Tag Archives: santri putri

Habib Syekh Mengunjungi Santri Putri

LirboyoNet, Kediri — Berita datangnya seseorang yang dirindu memang selalu membuat kita rela menunggu, selama apapun itu. Yang terjadi di pondok pesantren putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) Kamis (13/04) kemarin adalah wujud kerelaan itu. Ribuan santri berjubel menanti kedatangan sosok yang dirindunya, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaff.

Sejak pagi mereka sudah memenuhi aula P3HM. Ditemani grup rebana yang berisikan kawan-kawan sendiri, mereka menghibur diri dengan lantunan beberapa qasidah shalawat. Dari beberapa itu, ada satu yang mereka lantunkan dengan lebih syahdu. Sebuah lagu baru: Mars Mubtadi-aat. Semangat mereka dalam menyanyikannya lebih daripada qashidah lain. Wajar saja, karena “kullu jadid ladzah”, sesuatu yang baru selalu lebih indah dinikmati. Juga, karena ritme yang digunakan begitu rancak dan dinamis.

Sekitar pukul 11.00 WIs (Waktu Istiwa’) pondok putri yang diasuh oleh KH. M. Anwar Manshur itu bergemuruh. Qashidah thala’al badru segera dilantunkan. Yang mereka rindu itu perlahan naik ke aula. Menyapa para santri dengan lambaian tangannya. Dengan diiringi segenap dzuriyah (keluarga besar Ponpes Lirboyo), beliau melemparkan senyum dan salam yang disambut riuh gumaman para santri.

“Padahal saya sudah sering ke sini. Tapi selalu merasa baru pertama kali. Gimana tidak, dulu saya duduknya di sana (menunjuk arah seberang), tahun kemarin di situ (mimbar mushala), sekarang di sini,” canda Habib Syekh. Ponpes Lirboyo, selain setiap tahun mengundang beliau, memang telah mendapat tempat tersendiri di hati Habib Syekh. “Saat saya umroh kemarin, kalian saya doakan. Santri lirboyo saya doakan. Para masyayikh, Kiai Anwar, saya doakan khusus di sana,” aku beliau.

Keistimewaan santri di hati beliau ini, terutama santri putri, diungkapkan dalam mauidzah singkatnya. “Wanita adalah makhluk istimewa di hadapan Allah. Kalianlah yang menjadi induk dari titipan-titipan agung Allah.” Titipan itu adalah para kekasihnya: rasul, nabi, wali, dan para ulama. Tanpa kehadiran wanita, mustahil akan ada makhluk-makhluk mulia yang membimbing umat.

“Saya heran, kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang menyebut sayyidah Aminah ibunda Rasulullah masuk neraka. Bisa-bisanya?” geram beliau. “Allah menitipkan makhluk yang mulia, tentu di dalam rahim orang yang mulia.” Rasulullah adalah kekasih Allah. Bagaimana bisa Allah menurunkannya ke dunia dan melahirkannya lewat rahim yang terlarang?

Beliau kemudian berkisah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, seorang kekasih Allah, adalah sosok yang mulia di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Kemuliaannya, salah satunya, berkat sifat ibundanya yang shalehah, yang sangat kukuh dalam menghindari maksiat dan perbuatan haram lainnya.

“Semoga kalian akan menjadi wanita-wanita sperti itu, yang mampu menurunkan keturunan-keturunan luar biasa dan berguna bagi umat semuanya,” harap Habib.

Sebelum beliau turun untuk kembali ke hotel, KH. Anwar Manshur memohon kepada beliau untuk bersedia melantunkan qashidah. Dengan segera, beliau juga mengajak grup rebana yang berada di depannya untuk ikut mengiringi qashidah beliau. Setelah beberapa qashidah dilantunkan, beliau mengajak santri untuk menyanyi bersama Mars Mubtadi-aat, yang rupanya telah beliau dengar sebelumnya saat masih di lantai bawah.][

Cerita di Balik Musyawarah

Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah  yang sering kita sebut dengan P3HMQ merupakan salah satu pondok unit di Lirboyo. Pondok yang dibangun oleh Romo KH Abdullah Kafabihi Mahrus beserta sang istri ibu nyai Hj. Azzah Noer Laila Muhammad. Pondok yang berbasik pendidikan Al-Quran ini memiliki sekolah yang benama Madrasah Al-Hidayah.

Di Madrasah ini ada beberapa tingkatan kelas. Mulai dari tingkat I’dadiyah (SP/sekolah persiapan), Ibtidaiyah (tiga tahun), Tsanawiyah (tiga tahun),  Aliyah (tiga tahun), dan MA (Ma’had Ali dua tahun). Selain sekolah, pesantren ini juga memiliki kelas atau kamar khusus bagi para penghafal Al-Qur’an yang tidak ikut sekolah, juga kamar yang khusus menghafal Al-Qur’an dan sekolah.

Untuk kegiatan penunjang pembelajaran, madrasah mengadakan agenda musyawarah yang dilaksanakan setiap malam hari kecuali malam Jumat. Setiap harinya, musyawarah dimulai dari jam 19:45 Wis, sampai 22:00 Wis. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua santri yang bersekolah di MA HMQ dari semua tingkatan. Sedangkan kegiatan sekolah dilaksanakan pagi untuk kelas 2 Tsanawiyah sampai Ma’had Aly. Dan menjelang sore hari untuk kelas 1 Tsanawiyah ke bawah (Ibtida’ dan SP). Hal ini berbeda dengan sekolah putra yang sebagian waktu sekolahnya dilaksanakan pada malam  hari. Lirboyo memang pondok yang lain dari pada yang lain.

Manfaat dari musyawarah sangatlah banyak. Salah satunya kita dapat saling tukar pemahaman satu sama lain. Yang awalnya kurang paham bahkan belum faham sama sekali bisa menjadi paham dan tentunya bisa menambah wawasan kita. Semua jenis persoalan yang masih kita bimbangkan bisa kita bahas dalam majlis musyawarah ini, tentunya yang masih berkaitan dengan pelajaran. Di MA HMQ  terdapat dua macam metode musyawarah: kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok kecil yang dimaksud di sini yaitu satu kelas dibagi menjadi enam kelompok, di mana setiap kelompok terdapat lima hingga enam anak. Sedangkan kelompok besar, pada prakteknya, ada perwakilan satu anak yang menjelaskan di depan dan memimpin jalannya musyawarah, atau biasa disebut dengan rois (pimpinan) kelas. Dalam musyawarahpun terdapat peraturan dan larangan yang sudah diatur oleh madrasah. Salah satunya, ketika sudah ada bunyi bel dua kali (bel masuk) semua santri wajib lalaran (melafadzkan bait-bait nadzam) bareng sesuai dengan nadzam tingkatannya. Setelah itu dilaksanakan wajib belajar materi yang akan dibahas pada malam itu. Tujuannya agar para siswa bisa memahami materi, bisa mengikuti jalannya musyawarah, dan juga bisa menyampaikan materi dengan baik kepada santri yang lain. Rois kelas juga bertanggungjawab menggantikan santri yang bertugas ketika sakit dan tidak bisa menyampaikan pelajaran. Adapun larangan dalam musyawarah adalah tidak boleh makan, minum, tidur, membawa buku selain pelajaran dll.

Di manapun kalau ada peraturan pasti ada yang melanggar, tak terkecuali di tempat musyawarah. Terkadang terdapat santri yang tidak bisa menahan kantuk dan tertidur. Ada pula yang membawa jajanan  untuk teman temannya. Niatnya sih baik: ingin berbagi rizki dengan temannya karena baru saja mendapat kiriman, ataupun baru disambang, dan pelanggaran-pelanggaran yang lain. Bagi yang melakukan pelanggaran-pelanggaran ini, tentu saja ada takziran (hukuman). Tapi mereka melakukannya terkadang bukan semata-mata untuk melanggar peraturan, melainkan hanya untuk menghibur diri dari padatnya rutinitas mereka setiap hari. Hari-hari yang kadang membuat mereka jenuh bahkan melelahkan. Maka tak aneh di usia remaja mereka yang masih labil bertingkah nyeleneh, yang terkadang sering membuat kesal ibu-ibu pengurus. Menurut saya sendiri, ini merupakan suatu hal yang lumrah di kalangan santri putri khususnya, apalagi di usia mereka yang masih mencari jati diri.

Memang benar bermusyawarah itu banyak sekali manfaatnya. Seperti pengalaman Imam Syafi’i yang mendapatkan ilmunya 90% dari musyawarah. Sementara hasil dari belajar sendiri hanya menyumbang 10%. Subhanallah…. Itulah mengapa Lirboyo sangat mewajibkan musyawarah. Kini saya pun sadar, seandainya tidak ada musyawarah saya pun merasa kurang dalam pemahaman, kurang dalam pengetahuan dan pengalaman. Inilah yang saya sukai dari dari Pondok Lirboyo yang mengutamakan musyawarah. Semoga setelah saya menulis ini bisa memacu semangat saya sendiri dan juga teman teman dalam bermusyawarah, dan kegiatan pondok yag lainnya.[]

 

Penulis, Lia Ali, Kelas 1 Tsanawiyah Madrasah Al-Hidayah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah (P3HMQ), kamar Faza 03, Pemenang II Lomba Penulisan Majalah Dinding Ar-Rabiet.

Mengenang KH. A. Idris Marzuqi, Santri Putri Khataman Al-Quran

LirboyoNet, Kediri — Hari Sabtu kemarin (04/03), suasana ramai terasa di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ). Pasalnya, hari itu, sejak pagi hingga sore hari, pondok disibukkan dengan beberapa rangkaian acara peringatan Seribu Hari almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi.

Pada pagi hari, suasana pondok khidmat dengan khataman Al-Quran. Ada ratusan santri yang ikut berpartisipasi dalam khataman ini. Masing-masing dari mereka bergantian membaca Al-Quran untuk diperdengarkan dan disimak oleh beberapa kawannya. Suasana semakin khidmat karena yang terlibat bukan hanya para santri. Puluhan alumni pondok ini juga ikut hadir dan membaca Al-Quran, seperti santri-santri putri yang lain.

Sore harinya, rangkaian acara berganti dengan tahlil bersama. Pesertanya pun bertambah. Jika sebelumnya hanya santri dan alumni, acara yang dilaksanakan di ndalem itu juga diikuti oleh para pengajar P3TQ, TPQ Al-Muktamar, dan segenap khodim dan abdi ndalem keluarga almaghfurlah.

Acara ini adalah peringatan Seribu Hari almaghfurlah khusus bagi para santri dan alumni P3TQ. Adapun acara yang diperuntukkan bagi kalangan umum adalah besok Sabtu, 11 Maret/13 Jumadal Akhirah. Tempat pelaksanaannya masih sama, yakni di ndalem barat almaghfurlah.][

Menyoal Salat si Istri di Kamis Legi

LirboyoNet, Kediri — Kamis lalu (26/01), di samping ada hajat besar berupa pengajian rutin Kamis Legi, di Pondok Pesantren Lirboyo juga terdapat acara besar lainnya, yakni Forum Bahtsul Masail. Acara ini digelar oleh salah satu unit pondok Lirboyo, Pondok Pesantren Putri Tahfidzil-Quran.

Dilangsungkan di mushalla pondok, bahtsul masail ini diikuti oleh belasan pondok pesantren putri se-Jawa Timur. Diantaranya, PP Putri Ar Rifa’i Malang, PP Putri Tarbiyatun Nasyi-aat Jombang, dan beberapa ponpes putri lainnya.

Beberapa persoalan penting dikaji dalam forum ini, yang terbagi menjadi dua jaltsah (sesi pembahasan). Para mubâhitsât  (peserta bahtsul masail putri) mencoba mengurai permasalahan terkait salat jamaah bagi seorang istri. Telah jamak diketahui bahwa salah satu syarat sah salat berjamaah adalah tidak menjadikan seorang yang ummy (buta huruf) sebagai imam. Masalah ini menjadi sulit ketika ada seorang suami, yang sudah semestinya menjadi imam bagi istri, ternyata tidak cukup mampu untuk melantunkan bacaan salat dengan baik dan benar. Setidaknya, sang istri merasa demikian. Maka timbul kegundahan di dalam dirinya, “apa kutolak saja ajakannya berjamaah?”  Tapi ia juga resah. Andai saja benar-benar menolak, apakah itu bukan berarti nusyuz, pembangkangan terhadap perintah suami?

Beragam solusi ditawarkan oleh mubâhitsât. Salah satunya, dengan menguji pemahaman pada lahn (kesalahan baca): di mana sebenarnya batas toleransi kekeliruan pada bacaan shalat? Mereka juga mencari kasus ini di dalam qaul-qaul (pendapat) para ulama klasik. Mereka tidak sendiri. Ada beberapa perumus yang membantu mereka menyelesaikan persoalan ini. Beberapa itu mayoritas adalah para pengajar di ponpes ini.

Pada akhirnya, keputusan jawaban diajukan kepada mushahih, satu pihak di dalam forum bahtsul masail yang ditujukan untuk memutuskan jawaban mana yang dianggap terbaik. Ada enam mushahih yang terlibat di siang itu. KH. Azizi Hasbullah, Kiai Anang Darunnaja, KH, Munir Akromin, KH. Fauzi Hamzah Syams, KH. Munawar Zuhri, dan Agus HM. Hasyim, pengasuh pesantren ini.][

Kunci Terbukanya Hati

Agama bukan hanya tentang shalat dan puasa. Ia juga berarti dînul mu’âmalah. Agama yang menghubungkan satu sama lain, tidak sebatas dirinya dan tuhannya. Maka, harus kalian jaga benar-benar hubungan baik dengan tetangga, dengan masyarakat sekitar, karena itu berarti menjaga agama kalian.

المسلم من سلم المسلمون من يده و لسانه

Muslim adalah ketika orang muslim yang lain selamat dari tangan dan lisannya.

Perhatikan gaya hidup yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk dijadikan bekal. Rasulullah saw. menyukai hal-hal yang bersih. Karena itu aku berwasiat kepada kalian untuk menjaga kebersihan. Kebersihan pakaian, kamar mandi, kamar tidur, badan. Dengan begitu, hati kalian juga akan ikut bersih.

Ingat! Kalian semua akan jadi ibu. Perhatikan hubungan kalian dengan orangtua, karena kelak kalian akan diperlakukan sama oleh anak-anak kalian. Jangan hanya berbuat baik saat butuh kepada mereka. Banyak orang yang meninggalkan orangtua setelah menikah. Meninggalkannya saat sakit. Apa tidak ingat masa kecil kita? Bagaimana mereka merawat kita saat sakit. Memandikan, mencuci pakaian kotor. Membersihkan badan kita.

Berbakti kepada orangtua adalah sebab turunnya kebaikan, barokah dan futûh, terbukanya hati dan pikiran. Saat di rumah nanti, bersimpuhlah di kaki ibumu. Ciumi kakinya. Setiap hari, setiap petang. Itu adalah sebuah jalan bagi kalian untuk menggapai cita-cita.

Kalian juga nantinya akan menjadi istri dari suami kalian. Taati mereka. Wanita yang shalihah adalah mereka yang taat kepada suaminya. Bersihkan rumah. Bersihkan diri kalian untuk menyambut suami pulang. Pakai pakaian terbaik. Jangan terbalik. Zaman sekarang, para istri telah lalai. Saat keluar rumah, memakai pakaian bagus, berdandan cantik, seperti pengantin baru. Tapi untuk menyambut suaminya, memakai pakaian seadanya. Yang kotor, berlubang, Bau. Tidak karuan. Seperti jin saja. Jangan seperti itu. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda, “jikalau boleh bersujud kepada selain Allah, maka aku perintahkan kalian untuk sujud kepada suami.”

Semoga kalian benar-benar menjadi putri yang shalihah.

 

Disarikan dari mauidzah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Jailani as-Syathiri saat berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat pada Senin, 03 Rabiul Akhir  1438 H./02 Januari 2017 M. di Aula P3HM.