Tanda-Tanda Ilmu Bermanfaat: Pelajaran Penting dari Hikmah ‘Abd al-A’lā al-Taimī

Bayangkan seorang penuntut ilmu, yang hari-harinya tenggelam dalam lautan aksara dan riwayat. Ia telah menghafal ribuan hadis dan menguasai berbagai disiplin ilmu, tetapi hatinya terasa kering. Ia menganggap ilmu hanyalah sekumpulan data yang harus ia taklukkan oleh akal, bukan ruh yang harus teresap jiwa.

Namun, datanglah sebuah nasihat yang menusuk lurus ke relung batin, sebuah permata hikmah yang terwariskan dari para pendahulu, melalui rantai emas periwayat, ‘Abd al-A’lā al-Taimī.

Baca juga: Alasan Sayyidah Aisyah Menyebut Akhlak Nabi Adalah Al-Qur’an

Hikmah itu berbunyi:

“Siapa yang (Allah) berikan ilmu, namun ilmu itu tidak membuatnya menangis, maka patut diduga bahwa ia tidak diberikan ilmu yang bermanfaat.”

Bukan sekadar air mata kesedihan, melainkan tetesan air mata ketakziman dan pengenalan mendalam terhadap Kebesaran Ilahi. Ia sadar, air mata adalah meterai kebenaran ilmu di dalam hati.

Mengapa demikian? Karena Allah, Rabb semesta alam, telah melukiskan ciri khas para ulama sejati di dalam Kitab-Nya yang Mulia. Bukankah Allah sendiri yang menyifati mereka di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.” (QS. Al-Isrā’: 107)

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sayyidina Umar bin Khattab: Sang Amirul Mukminin yang Pemberani

Yang dapat kita ambil hikmah

Ilmu sejati, lautan yang tak bertepi, seharusnya menghadirkan keagungan dan ketundukan. Ilmu yang bermanfaat bukanlah yang meninggikan kepala dalam kesombongan, melainkan yang merebahkan wajah dalam sujud kehambaan dan mengalirkan air mata penyesalan atas segala kekurangan.

Sejak saat itu, penuntut ilmu tersebut menyadari, nilai ilmu bukan pada berapa banyak yang harus kita hafal, melainkan seberapa dalam ia merasuk, melembutkan hati, dan membasahi pipi. Ia pun menyempurnakan pencariannya, beralih dari sekadar mengumpulkan data menjadi menjemput cahaya, dari seorang murid menjadi teladan kehinaan di hadapan Sang Pencipta.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses