Category Archives: Pojok Lirboyo

Cangkruk bareng Cak Hids

LirboyoNet, Kediri – Jumat (27/09), bersama Tim Website lirboyo(dot)net dan Staf Ahli lainnya, Crew Mading Hidayah melaksanakan cangkruk bersama teman-teman santri yang dilaksanakan di gedung Rusunawa lantai I Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dihadiri lebih dari seratus santri ini diisi dengan teori-teori dasar seputar membuat esai, cerpen, opini, dan artikel.

Pemateri yang ikut menyemarakkan cangkruk itu antara lain; saudara Ackyl Mustavid, Hisyam Syafiq, Arif Rahman Hakim, Tubagus Godhonfar, serta Niqo Maimun Mahera.

“Menulis itu ga perlu bagus, untuk permulaan. Karena kalau mikirin bagus, tentu tidak akan bisa membuat karya,” Kata Ackyl saat menjelaskan seputat cerpen.

“Andrea Hirata karya yang terkenal adalah Laskar Pelangi, itu yang terkenal. Yang buruk sebelum itu apakah ada? Jelas banyak. Dan tidak dipublikasikan.” Pungkasnya.

Tujuan dilaksanakannya cangkruk ini tidak lain untuk menumbuhkembangkan, serta memancing semangat teman-teman santri untuk menulis. kegelisahan teman-teman mading seputar pentingnya diadakan cangkruk melihat banyaknya teman-teman santri yang antusias akan adanya Mading Hidayah dari tahun ke tahun, membuat Crew perlu bertemu dan paling tidak, memberikan mereka sesuatu yang bermanfaat selain doorprize buku.

Acara tersebut berakhir setelah adzan waktu Isya berkumandang, harapan dari acara cangkruk ini tidak lain adalah munculnya embrio menulis bagi teman-teman yang mengikuti cangkruk bersama mading hidayah.

Semua Fraksi di DPR Setujui RUU Pesantren Jadi UU Pesantren

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pesantren setelah mendengar persetujuan dari seluruh fraksi DPR.

Setuju!” Kata 288 anggota DPR dari seluruh fraksi di Gedung Nusantara II, Kompleks Kantor DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9).

Suara persetujuan itu sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah, Pemimpin Rapat Paripurna Ke-10 DPR RI.

Sebelumnya, Fahri menerima banyak interupsi yang bersifat penguatan dari berbagai fraksi. Semua pandangan fraksi pada prinsipnya mendukung.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan pandangan terakhir Presiden Joko Widodo.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa RUU Pesantren dibuat karena adanya kebutuhan mendesak atas independensi pesantren berdasarkan fungsinya, yakni dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Di samping itu, RUU tentang Pesantren ini juga merupakan bentuk afirmasi dan fasilitasi bagi pesantren.

Pengesahan RUU Pesantren ini disambut dengan shalawat badar dan lantunan Ya Lal Wathan oleh hadirin.

Ketua Komisi VIII Ali Taher mengungkapkan bahwa pembahasan pertama RUU ini dimulai pada 25 Maret 2019. Dalam perjalanannya, pada 10 Juli 2019, tim Panitia Kerja (Panja) menyepakati hal strategis memutuskan unyik mengubah menjadi RUU tentang Pesantren yang mulanya RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Lebih lanjut, Ali juga menyampaikan bahwa RUU Pesantren ini merupakan penghargaan sebuah negara yang telah berkontribusi aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, RUU Pesantren ini merupakan tonggak sejarah baru pengakuan negara terhadap pesantren yang memiliki peran dalam pendidikan dan dakwah.

Peraturan yang belum tercakup dalam RUU ini katanya, akan diatur kemudian hari dengan peraturan-peraturan lainnya.

Rapat Paripurna Ke-10 ini dihadiri oleh 288 anggota DPR. Pembahasan RUU tentang Pesantren ini juga dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Pembahasan ini juga dihadiri oleh para kiai dari berbagai daerah di Nusantara.

Sumber: www.nu.or.id

Launching Hari Santri

LirboyoNet, Jakarta – Dalam rangka launching peringatan Hari Santri, Kementerian Agama menggelar rangkaian peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Balai Diklat Kemenag RI, Jl. MH Thamrin no 6 Jakarta Pusat, Kamis (19/9) malam. Hari santri tahun ini mengambil tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.

Pada acara ini akan ditampilkan Orkestra Perdamaian, yang bertema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia”. Ini adalah pergelaran musikal yang menampilkan Orkestra Santri, Husein ‘Idol’ Alattas, Neng Nada, Ihsan Lathief AIS Nusantara, Digo dan Toto Tewel Balad Santri, Putri Diana, perform Santri Aytam Asshiddiqiyah Jakarta, Santri Tuna Netra Raudlatul Makfufin Banten, dan Santri Ummul Quro Al Islami Bogor.

Selain dihadiri para pejabat kementerian, pimpinan pondok pesantren di Jabodetabek, ormas Islam, OKP, dihadiri pula sekitar 50 Duta Besar Negara untuk Indonesia.

Adapun rangkaian acara yang akan terlaksana pada tahun ini, yakni Santri Millennial Competitions, Kopdar Akbar Santrinet Nusantara, Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 28-30 September, Malam Kebudayaan Pesantren pada 28 September, Roan Akbar pada 6 Oktober, Parade Santri Cinta Damai pada 13 Oktober, Malam Puncak Santriversary 21 Oktober, dan Upacara Bendera saat Hari Santri pada 22 Oktober 2019.

AM Fachir menyebut dalam sambutannya, beberapa di antara para santri yang menaruh andil dalam perumusan dasar negara, di antaranya KH Abdul Wachid Hasyim Jombang, H Agus Salim dari Padang, KH Abdul Halim Muhammad Syatari, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, KH Abdul Fattah Hasan dari Banten, KH Mas Mansyur Surabaya, dan KH Masykur mewakili Masyumi.

Menurutnya, mereka melandasi tindakan dan rumusan dasar negara itu pada Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

“Dan mereka adalah panutan kita, para kiai-kiai. Karena itu, saya membayangkan kira-kira ayat 13 Surat Al-Hujurat tadilah yang menjadi landasan mereka itu memasukkan salah satu elemen ayat ini di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.

Oleh karena itu, alumnus Pondok Pesantren Gontor ini menegaskan bahwa Hari Santri adalah momentum mengenang para santri dan kiai zaman dahulu yang telah memberikan kontribusi besar terhadap kemerdekaan dan kemajuan negeri ini.

Dalam acara tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga mengatakan, “Perbedaan yang ada harus disikapi dengan arif. Ambil sisi positif. Saling menyempurnakan,” katanya, “Esensi dan substansi ajaran islam yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. Dunia santri adalah dunia yang sangat menghargai budaya, seni. Karena kita adalah bangsa terhormat, memiliki harkat dan martabat, maka Kebudayaan juga harus bersumber dari nilai nilai agama dan moral.” Tandasnya.

NU Millenial Digital Camp PWNU Jatim

LirboyoNet, Surabaya-Untuk meningkatkan kader milenial NU di tengah semaraknya doktrin-doktrin radikal lewat media sosial Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggelar acara yang bertajuk NU Millenial Digital Camp, yang dilaksanakan 6-8 September 2019.

Dalam acara tersebut, terdapat tiga kategori kelas yakni jurnalistik, desain grafis, dan pengelolaan media sosial yang dihadiri oleh segenap delegasi dari PCNU, lembaga, Badan Otonom, dan perwakilan Pondok Pesantren Jawa Timur.

Rofi’i Boenawi, selaku panitia acara tersebut mengatakan “Salah satu tujuan dihelatnya NU Millenial Digital Camp adalah ijtihad kreatif untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda NU dalam melakukan dakwah via media sosial. Karena pada era Rasulullah, dakwahnya bil lisan. Sekarang dakwahnya bil IT.”

Acara tersebut resmi dibuka oleh Wakil Sekretaris PWNU Jatim Dr. H. Muhammad Hasan Ubaidillah, SHI, M.Si,. Beliau menandaskan pentingnya penguasaan media di era disrupsi. Menurutnya, disruption era ditandai dengan perubahan yang serba cepat dan mudah.

Selama tiga hari itu, peserta diberi wacana dan materi seputar apa saja yang dibutuhkan untuk dakwah di media sosial yang marak.

Ada yang menarik dari pemaparan pemateri terakhir oleh Bapak Hilmi Muhammad Noor yang menyampaikan seputar spirit dakwah digital. Berketepatan dengan bulan Muharram 1441 H, menurut beliau, sudah saatnya bagi Kiai-kiai NU untuk hijrah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW,. Seorang Kiai harus melakukan inovasi dakwah melalui media sosial. Menurut tutor sudah saatnya Kiai-kiai di endors dalam berdakwah oleh santri-santri milenial ini. Jadi, bukan hanya orang awam saja yang berhijrah.

Penutupan acara dilaksanakan di Gedung PWNU lantai 3, Minggu 8 September 2019 pukul 15:18 Wib dan dihadiri oleh Ir. Muhammad Qadri selaku Wakil Ketua PWNU Jatim, sekaligus memberikan sambutan dan doa penutup.

Tubagus Godhonfar (asal Karawang) dan Niqo Maimun (asal Palembang) merupakan dua santri Pondok Pesantren Lirboyo yang mengikuti acara tersebut sebagai delegasi utusan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.[]