HomeAngkringMari Lawan Narkoba (Bag-2)

Mari Lawan Narkoba (Bag-2)

0 0 likes 436 views share

Baca dulu Bagian I

Setiap yang Memabukkan adalah Arak

Pertama kali yang dicanangkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam masalah arak, Beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak tersebut. Tetapi Beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkannya, yaitu efek memabukkan. Oleh karena itu, bahan apapun yang secara nyata dapat memabukkan dapat dikategorikan sebagai arak. Apapun merek dan namanya, dan apapun bahan yang dipakainya. Atas dasar ini, maka bir dan sebagainya termasuk minuman haram. Rasulullah pernah ditanya tentang minuman yang terbuat dari madu, atau dari gandum dan biji-bijian yang diperas hingga berubah menjadi minuman keras. Nabi Muhammad saw. menjawab, ”Semua yang memabukkan berarti arak, dan setiap arak adalah haram.” (HR. Muslim). Sayidina  Umar  pun  mengumumkan pula dari atas mimbar Nabi saw., ”Bahwa yang dinamakan arak ialah apa-apa yang dapat menutupi akal pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi memandang kadar sedikit atau banyaknya, tetapi efeknya yang memabukkan. Berapapun kadarnya, kiranya arak dapat menggelincirkan manusia menuju kehancuran dirinya. Oleh karena itu arak wajib untuk dijauhi. Rasulullah saw. pernah  menegaskan, ”Minuman apapun kalau banyaknya dapat memabukkan, maka sedikitnya  pun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi). ”Minuman apapun kalau satu faraqnya itu memabukkan, maka setakaran telapak tangan pun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi)

Sebenarnya obat-obatan dari barang yang haram, tidak lebih hanya sebuah perkiraan saja dapat menyembuhkan. Ibnu Qayim memperingatkan juga dengan tinjauan dari sudut kejiwaan. Ia mengatakan bahwa syarat sembuhnya dari penyakit haruslah berobat yang dapat diterima dengan akal, dan yakin akan manfaat dari obat itu serta adanya barakah kesembuhan yang dibuatnya oleh Allah. Sedangkan dalam hal ini telah dimaklumi bahwa setiap muslim berkeyakinan akan haramnya arak. Sehingga keyakinannya ini dapat mencegah orang Islam untuk mempercayai kemanfaatan dan barakahnya arak tersebut. Bahkan makin tingginya iman seseorang, makin besar pula kebenciannya terhadap arak. Sebab kepribadian seorang muslim harus membenci arak. Dengan demikian, arak adalah penyakit, bukan obat.

Walau demikian, jika terjadi keadaan darurat, maka darurat itu dalam pandangan syariat Islam mempunyai hukumnya tersendiri. Oleh karena itu, kalau seandainya ada obat yang dicampur dengan arak dapat dinyatakan sebagai obat untuk suatu penyakit yang sangat mengancam kehidupan manusia, dan tidak ada obat lainnya kecuali arak tersebut, maka dalam  keadaan  demikian,  berdasarkan kaidah agama yang selalu membuat kemudahan dan menghilangkan beban yang berat, berobat dengan arak tidak dilarang. Dengan syarat dalam batas seminimal mungkin.

Bersambung ke Bagian III (Habis)