Tag Archives: Pondok Lirboyo Putri

Takhtiman Santri putri Al-Baqoroh

LirboyoNet, Kediri. Menghkhatamkan mengaji Alquran memang bukan sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan keseriusan agar dapat mencicipi manisnya didoakan puluan ribu malaikat. Tentu saja, sebab Allah telah menjanjikan enam puuluh ribu malaikat-Nya turun ke bumi untuk sekedar mendoakan mereka yang telah mengkhatamkan Alquran.

Kemarin (20/04), sebanyak lima puluh tujuh orang santri putri Ponpes Putri Al-Baqoroh Lirboyo diwisuda. Mereka naik panggung kehormatan, melantunkan bacaan suci Alquran dengan berbagai macam riwayat yang cukup “asing” di telinga masyarajat kita, dan mereka mendapatkan penghargaan langsung dari para masyayikh, dan guru. Satu persatu daari mereka menerima syahadah yang diserahkan langsung oleh Pengasuh Ponpes Albaqoroh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, beserta segenap dzuriyah lain. Tak hanya itu, ada juga sesi foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan.  Santri yang diwisuda sendiri meliputi dua puluh tujuh orang peserta bil ghoib, tiga orang peserta bil ghoib dan qiroah sab’ah, empat orang peserta qiro’ah sab’ah, dan dua puluh tiga peserta bin nadzhor yang kesemuanya adalah santri putri Ponpes Al-Baqoroh.

Khataman yang ke lima kalinya ini bertempat di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo, setelah tahun sebelumnya bertempat di halaman ndalem Ponpes Al-Baqoroh Lirboyo. Acara ini juga diramu dengan peringatan isrâ’ dan mi’râj baginda Nabi Muhammad SAW.

Dengan bangga dan terharu, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, atau yang biasa disapa Kiai Zam menuturkan, “Njenengan sedoyo (santri-santri –Red) leres mlebet dawuh ipun kanjeng Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ana wa’allamah.” (Kalian semua (para santri –Red) benar masuk dalam sabda Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ân wa ‘allamah, sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya).

Sementara KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, punya cerita sendiri dibalik penamaan unik pondok pesantren yang diasuh adik kandung beliau ini. Beliau berkata, “Pondok Pesantren Al-Baqoroh itu memang namanya aneh, Al-Baqoroh. Pondok kok namanya Al-Baqoroh, tapi yang menempatinya manusia, hafal Alquran pula.” Yang segera disambut tawa para hadirin. Al-Baqoroh sendiri jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki makna sapi. “ini cereitanya, dinamakan Al-Baqoroh, yang memberikan nama langsung KH. Imam Yahya Mahrus.” Waktu itu, ketika awal-awal pondok pesantren ini baru berdiri, KH. Imam Yahya masih sugeng. Beliau sendiri wafat tahun 2012 silam. “Yang dimaksud Al-Baqoroh itu, surat Al-Baqoroh.” Pungkas Kiai Kafabihi.

Dalam mau’idzotul hasanah, KH. Reza Ahmad Zahid sedikit banyak mengakui tentang kemuliaan para penghafal Alquran, “Satu kaidah dikatakan, segala sesuatu yang ada di dunia ini, bisa menjadi mulia karena sesuatu yang melekat kepadanya, karena sesuatu yang menempel kepadanya. Para santri-santri putri Al-Baqoroh saat ini sudah mendapatkan tempelan barokah yang luar biasa. Tempelan Alquran karim, tempelan ilmu-ilmu agama.” Ungkap Gus Reza, sapaan akrab KH. Reza Ahmad Zahid. Beliau juga menambahkan, “Hakikat manusia tidak ada apa-apanya, kita melihat manusia karena sesuatu yang menempel padanya. Kita melihat harga manusia karena sesuatu yang melekat padanya.

Beliau mendoakan, ”Para alumni-alumni dan para khâtimât-khâtimât insya Allah mendapatkan barokah yang menempel pada dirinya, yaitu barokâtul qur’ân, dan barokâtul ‘ulûm syar’iyyah. Moga-moga, keluar dari pondok insya Allah akan menjadi lebih wibawa dan lebih berharga.

Sebagai pengingat, rangkaian agenda akhirus sanah di pondok pesantren Lirboyo sudah hampir tiba. Jangan lupa pula untuk turut memeriahkan haul dan haflah akhirussanah Ponpes Lirboyo, yang malam puncaknya akan dilaksanakan pada0 9 Sya’ban 1438 H, atau bertepatan dengan jumat malam sabtu, tanggal 05 Mei 2017 M. sebagai penceramah tunggal, insya Allah akan hadir KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar Sarang, juga selaku dewan Rais Syuriah PBNU.[]

Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ)

Pesantren putri ini berdiri tahun 1986 M. yang bermula dari keinginan seseorang. Waktu itu, sang tamu dari daerah Bojonegoro mengantarkan sekaligus menyerahkan putrinya yang bernama Arifah kepada KH Ahmad Idris Marzuqi guna sekedar berkhidmah. Namun KH Idris Marzuqi menolak permintaan itu dengan halus. Setelah mendapat desakan terus menerus, beliaupun mengizinkan Arifah untuk berkhidmah membantu kesibukan keluarga beliau sekaligus menjadi penyimak Ibu Nyai Hj. Khodijah ketika melalar hafalan Alquran.

Dalam waktu relatif singkat, santri putri yang mempunyai keinginan sama mulai berdatangan. Ketika jumlah santri telah mencapai 4 orang, timbul keinginan KH Ahmad Idris Marzuqi untuk membangun asrama bagi mereka. Dan pada tahun 1992 gedung P3TQ yang letaknya bersebelahan dengan Ndalem Kiai Idris dibangun menjadi tiga lantai. Saat itulah, Kiai Idris Marzuqi memberi nama pondok kecil ini “Tahfizhil Qur’an”.

Peningkatan kwantitas santri dari tahun ke tahun, menjadi salah satu faktor yang menuntut perluasan gedung P3TQ. Tahun 1999, bertepatan dengan penyelenggaraan Muktamar NU XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, dibangunlah aula sebagai pusat segala aktivitas. Tahun 2001, dibangun 2 kamar dan beberapa sarana pelengkap.

Untuk menambah pengetahuan dan keilmuan para santri, KH Ahmad Idris Marzuqi memberikan instruksi pada salah satu khodim beliau yaitu Bapak Azizi Hasbullah dari Malang, untuk memberikan pengajian sekedarnya. Perintah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fittahfizhi Wal Qiro-at (MHMTQ) yang diresmikan pada tahun 1992. Semula MHMTQ hanya terdiri dari beberapa kelas di tingkat Ibtidaiyyah. Baru pada tahun 1995 lengkap dengan 6 kelas. Tahun 1997, MHMTQ menambah satu jenjang pendidikan yaitu tingkat Tsanawiyah, dan tahun 2005 menambah satu tingkatan lagi yaitu tingkat Aliyah. Untuk menunjang kualitas dan kematangan para siswi dalam penguasaan materi. Selain edukasi di dalam kelas, dibentuklah M3HMTQ, sebuah organisasi siswi intra sekolah yang khusus menangani sorogan kitab kosongan, setoran nazhom, musyawarah dan bahtsul masa-il.

Seiring dengan bertambahnya santri, gedung yang tersedia dirasa semakin sesak dan tidak bisa menampung banyaknya santri, sehingga dibangunlah gedung baru sebagai sarana pendukung dalam kegiatan belajar mengajar dan kenyamanan tempat tinggal bagi semua santri. Pada tanggal 2 Januari tahun 2007 dimulailah pembangunan gedung pondok baru di atas tanah seluas 77.885 M yang terletak di sebelah selatan Ndalem Barat KH. Ahmad Idris Marzuqi. P3TQ Barat yang sekarang ditempati oleh santri dalam jenjang sekolah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah ini memiliki beberapa fasilitas, selain kamar, juga ada koperasi, kantin, ruang kesehatan, perpustakaan, wartel, ruang keputrian yang dilengkapi dengan mesin jahit dan mesin obras, serta beberapa fasilitas lainnya.

Meski terpisah menjadi dua, P3TQ Barat dan Timur, para santri masih tetap berada dalam satu naungan atap yang sama dan selalu menjalin kekompakan dan silaturrahim dalam berbagai aspek. Pesantren Putri ini juga dilengkapi dengan segudang kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan Seni Baca Al–Quran, Jam’iyyah Sholawat, Qiro-at, Diba’iyah, Barzanjiyah, Manaqibiyah, Khithobiyah, Kursus Bahasa Arab dan Inggris, Ketrampilan membuat parsel, Tata Busana, dll. Berdasarkan intruksi Romo Yai para santri diharuskan untuk membiasakan berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris setiap hari. Maka mulai tahun 1998, dibentuklah Lajnah Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan pada tahun 2006 terbentuk Lajnah Pengembangan Bahasa Inggris (LPBI) sebagai pelengkap kesiapan santri untuk terjun dan berkiprah di masyarakat.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan P3TQ bisa didownload di link berikut.