HomeAngkringKadar Kemuliaan Sebanding dengan Cobaan

Kadar Kemuliaan Sebanding dengan Cobaan

0 2 likes 194 views share

Ada satu sunnatullah, ketentuan Allah, yang telah berlangsung sejak manusia diciptakan: kesuksesan hanya dapat diraih dengan kerja keras dan keberhasilan dalam melewati rintangan dan cobaan. Di satu ketetapan lain, Allah juga memiliki peraturan, yang sepenuhnya milik Dia:  bisa saja ia memilih salah satu makhlukNya untuk menikmati kemapanan hidup tanpa harus berjerih payah terlebih dahulu.

Namun, ia berkali-kali dalam KalamNya mengingatkan seluruh makhlukNya, bahwa usaha, ibadah, keringat yang dicucurkan dalam proses penghambaan tidaklah sia-sia. “Al-ajru biqadri al-ta’ab.” Ganjaran akan selalu sesuai dengan usaha yang dipersembahkan. Semakin payah usaha seseorang demi imannya meningkat, maka hubungannya dengan Allah semakin dekat.

Sebab itulah, Nabi meyakinkan kita bahwa orang miskin yang mampu menahan dirinya, bersabar, itu jauh lebih utama daripada mereka yang kaya, meskipun mau bersyukur. Bahkan dalam satu kesempatan, beliau pernah berdoa, meminta kepada Allah agar ditakdirkan selalu bersama orang miskin.

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ

“Ya Allah! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin.” (HR. Tirmidzi)

Tapi bagi kita, umatnya yang tak memiliki kekuatan iman seperti Rasulullah saw., akan lebih baik jika mengkoreksi diri sendiri, adakah dengan kondisi hidup yang berkekurangan bisa meningkatkan kualitas keimanan, atau justru menjerumuskan kita pada jurang kekufuran. Karena di kesempatan lain, Rasulullah saw. memperingatkan para sahabatnya betapa beratnya cobaan miskin bagi umat islam:

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْراً

“Kemiskinan dekat sekali dengan kekufuran.” (HR. Baihaqi)

Baik itu kemiskinan secara material, lebih-lebih miskin secara spiritual. Kedua-duanya ini amat berat diderita kaum muslim pada umumnya. Namun yang perlu dititikberatkan adalah cobaan tidaklah akan diturunkan Allah kepada umatnya, kecuali Ia menghendaki dua hal: sebagai jalan bagi hambaNya agar semakin dekat denganNya, atau justru menjadi tanda akan disiapkan azab bagi umatNya yang kufur.

Di manakah kita? Golongan yang mendapat kesempatan untuk mendekat kepadaNya, ataukah yang semakin dijauhkan dari jalan kebenaran?

Pertanyaan yang sederhana sebenarnya. Kita bisa memilih sendiri jawabannya. Caranya? Hati kitalah yang menentukannya. Ridla, ataukah menambah amarah dan menyumpahi kesusahan itu. Jika ridla, Allah pun ridla. Jika kita malah menggerutu, maka itu adalah murka Allah. Hal ini disampaikan dengan bijak oleh Rasulullah saw.:

اِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَاِنَّ اللهَ تعَلَى اِذَا اَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah itu bila mencintai kaum, maka Allah mengujinya. Barang siapa yang ridla, ia mendapat keridlaan Allah, dan siapa marah, ia mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi)

Maka penderitaan mana yang kita pilih?