Category Archives: Pojok Lirboyo

Ketika Habib Ali Al-Jufri dan Kiai Anwar Manshur Berbagi Berkah melalui Air Minum

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri menghadiri Jalsatul Ilm di kediaman Habib Umar Muthohhar di Cepoko, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/12). Selain menyampaikan dakwahnya melalui lisan, ia juga menunjukkan lakunya sebagai dakwah.

Menjelang akhir kegiatan tersebut, Habib Ali meminta KH Anwar Manshur untuk meminum air yang sudah tersaji di meja. Kiai Anwar menerima gelas air minum itu, lalu membuka tutupnya dan menyerahkan kepada Habib Ali. Namun sang Habib menolak dan dengan isyarah tangannya meminta Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu meminumnya.  

Kiai Anwar pun meminum air tersebut. Ketika hendak menutup lagi gelas tersebut, Habib Ali bergegas menjemputnya. Kiai Anwar pun menatap wajah habib kelahiran Jeddah, Arab Saudi itu dengan senyum sembari menyerahkannya. Lalu, Habib Ali meminum tiga kali air sisa yang diminum oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu.  

Belum sampai di meja ketika Habib Ali hendak meletakkan gelas tersebut, Kiai Anwar segera menyambut gelas tersebut yang masih menyisakan air di dalamnya. Ia pun kembali meminum air sisanya.  

Setelah diminum Kiai Anwar, gelas tersebut masih menyisakan beberapa mili air di dalamnya. Habib Soleh Al-Jufri tak mau kehilangan berkah tersebut dan langsung menyambutnya. Ia mengambil air dari gelas lainnya dan menyatukannya sehingga kembali banyak. Tentu saja ia meminumnya. Habib Soleh lalu meneruskan gelas tersebut kepada KH Najih Maimoen Zubair.  

Sebelumnya, Kiai Anwar Manshur menyambut kehadiran Habib Ali. Merasa Kiai Anwar tak membersamainya menuju tempat yang sudah disediakan di depan, Habib Ali kembali menuju Kiai Anwar dan menjemputnya untuk bersama mendampinginya di depan. Ia menggandeng kiai yang akrab disapa Mbah War oleh para santri-santrinya itu.  

Habib Ali melakukan rihlah dakwahnya ke Indonesia sejak akhir November 2019 lalu. Ia mengisi berbagai pengajian dan diskusi, mulai dari kampus seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Walisongo Semarang, Universitas Negeri Semarang. Habib berusia 48 tahun itu juga mengisi pengajian di majelis taklim dan pondok pesantren.

Sumber: www.nu.or.id

Study Comparative di Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri—Sabtu (23/11) Study Comparative dilaksanakan di Gedung Bahtsul Masail. Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan kunjungan dari Pondok Pesantren al-Bidayah. Kegiatan yang diikuti oleh santri-santri al-Bidayah ini berlangsung dengan lancar. Mereka begitu antusias bertanya, menyerap dan memahami tentang konsep pendidikan yang berlangsung di Lirboyo.

Sambutan pertama dari pengasuh Pondok Pesantren al-Bidayah yakni KH. Abdul Haris yang berharap agar pengurus bahtsul masail Pondok Lirboyo memberikan sambutan yang memotivasi anak didik beliau agar semangat dalam berbahtsul masail. Sambutan dan paparan panjang mengenai konsep berbahtsul masail yang baik dan benar dibeberkan oleh Ustadz Mubasyarum Bih, Selaku pengurus LBM Lirboyo.

Beliau berpesan agar semangat santri dalam dunia tulis menulis lebih konsisten ditingkatkan, lebih-lebih persaingan yang terjadi di jagat maya. Beliau memaparkan juga mengenai trik dan tips agar santri itu produktif dalam hal tulis menulis.

Sambutan beliau mendapatkan ruang khusus di mata audien dengan semangat bertanya utamanya menyangkut kepenulisan dan rahasia sukses kenapa produktifitas santri Lirboyo lestari terjaga.

Sebagai penulis freeline di NU.online, dengan mudah beliau memompa semangat audien untuk mulai belajar menulis.

Pondok Pesantren al-Bidayah merupakan salah satu pesantren formal yang mengembangkan teknik baca kitab secara cepat, dengan metode yang diberi nama al-Bidayah juga, metode ini terbilang sukses mencetak generasi pembaca kitab dengan lancar. Bahkan santrinya dengan usia yang masih belia sudah banyak yang menjadi juara lomba membaca kitab skala regional maupun nasional.

Sesi sambutan berikutnya dibawakan oleh Agus H. Sa’id Ridlwan, yang juga tak kalah piawai untuk memompa semangat pendengarnya agar konsisten dalam belajar.

Menjadi mubahits (pebahtsu) yang handal tidak semudah membalikkan tangan, namun butuh keuletan, keistiqamahan dan proses yang panjang. Agus H. Sa’id Ridlwan menyambut bahagia kedatangan rombongan, apalagi semangat mereka mengunjungi Lirboyo agar menumbuhkan benih pebahtsu yang handal dikalangan santri al-Bidayah.

Acara tersebut diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan oleh kedua belah pihak, yang diserahkan langsung oleh Pengasuh al-Bidayah, KH. Abdul Haris dan dari Pondok Pesantren Lirboyo diwakili oleh Agus H. Sa’id Ridlwan.

Baca Juga: Hukum Bermain Catur Dalam Islam

Rekomendasi Pondok Pesantren Lirboyo untuk Menangkal Radikalisme

LirboyoNet, Kediri—Kamis, (21/11) Jenderal (Pur) Fachrul Razi selaku Menteri Agama Republik Indonesia berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo. Tiba pukul 14.00 wib. digedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo, Menteri Agama disambut hangat oleh KH. M. Anwar Manshur dan para Masyayikh lainnya.

Diawali dengan foto bersama dan penyerahan buku Fikih Kebangsan dan cinderamata dari Pondok Pesantren Lirboyo, acara silaturrahim ini dilanjutkan dengan sambutan yang diwakili oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dalam sambutannya, beliau KH. Abdulloh Kafabihi mahrus menyampaikan beberapa rekomendasi, diantaranya adalah merekomendasikan buku ‘Fikih Kebangsaan’ menjadi bahan ajar atau kurikulum di lembaga Pendidikan Islam yang ada dibawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Rekomendasi ini adalah wujud ikhtiar Pondok Pesantren Lirboyo untuk ikut membantu dan mengsukseskan program Kementerian Agama dalam menangkal dan memberantas radikalisme, sebagaimana pesan khusus Presiden kepada Menteri Agama saat pelantikan.

Dalam kesempatan itu pula, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga berpesan kepada Menteri Agama untuk secepatnya membuat peraturan turunan setelah disahkannya UU Pesantren, baik berupa PP (Peraturan Presiden) atau PMA (Peraturan Menteri Agama).

UU Pesantren disahkan dengan perjuangan dan kerja keras, tanpa adanya peraturan turunan, maka kerja keras selama ini akan sia-sia begitu saja.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan permintaan maaf karena dalam beberapa waktu lalu tidak bisa berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo karena rapat kerja kabinet bersama Presiden. Menteri Agama berjanji akan menindaklanjuti segala rekomendasi dan pesan dari Masyayikh Lirboyo. “Perjuangan dan visi-misi NU dan Kementerian Agama itu sama; yaitu mendukung satu sama lain untuk terciptanya kerukunan antar umat beragama.” Pungkas Fachrul Razi.

Acara silaturrahim Menteri Agama dengan Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo ditutup dengan bacaan doa oleh KH. M. Anwar Manshur dan dilanjutkan dengan makan siang dan ramah tamah.

Baca juga: Ngaji Millenial Islam Kaffah

Ngaji Millenial Islam Kaffah

LirboyoNet, Malang—Agama dan budaya, pada dasarnya saling mempengaruhi. Sehingga dalam beberapa keadaan memberikan dampak hukum. Poin penting ini disampaikan oleh KH. Azizi Hasbulloh dalam Ngaji Milenial Islam Kaffah, Ahad kemarin (17/11).

“Dalam mengamalkan ajaran syariat Islam, tidak cukup hanya dengan berlandaskan tekstual syar’i saja, namun juga harus berlandaskan nalar,” imbuhnya. Dan akhir-akhir ini, masyarakat muslim seperti tidak mengindahkan unsur penting ini. Banyak dari mereka yang cenderung menutup nalar dalam menggali ajaran Islam. Menurut mereka, inilah yang disebut “Islam Kaffah”, Islam yang sempurna itu. Padahal, dalam sejarah intelektual Islam, nalar justru kerapkali menjadi penopang bagi syariat islam yang tidak digambarkan secara jelas.

Di dalam even yang diselenggarakan oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Cabang Malang Utara ini ia juga menyinggung aktivitas masyarakat muslim saat ini yang gemar memamerkan atribut syar’i. Padahal, menurut salah satu tim ahli Lajnah Bahtsul Masail (LBM) NU ini, pamer atribut bukanlah tujuan yang dikehendaki oleh syariat sendiri. “Atribut syar’i (hanya) diperlukan oleh orang yang bodoh (pengetahuan agamanya dangkal). (Tujuannya) untuk menjaga eksistensi.

Even ini juga menghadirkan Rektor UNIRA (Universitas Islam Raden Rahmat) Malang Dr. Hasan Abadi M.ap. Ia sempat menyinggung kerancuan jargon “Islam Kaffah” era kini. Menurutnya, jargon ini telah disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Mereka ini justru orang-orang yang tidak mengenal agama secara baik. Bahkan, penyalahgunaan jargon ini hanyalah untuk mendapat keuntungan-keuntungan profan belaka. “(jargon) Islam Kaffah telah diambil alih oleh (organisasi) HTI sebagai gerakan global. Dan di Indonesia, HTI gencar mendakwahkan (ajaran keliru mereka),” tuturnya.

HTI tidak tanggung-tanggung dalam menggapai tujuan mereka. Mereka bergerak hampir di semua lini sosial. Seperti akidah, jaringan, dan ekonomi./-

Upaya Santri Lirboyo Menderadikalisasi Ideologi Pelajar

LirboyoNet, Surabaya—Rabu kemarin (13/11) beberapa pengajar Pondok Pesantren Lirboyo didaulat menjadi penyusun buku pendidikan agama Islam oleh Kementerian Agama (Kemenag) di hotel Golden Tulip Legacy, Surabaya. Mereka adalah M. As’ari, M. Nawawi, dan M. Rifa’i.

Mereka bertiga adalah alumnus Ma’had Aly Lirboyo. Mereka diberi amanah oleh Kemenag untuk ikut menyusun buku pelajaran agama islam bagi lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag, bersama beberapa orang lainnya. Buku yang  mereka susun antara lain buku fikih untuk kelas X Madrasah Aliyah (MA), buku fikih untuk kelas XI MA Program Khusus (MAPK), dan buku ilmu hadis untuk kelas XI MAPK.

M. As’ari, santri asal Tegal, M. Nawawi (Madura) dan M. Rifa’i (Purworejo) adalah mahasantri berprestasi di Ma’had Aly Lirboyo. Sebelum menjadi pengajar Madrasah Aliyah di Lirboyo, mereka telah terbiasa dengan iklim bahtsul masail dan karya tulis agama sejak masih sekolah.

Beberapa buku telah mereka tulis bersama santri lainnya. Diantaranya “Gerbang Fikih”, buku yang mengumpulkan pemecahan berbagai permasalahan sehari-hari bagi pemeluk agama Islam, lalu “Kritik Ideologi Radikal”, dan buku “Fikih Kebangsaan” yang ditulis sebanyak tiga jilid. Empat buku terakhir ini mereka tulis dengan berkonsentrasi pada permasalahan pelik yang sedang melanda bangsa ini: radikalisme.

Mereka mengupas tuntas radikalisme dengan merujuk kepada Alquran, hadis, dan kitab-kitab salaf yang komprehensif. Tentu saja, mereka berharap karya mereka ini dapat mencegah faham-faham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Dan mereka kini mendapat kesempatan besar untuk ikut berperan lebih jauh dalam deradikalisasi ini dengan menjadi penyusun buku kurikulum madrasah. Dengan digunakannya buku yang ikut mereka susun di seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag, diharapkan penanaman ideologi yang salah dapat segera musnah sejak dari akarnya.

Mereka juga berharap, semangat santri Pondok Pesantren Lirboyo dalam menekan wabah radikalisasi ini bisa beriringan dengan spirit Menteri Agama dan jajarannya yang baru-baru ini menyatakan bahwa deradikalisasi adalah salah satu program utama mereka./-