Tag Archives: Madrasah Hidayatul Mubtadiien

Ramah Tamah: Kado Terindah

Perjalanan panjang selama bertahun-tahun seolah terbayar semalam (17/05). Malam puncak Ramah Tamah Purna siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien berjalan lancar tanpa kendala. Tamatan “Wasilah” 2016 dengan tim ramah tamah “Maha Raja”nya merayakan malam tasyakur setelah menamatkan belajar di madrasah. Ada filosofi tersendiri dari nama Maha Raja, dimana nama tersebut diambil dari bahasa arab “Mahwun Roja’un”, suatu harapan tinggi, semoga tamatan kali ini menjadi tamatan yang penuh berkah.

Lagu “Thola’al Badru” menjadi pengiring datangnya para purna siswa kelas tiga ‘aliyah. Mereka datang rapi dengan berbaris menuju tempat acara. Sebagian diantara mereka yang mengenakan baju dan sarung putih memisahkan diri dan menaiki panggung kehormatan. Lantunan bait-bait nadhom ‘Uqudul Juman karya Imam Jalaluddin Al-Suyuti disenandungkan oleh mereka sebagai pembuka. nadhom ‘Uqudul Juman memang diajarkan di tingkat ‘Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien sebagai pelajaran fan balaghoh tingkat lanjut.

Setelah menyenandungkan bait-bait nadhom tadi, KH. An’im Falahuddin Mahrus memberikan sambutan. “Harapan kami, doa dari muassis, KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, KH. Mahrus ‘Aly, Kh. A. Idris Marzuqi, dan para pengasuh-pengasuh yang lain yang telah mendahului kita, selalu memberkati kita semua.” “Apa yang kalian cita-citakan, kami keluarga Lirboyo selalu mendoakan agar semua bisa hidup ditengah-tengah masyarakat. Memberikan bhaktinya kepada bangsa dan negara dengan sebaik-baiknya.”

Dalam sambutan atas nama Pengasuh Ponpes Lirboyo, beliau KH. A. Habibullah Zaini menyerahkan kembali secara simbolis para siswa-siswa yang telah menamatkan madrasahnya kepada orang tua wali. Akan tetapi, purna siswa tahun ini terlebih dahulu harus melewati program wajib berkhidmah selama satu tahun. “Ba’da kulo serah aken, tahun meniko onten wajib khidmah ting Pondok Lirboyo, utawi pondok-pondok lintu. Setunggal tahun.” (Setelah saya serahkan, tahun ini ada program wajib berkhidmah di Lirboyo atau di pondok-pondok lain. Selama satu tahun.) Kata beliau. Beliau tak lupa berpesan, mengingatkan kembali dawuh KH. Abdul Karim yang selalu diwasiatkan kepada santri-santri beliau ketika hendak pulang, “Lek muleh ojo lali ngadep dampar.” (kalau pulang jangan lupa mengajar.) KH. Habibullah Zaini dalam memaknai pesan tersebut bisa dengan bahasa majazi.Lek muleh ngadep dampar. Dampar niku werno2. Nek nduwe pondok dampar tenanan, nek gak nduwe, dampar majazi” (Kalau pulang hadaplah dampar. Dampar itu maknanya macam-macam. Kalau punya pesantren,) Dalam artian, mengamalkan ilmu yang kita peroleh dan mengajarkannya dimanapun kita berada. Tidak harus lewat bangku madrasah. Namun bisa juga diartikan dalam kehidupan sehari-hari seluas-luasnya. Di pasar, atau bahkan di tengah sawah. Seperti penuturan beliau.

KH. M. Anwar Manshur hadir ketika itu. Menjadi kado istimewa tentunya bagi seluruh purna siswa, bahwa sang guru-guru tercinta dapat hadir dan turut mengucapkan selamat dalam acara pamungkas mereka. Acara ditutup dengan berkah doa oleh masyayikh yang hadir, KH. M. Anwar Manshur, KH. Abd. Kafabihi Mahrus, dan KH. A. Habibullah Zaini.

Mushofahah satu persatu dengan dzuriyah dan dewan pengajar juga salah satu penutup rangkaian acara. Butuh setidaknya lebih dari dua tahun untuk mempersiapkan acara ini. Tim Ramah Tamah sudah dibentuk sejak kelas satu ‘Aliyah. Persiapan yang begitu matang, tentu memberikan buah yang manis dan tak terlupakan. Selamat jalan purna siswa 2016, semoga kelak dapat menyebarkan ilmu yang telah didapatkan di Ponpes Lirboyo di tengah-tengah masyarakat. Jangan pernah lupa untuk selalu menyambung ikatan batin dengan guru-guru tercinta.

“Para purna siswa, jalinlah silaturahim dengan guru-guru… Dengan masyayikh, dengan mustahiq. Jangan sampai kalian kehilangan pelita.” (Sambutan Ust. Bustanul Arifin, salah satu dewan mustahiq purna 2016 M.)

Manasik Haji bagi Santri

LirboyoNet, Kediri – Tidak seperti rukun Islam lainnya, ibadah haji terkesan lebih sulit dan rumit. Maka sangat dirasa perlu untuk mejadikannya sebagai tema khusus dalam sebuah diskursus. Misalnya adalah apa yang dilakukan oleh Pengurus Pusat Kelas tiga tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien pada Jumat malam Sabtu (18/03) lalu.

Menggunakan Aula Al Muktamar sebagai lokasi acara, Seminar Manasik Haji dihadiri oleh seluruh siswa kelas tiga tsanawiyah. Mereka berangkat dari lokal kelas pukul 21.00 Waktu Istiwa’, karena harus terlebih dahulu masuk ke dalam kelas pada jam awal (19.00-21.00).

Adalah Agus HM Said Ridlwan yang menjadi tutor pada malam hari itu. Beliau diminta untuk memberikan informasi seputar haji kepada tidak kurang dari lima ratus siswa. Karena begitu banyaknya, beliau kemudian memilih beberapa siswa sebagai contoh praktek ibadah haji.

Selain untuk mengenalkan kepada mereka bagaimana ibadah haji diwujudkan, seminar ini juga sebagai bekal bagi mereka dalam ujian praktek akhir tahun.

Pengurus pusat sudah menyediakan beberapa alat peraga. Semisal Ka’bah mini, Maqam Ibrahim, dan Hijr Ismail. Beberapa tempat lainnya seperti tempat jumrah juga dipersiapkan. Tentunya, hal ini memudahkan Cak Said (panggilan akrab Agus HM Said Rildwan) untuk menjelaskan kepada para siswa.

Beliau membimbing para siswa dalam berbagai hal, termasuk cara melilitkan kain ihram pada badan muhrim (orang yang ihram). Dengan bantuan proyektor, beliau memperkenalkan kepada siswa apa saja yang perlu diketahui dari ibadah haji. Di sana akan terlihat, bahwa apa yang tertera di dalam kutubus salaf tidaklah cukup sebagai acuan untuk mengenal haji.

Setelah dirasa tuntas, Cak Said memberikan waktu bagi siswa untuk mengungkapkan apa yang dirasa masih belum dapat dicerna. Meski pertanyaan yang diajukan tidak sedikit, Cak Said dengan lugas memberikan jawaban-jawaban.

Seminar itu kemudian selesai cukup malam, yakni sekitar pukul 02.00 Waktu Istiwa’.][