HomeSantri MenulisLirboyo, 108 Tahun yang Lalu…

Lirboyo, 108 Tahun yang Lalu…

0 3 likes 110 views share

Bermula dari Kiai Sholeh (Banjarmelati, Kediri, mertua Kiai Manab, nama kecil KH. Abdul Karim) yang sering lewat Desa Lirboyo jika hendak pergi ke sawahnya di daerah Semen, Kediri.

Suatu ketika, saat beliau melewati desa tersebut tiba-tiba ada sesuatu yang aneh, Lirboyo yang kondang keonarannya dan angker itu seolah-olah dimata beliau nampak berubah menjadi desa yang tenteram kertaraharja. Timbul keinginan Kiai Sholeh untuk memiliki sebidang tanah di Desa Lirboyo itu.

Gayung pun bersambut. Lurah Lirboyo (Menurut versi lain yang datang adalah mantan Lurah Lirboyo) kala itu memohon bantuan Kiai Sholeh untuk menempatkan menantunya yang alim di Lirboyo. Agar masyarakat yang kering siraman ilmu agama kembali pada jalan yang benar.

Ki Lurah yang priyayi dari Solo (Keterangan dari Buku Memori MHM angkatan 1990 M.) ini berharap sekali permintaannya dikabulkan. Tiap kali Kiai Sholeh pergi ke sawah, Ki Lurah selalu menghadang beliau dan mengulangi permintaannya berkali-kali.

Akhirnya, Kiai Sholeh meluluskan juga permintaan Ki Lurah itu. Mengingat pula menantunya, Kiai Manab, belum juga mempunyai tempat tinggal. Dengan bantuan Ki Lurah, beliau berusaha membeli sebidang tanah di Lirboyo. Kebetulan sekali saat itu ada seorang penduduk yang akan menjual tanahnya karena sudah tidak betah bermukim di Lirboyo.

Setelah Kiai Sholeh membeli tanah seluas kurang lebih 1.785 meter persegi, segera beliau mempersiapkan tempat itu sebagai hunian yang nyaman dengan jalan lahir maupun batin.

Setelah dirasa siap, Kiai Sholeh lantas mendirikan rumah kecil yang amat sederhana. Hanya berdinding bambu dan beratap daun kelapa. Karena terlalu sederhana, boleh disebut gubug. Tatkala rumah itu selesai dibangun, Kiai Sholeh lalu memberitahukan kepada Kiai Manab bahwa beliau telah disediakan tempat di Lirboyo. Dengan penuh ungkapan syukur, Kiai Manab diantar Kiai Asy’ari yang tidak lain adalah kakak ipar beliau. Malam harinya, langsung berangkat ke Lirboyo menempati rumah itu.

Sampai di Lirboyo, Kiai Manab ditinggal sendirian. Dibekali nasi satu bakul kecil, sayur satu mangkok, tikar, dan lampu. (Keterangan dari Buku Memori MHM tahun 1987 M.) Baru dua hari berikutnya istri beliau, Nyai Khodijah, menyusul ke Lirboyo. Tidak lazimnya pindah rumah, beliau hanya membawa sedikit beras, kayu bakar, dan seekor ayam blorok.

Saat itu Lirboyo memang terkenal wingit. Pada waktu itu banyak penduduk Lirboyo yang belum Islam. Hal ini diperkuat dengan belum adanya sarana masjid untuk menampung shalat Jum’at. Dengan demikian, Kiai Manab lah yang pertama menyebarkan Islam di Desa Lirboyo. (Wawancara dengan KH. Maimun Zubair, Sarang, Rembang.)

Alhamdulillah, upaya Kiai Manab menyadarkan masyarakat Lirboyo lambat laun menampakkan hasil. Banyak penduduk yang mulai insaf setelah mendapat wejangan dari beliau. Bahkan, selang tidak begitu lama, Kiai Manab membangun sarana peribadatan sederhana, yaitu sebuah Langgar Angkring. Tiga tahun kemudian, bangunan itu disempurnakan menjadi masjid. Tepatnya pada tahun 1913 M.

Teruntuk Simbah Kiai Sholeh dan Simbah Kiai Abdul Karim, al-Fatihah.

 

Penulis, M. Al Faris, santri mutakhorijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2011, asal Indramayu.

 

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo akan dilaksanakan pada Selasa malam Rabu, 09 Sya’ban 1439 H./24 April 2018 M.