Tag Archives: ta’lim

Halal Bi Halal Madrasah

LirboyoNet, Kediri— KH. M. Anwar Manshur menyatakan bahwa menjadi pengajar Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), juga bertanggungjawab atas pendidikan moral santri. Karena selain ta’lim, pengajaran ilmu agama dalam kitab-kitab salaf, pengajar juga dituntut untuk men-tarbiyah santri. Berbeda dengan ta’lim, tarbiyah adalah pengajaran santri yang lebih dititikberatkan kepada pengalaman nilai-nilai agama dalam prilaku harian mereka.

“Kita harus bisa mendidik akhlak mereka. Merubah prilaku mereka (agar sesuai dengan nilai islam),” tutur beliau di acara Halal Bi Halal MHM, Senin malam kemarin (10/07).

Menjadi pengajar MHM juga berarti mendapat kesempatan yang baik untuk memperoleh nilai tinggi di hadapan Allah swt. “Karena tidak ada kemuliaan di dunia, kecuali menjadi salah satu dari dua hal: kun ‘aliman au muta’alliman. Menjadi orang alim, berilmu, atau menjadi pencari ilmu,” Imbuh beliau.

Selanjutnya, sebagai khadim Pondok Pesantren Lirboyo, beliau memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin, dan berterima kasih atas kedisiplinan yang terus dijaga.

Sementara itu, KH. Nurul Huda Ahmad berharap, momen halal bihalal ini menjadi landasan bagi hadirin mengikrarkan diri untuk memohon maaf kepada sesama. “Semoga, rangkaian qiyamul lail kita saat bulan Ramadan lalu, menjadi amal yang diterima oleh Allah swt.”

Halal Bi Halal ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo serta segenap pengurus dan pengajar MHM. Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) ini, juga dibacakan beberapa informasi terkait jumlah santri dan pengajar sementara hingga beberapa hari di awal tahun ajaran ini.

Kalian itu Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar

Dalam Halal Bi Halal Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), Senin kemarin (10/07), KH. M. Anwar Manshur memberikan beberapa wejangan bagi para pengajar MHM sebagai bekal menghadapi tahun ajaran baru.

“Kita di sini tidak hanya ta’lim (mengajar), tapi juga tarbiyah (mendidik). Kita harus bisa merubah akhlak dan mendidik mereka agar menjadi santri yang berakhlak mulia.”

Kun ‘aliman au muta’alliman. Jadilah orang alim. Kalau tidak bisa, jadilah orang terlibat dalam proses belajar. Karena hanya dua hal inilah yang diremeni (dicintai) masyarakat.”

“Yang penting dalam mengajar, kalian samakan makna kitabnya. Jangan sampai guru satu berbeda dengan guru yang lain. Satu guru memaknai begini, guru yang lain beda lagi. Jangan buat murid kebingungan.”

Lampung Tengah Mengintip Tarbiyah

LirboyoNet, Kediri – Ojo sering lungo (jangan sering pergi, –Red),” Begitu pesan KH. M. Anwar Manshur kepada para alumni Pondok Pesantren Lirboyo saat Muktamar Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) tahun lalu. Pesan itu terutama diperuntukkan bagi para alumni yang sudah mendapat amanah di lembaga-lembaga pendidikan di lingkungannya.

Pesan itu pula yang selalu diingat oleh Bapak Jawahir. Tugas yang ada di Lampung membuat beliau terpaksa memendam keinginan untuk berkunjung ke Lirboyo, pesantren tempatnya menimba ilmu dahulu.

Beliau sekarang menjabat sebagai kepala sekolah Madrasah Aliyah Roudlotul Huda, Lampung Tengah. Sekian lama tidak menginjakkan kaki di pesantrennya, Rabu siang (13/04) beliau dapat juga menghirup udara Lirboyo. Beliau menemani para siswanya yang sedang Ziarah Wali Jawa. Kegiatan ini adalah program wajib bagi siswa kelas 2 Aliyah MA Roudlotul Huda. Program ini sekaligus menjadi persyaratan untuk mengikuti Ujian Nasional kelak.

Ada sekitar 150 siswa yang mengikuti program ini. Adapun kunjungan mereka ke Lirboyo, lebih kepada keinginan untuk melihat dan mengetahui sistem pendidikan yang berlaku di sini. “Lirboyo seperti supermarket. Anda mau ambil apa saja ada. Yang salaf murni. Yang ada formalnya. Yang sekaligus tahfidzul qur’an. Semua ada,” Jelas Agus H. Adibussholeh Anwar kepada hadirin.

“Pesantren Lirboyo tidak melulu ta’lim (pengajaran). Tapi juga tarbiyah (pendidikan). Sejak tidur sampai tidur lagi sudah diatur sistem, yang nantinya dapat mengukuhkan aqidah dan syari’ah,” imbuh putra KH. M. Anwar Manshur ini. Menurut beliau, sistem yang dibangun Lirboyo inilah yang sedang dicari oleh pakar pendidikan. Mereka kagum dengan daya tahan pesantren yang luar biasa, mengingat arus global yang kian tak terbendung.

Jika diamati, makanan maupun fasilitas yang dimiliki ponpes Lirboyo terbilang sederhana. Kualitas nasi yang tidak wah dan sayur maupun lauk sekadarnya. “Ini memang disengaja. Agar kelak para santri memiliki mental tangguh, yang bisa di tempatkan di mana saja. Kok nanti bermasyarakat, ternyata berekonomi pas-pasan, tidak kaget. Lah wong biyen neng pondok wes tau (dulu di pondok sudah pernah),” terang beliau.

MA Roudlotul Huda adalah sekolah formal yang berada dalam naungan Yayasan Roudlotus Sholihin. Berawal dari pesantren salaf, yang berdiri pada tahun 1963, lambat laun mulai berubah menjadi lebih formal, dengan mendirikan MA pada tahun 1983. Hingga kini, yayasan ini telah didiami oleh 700 santri.

“Saat saya masih di sini, pernah ada wacana untuk memasukkan pelajaran formal ke pesantren Lirboyo. Tapi masyayikh tetap tidak mau. Meskipun hanya nama. Dulu itu agar ijazahnya bisa diakui pemerintah. Tapi tetap tidak mau,” kenang Bapak Jawahir.

Di sesi selanjutnya, para siswa disuguhi beberapa materi terkait sistem pendidikan dan program-program yang dimiliki oleh Ponpes Lirboyo dan pondok-pondok unit.

Sebelum meninggalkan Lirboyo, para siswa menyempatkan diri untuk ziarah ke makam muassisul ma’had, almaghfurlah KH. Abdul Karim.][