Islam yang Dikehendaki Tuhan

Al-Khaqqu min rabbik. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Swt. Sedang kebenaran pada diri manusia relatif melihat sudut pandang masing-masing. Kita menganggap bahwa hal seperti ini adalah benar, belum tentu cocok dalam perspektif orang lain.

Kiranya, perbedaan tafsiran orang dalam menanggapi permasalahan sangat berfariasi. Di setiap sendi kehidupan, perbedaan pasti akan selalu muncul, sebagai bentuk anugerah hidup yang telah dimandatkan Tuhan kepada manusia.

Perbedaan mengguratkan tatanan baru. Melaluinya, kita menjadi sadar tentang sesuatu yang belum kita ketahui dan belum sempat terpikirkan. Membuat kapasitas kemampuan dan titik lemah seseorang yang semula tertutup—terbedah. Kita bisa mengevaluasi dan manambal sisi kekurangan, terus tergerak untuk menambah kecakapan dan terus terdorong menunaikan perbaikan, guna mengamalkan perintah Allah Swt. “fastabiqul khairaat”. (Al-Baqarah: 148)

Namun dalam berbagai peristiwa, perbedaan menjadi dilema tersendiri. Menjelma wujud ancaman mengerikan yang dapat mengacaukan kedamaian sekitar. Terutama kefanatikan dalam beragama. Berkenaan dengan hal ini, seseorang seringkali menutup hatinya dalam menyelami perbedaan. Baik dengan agama lain, maupun agamanya sendiri. Menyaksikan ihwal tersebut, sepertinya toleransi beragama belum menjadi laku.

Konflik yang sering terlaku

Membahas perbedaan dalam agama Islam saja, akibat sikap fanatisme buta seseorang terhadap suatu kelompok, menjadikan kemuliaan darah saudaranya terkucur habis akibat kebiadaban yang tak manusiawi.

Sikap ashabiyah tatkala mendapati perbedaan menjadi sebuah senjata mematikan untuk menyerang orang lain. Klaim sepihak tentang kebenaran golongannya seringkali menisbatkan kelompok lain keluar dari jalan yang benar. Sehingga tidak masalah, jika perlu untuk mengganyang mereka.

Saat ide pemikiran seseorang berbeda dengan pendapat orang lain, dan orang tersebut tidak mengakui, mengingkari seluruh pendapat dari orang lain, hal itu termasuk sebuah wabah penyakit dari sifat ekstrem.

Interpretasi sifat ekstrim

Sifat ekstrem adalah keluar dari batasan wasathiyyah (tengah-tengah), di mana Islam mengajak kepada kita untuk bersikap seimbang, dan mendorong supaya berpengang teguh pada hal tersebut (wasathiyyah). Agama Islam juga mengamanatkan agar kita tidak keluar dari batasan iktidal (proporsional).

وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُواْ شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (البقرة: 143)

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Nabi Muhammad Saw. sangat mewanti-wanti kepada umatnya supaya tidak terperosok ke dalam sifat ektremis ini. Salah satu hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya menuturkan:

وقال صلى الله عليه و آله و سلم: (( إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ )) وأخرجه أحمد في المسند.

“Takutlah kalian atas sikap ekstrem dalam beragama, sebab rusaknya seseorang sebelum kalian, dikarenakan sifat extrem atas perkara agama”.[1]

Hadist tesebut memberikan pemahaman kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu tidak terlepas dari sifat ekstrem, yang menyebabkan mereka terjerembab dalam kerusakan nyata.

Sifat ekstrem dan fanatisme buta, timbul karena dangkalnya pemikiran seseorang, serta pengetahuan agama yang masih mengambang. Hal ini memunculkan watak keras, sikap apriori dan penentangan terhadap gagasan yang tidak sejalan dengannya.

Sebagian ulama berpendapat; “fanatik terhadap kelompoknya sendiri sejatinya diakibatkan dari dangkalnya pendidikan dan pemahaman dalam agama (fikih)”.[2] Kedangkalan itu mendorong untuk memunculkan respon cepat atas pengingkaran terhadap pendapat yang berbeda.

Karena sifat ini termasuk wabah penyakit penyebab binasanya orang-orang terdahulu, selayaknya bagi kita untuk menjauhi penyakit tersebut. Supaya kita tidak terjerembab kepada kerusakan yang telah kita ketahui penyebabnya.

Mendekatkan kebenaran yang dimaui Tuhan

Untuk menyikapi permasalahan ini, diperlukan ide pemikiran yang luas dan cakrawala pengetahuan mendalam. Ketika keilmuan seseorang telah matang, ia akan sulit menyalahkan orang lain. Pengingkaran atas berbagai permasalahan aktual pun, akan sedikit mereka alami. Karena bagi pemilik nadzhor, perbedaan terhadap suatu problem akan dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi, sehingga ketika telah memaklumi hal tersebut, ia bisa menerima dengan keterbukaan.

كُلَّمَا  زَادَ وَاتَّسِعْ فِكْرُ رَجُلٍ قَلَّ إِنْكَارُهُ لِلنَّاسِ

“Manakala makin luas pikiran orang, maka akan semakin sulit menyalahkan orang lain.”

Mendesak pula sebagai upaya pemecah persoalan di atas, yaitu pentingnya komunikasi (diskusi) antar kelompok sebagai jalan tengah dalam menuntaskan problem yang sedang terjadi. Karena tidak ada satu orang pun dari orang yang berakal, mengingkari ide pemikiran yang akan mendatangkan kebenaran.

Di tengah perjalanan diskusi pun, diperlukan sikap rendah hati dan keterbukaan untuk selalu siap menerima kemungkinan kesalahan pendapat yang kita utarakan, dan kebenaran dari pihak orang lain.

Haidar Bagir melalui tulisannya berpendapat: “Betapa pun kita yakin pada kebenaran tafsir kita sendiri, ada kemungkinan tafsir kita salah dan justru ada kemungkinan tafsir orang lain benar.”[3] Pandangan ini, sama dengan tindakan yang dilakukan oleh ulama salaf dalam berdiskusi. Mereka menilai; “Pendapatku benar, namun bisa jadi memiliki kelalaian. Sementara pendapat lawan menurut pandanganku salah, tetapi mengandung celah kebenaran”.[4]

Kesimpulan

Dalam penyampaian pandangan ulama di atas, kita belajar keterbukaan dan kemauan untuk saling belajar di antara semua orang. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pemahaman kita tentang Islam akan menjadi lebih utuh.

Seseorang yang menggabungkan berbagai kebenaran, baik yang ada pada diri kita maupun pada orang lain, maka akan memiliki potensi kebenaran yang lebih besar. Dengan kata lain, kebenaran yang kita ketahui menjadi lebih dekat dengan Islam yang dimaui oleh Tuhan.[5]

Membuka kesadaran bahwa manusia sebagai hamba yang tidak pernah luput dari salah dan lupa, juga sangat penting untuk mengaburkan klaim kebenaran atas diri dan kelompoknya.

Bersamaan respon di atas, diharapkan bisa memunculkan sikap toleransi kepada orang yang berbeda pandangan dengan kita. Karena pemahaman kita tentang Islam tanpa disertai dialog, tukar pikiran, saling belajar, dan menerima pemahaman Islam dari orang lain, hanya akan menjauhkan kehendak kebenaran Islam yang dikehendaki Tuhan.[]

Referensi

[1] Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki, Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal. 15, cet. Maktabah Al-Anwar (Nukilan dari Musnad Ahmad, No. 1851).
[2] Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal.46.
[3] Bagir Haidar, Islam Tuhan Islam Manusia, hal. 12, cet. ke VI, Mizan, Bandung, 2018.
[4] Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal. 46.
[5] Islam Tuhan Islam Manusia, hal. 12.

Islam yang dihasrati Tuhan
Islam yang dihasrati Tuhan

Baca juga: Implementasi Metode Pemikiran Aswaja
Jangan lupa untuk menonton: Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.