukan mahram dengan tanpa penghalang, puasa batal baik disertai syahwat atau tidak, jika pakai penghalang walaupun tipis, puasa tidak batal baik disertai syahwat atau tidak. Yang dikehendaki dari syahwat adalah menginginkan kenikmatan tanpa keluarnya mani sebab jika ada keinginan mengeluarkan mani maka disebut istimna` yang dapat membatalkan puasa secara mutlak seperti keterangan di awal. Dikecualikan dari menyentuh secara langsung adalah melihat dan menghayal. Bila melihat dan menghayal lantas keluar sperma maka puasanya tidak batal selama menurut kebiasaannya tidak keluar sperma, jika tidak demikian maka puasa batal” (Mohammad Nawawi Banten, Nihayah az-Zain)

(إلَى عَوْرَةِ حُرَّةٍ) خَرَجَ مِثَالُهَا فَلَا يَحْرُمُ نَظَرُهُ فِي نَحْوِ مِرْآةٍ كَمَا أَفْتَى بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُهُمْ لَوْ عَلَّقَ الطَّلَاقَ بِرُؤْيَتِهَا لَمْ يَحْنَثْ بِرُؤْيَةِ خَيَالِهَا فِي نَحْوِ مِرْآةٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَرَهَا وَمَحَلُّ ذَلِكَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ حَيْثُ لَمْ يَخْشَ فِتْنَةً وَلَا شَهْوَةً

“Dikecualikan dari melihat aurat adalah melihat gambarnya, maka tidak haram melihatnya, seperti yang difatwakan tidak hanya satu ulama. Fatwa tersebut dikuatkan pendapat ulama berikut “bila menggantungkan talak dengan melihat aurat maka istri tidak tertalak dengan melihat bayangannya yang berada dikaca, sebab ia eidak secara langsung melihatnya”. Hal tersebut apabila tidak takut fitnah dan syahwat” (Ahmad ibn Muhammad ibn Ali ibn Hajr al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj)

خَمْسُ خِصَالٍ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ وَيَنْقُضْنَ الوُضُوءِ: الكَذِبُ والْغَيْبَةُ والنَّمِيْمَةُ والنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ واليَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ قَالَ حُجَّةُ الْإِسْلَامِ: بَيَّنَ بِهِ أَنَّ الْصَوْمَ أَيْ الْمَقْبُوْلَ الْمثُاَبَ عَلَيْهِ فِيْ الْآخِرَةِ الْثَوَابَ الْكَامِلَ لَيْسَ هُوَ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْوِقَاعِ فَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ بَلْ تَمَامُ الصِّيَامِ أَنْ يَكُفَّ الْجَوَارِحَ عَمَّا كَرِهَ اللهُ فَيَحْفَظَ الْلِسَانَ عَنْ النُّطْقِ وَيَحْفَظَ الْعَيْنَ عَنْ النَّظَرِ إِلَى الْمَكَارِهِ

“Lima hal yang dapat menghilangkan kesempurnaan puasa dan wudu: bohong, nggunjing, adu domba, melihat disertai syahwat, sumpah palsu. Berkata imam Ghozali, Nabi Saw. menjelaskan puasa yang diterima yang mendapat pahala sempurna bukan sekedar tidak makan dan minum, tidak berhubungan badan, banyak orang puasa yang hanya sekedar mendapatkan rasa lapar. Namun puasa yang sempurna (selain tidak makan dan minum) adalah menahan anggota tubuh dari yang tidak disukai oleh Allah Swt. Menjaga lisan dan mata dari berbicara dan melihat yang tidak disuksi-Nya.” (al-Manawi, faid al-Qodir)

Baca juga Hukum Mempelajari Ilmu Mantiq

Maka dapat disimpulkan bahwa stalking foto dan video lawan jenis saat puasa tidak membatalkan puasa selagi menurut kebiasaan pribadi tidak menimbulkan keluarnya sperma. Sehingga, hukumnya pun diperbolehkan. Terakhir, meskipun diperbolehkan, bagi orang yang berpuasa hendaknya meninggalkan kegiatan tersebut karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah puasa. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Dukung akun yautube kami: pondok lirboyo

20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.