Tag Archives: keistimewaan

Ketetapan dan Keutamaan Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam nisfu sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Untuk tahun ini, malam Nisfu Sya’ban jatuh pada hari Sabtu malam Ahad, 20 April 2019 M.

Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT hingga datangnya bulan sya’ban di tahun berikutnya. Allah SWT sudah berfirman dalam al-Qur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam lailatul qadar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam nisfu sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”.[1]

Mengenai apa yang telah dikatakan sahabat ‘Ikrimah tersebut, Rasulullah SAW memang pernah menyinggungnya dalam sebuah hadis:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia, malam nisfu sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik dalam kurun harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam lailatul qadar dan malam nisfu sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda:

إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”.[4]

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Sahabat Muadz bin Jabal pernah mengatakan:

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[5] []waAllahu a’lam


[1] Tafsir Al-Baghowi, VII/228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, V/41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, II/350.

[4] Sunan an-Nasa’i, IV/201.

[5] Tuhfah Al-Ahwadzi, III/366.

Kisah Hikmah: Keistimewaan Istiqomah

Diceritakan, dahulu kala hiduplah seorang pemuda yang menjadi raja.  Dia tak pernah menemukan kenikmatan di dalamnya. Lantas  dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya:

Apakah manusia juga mengalami hal yang sama sepertiku?

Sesungguhnya manusia-manusia itu istiqomah,” jawab mereka.

Lantas, siapakah yang bisa membuatnya istiqomah kepadaku?” sang raja kembali bertanya.

Hanya ulama lah yang bisa membuatnya istiqomah kepadamu,” jawab mereka.

Kemudian sang raja mengundang para ulama dan orang-orang shaleh di tersebar negaranya.  Lantas sang raja berkata kepada mereka:

Duduklah kalian di sebelahku.  Jika kalian melihat aku dalam ketaatan, maka tetaplah perintahkan aku. Dan jika kalian melihat aku dalam kemaksiatan, maka cegahlah aku,” perintah sang raja.

Setelah perintah itu, para ulama dan orang shaleh melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Sang raja pun istiqomah akan hal yang ia ucapkan selama 400 tahun.

Suatu saat, datanglah iblis menemui raja.  Kemudian ia bertanya:

Siapakah engkau?

Aku iblis. Tapi katakanlah kepadaku siapa dirimu sebenarnya?” jawab iblis tersebut membalas pertanyaan.

Aku adalah anak keturunan Adam,” jawab sang raja.

Apabila kamu ini adalah keturunan Adam, pasti kamu telah mati seperti keturunan Adam yang lain. Dan sesungguhnya kamu itu adalah tuhan. Maka ajaklah semua manusia untuk menyembahmu,” iblis mulai membujuk.

Ternyata, rayuan iblis telah merasukinya. Kemudian sang raja naik ke atas mimbar dan berkata, “Wahai para manusia, sesungguhnya aku mengkhawatirkan kalian atas satu perkara, sekarang tibalah waktunya kuperlihatkan sesuatu tersebut. Kalian semua tahu bahwa aku adalah raja kalian selama 400 tahun. Seandainya aku berasal dari keturunan Adam, maka sudah lama aku meninggal seperti halnya keturunan Adam yang lain. Akan tetapi aku ini adalah tuhan, maka sembahlah aku.

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang ada di zaman itu agar memberi kabar kepada sang raja dengan demikian,

Sesungguhnya Aku (Allah) akan selalu istiqomah kepadanya selama ia masih istiqomah kepada-Ku. Maka ketika ia berpaling untuk bermaksiat kepada-Ku, maka demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan menaklukkannya lewat Bukhtanshor.

Akhirnya Allah memberi kekuasaan atas raja tersebut kepada Bukhtanshor. Lalu Bukhtanshor memenggal lehernya dan ia bisa menguasai seluruh barang-barang berharga milik sang raja yang berupa 70 perahu dari emas.

[]waAllahu a’lam

_____________________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya Syekh Syihabuddin Ahmad bin Salamah Al-Qulyubi, halaman 15-16, cetakan Al-Haromain.