Category Archives: Pojok Lirboyo

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMPP ke-35

LirboyoNet, Wonosobo- Agenda Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) ke 35 telah usai. Ajang diskusi para santri yang diselenggarakan selama dua hari, Rabu-Kamis, 9-10 Oktober 2019 dihadiri ratusan santri dari berbagai pesantren se Jawa-Madura. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Mubarok Manggisan Wonosobo, para diskusi yang menjadi ciri khas keilmuan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini menghasilkan banyak jawaban atas berbagai problematika keagamaan yang faktual dan aktual di masyarakat. Persoalan-persoalan yang dibahas dibagi kedalam tiga komisi.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini.

KOMISI A
Fenomena Smartphone/Gadget
Masjid NU yang Dipertanyakan
Adzam ketika Berangkat Pergi
Cashback Toko Online

KOMISI B
Kebebasan Berdakwah
Problematika Daging Kurban
Pemusnahan Ayam Massal
Cerita Israiliyyat
Keharaman Wewangian bagi Muhrim

KOMISI C
Derita Eks Koruptor
Kupas Tuntas Jamak Fil Hadhor

Presentasi Lomba Esai

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”
Begitulah ungkapan Presiden RI pertama.

          Di tengah zaman yang terus melaju meninggalkan masa lalu, Para Santri Lirboyo berlomba-lomba menulis esai berbahasa Arab dengan tema “Merawat Ingatan Sejarah untuk Memperkokoh Ke-Indonesiaan.”

          Perlombaan ini diikuti oleh Siswa tingkat Aliyah dari berbagai Pondok Pesantren dan Sekolah se-Jawa Timur.
Dengan minimal tulisan 5 halaman HVS, para peserta mengumpulkan referensi dari kitab-kitab salaf maupun buku-buku terpercaya untuk menyusun esay mereka.

          Pada hari Kamis kemarin, tanggal 3 Oktober 2019 M., 10 peserta yang terseleksi dari sekian banyak peserta yang mengikuti perlombaan ini mempresentasikan hasil karyanya di depan para juri dan audiens. Selama 4 jam acara presentasi, audiens dibuat takjub mendengarkan argumentasi-argumentasi yang dibangun dan pola pikir para peserta 10 besar itu.

          Acara tersebut merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Kebudayaan dan Kementrian Pendidikan & Kebudayaan di Aula Al-Muktamar sejak hari Rabu, 2 Oktober 2019 M., dengan tema Penguatan Nilai Kebangsaan di Pesantren.

Penguatan Nilai Pesantren

LirboyoNet, Kediri – Rabu (02/10) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Sejarah mengadakan kegiatan penguatan nilai kebangsaan di Pondok Pesantren Lirboyo.

Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triana Wulandari mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan di 5 daerah yakti Pulau Jawa, Lombok, Kalimantan, Banjarmasin, dan Sulawesi.

Sebelum bersua dengan para santri, KH. Agus Sunyoto, Dr. Zawawi Imran, dan Ibu Triana Wulandari beramah tamah ke kediaman Romo KH. M. Anwar Manshur.

Acara tersebut resmi dibuka pukul 10.23 WIB bersama para santri dan masyayikh lirboyo di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Tujuan dari kagiatan ini menguak tentang sejarah mengenai peran serta para santri yang dulunya memiliki kontribusi dalam masa pembentukan bangsa Indonesia.

“Selain itu, kami juga ingin kegiatan di pondok pesantren itu juga diketahui sekolah-sekolah umum,” katanya.

Setelah dibukanya acara, teman-teman santri diajak untuk melihat pameran sejarah di gedung yayasan sebelah utara al-Hasan.

Sesuai dengan rundown acara yang telah disusun panitia, setelah dzuhur Halaqoh Kebangsaan berjalan dengan lancar hingga ashar tiba, Dr. Zawawi Imran yang membacakan puisi Resolusi Jihad terlihat sempurna ketika KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menutup acara dengan do’a.

Semoga Pesantren selalu menjaga Indonesia agar tetap utuh, dan para santri diharapkan memiliki kesadaran akan slogan nahdlatul ulama bahwa nasionalisme adalah sebagian dari iman.[]

Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global

LirboyoNet, Jakarta- Minggu siang (29/09) diskusi panel bertajuk “Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global” menjadi salah satu rangkaian acara Muktamar Pemikiran Santri Nasional (MPSN) 2019 Kementerian Agama RI.

Beberapa tokoh dan aktivis menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assiddiqiyyah Jakarta ini, seperti Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D (Rois Syuriah PCI NU Australia-Selandia Baru), Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA (Pengurus Pusat Muhammadiyah), Tengku Faizasyah (Kementrian Luar Negeri RI), Prof. Dr. Oman Fathurrahman (Staf Ahli Menteri Agama), Dr. Ahmad Zayadi (Dirjen PD Pontren Kemenag RI), dan Gus Candra Malik (Budayawan Pesantren).

Semua pemateri memberikan wawasan dan wacananya mengenai konsep perdamaian pesantren, dengan pembawaan yang khas, diselingi gojlokan ala santri., Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D mengajak kembali pada tradisi turats pesantren.

“Saat ini ada lagi yang mengartikan kembali pada Alquran dan Hadis diartikan sebagai kembali pada terjemahan Alquran dan Hadis. Inilah yang harus kita lawan dengan tetap berpegang teguh dengan tradisi pesantren sejak dulu.” tegas Gus Nadhir. []

Pembukaan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019

Jakarta, LirboyoNet- Sebagai rangkaian acara menyambut Hari Santri Nasional 2019, hari ini Muktamar Pemikiran Santri Nasional (MPSN) resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Drs H. Lukman Hakim Saifuddin.

Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren ash-Shiddiqiyyah Jakarta ini dihadiri oleh ratusan kiai, ustadz, santri, aktivis, dan peneliti. Dalam tiga hari ke depan, 28-30 September 2019, para kiai, ustad, santri, peneliti, dan peserta lain dari seluruh penjuru Indonesia.

Dalam sambutannya, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Kamarudin Amin, Pesantren harus menjadi penggagas perdamaian dunia.

“Dalan upaya menggagas perdamaian dunia, acara ini memiliki dua kegiatan utama, yaitu Call for Papers yang merupakan sesi presentasi dari seleksi nasional makalah para kiai dan santri dan Panel Session dan salah satunya adalah bedah buku Nasionalisme Religius dan Fikih Kebangsaan 2 karya santri Pondok Pesantren Lirboyo.” terang Kamarudin.

Dalam kesempatan ini, Menteri Agama Republik Indonesia,  Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, memberikan apresiasi atas disahkannya RUU tentang Pesantren menjadi UU. “Dengan diundang-undangkan pesantren, pesantren tidak seperti yang dipahami sebagian orang bahwa pesantren lembaga pendidikan semata. Namun pesantren memegang tiga peran sekaligus, yakni lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Adanya undang-undang ini ditujukan dalam upaya rekondisi, afirmasi dan fasilitasi pesantren dalam meneguhkan perannya sebagai roda penggerak perdamaian.” pungkas Lukman Hakim.

Acara Muktamar Pemikiran Santri Nasional 2019 memiliki banyak agenda, di antaranya malam kebudayaan, Call for Papers, Panel Session, Bedah Buku, diskusi panel, deklarasi perdamaian dan acara lain.[]