Khutbah Jumat: Ujian yang Harus Kita Syukuri

Ujian yang Harus Kita syukuri

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Sadarkah kita bahwa sering kali cara kita memandang takdir Allah masih sangat dangkal? Ketika hidup berjalan lancar, bisnis sukses, dan badan sehat, kita dengan mudah berucap syukur. Namun, ke mana perginya syukur itu ketika Allah sedikit saja menggeser kenyamanan kita dengan kemiskinan, penyakit, atau rasa takut?

Kita sering terjebak dalam dualisme yang keliru. Kita mengira nikmat dan ujian adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Padahal, pernahkah kita berpikir, bagaimana jika musibah yang hari ini kita keluhkan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah yang paling tinggi?

Perhatikan bagaimana Allah SWT mengingatkan tabiat dasar manusia dalam Surat Asy-Syura ayat 27:

 وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi.”

Ayat ini adalah sebuah tamparan bagi kita semua. Allah Maha Mengetahu bahwa jika semua keinginan kita Allah turuti, kita akan hancur karena kesombongan. Maka, hilangnya sebuah nikmat duniawi sebenarnya adalah benteng yang Allah bangun agar iman kita tidak runtuh. Oleh karena itu, dalam menghadapi setiap ketetapan Allah, seorang mukmin tidak boleh hanya memilih salah satu; ia wajib menggabungkan dua kewajiban sekaligus: sabar dan syukur.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Mungkin timbul skeptisisme di benak kita: “Bagaimana logikanya? Bagaimana mungkin sabar dan syukur bersatu, sedangkan sabar itu untuk kesedihan dan syukur untuk kebahagiaan?”

Imam al-Ghazali menyampaikan jawaban ini di kitab Ihya’ Ulum ad-Din, beliau mengalasi karena satu takdir bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang. Secara fisik kita bersabar menahan dampaknya, namun secara akal dan keimanan, kita wajib bersyukur.

Karena ada lima alasan rasional mengapa setiap musibah di dunia ini pada hakikatnya adalah nikmat bagi kita semua:

Pertama, lihatlah batasan musibah itu. Mengapa kita harus bersyukur? Karena musibah yang menimpa kita tidak dijadikan lebih besar oleh Allah. Jika Allah berkehendak melipatgandakan penyakit atau kerugian kita hari ini, siapa yang bisa mencegah-Nya? Maka, fakta bahwa ujian ini hanya sebatas ini, adalah nikmat yang harus disyukuri.

Kedua, lihatlah sasaran musibah itu. Bersyukurlah karena yang diuji adalah urusan duniawi kita, bukan agama kita. Kehilangan harta bisa dicari, tetapi kehilangan iman adalah kebinasaan yang abadi. Itulah mengapa Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa perlindungan: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.”

Ketiga, lihatlah waktu penyerahan hukuman. Mengapa kita tidak bersyukur ketika Allah mempercepat teguran-Nya di dunia? Setiap kesulitan di dunia memiliki batas akhir. Jauh lebih baik kita mengalirkan air mata di dunia akibat ujian, daripada Allah menunda hukuman atas dosa-dosa kita di akhirat—sebuah tempat di mana azab tidak mengenal kata selesai.

بَارَكَ اللهُ ِليْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Sebagai penegasan akhir dari khutbah ini, mari kita bedah dua alasan rasional terakhir mengapa syukur harus tetap tegak di tengah badai ujian.

Keempat, musibah ini adalah kepastian hukum yang sudah selesai Allah tulis. Apa yang menimpa kita hari ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh jauh sebelum kita dilahirkan. Artinya, peristiwa ini adalah sesuatu yang mutlak harus kita lewati. Ketika ujian itu datang hari ini, bersyukurlah, karena satu jatah ujian dalam hidup kita telah selesai kita tunaikan dan tidak akan kembali lagi.

Kelima, hitunglah kalkulasi matematis pahalanya. Ujian dunia ini ibarat obat yang pahit saat ditelan, namun menyembuhkan secara total pada hasil akhirnya. Allah SWT memberikan jaminan keuntungan yang luar biasa bagi orang-orang yang mampu bertahan, sebagaimana yang ditegaskan dalam Surat Az-Zumar ayat 10:

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Mari kita jujur pada diri kita sendiri. Di manakah posisi mentalitas iman kita selama ini? Apakah kita termasuk golongan yang hanya mau menerima ketentuan Allah yang enak saja, lalu mencaci-maki takdir ketika keadaan memburuk?

Ingatlah, mengeluh tidak akan pernah mengubah ketetapan Allah, ia hanya akan menghapus pahala kita. Memang, secara syariat kita diperintahkan untuk selalu meminta keselamatan (afiat), sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

 سَلُوا اللهَ العَافِيَةَ ، فَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنَ العَافِيَةِ إِلَّا اليَقِينَ

“Mintalah afiat kepada Allah, karena tidak ada pemberian yang lebih utama setelah afiat melainkan keyakinan (iman).” (HR. Tirmidzi)

Namun, jika afiat itu hari ini belum Allah berikan, maka tidak ada pilihan lain bagi seorang mukmin kecuali meluruskan barisan. Hadapi ujian dengan keteguhan sabar, dan temukan celah nikmatnya dengan pembuktian syukur.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses