Tag Archives: sunnah nabi

Dakwah Damai Bersama Suku Dayak dan Umat Kristiani

LirboyoNet, Pontianak—Selasa siang (15/05) kemarin, ada hal luar biasa terjadi di Kalimantan Barat. Menjelang bulan Ramadan, ribuan manusia berkumpul di tengah lapangan. Mereka berpakaian macam-macam, karena memang latar belakang status mereka beragam. Bukan hanya masyarakat muslim saja yang nampak bergembira siang itu. Ada suku Dayak. Masyarakat Tionghoa. Masyarakat Kristen. Ratusan pendekar Gerakan Silat Muslimin Indonesia (GASMI). Ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna (BANSER). Juga puluhan kendaraan satuan polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Suasana riuh ramai. Mereka semua berkerumun, bercampur aduk. Mereka tak sedang meributkan sesuatu, karena mereka sendiri hidup dalam rasa damai dan tentram. Perbedaan ras, suku, bahkan agama tak membuat mereka berselisih, apalagi berseteru. Lalu untuk apa keramaian itu? Tak lain, mereka sedang menyambut kedatangan saudara-saudara mereka yang telah ditunggu-tunggu sejak lama: empat puluh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Empat puluh santri itu hendak berdakwah di daerah-daerah yang tersebar di Kalimantan Barat. Ada yang ditugaskan ke daerah Tayan. Beberapa ke daerah Ngabang. Yang lain, berpencar ke Sintang, Landak dan Sanggau. Yang paling jauh adalah mereka yang ditugaskan di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong.

Diawali dengan doa oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan, Ketua Umum Pondok Pesantren Lirboyo, delegasi safari Ramadan asal Pontianak resmi diberangkatkan. Para pemuka lintas-agama, kepala suku, dan pemimpin aparat turut merestui keberangkatan mereka.

Seusai doa dipanjatkan, ketegangan yang meliputi bangsa Indonesia akibat teror bom dan tembakan yang terjadi beruntun beberapa hari terakhir ini, leleh dan menguap di langit Kalimantan. Justru kegembiraan akan kehadiran para pendakwah meluap di hati masing-masing dari mereka.

Gembira? Tentu saja. Para santri telah membuktikan diri bahwa mereka adalah pendakwah sejati. Dengan sambutan luar biasa dari bermacam ras dan agama itu, dengan sendirinya menampakkan bahwa dakwah ahlussunnah adalah dakwah terbaik yang bisa dipersembahkan masyarakat muslim kepada bangsa. Dakwah mereka adalah dakwah yang penuh hikmah dan toleran, yang mampu melihat dan menyatukan diri dengan suasana bangsa yang plural dan majemuk.

Ini juga mematahkan persepsi golongan lain, yang berdakwah dengan cara di luar yang dianjurkan ahlussunnah, yakni tasamuh (toleran), tawasuth (moderat) dan tawazun (berimbang).

Terima kasih para tetua suku Dayak, masyarakat Tionghoa, saudara-saudara Kristiani, bapak-bapak aparatur negara, yang telah menyambut kami dengan sedemikian bahagia. Percayalah, kebahagiaan yang ada di hati jenengan semua, menumpuk berlipat di hati kami, keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.][

Seribu Hari Kiai Idris: Menjadi Tadah Berkah Ulama

LirboyoNet, Kediri — Sebagai pewaris Nabi, ulama bagaikan talang air hujan. Letaknya di atas, mengucurkan ilmu dan berkahnya kepada mereka yang bersedia merendah, tawadlu, dan memuliakan mereka. Dengan meyakinkan diri bahwa merekalah yang termulia, yang pantas teratas, kita yang berada di bawahnya akan teraliri berkah.

Keterangan ini diungkap oleh Habib Umar al-Muthohar Semarang Sabtu malam (11/03), dalam acara “Memperingati Seribu Hari Wafatnya almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi”. Berkah, menurut beliau,  akan mengalir bagai air, “al-barakah yajri kajiryati al-ma’ (barakah mengalir seperti halnya aliran air)”. Kesediaan kita untuk merendah dan tawadhu di hadapan ulama adalah kunci utama mendapatkan aliran keberkahannya. “Tandon air tinggi sepuluh meter, deras keluar dari krannya. Dua puluh meter, lebih deras lagi. Tiga puluh meter, lebih deras lagi. Artinya apa? Semakin kau muliakan, semakin kau hormati, semakin kau ajeni (hargai), semakin deras aliran barakah,” tutur beliau. Tentu saja, karena itu seorang muslim yang taat wajib menghormati guru-guru mereka. Ahya’an wa amwatan. Para guru yang masih hidup, juga bahkan mereka yang sudah wafat.

“(Para ulama yang sudah wafat) kadangkala menjenguk santri-santrinya,” terang beliau.  “Kita sering kan saat tahlil, belajar, menghadiahi fatihah, tiba-tiba tercium bau wangi. Itu salah satu tanda guru kita hadir di samping kita.”

Beliau mengumpamakan ulama yang sudah wafat sebagai timsah (buaya). “Buaya itu hidup di mana? Air. Telurnya di mana? Daratan. Meskipun hidupnya di air, kadangkala ia memeriksa telur-telurnya yang ada di darat. Begitu juga para ulama. Kita ini adalah telur-telur beliau,yang senantiasa dijenguk dan diawasi oleh beliau,” jelas beliau yang hadir bersama keluarga.

Selain Habib Umar al-Muthohar, acara malam itu juga dihadiri oleh tamu-tamu agung lainnya. Salah satunya, Sayid Kalim al-Jailani, seorang ulama thariqah Chistiyah berkebangsaan India. Dalam kesempatan ini, beliau mengungkapkan bagaimana kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. harus selalu menjunjung tinggi sunnah-sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi saw.

Andai direnungi dengan baik, akan banyak sekali ditemukan hikmah dari sunnah Nabi saw. Satu kisah sahabat diceritakan oleh Sayid Kalim. Suatu ketika, seorang sahabat memulai berwudlu dengan membasuhkan air ke wajahnya. Serta merta Nabi saw. berseru, “qif! (berhentilah!)”. Beliau menyuruh terlebih dahulu membasuh telapak tangan, berkumur, dan ber-istinsyaq (menghirup air dengan hidung). “Kita tahu, air memiliki tiga sifat. Warna, rasa, dan bau. Ketiga sifat itu harus asli kalau digunakan berwudlu. Dengan membasuh telapak tangan, kita akan tahu keaslian warna air. Dengan berkumur, kita tahu rasa aslinya berubah atau tidak. Dengan istinsyaq, kita tahu ada perubahan atau tidak dari baunya.”

Kesunahan yang lain, semisal bacaan-bacaan di dalam shalat, memiliki hikmah luar biasa. Dalam shalat, hal-hal yang difardlukan oleh Allah hanya gerakan-gerakan dan bacaan yang terbatas. Sisanya adalah kesunahan yang dituntun oleh Nabi saw. “Gerakan fardlu akan membuat ibadah kita sah. Tapi bacaan yang dipandu oleh Rasulullah saw. akan mengantarkan kita pada ibadah yang sempurna. Bacaan-bacaan itu adalah jiwa shalat. Inti shalat. Ruhnya shalat. Maka, masihkah kita acuh kepada sunnah-sunnahnya?” jelas beliau.

Tokoh yang juga hadir adalah Walikota Kediri Abdulloh Abu Bakar berserta perangkatnya, tokoh-tokoh agama Kota-Kabupaten Kediri, dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.][