HomeAngkringKisah Bal’am bin Ba’ura: Ahli Hikmah yang Berakhir Tanpa Iman

Kisah Bal’am bin Ba’ura: Ahli Hikmah yang Berakhir Tanpa Iman

Angkring 0 2 likes 4.6K views share

Bal’am adalah seorang ahli hikmah yang hidup di zaman Nabi Musa a.s. Alkitab menyebutnya sebagai Bileam bin Beor. Para ahli tafsir Alquran menyebutnya Bal’am bin Ba’ura/Ba’ur.

Di dalam Alquran sendiri tidak ada ayat yang menyebutkan namanya. Tapi, ada satu ayat yang menurut banyak pakar tafsir ditujukan pada Bal’am. Allah Swt. berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Dan bacakanlah (wahai Muhammad), kepada mereka berita orang yang telah Aku berikan kepadanya ayat-ayat-Ku, kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-A’raaf: 175).

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholhah, bahwa Bal’am adalah orang Bani Kanaan yang tinggal di kota tempat tinggal orang-orang gagah perkasa yang henda diperangi Nabi Musa. Sementara menurut Muqatil, Bal’am adalah penduduk kota Balqa yang sekarang menjadi provinsi di Yordania.

Ia adalah orang alim yang menyimpan rahasia al-ismul-a’zhom (nama keagungan Allah Swt. yang hanya diketahui orang-orang tertentu). Kisahnya sendiri memiliki banyak versi. Jangankan versi Alkitab, para ahli tafsir Quran saja memiliki versi cerita yang berbeda-beda.

Yang akan kami kutip kali ini adalah versi Muqatil. Bukan karena apa-apa, tapi cerita versi beliau ini yang paling ringkas.

Kisahnya bermula saat Nabi Musa a.s. beserta Bani Israil yang hendak pergi menuju Syam sudah mendekati dataran Kanaan.

Raja Balqa (Alkitab menyebut raja ini dengan nama Balak bin Zipor) yang merasa terancam dengan kehadiran pasukan Nabi Musa pun memanggil Bal’am. “Berdoalah kepada Allah untuk menjatuhkan keburukan atas Musa,” perintah raja pada Bal’am.

“Musa adalah orang yang seagama denganku. Aku tak mungkin berdoa untuk mencelakainya.” Bal’am menolak.

Raja tersinggung dengan penolakan Bal’am. Ia berencana memberi Bal’am hukuman gantung.

Hanya karena melihat sang raja menyiapkan salib untuk menggantungnya, Bal’am sudah paham maksud sang raja. Lalu ia menaiki keledainya dan pergi menuju tempat kemah Bani Israil.

Sesampainya di tempat yang cukup dekat untuk bisa melihat Bani Israil, keledai yang ditungganginya malah menderum dan enggan melanjutkan perjalanan. Bal’am marah dan memukulinya.

“Kenapa kau pukul aku? Aku diperintahkan untuk berhenti di sini. Di depanku ada kobaran api yang menghadang.” Atas izin Allah Swt. keledai itu bisa berbicara.

Bal’am kembali menghadap raja. Ia melaporkan perihal keledainya yang tiba-tiba tak terkendali dan bisa berbicara. Sayangnya raja tak mau tahu. Masa bodoh, pikirnya. “Kutuk saja Musa, nanti kugantung dia,” katanya.

Akhirnya Bal’am mau mengikuti kemauan raja. Ia berdoa kepada Allah Swt. agar Nabi Musa a.s. tidak bisa memasuki kota Balqa. Tidak tanggung-tanggung, agar lebih ampuh, Bal’am menyebutkan al-ismul-a’zhom dalam doanya. Benar saja, doanya dikabulkan.

Dampaknya Bani Israil tidak lagi berteguh hati percaya kepada Allah. Ketika muncul propaganda bahwa tanah Kanaan dikuasai oleh “raksasa-raksasa”, mereka menolak untuk pergi ke sana dan memberontak terhadap perintah Allah.

Akibatnya Allah Swt. menghukum mereka untuk tetap mengembara dan tersesat di padang gurun (at-tīh/التيه) selama 40 tahun.  Hukuman ini menjadi azab yang menyebabkan bangsa Bani Israil nyaris punah. Bahkan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. wafat di tengah pengembaraan ini.

Tragedi ini menjadi rahmat bagi beliau berdua dan sekaligus juga menjadi azab bagi mereka yang membangkang. Namun, sebelum wafat, Nabi Musa a.s. sempat mengadu kepada Allah Swt., “Wahai Tuhanku, sebab apa kami terjebak di sini?”

“Sebab doanya Bal’am.” Jawab Allah.

“Sebagaimana Kau telah mendengarkan doanya, maka dengarlah pula doa hamba untuknya.”

Nabi Musa berdoa agar Allah mencabut iman dan al-ismul-a’zhom dari diri Bal’am. Allah benar-benar mencabut apa yang dimiliki Bal’am. Imannya, pengetahuannya, al-ismul-a’zhom-nya.

Saat itu terjadi, tampak cahaya berbentuk merpati putih keluar dari tubuh Bal’am. Inilah yang dimaksud dengan “فَانْسَلَخَ مِنْهَا” dalam ayat di atas.

Akhiran, ilmu pengetahuan dianugerahkan bukan untuk dijadikan kebanggaan atau kesombongan. Lihatlah Bal’am sang ahli hikmah yang berakhir tanpa iman. Nauzubillah.