Dalam Majelis Sholawat Kubro di Aula Al Muktamar pada 8 Agustus 2025, Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz mengisahkan sebuah teladan tawaduk dari Syaikhona Kholil Bangkalan saat berguru kepada muridnya sendiri, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Setelah para santri Syaikhona Kholil telah kembali ke daerah masing-masing dan mendirikan pesantren, beliau sesekali berkeliling mengunjungi mereka. Tujuannya bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi mendampingi serta melihat perkembangan pendidikan yang dirintis para muridnya.
Baca juga: Kisah Mbah Karim Sebrangi Selat Madura demi Menimba Ilmu
Namun, kunjungan tersebut bukan hanya sebagai seorang guru. Di beberapa kesempatan, Syaikhona Kholil justru datang untuk menjadi santri. Beliau benar-benar mengikuti tata tertib sebagaimana santri lainnya. Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz bahkan menggambarkannya, jika metode pendaftaran santri baru sama dengan masa sekarang, Syaikhona Kholil akan mengisi formulir pendaftaran sebagai santri baru.
Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari
Salah satu kisah yang paling menarik adalah ketika beliau mendatangi Pesantren Tebuireng dan menyampaikan keinginannya untuk nyantri kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Mendengar hal itu, KH. Hasyim Asy’ari tentu merasa kebingungan. Bagaimana mungkin seorang guru yang selama ini menjadi kiblat keilmuannya justru ingin menjadi santri di pesantrennya.
Baca juga: Kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh
“Lah ini gurune, kiyaine, mosok arep mondok neng kene. Mosok Arep didekek neng gotak an (asrama) santri.” demikian kegelisahan yang digambarkan Agus Abdurrohman.
Akan tetapi, Syaikhona Kholil tetap bersikeras.
“Mboten kulo teng mriki nyantri, mboten dadi kyai, kulo pingin nyantri, pengen ngaji teng njenengan.” (Tidak. Saya datang ke sini sebagai santri, bukan sebagai kiai. Saya ingin belajar kepada Anda.)
Akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memberikan syarat.
“Baik yai penjenengan boleh nyantri disini, mondok disini dengan satu syarat. Penjenengan harus menempat di kamar ini.”
Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh
Kamar yang dimaksud adalah rumah atau kediaman khusus yang telah disiapkan KH. Hasyim Asy’ari sebagai bentuk penghormatan kepada gurunya.
Namun, Syaikhona Kholil kembali menolak.
“Tidak bisa. Saya ini santri. Saya harus tinggal bersama teman-teman santri di gotakan (asrama).”
Melihat gurunya tetap bersikukuh, KH. Hasyim Asy’ari kemudian memberikan jawaban yang sangat halus sekaligus penuh adab.
“Yai penjenengan wau sanjang badene mondok teng mriki, nggeh.”
(Yai panjenengan tadi mengatakan ingin mondok di sini, bukan?)
“Enggeh.”
Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri
“Berarti jenengan niku santri. Santri niku kedah manut Kiai.”
(Berarti jenengan adalah santri.Maka santri harus taat kepada kiai.)
Mendengar jawaban itu, Syaikhona Kholil pun tidak lagi membantah. Beliau menerima keputusan tersebut sebagai bentuk kepatuhan seorang santri kepada kiainya.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang kerendahan hati para ulama. Setinggi apa pun kedudukan dan keluasan ilmu seseorang, adab dalam menuntut ilmu tetap berada di atas segalanya. Bahkan seorang guru besar seperti Syaikhona Kholil rela menanggalkan kedudukannya demi menjadi santri yang patuh kepada muridnya sendiri.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





