Tag Archives: narkoba

Mari Lawan Narkoba (Bag-1)

Arak atau khamr, adalah bahan yang mengandung alkohol yang dapat memabukkan. Khamr sangat berbahaya terhadap pribadi seseorang. Baik terhadap akal pikiran, fisik, juga bagi agama dan kehidupan dunianya. Karena selain berdampak pada diri si pengguna, bahaya khamr akan merembet terhadap keluarga. Dan lebih luas lagi, betapa mengancamnya arak terhadap masyarakat dan bangsa, baik moral maupun etika.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh salah seorang peneliti yang mengatakan, bahwa tidak ada malapetaka yang lebih parah yang diderita manusia, selain bahaya yang disebabkan oleh arak. Jika diadakan penelitian secara teliti di rumah-rumah sakit, terbukti kebanyakan orang yang gila dan mendapat gangguan saraf, disebabkan karena arak. Kebanyakan orang yang bunuh diri ataupun yang membunuh kawannya sendiri dipicu oleh arak. Termasuk kebanyakan orang yang diliputi oleh suasana kegelisahan, orang yang membawa dirinya kepada lembah kebangkrutan, hingga dapat menghabiskan kekayaan miliknya, disebabkan oleh arak. Kalau terus diadakan penelitian secara cermat, niscaya akan ditemukan angka yang sangat mengerikan. Kita akan mendapati bahwa nasihat-nasihat atau peringatan tidak lagi begitu berarti.

Orang-orang Arab pada masa jahiliyah, sangat senang dengan minuman arak dan mereka menjadi pencandu berat terhadap arak. Ini dapat dibuktikan dalam bahasa mereka yang tidak kurang dari 100 nama dibuatnya untuk menyebut khamr tersebut. Dalam syair-syairnya, mereka puji khamr itu. Termasuk cawannya, kumpul-kumpulnya dan lain sebagainya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Setelah Islam datang, disusunlah rencana pendidikan yang sangat bijaksana sekali, yaitu dengan bertahap bahwa khamr itu dilarang. Pertama kali yang dilakukan, yaitu dengan melarang mereka untuk mengerjakan sembahyang dalam keadaan mabuk. Kemudian meningkatkan dengan diterangkan bahayanya sekalipun manfaatnya juga ada. Terakhir baru Allah menurunkan ayat secara menyeluruh dan tegas, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi  kamu dari  mengingat  Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (al-Maidah: 90-91)

Dalam  kedua  ayat  tersebut, Allah mempertegas diharamkannya arak dan judi, yang diiringi pula dengan diharamkannya berkorban untuk berhala dan undian, karena dinilai sebagai perbuatan najis dan kotor. Kata-kata kotor atau najis ini tidak pernah dipakai dalam Alquran, kecuali terhadap hal  yang memang sangat  kotor  dan buruk. Arak dan judi berasal dari perbuatan setan, sedang setan hanya ingin berbuat tidak baik dan melakukan segala keburukan. Karena itu, Alquran menyerukan kepada  umat  Islam  untuk  menjauhi kedua perbuatan itu sebagai jalan untuk menuju  kepada  kebahagiaan.

Selanjutnya Alquran menjelaskan juga tentang bahaya arak dan judi dalam masyarakat. Di antara bahayanya  yaitu  dapat  menghalangi orang untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya, diantaranya ialah sembahyang dan zikir. Juga dapat menimbulkan permusuhan     serta beraneka kebencian. Terakhir  Alquran menyerukan supaya kita berhenti dari minum arak dan bermain judi. Seruannya diungkapkan dengan kata-kata yang tegas, yaitu dengan kata-kata: berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Banyak sekali  negara-negara yang mengakui bahaya arak ini, baik terhadap pribadi, rumah tangga ataupun tanah air dan negara. Sementara ada yang berusaha untuk memberantasnya dengan  menggunakan kekuatan undang-undang dan kekuasaan, seperti Amerika, meskipun mereka gagal.

Bersambung ke Bagian II

Mari Lawan Narkoba (Bag-2)

Baca dulu Bagian I

Setiap yang Memabukkan adalah Arak

Pertama kali yang dicanangkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam masalah arak, Beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak tersebut. Tetapi Beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkannya, yaitu efek memabukkan. Oleh karena itu, bahan apapun yang secara nyata dapat memabukkan dapat dikategorikan sebagai arak. Apapun merek dan namanya, dan apapun bahan yang dipakainya. Atas dasar ini, maka bir dan sebagainya termasuk minuman haram. Rasulullah pernah ditanya tentang minuman yang terbuat dari madu, atau dari gandum dan biji-bijian yang diperas hingga berubah menjadi minuman keras. Nabi Muhammad saw. menjawab, ”Semua yang memabukkan berarti arak, dan setiap arak adalah haram.” (HR. Muslim). Sayidina  Umar  pun  mengumumkan pula dari atas mimbar Nabi saw., ”Bahwa yang dinamakan arak ialah apa-apa yang dapat menutupi akal pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi memandang kadar sedikit atau banyaknya, tetapi efeknya yang memabukkan. Berapapun kadarnya, kiranya arak dapat menggelincirkan manusia menuju kehancuran dirinya. Oleh karena itu arak wajib untuk dijauhi. Rasulullah saw. pernah  menegaskan, ”Minuman apapun kalau banyaknya dapat memabukkan, maka sedikitnya  pun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi). ”Minuman apapun kalau satu faraqnya itu memabukkan, maka setakaran telapak tangan pun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi)

[ads script=”1″ align=”center”]

Sebenarnya obat-obatan dari barang yang haram, tidak lebih hanya sebuah perkiraan saja dapat menyembuhkan. Ibnu Qayim memperingatkan juga dengan tinjauan dari sudut kejiwaan. Ia mengatakan bahwa syarat sembuhnya dari penyakit haruslah berobat yang dapat diterima dengan akal, dan yakin akan manfaat dari obat itu serta adanya barakah kesembuhan yang dibuatnya oleh Allah. Sedangkan dalam hal ini telah dimaklumi bahwa setiap muslim berkeyakinan akan haramnya arak. Sehingga keyakinannya ini dapat mencegah orang Islam untuk mempercayai kemanfaatan dan barakahnya arak tersebut. Bahkan makin tingginya iman seseorang, makin besar pula kebenciannya terhadap arak. Sebab kepribadian seorang muslim harus membenci arak. Dengan demikian, arak adalah penyakit, bukan obat.

Walau demikian, jika terjadi keadaan darurat, maka darurat itu dalam pandangan syariat Islam mempunyai hukumnya tersendiri. Oleh karena itu, kalau seandainya ada obat yang dicampur dengan arak dapat dinyatakan sebagai obat untuk suatu penyakit yang sangat mengancam kehidupan manusia, dan tidak ada obat lainnya kecuali arak tersebut, maka dalam  keadaan  demikian,  berdasarkan kaidah agama yang selalu membuat kemudahan dan menghilangkan beban yang berat, berobat dengan arak tidak dilarang. Dengan syarat dalam batas seminimal mungkin.

Bersambung ke Bagian III (Habis)

Mari Lawan Narkoba (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Narkotika

Arak adalah sesuatu yang dapat menutupi akal, sebuah ungkapan yang pernah dikatakan oleh Umar bin Khattab di atas mimbar Rasulullah saw. Kalimat ini memberikan pengertian yang tajam sekali tentang apa yang dimaksud dengan arak. Dengan demikian tidak banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan  kesamaran-kesamaran. Maka setiap yang dapat mengganggu pikiran dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang sebenarnya adalah arak. Yang dengan tegas telah diharamkan Allah dan RasulNya sampai hari kiamat nanti.

Semua bahan yang kini dikenal dengan nama narkotik, seperti ganja atau mariyuana, kokain, heroin, opium, oplosan, dan sejenisnya, maka pengaruh dari bahan-bahan tersebut sangat mempengaruhi terhadap perasaan dan akal pikiran. Sehingga terkadang yang jauh menjadi terasa dekat dan yang dekat menjadi seperti jauh. Hingga ia dapat melupakan kenyataan, dapat mengkhayal yang tidak akan menjadi kenyataan. Penggunanya bisa tenggelam dalam mimpi-mimpi dan lamunan yang menyesatkan. Orang yang mengkonsumsi bahan-bahan ini dapat melupakan dirinya, agama dan dunianya.

Belum lagi apa yang akan terjadi pada keadaan tubuhnya. Narkotika dapat melumpuhkan fungsi anggota tubuh manusia dan menurunkan tingkat kesehatan. Bahkan, narkotika dapat mengganggu kemurnian jiwa, menghancurkan moral, meruntuhkan kemauan dan melemahkan perasaan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban. Itu semua menyebabkan  para  pecandunya menjadi orang-orang yang  tak berguna dalam masyarakat.

Dibalik itu semua, narkotika dapat menghabiskan uang dan menghancurkan keharmonisan rumah tangga. Seringkali uang yang dipakai untuk membeli benda tersebut diambil dari  kebutuhan-kebutuhan rumah tangganya. Yang mungkin diambilnya dari dana untuk kepentingan anak-anaknya. Pada kondisi yang lebih parah, biasanya mereka akan melakukan apa saja untuk memenuhi tuntutan  kenginannya itu.

[ads script=”1″ align=”center”]

Di atas telah dibahas bahwa segala perbuatan yang haram, dapat membawa kepada keburukan dan bahaya, maka bagi kita sudah cukup jelas tentang haramnya bahan yang sangat buruk ini. Tidak diragukan lagi akan bahayanya terhadap kesehatan, jiwa, moral, masyarakat, maupun perekonomian. Haramnya narkotika ini telah disepakati oleh para ahli fikih, yang pada zamannya dikenal dengan istilah al-khabaits (yang jelek-jelek). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam tinjauannya, mengatakan: ”Ganja (hasyisy) adalah  bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak. Hasyisy ini selalu dipakai oleh orang-orang yang tidak baik. Biasanya dihirup oleh para pecandunya untuk mabuk-mabukkan dan dinikmatinya dengan cara bersenang-senang. Juga biasanya dibarengi dengan minuman- minuman yang memabukkan.”

Bedanya  ganja  dengan arak, yaitu bahwa arak dapat menimbulkan suatu reaksi pertentangan dan permusuhan. Tetapi ganja dapat menimbulkan suatu krisis dan kelemahan. Karena itu dia dapat merusak pikiran dan membuka pintu syahwat serta hilangnya semangat. Oleh karena itu ganja dapat lebih berbahaya daripada minuman keras. Ini sudah pernah terjadi di kalangan  orang-orang Tartar. Bagi orang yang mengkonsumsinya, baik sedikit ataupun banyak dikenakan hukuman seperti minuman keras. , yaitu didera 80 atau 40 kali.

Ibnu Taimiyah selanjutnya berkata: ”Menurut kaidah syariat, semua barang haram yang dapat mengganggu jiwa seperti arak, zina, dan sebagainya dikenakan hukum had (hukuman tindak kriminal). Sedangkan yang tidak mengganggu jiwa seperti makan bangkai dikenakan tindakan ta’zir (hukuman psikologis). Adapun ganja termasuk bahan yang bila orang merasakannya akan berat untuk meninggalkannya. Hukum haramnya telah ditegaskan dalam Alquran dan Sunnah terhadap orang yang mengkonsumsinya sebagaimana makan makanan lainnya.”

Dalam syariat Islam terdapat suatu kaidah umum, yang menetapkan bahwa setiap muslim tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat mematikan, baik ia bereaksi cepat ataupun lambat. Seperti racun dengan segala macamnya, atau sesuatu yang membahayakan termasuk makan atau minum yang terlalu banyak yang menyebabkan sakit.

Begitulah, betapa kita harus menjauhkan diri dari barang berbahaya ini. Dan sungguh menyedihkan, faktanya bahwa negara kita saat ini sudah masuk menjadi negara darurat narkoba. Hal tersebut dikarenakan angka prevalensi penyalah guna narkotika di Indonesia pada survei tahun 2015 mencapai 2,20 persen atau lebih dari 4 juta orang yang terdiri dari penyalah guna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu.

Semoga kita senantiasa diberi pertolongan oleh Allah swt. untuk tetap termasuk dari golongan orang-orang yang beriman. Mereka yang memelihara diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Amin…

Guyuran Satu Miliar Nariyah untuk Bangsa

LirboyoNet, Kediri—Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah serempak di seantero Nusantara pada Jumat malam (21/10/16) bukanlah even yang asal muncul, asal rame, atau hanya sebuah cara untuk bergegap gempita. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sekarang adalah bangsa yang penuh tantangan. Banyak gangguan dan permasalahan berat yang musti diselesaikan dengan segera.

Ketua Tanfidziyah PBNU ini menyimpulkan, setidaknya, ada tiga masalah besar yang sedang menjangkit bangsa Indonesia. Pertama, wabah ekstrimisme dan radikalisme telah demikian menjamur di tengah masyarakat. Indonesia aman, menurut siapa? Meski tak seekstrim yang terjadi di Irak-Suriah, bom bunuh diri masih saja ditemukan kasusnya. Di satu daerah, pelakunya bahkan masih usia belasan tahun. Menurutnya, ini bukan masalah yang main-main, dan harus dituntaskan secepatnya. Rasulullah saw. saat mengelola pemerintahannya, pernah mengalami masalah yang sama. Dalam menyikapi kemunculan para ekstrimis (murjifûn), Rasulullah saw. tak segan-segan mengusir mereka keluar dari Madinah. Merekalah pengganggu stabilitas dan keamanan, bukan saja kepada pemerintah-negara, tapi juga sampai kepada aspek-aspek sempit dalam masyarakat.

Kedua, kemiskinan yang diderita masyarakat tak berkesudahan. Dengan mengutip beberapa data valid, terungkap bahwa kesenjangan antara masyarakat bawah dan atas sangat tinggi. Lebih dari lima puluh persen kekayaan Indonesia dikuasai segelintir orang. Dan sepertinya, masyarakat masih merasa nyaman dengan fakta ini. Padahal, Abu Hasan as-Syadzili, seorang ulama besar, tak pernah menghendaki kemiskinan. Ia telah dikenal sejarah sebagai ulama yang sangat royal. Pakaiannya, parfumnya, kehidupannya, jauh dari kesan kumuh dan miskin. Tentu saja ini mengundang rasa heran sebagaian muridnya. Bagaimana bisa, seorang ulama dengan segala keilmuan agamanya, ternyata tak lepas dari gemerlap dunia? Dengan tenang as-Syadzili mengurai jawabannya, “Pakaianku yang bagus ini seakan berbicara, ‘anâ al-ghaniy, falâ tarhamûnî (‘Aku seorang alim nan hartawan, jangan kasihani diriku!)’. Sementara pakaian lusuh akan memberi kesan, ‘anâ al-faqîr, fatarhamûnî (Aku miskin, maka kasihani diriku).”

Ketiga, korban keganasan narkoba sudah meraja di segala lini. Lebih-lebih, yang menjadi korban paling riskan adalah para remaja. Beruntungnya, Indonesia masih dibentengi oleh pesantren. Kiai dan pesantrennya adalah pertahanan ampuh (fî amnin wa amânin) bagi serangan narkoba. Keduanya bagaikan Asiyah (istri Firaun) yang gigih merawat Musa. Musa yang kemudian menjadi remaja terbuka matanya: ternyata yang mengelilinginya selama ini adalah budaya-budaya buruk: mabuk-mabukan; pelacuran; dan segala hal buruk lain. Namun kenapa Musa kecil samasekali tak terpengaruh budaya itu? Begitulah cara pesantren melindungi santri-santrinya.

Maka diperlukan kekuatan besar untuk melepaskan diri dari berbagai masalah ini. Pembacaan Sholawat Nariyah menjadi salah satu pilihannya. Mengapa? KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang juga Rais Syuriah PWNU Jawa Timur menegaskan, telah banyak teks sejarah yang memberikan pencerahan bahwa Sholawat Nariyah memiliki faedah-faedah agung. Harapannya, tentu dengan sholawat ini, bangsa akan dibantu oleh satu daya yang super, yang mampu mewujudkan segala kehendak bangsa dan menepikan hal-hal yang tak diinginkan dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah yang juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan, ini dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo. Para santri dan hadirin dengan khidmat mengikuti bacaan yang dilantunkan oleh beliau. Sebelumnya, acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Beberapa tokoh turut hadir di dalam acara. Diantaranya, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Rektor Universitas NU Surabaya, H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, Lilik Muhibbah, Wakil Walikota Kediri, aparat pemerintahan, pengurus PCNU, KH. A. Habibulloh Zaini, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah Ponpes Lirboyo.][