Tag Archives: Muslim

Jadwal Pengajian Ramadlan Pondok Lirboyo 2016

LirboyoNet, Kediri – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadlan kali ini Pondok Pesantren Lirboyo juga menggelar pengajian kilatan. Tahun ini 63 Qori’ akan membacakan lebih dari 50 judul kitab dengan berbagai disiplin ilmu, mulai tafsir (surat yasin), fikih, akhlak, dll. Diagendakan, pengajian kilatan ini akan selesai sebelum acara Haul Simbah KH Abdul Karim, tanggal 20 Ramadlan / 25 Juli 2016.

Terkait administrasi santri kilatan, para santri atau peserta pengajian kilatan diharuskan menyelesaikannya sebelum tanggal 10 Ramadlan 1437 H./ 14 Juli 2015 M. Administrasi yang dimaksud adalah membayar syahriyah sebesar Rp. 35.000,- dengan perincian Rp 30.000,- untuk syahriyah dan Rp. 5.000,- untuk bantuan listrik.

Untuk jadwal pengajian, silahkan download di sini.

Kontruksi Nalar dan Perkembangan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Menilik sejarah umat Islam di masa akhir khilafah dan masa-masa setelahnya, Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan kekuatan riil yang berkembang dan mengakar melalui perjuangan di luar lingkaran pertikaian. Saat konflik mulai merusak berbagai sendi kehidupan umat, sekelompok sahabat dan generasi sesudahnya selalu bersikap tawasuth; mengambil jalan tengah, dan tawazun; seimbang di dalam menyikapi setiap persoalan, dan bersikap tasamuh; toleran, adil dan netral di dalam menghadapi perselisihan.

Pada saat terjadi perselisihan politik antara sahabat Ali Ibn Abi Thalib dengan Muawiyah Ibn Abi Sufyan, terdapat beberapa sahabat yang bersikap netral dan menekuni bidang keilmuan. Sikap netral seperti itu juga dilanjutkan oleh beberapa tokoh tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Dalam kondisi seperti ini, terdapat sejumlah sahabat antara lain: Ibn Umar, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan lain-lain, yang menghindarkan diri dari konflik dan menekuni bidang keilmuan dan keagamaan. Dari kegiatan mereka inilah kemudian lahir sekelompok ilmuan sahabat, yang mewariskan tradisi keilmuan itu kepada generasi berikutnya. Selanjutnya melahirkan para muhadditsin (ahli hadis), fuqaha (para ahli fikih), mufassirin (para ahli tafsir), dan mutakallimin; para ahli ilmu kalam. Kelompok ini selalu berusaha untuk mengakomodir semua kekuatan, model pemikiran yang sederhana, sehingga mudah diterima oleh mayoritas umat Islam dan mengakar kuat sebagai kekuatan riil dalam ideologi, syariat, maupun bidang-bidang yang lain.

Pada kurun berikutnya, potret “perjuangan tradisional” serupa dikembangkan oleh Al-Asy’ariy dalam menegakkan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sebagaimana telah terdahulu, awalnya Al-Asy’ariy belajar kepada Al-Jubba’i, seorang tokoh Mu’tazilah dan sementara waktu Al-Asy’ariy menjadi penganut Mu’tazilah, sampai tahun 300 H. Dan setelah beliau mendalami paham Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba’i dalam berbagai masalah, terutama masalah Kalam. Perdebatan itu membuat Al-Asy’ariy meragukan konsep akidah Mu’tazilah, dan pada masa berikutnya mengikrarkan dirinya keluar dari Mu’tazilah, dan  berjuang memantabkan Ahli Sunnah wal Jamaah.

Al-Asy’ariy membuat sistem hujjah yang dibangun berdasarkan perpaduan antara dalil nash (naql) dan dalil logika (‘aql). Dengan ini beliau berhasil memukul telak hujjah para pendukung Mu’tazilah yang selama ini mengacak-acak eksistensi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bisa dikatakan, sejak berdirinya aliran Asy’ariyah inilah Mu’tazilah berhasil dilemahkan dan dijauhkan dari kekuasaan. Setelah sebelumnya sangat berkuasa dan melakukan penindasan terhadap lawan-lawan debatnya, termasuk di dalamnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemampuan Al-Asy’ari dalam melemahkan Mu’tazilah bisa dimaklumi, karena sebelumnya Al-Asy’ariy pernah berguru kepada mereka. Beliau paham betul seluk beluk logika Mu’tazilah dan dengan mudah menguasai sisi dan titik lemahnya. Meski awalnya kalangan Ahlus Sunnah sempat menaruh curiga kepada beliau dan pahamnya, namun eksistensinya mulai diakui setelah keberhasilannya memukul Mu’tazilah dan komitmennya kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di masa pemerintahan Islam dikuasai Bani Abbasiyah, terjadi perdebatan sengit antara para ulama dan tokoh-tokoh teologi yang ditimbulkan akibat masuknya nilai-nilai filsafat non-Islam terutama dari barat (Yunani). Karena akar filsafat dan teologi mereka berangkat dari mitos tanpa dasar agama samawi yang kuat. Hal ini menimbulkan gejolak di dunia Islam dan berubah menjadi pertentangan tajam. Dalam tubuh umat Islam, pertentangan ini terkonsentrasi pada tarik menarik antara dua kutub utama yaitu Ahlus Sunnah yang mempertahankan paham berdasarkan nash (naql) dan Mu’tazilah yang cenderung menafikan nash (naql) dan bertumpu kepada akal semata. Karena inilah mereka disebut dengan kelompok rasionalis.

Memanfaatkan pemerintahan yang didominasi oleh pengagum filsafat, Mu’tazilah pada akhirnya berhasil mempengaruhi penguasa saat itu untuk memaklumat faham Mu’tazilah sebagai akidah resmi negara. Mu’tazilah berhasil memboncengi kekuasaan khilafah Abbasiyah semenjak khalifah al-Ma’mun hingga kepemimpinan al-Mutawakkil. Mu’tazilah yang memegang kendali kekuasaan mencoba melakukan upaya pembatasan gerak dan pencekalan terhadap lawan-lawan mereka. Memanfaatkan isu-isu akidah, mereka berupaya melikuidasi dan melenyapkan tokoh lawannya. Perlawanan “Islam tradisional” berbasis Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak bisa terelakkan, dan mulai menghebat pada saat barisan Ahlus Sunnah dikomandani oleh dua tokoh ulama yang cukup berpengaruh, Al-Asya’ri dan Al-Maturidi. Mereka dalam hal ini menjadi kutub kekuatan madzhab akidah yang sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang sedang di atas angin.

Al-Asy’ari dan Al-Maturidi mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan menggunakan bahasa dan logika lawannya. Argumentasi dalil nash (naql) tidak begitu efektif digunakan sebagai alat penangkal argumen, karena lawan sejak semula sudah mengesampingkan dan menafikan dalil nash. Dapat kita saksikan sistematika hujjah Al-Asy’ary dan Al-Maturidi menyajikan kombinasi antara dalil aqli dan naqli. Pada masanya, metode ini sangat efektif untuk meredam argumen lawan.

Tentu tidak tepat membandingkannya dengan zaman yang berbeda. Karena kebutuhan dan bahasa umat tiap masa selalu berkembang dinamis. Mereka yang tidak memahami sejarah, atau bahkan tidak memahami konstruksi pemikiran Al-Asy’ary dan Al-Maturidi hanya memotret sisi rasionalisasi dalam kitab-kitab Al-Asy’ary dan Al-Maturidi maupun pengikutnya. Mereka yang tidak memahami duduk permasalahan, tergesa-gesa menuduh bahwa madzhab teologi ini sesat. Padahal di masanya, mayoritas ulama berada di pihak Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, karena mereka menyaksikan pertarungan dan pergulatan pemikiran antara Ahli Sunnah dan kelompok rasionalis.

Dan secara de facto, mazhab akidah Asy’ariyah dan Al-Maturidi memang madzhab yang paling banyak dianut umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam. Di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqaha, imam dan sebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran Asy’ari, belum tentu semuanya menyepakati.

Sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqaha dalam Islam adalah pemeluk madzhab akidah al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Antara lain Al-Baqilani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Ibnu Abdis Salam, Ibnu Daqiq Al-‘Id, Al-Fakhrur Razi, AI-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-Syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Sayyidinnas, Al-Balqini, al-Iraqi, An-Nawawi, Ar-Raffi, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti dan lain sebagainya. Dari kalangan mufassirin mutaqaddimin, ada Al-Qurthubi, Ibn Katsir, Ibn ‘Athiyah, Abu Hayyan, Fahr Ad-Din Ar-Razi, Al-Baghawi, Abu Laits, Al-Wahidi, Al-Alusi, Al-Halabi, Al-Khathib As-Sarbini. Mufassirin muta’akkhirin diwakili, Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Ibn ‘Asur dan lain-Iain. Sedangkan dari wilayah barat, khilafah Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (al-Jad), Ibnul Arabi, Al- Qadhi ‘lyyadh, Al-Qurthubi dan Asy- Syatibi.

Para ulama pengikut mazhab Hanafiyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Al-Maturidiyah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Asy’ariyah. Mayoritas universitas Islam terkemuka di dunia menganut paham Al-Asy’ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Maroko, Deoban di India, dan masih banyak lagi universitas lainnya.

Sehingga tentunya mereka yang menilai Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah sesat perlu berpikir ulang, karena dengan menganggap sesat mereka, tentu saja kita perlu mengeluarkan para ulama di atas dari garis Islam, begitu juga universitas Islam dan para pemimpinnya. Bahkan semestinya mayoritas umat Islam sepanjang masa pun harus dianggap sesat dan keluar dari garis Islam. Tentu saja ini tidak sederhana dan bukan persoalan mudah. Kesimpulan obyektifnya, tidak mungkin dipungkiri bahwa Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa akidah ini telah disepakati oleh mayoritas ulama dan diamini serta diterima dengan sukarela oleh mayoritas umat Islam secara turun temurun.][

Penulis : Darul Azka

Berhentinya Adzan Di Langit Andalusia

Bumi Andalusia, secara etimologis nama ini punya kaitan dengan kaum Vandal, orang-orang yang sudah lebih dulu menghuni semenanjung Eropa Barat jauh sebelum orang-orang Arab. Tanah taklukan ini sempat bersinar oleh cahaya Islam, dimana pada masa jayanya, ketika tiba waktu salat, suara adzan akan datang bersahut-sahutan silih berganti di seluruh penjuru negeri. Andalusia memancarkan kharisma dan panorama Islam, yang hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Andalusia, terutama kota Cordova, kotanya penulis tafsir kenamaan Islam, tafsir Qurthuby, memiliki reputasi yang maju. Hampir semua orang di kota itu bisa membaca.

Emirat Ummayah yang “didirikan” oleh Abd Al-Rahman Al-Dakhil mampu bertahan sekitar dua tiga perempat abad. Melalui perjuangan penuh, perlahan-lahan seluruh daerah bersatu. Prestasi yang gemilang dan menggembirakan, karena Islam mampu menunjukkan bahwa kemenangan selalu berpihak kepadanya. Namun patut disayangkan, seiring berjalannya waktu, akibat intrik, satu demi satu provinsi-provinsi yang ada mulai lepas dari kekuasaan sang Amîr.

Pada masa kepemimpinan Amîr ke delapan, Abd Al-Rahman III, Andalusia berdiri diatas angin. Ia mencapai puncak kejayaan epos Arab di semenanjung itu. Cordova memperoleh reputasi sebagai ibukota maju dan “tiada tara” untuk sebuah wilayah yang disatukan dengan susah payah. Menguntit saingan ketatnya di timur, Baghdad. Abd Al-Rahman III yang naik tahta di usa belia, dua puluh tiga tahun, mampu membuktikan prestisenya sebagi pemimpin yang cakap, punya keteguhan hati, dan kejujuran. Padahal dia mendapat “warisan” negeri yang sedang terpuruk. Kekuasaan Emirat Ummayah kala itu hanya tersisa kota Cordova dan sekitarnya. Namun pahlawan sejati ini mampu tampil menyatukan kembali provinsi-provinsi yang hilang ke dalam kekuasaan yang absolut. Dalam setengah abad kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Emirat Ummayah semakin meluas ke beragam penjuru.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sukses mengatasi problem politik, Abd Al-Rahman III mulai membangun kotanya, dilanjutkan dua penerusnya, Al-Hakam II dan Al-Hajib Al-Manshur, Emirat Ummayah mencapai masa kejayaan di tiga periode ini. Masa supremasi muslim atas bumi Andalusia yang “belum dapat diulang” kembali sampai sekarang. Kita tentu membayangkan, ada di Cordova pada masa Al-Hakam II seribu tahun yang lalu, sama dengan ketika saat ini kita ada di Madinah Al-Munawwaroh. Dimana kita bisa melihat lambang bulan sabit ada dimana-mana. Dan kita bisa melihat suasana kental negara muslim. Bedanya, di sana sesekali akan turun salju dan di Madinah tak pernah ada salju. Suasana pasar muslim yang meriah, juga aktivitas keilmuwan di Masjid Agung Cordova, Mezquita yang mirip dengan halaqoh pengajian-pengajian di Masjid Nabawi saat ini. Diceritakan, Cordova pada masa keemasannya menjadi kota paling berbudaya bukan hanya di wilayah Andalusia saja, namun di seluruh Eropa. Bersama Konstantinopel dan Baghdad, Cordova menjadi pusat kebudayaan dunia. Setidaknya ada 130.000 rumah, tujuh puluh tiga perpustakaan, banyak toko buku, masjid dan istana. Cordova memiliki bermil-mil jalan yang rata disinari lampu-lampu dari rumah-rumah di pinggirannya. Padahal, tujuh abad setelah ini, London “hanya” punya satu lampu umum. Dan di Paris berabad-abad kemudian, orang yang keluar rumah saat hujan turun akan terjebak dalam banjir kubangan lumpur setinggi pergelangan kaki. Para penguasa di luar kota yang membutuhkan penjahit, penyanyi, arsitek, bahkan ahli bedahpun akan menuju kota ini. Kemasyhuran Cordova sebagai ibukota bahkan menembus telinga orang-orang Jerman. Hingga ada yang menjulukinya “permata dunia”.

Keagungan sejati terpancar dalam keilmuwan, ketika Al-Hakam II membangun dua puluh tujuh sekolah gratis di sana. Didorong oleh rasa cintanya pada ilmu pengetahuan, dia juga membangun perpustakaan raksasa. Setidaknya ada 400.000 judul buku yang dikoleksi. Ada yang merupakan hasil perburuan para karyawannya yang menjelajah jauh sampai ke Iskandariah, Damaskus, dan Baghdad. Dibawah naungannya, Universitas Cordova yang mulai dirintis oleh Abd Al-Rahman III semakin hidup dan berkembang meraih keunggulan diantara lembaga-lembaga pendidikan lain di seluruh dunia. Mendahului Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Nidzâmiyyah di Bahgdad. Bertempat di Mezqiuta, pelajarnya bukan hanya dari kalangan muslim, bahkan pelajar non muslimpun turut “mengadu nasib”. Profesor-profesor dari timur diundang dan digaji di sana. Mezquita, masjid yang luar biasa indah ini, benar-benar menyaksikan Emirat Ummayah di Andalusia yang menggeliat sejak awal, hingga akhirnya tenggelam. Mezquita masih kokoh berdiri hingga kini, konon sebagai satu-satunya simbol Islam yang tersisa di sana, dan sebagai saksi bisu, atas jejak peradaban Islam di Eropa.

Namun zaman kemudian berganti, seiring berakhirnya periode kepemimpinan Al-Hâjib Al-Manshûr, pengaruh Islam mulai “redup” dibawah pemimpin-pemimpin lain yang kurang cakap menggantikannya. Dalam waktu dua puluh satu tahun saja, konon beberapa khalifah silih berganti dinaik-turunkan. Negeri semakin kacau dan carut marut, perebutan kekuasaan tak terelakkan. Adalah Ali bin Hammud, pendiri dinasti Hammudiyyah yang mengklaim diri sebagai khalifah penguasa Cordova menggulingkan Emirat Ummayah. Dan ketika Hisyam III dari Dinasti Ummayah berhasil merebut kembali kekuasaan Emirat Ummayah, keadaan sudah semakin kacau. Emirat Ummayah tak terselamatkan lagi. Sistim kekhalifahan yang dihapus pada masa itu menandai berakhirnya kejayaan Emirat Ummayyah di Andalusia.

Islam belum “hilang” meski Emirat Ummayyah runtuh. Karena menyusul kemudian, bangkit dari puing-puing nama besar Ummayah, muncul beberapa negara-negara kecil. Seperti Dinasti Murabbitun dan Muwahhidun. Namun alih-alih kembali bersatu untuk membentuk kepemimpinan tunggal, negeri-negeri kecil ini justru terus menerus bertikai dalam perang saudara. Setelah sebagian mereka akhirnya kalah, mereka sadar musti menghadapi musuh “yang lebih kuat”, penguasa Kristen di utara yang mulai bangkit. Ada Kerajaan Kristen Castille dan Aragon, dua kerajaan yang berbeda dan menjadi musuh bersama. Namun ketika akhirnya dua kerajaan Kristen ini bersatu, “lonceng kematian” bagi negara-negara muslim kecil menggema.

Ketika Granada akhirnya direbut tahun 1492 M, salib akhirnya menggantikan bulan sabit di menara-menara kota itu. Bencana selanjutnya adalah ketika Dekrit kerajaan mengharuskan orang-orang muslim pindah agama. Jika tidak, mereka harus angkat kaki dari Andalusia untuk selama-lamanya. Bahasa, intuisi, peribadatan, dan cara hidup muslim harus ditinggalkan. Perintah pengusiran terakhir tahun 1609 M  mengakibatkan deportase besar-besaran, hampir seluruh penduduk muslim keluar dari bumi Andalusia. Mereka mendarat di Afrika, atau berpetualang lebih jauh dengan kapal-kapal. Saat itu, mereka yang hidup di sana akan sangat merindukan, ketika Islam mencapai masa supremasinya. Adzan melengking di langit Andalusia, dengan suara yang bersahut-sahutan. Namun bukannya sejarah yang kurang berpihak, apalagi menyalahkannya, salah siapa tidak terdengar lagi Adzan di bumi Andalusia? Di sana Islam pernah jaya seperti matahari, namun kemudian muncul gerhana yang tak kunjung hilang hingga kini.

Pada akhirnya, kadang kita bertanya, ketika kita memimpin suatu komunitas yang kacau. “Apa yang harus aku lakukan?” Sebagai penanggung jawab penuh yang gagal membawa apa yang kita pimpin menuju cita-cita. Kesalahan ini berakar kadang pada kita sendiri. Pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan, akan membawa rakyatnya menuju masyarakat terpelajar. Pemimpin yang kuat, akan membawa masyarakatnya bersatu. Namun pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri, akan membawa masyarakatnya menuju “kepastian”. Pasti tak sepeti yang dia harapkan. Sebelum menyalakan komunitas yang kita pimpin, sudahkah menyadari siapa yang perlu introspeksi diantara kita ataukah mereka? []

Penulis, M. Khoirul Wafa

Penjelasan Islam Nusantara

Pada hari Senin 17 Agustus 2015, alhamdulillah guru kita yang mulia Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun akhirnya sampai di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik. Walaupun pertemuan dengan beliau tidak terlalu lama, akan tetapi hal itu cukup menghibur: karena sudah lama tidak berjumpa dengan beliau.

Dan alhamdulillah dalam pertemuan yang sebentar itu kita dapat menimba ilmu dari beliau. Mulai dari birrul masyayikh (pada pertemuan pertama): karena beliau melihat murid-murid serta alumnus Universitas Al-Ahqoff berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau, walaupun rumah alumni rata-rata tergolong jauh dari Gresik, tempat beliau beristirahat.

Kemudian pertemuan untuk keduanya dilaksanakan keesokan harinya, Selasa 18 Agustus 2015, sekitar jam 9.30 WIB. Dan pada pertemuan itu, saya sempat menyodorkan pertanyaan kepada beliau. Kurang lebih yang saya tanyakan adalah demikian:

”Ya habib, apa pandangan jenengan tentang Islam Nusantara, apakah didalamnya terdapat perpecahan umat Islam atau sebaliknya?”

Beliau tentu saja sudah mendengar istilah ini, karena memang sebelumnya ada teman-teman yang bertanya kepada beliau dan tentunya beliau itu tidak telat Info: karena beliau memiliki perhatian khusus serta wawasan luas tentang Islam di Indonesia. Segala pemikiran-pemikiran di Indonesia, beliau mengetahuinya.

Sebenarnya beliau menjawab pertanyaan saya dengan panjang lebar. Tapi sayang, tidak semuanya saya ingat. Dan yang akan saya tulis, hanya yang tersisa di memori saya, dan mungkin pengutipannya dengan makna saja (tanpa merubah pendangan global beliau).

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Jawaban beliau kurang lebih demikian –kutipan ini tidak secara harfiyah tapi semakna dengan yang beliau sampaikan:

“Pemikiran ini sudah saya dengar sebelumnya, dan pemikiran ini berbeda dengan berbedanya sudut pandang yang digunakan. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan Islam yang dibawa oleh Walisongo, yaitu yang sesuai dengan adat-istiadat orang Jawa (maksudnya Indonesia secara umum: karena penggunaan lafad Jawa digunakan untuk jawa dan sekitarnya/Nusantara). Tidak ada kekerasan, dan sikap kaku. Justru mereka menggunakan metode dakwah dengan kelembutan dan toleransi. Sehingga dimungkinkan untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan adat sekitar. Sehingga, dalam masa yang tidak lama, penduduk Jawa (Indonesia) mudah untuk menerimanya dan pada akhirnya mayoritas penduduk Indonesia masuk Islam tanpa ada keterpaksaan sedikitpun. Madzhab fikih yang mereka anut adalah madzhab Syafi’i dan akidah Asyariyyah, serta thoriqoh Shufiyyah. Tak ada nilai-nilai kekerasan sedikitpun, justru sebaliknya. Seperti inilah yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Diantara beberapa ulama Nusantara yang mengembangkan pemikiran seperti ini ialah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisyri Syamsuri , KH. Kholil Bangkalan dan lain sebagainya.

Jika Islam Nusantara ditafsirkan dengan penafsiran tersebut, maka oke, tidak ada yang dipermasalahkan. Kita setuju dengan pemikiran tersebut: karena seperti inilah yang kita temui di buku-buku sejarah ulama-ulama salafussholih. Dan perlu diketahui bahwa dakwah tokoh-tokoh Hadramaut adalah dakwah yang bersih. Tidak ada niatan untuk mengumpulkan harta, apalagi menginginkan kekuasaan dan menjajah, apalagi mempengaruhi mereka dengan menyebarkan adat-adat yang tidak beres, tidak memaksa yang lain untuk masuk Islam.

Coba kita lihat, dakwah (baca: ekspansi) Belanda. Mereka telah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Apa yang mereka tinggalkan? Mereka tak meninggalkan apapun, tidak meninggalkan bahasa, pakaian, sekolah-sekolah, ataupun memberikan kemajuan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, mereka mengambil segalanya dari Indonesia, dari kekayaan dan harta Indonesia. Ditambah lagi dengan merampas buku-buku serta manuskrip-manuskrip yang telah ditulis oleh tokoh-tokoh Indonesia. Mereka tidak mau menikah dan menikahkan dengan penduduk pribumi. Jika salah satu dari mereka ada yang nikah dengan penduduk pribumi, mereka tidak segan-segan mengusirnya dari kalangan mereka dan menolak mereka dengan keras. Tidak mungkin bagi mereka untuk menerima dan berbaur dengan kehidupan orang Indonesia, tapi mereka hanya menganggap mereka hanya sebagai binatang yang ditunggangi untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, tidak memandang mereka sebagai manusia. Dan bukti nyatanya ialah realita.

Jika kalangan tokoh Hadromaut, berbalik 180 derajat: karena mereka menikah dan menikahkan dengan pribumi. Saya sendiri (al-habib) menemui keluarganya (dari kabilah Jamalullail), berapa banyak dari mereka yang berkulit hitam: karena kakek-kakek mereka berdakwah dan menikah dengan penduduk Afrika. Dan aku temukan yang lainnya berkulit putih: karena mereka dakwah dan menikah dengan orang-orang Turki. Begitu pula sebagian yang lain wajahnya sama sekali tidak mirip dengan orang arab: karena mereka berdakwah dan menikah dengan orang Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena mereka bisa berbaur dengan orang Indonesia dan bisa memasuki adat-istiadat mereka, mereka tidak memaksakan diri mereka untuk memasukkan adat-istiadat Hadramaut ke dalam lingkup Nusantara. Justru sebaliknya, merekalah yang berbaur dengan adat istiadat Nusantara. Kenapa demikian? Karena dengan itulah lebih bisa diterima. Terkadang sebagian bahasa Indonesia terpengaruh dengan bahasa Arab. Mereka menyebarkan adab, dan sopan santun dan bagaimana menghormati orang lain. Dan inilah salah satu karakteristik dari dakwah-dakwah tokoh Hadramaut di Indonesia. Terlebih dengan Walisongo, yang notabene leluhur mereka adalah dari asli Hadramaut bukan dari India ataupun Cina.

Namun jika para politisi memolitisir penafsiran Islam Nusantara, maka itu adalah hal lain, dan memiliki keadaan yang lain. karena mereka berusaha merubah makna Islam Nusantara dari makna aslinya. Ambillah sebagian contoh seperti perkataan mereka: Islam Nusantara mengembangkan sikap toleransi beragama dengan agama-agama lain, yang dengan demikian boleh seorang muslim menikah dengan yang beragama Budha, atau seorang wanita muslimah boleh menikah dengan pengikut agama Budha (atas dasar Islam Nusantara), dan hal ini bisa dikiaskan dengan yang lainnya.

Jika mereka berpendapat dengan pendapat yang seperti ini atau mendekatinya, maka secara pasti kita menolaknya: karena mereka menjadikan Islam Nusantara sebagai tameng yang memberi perlindungan kepada pemikiran-pemikiran nyleneh mereka dan mendapat semua tujuan-tujuan mereka. Dan menjadikannya sebagai tembok yang menjadi tempat persembunyian mereka di belakangnya. Karena memang ada orang yang seperti ini. Jika mereka menyangkal kepada kita terkait penafsiran di atas (yang pertama versi ulama ahlussunnah). Maka kita katakan kepada mereka –seperti salah satu kisah ulama, kalau tidak salah namanya Al-Jahidh ketika berdiskusi dengan orang Yahudi atau Nashrani ketika melihat orang-orang muslim tidak menerima ajaran Yahudi dan Nashrani: jika penafsiranmu atas Islam Nusantara sebagaimana penafsiran Walisongo dan KH Hasyim Asyari atau yang lainnya dari kalangan ulama Indonesia masa itu baik dari segi akidah, fikih ataupun thoriqoh, maka kami pasti menerimanya. Jika tidak, maka sama sekali kami menolak mentah-mentah penafsiranmu. Oleh karenanya wahai anak-anakku, jangan terkecoh dengan nama-nama, tapi lihatlah hakikat dan isinya. Jika sesuai dengan ajaran syariat maka terimalah, kalau tidak maka tolaklah.

Inti dari permasalahan ini bahwa Islam Nusantara memiliki nilai positif dan negatif. Hal yang positif ialah agar kita ketahui bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang selayaknya harus diikuti dan ditiru oleh para muslim di negara-negara lain: karena di dalamnya mengandung akhlak-akhlak yang lemah lembut, ungkapan yang indah, dan terdapat penerapan syariah yang sempurna. Tetapi kita tidak menutup-nutupi bahwa muslimin di negara-negara lainnya juga demikian. Hanya saja di Indonesia memiliki nilai plus, begitu pula dengan yang lain, mereka juga memiliki nilai lebih. Kita yakin dan tahu bahwa di Hadromaut terdapat adat-istiadat yang positif yang tidak ada di Indonesia. Begitu pula dengan sebaliknya, dan hal ini bisa dikiaskan kepada negara-negara lain.

Maka sebaiknya, setiap muslim mengambil hal-hal yang positif dari negara muslim yang lain: karena muslim satu dengan yang lainnya seperti bangungan kokoh yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jangan sampai memecah persatuan umat Islam di dunia. Ini adalah nilai positifnya.

Lima tahun sebelumnya saya memiliki proyek untuk membuat dauroh dengan kajian Islam di Indonesia dengan para kiai dan ulama di Indonesia, dan seharusnya mereka sebarkan dakwah ini ke negara-negara lainnya. Tapi kehendak-kehandak Allah memiliki kehendak lain.

Sementara sisi negatifnya ialah diantara mereka ada yang membanding-bandingkan bahwa Islam Nusantara itu lebih baik dari Islam Afrika, Amerika, dan Islam di negara-negara lainnya. Kemudian berusaha unjuk gigi dengan merasa paling benar, dan ini merupakan sikap yang pasti salahnya: karena sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa para muslimun menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jika salah satu dari mereka ada yang bersikap salah, ya harus dibenarkan. Jangan sampai hanya menyalah-nyalahkan apalagi dengan merasa paling benar dan mengaku-ngaku hanya dirinyalah yang memiliki tongkat kebenaran, bahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat, dan inilah yang termasuk dalam kategori sombong yang telah Allah SWT. larang.

Terkadang mereka memvonis atas sesuatu yang terjadi di negara-negara Arab dan menganggapnya sebagai bagian dari Islam, padahal sama sekali tidak termasuk dalam Islam sedikitpun, seperti fenomena takfir, membunuh para muslimin tanpa ada sebab yang diterima dan diakui oleh syariat yang sering kita temui di media sosial, seperti ISIS.

Hal yang seperti ini sama sekali tidak bisa dimasukkan ke dalam ranah Islam. Bagaimana mereka bisa menilai bahwa ini adalah Islam versi Arab atau Timur Tengah. Bahkan Timur Tengah sendiri sudah menjadi istilah yang popular di kalangan muslimin: karena istilah ini asal mulanya digunakan oleh Eropa Barat: karena letak geografi semenanjung Arab berada di Timur Tengah Eropa Barat, bukan untuk yang lainnya seperti Indonesia. Tapi sudah menjadi istilah yang popular mau bagaimana lagi?

Ujung-ujungnya, istilah ini (Islam Nusantara) bisa digunakan, tapi dengan penafsiran pertama yang telah disebutkan. Bukan dengan penafsiran yang dipelintir oleh politisi: karena yang demikian ini ditolak mentah-mentah dan merupakan penafsiran orang-orang berkepentingan. Maka, semua hal terutama hal-hal yang di atas, harus kita nilai dengan pandangan syariat. Jika sesuai dengan isi kitab dan sunnah rasul, maka betapa indahnya hal itu. Jika tidak, tinggal kita buang aja, jangan sampai kita tertipu dengan yang model begini. Dan lihatlah inti serta isi dari hal-hal yang baru tersebut.”

***

Inilah yang dapat saya tuliskan setelah memeras otak sampai habis isinya: karena waktu itu tidak bawa buku catatan atau merekam pengajian beliau dan sudah lewat dua hari dari muhadhoroh itu. Tetapi sebagaimana dalam pepatah Arab yang berbunyi: “Maa laa yudrok kulluh laa yutrok kulluh (suatu hal yang tidak bisa diambil semuanya, tidak bisa ditinggalkan semuanya)” yakni sebagian harus ada yang diambil. Terlebih ketika beliau dawuh waktu itu setelah muhadhoroh: “Kamu jangan bergantung pada rekaman-rekaman seperti ini, tapi ukirlah di dalam hati-hati kalian. Karena yang demikian itu pengaruhnya lebih besar dari yang lain dan lebih langgeng”. Semoga kita semua termasuk golongan yang beliau sebutkan. Amiin.

Yang saya sebutkan adalah versi saya (Abdul Aziz Jazuli, Lc., Mahasiswa Dirosah ‘Ulya, Universitas Al-Ahqaff Yaman) pada hari Selasa, 18 Agustus 2015, 3 Dzul Qo’dah 1436 H.

Penulis, Abdul Aziz Jazuli, Lc.

NB : Beberapa kalimat oleh Admin dirubah (termasuk teks bahasa arabnya), silahkan lihat selengkapnya di sini

Himpunan Alumni Santri Lirboyo

Pesantren adalah lembaga yang sangat efektif untuk mengembangkan dan mempertahankan ajaran Ahli Sunah wal Jama’ah, sekaligus men’cetak’ ulama-ulamanya. Oleh karena itu pondok pesantren harus ditumbuh kembangkan dan diangkat, baik kualitas maupun kwantitasnya. Untuk tercapainya tujuan tersebut, sangat erat kaitannya kepada ulama pondok pesantren yang selalu bersatu padu memperkokoh tali silaturrahim, banyak bermusyawarah, saling tolong menolong, bantu membantu, baik yang bersifat pribadi maupun organisasi yang dibentuk para alumninya. Dan berdasarkan pemikiran ini, para alumni Pondok Pesantren Lirboyo, dengan penuh kesadaran dan tawakkal membentuk organisasi dengan nama HIMASAL, singkatan dari Himpunan Alumni Santri Lirboyo.

HIMASAL lahir di Lirboyo pada tanggal 26 Syawal 1416 H. bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1996 M. Organisasi ini bersifat kekeluargaan dan beraqidah Islam menurut faham Ahli Sunnah wal Jama’ah serta mengikuti salah satu madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang beranggotakan setiap santri yang pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo dan menyetujui azas-azas, aqidah tujuan dan sanggup melaksanakan semua keputusan organisasi. Kepengurusannya terdiri dari Dewan Pembina, Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan. Sedang tingkat kepengurusan organisasi yang berazaskan Pancasila ini terbagi menjadi tiga macam: Kepengurusan Pusat, disingkat dengan PP, Pengurus Wilayah (tingkat provinsi) disingkat PW dan Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/ Kotamadya/ Kota disingkat PC. Untuk permusyawaratannya, terbagi menjadi empat: Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah Besar (MUBES), Musyawarah Wilayah (MUSWIL) dan Musyawarah Cabang (MUSCAB). Keuangan organisasi yang berpusat di Pondok Pesantren Lirboyo ini, bersumber dari sumbangan yang tidak mengikat dan usahan-usaha halal lainnya.

Semenjak terbentuk, HIMASAL telah menggelar MUNAS tiga kali. Pertama pada tanggal 17-19 Juli 2001, kedua digelar serangkai dengan peringatan Satu Abad Lirboyo pada 17 Juli 2010, dan ketiga pada 26 Mei 2015.