HomeAngkringKala Al-Ghazali Berbicara Perihal Cinta

Kala Al-Ghazali Berbicara Perihal Cinta

Angkring 0 22 likes 2K views share


Imam Ghazali nampaknya menjadi salah satu penggemar terberat Rabiah Adawiyah. Kalau saja ia hidup di zaman sekarang, bukan tidak mungkin dia akan bikin semacam fanbase buat Rabiah.

Betapa tidak. Ia bahkan mengutip rangkaian syair Rabiah di kitabnya yang paling monumental: Ihya Ulumuddin. Ia tak akan mengutip syair itu jika lariknya tak benar-benar penting baginya.

Pertama, karena ia pernah mengecam kebiasaan masyarakat zamannya yang doyan bersyair. (Baca bab hukum syair dan musik di ihya). Kedua, sebagai seorang yang pernah berada di level faqih—yang artinya pernah berurusan serius dengan kaum sufi—tentu akan lebih kritis terhadap sesuatu yang berbau sufistik-spiritualisme.

Namun magis Rabiah memang sungguh terlalu. Al-Ghazali jelas terpengaruh dan membaca hampir seluruh syair Rabiah. Ia lalu memilih mengutip beberapa larik ini:

أُحِبُّكَ حُـبَّينْ حُبُّ الهَوَى وَحُــبَّا لأنَّكَ أَهْلٌ لِـذَاكَا
فَأَمَّا الَّـذِي هُوَ حُبُّ الهَوَى فَشُـغْلِي بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَا
وَأَمَّا الَّـذِي أَنْتَ أَهْلٌ لَـهُ فَلَسْتُ أَرَى الكَوْنَ حَتىَّ أَرَاكَا
فَمَا الحَمْدُ فِي ذَا وَلاَ ذَاكَ لِي وَلَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وَذَاكَا

“Aku mencintaimu karna dua hal: pertama karena cinta pada cinta, Dan kedua karena Engkau pantas dicinta.”
“Cinta pada cinta adalah saat aku terlalu mabuk asmara mengingat diriMu, tak terbagi cintaku pada yang lain.”
“Dan tentang engkau yang pantas dicinta ialah karena aku tak melihat segala-galanya kecuali dirimu”
“Aku tak butuh pujian karna ini dan itu tapi karna Engkaulah yang pantas akan semua itu.

Dari syair ini kemudian Al-Ghazali menemukan cahaya terang: kenikmatan memandang keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Kesimpulan ini ia landaskan pada firman Allah dalam hads qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaKu yang saleh kenikmatan yang belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum pernah dibayangkan hati manusia.”

“Keterangan-keterangan tersebut telah menjelaskan segalanya,” ujar Al-Ghazali, “bahwa pengetahuan yang paling nikmat adalah pengetahuan yang paling tinggi derajatnya.” Apa keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Apa pengetahuan paling tinggi derajatnya itu? Derajat sebuah pengetahuan akan dinilai sesuai dengan derajat materi yang menjadi objek pengetahuan itu. Semisal, pengetahuan tentang ilmu bangunan, derajatnya setara dengan nilai bangunan itu sendiri.

Derajat pengetahuan akan alam dan kajian biologisnya, setara dengan seberapa penting alam dan kajian biologis itu untuk diketahui banyak orang. Dan seterusnya.

“Dengan demikian,” lanjut Al-Ghazali, “jika kita menemukan sesuatu yang agung dan mulia di dalam ilmu pengetahuan itu, maka ilmu pengetahuan itu pastilah ilmu yang agung dan mulia pula. Maka pengetahuan kita terhadap Yang Tertinggi (tuhan) adalah aladzzul ‘ulum, semulia-mulia dan selezat-lezatnya pengetahuan.”

Referensi: Ihya Ulumudin, maktabah dar al-fikr, vol. 4, hal. 323.

__________________________________

Nailul Huda, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2004, dengan perubahan seperlunya.