HomeAngkringMenyesali Rasa Syukur

Menyesali Rasa Syukur

0 2 likes 860 views share

Syekh Sariy As Saqathy (wafat th 253 H./967 M.), seorang arif & murid sufi besar Ma’ruf Karkhy, pernah berkata, “Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapan Alhamdulillah sekali.”

“Lho, bagaimana itu?” tanya seorang yg mendengarnya.

“Terjadi kebakaran di Baghdad,” kata syeikh menjelaskan, “lalu ada orang yg datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, Alhamdulillah. Maka ucapan itulah yg kusesali selama 30 th ini. Aku menyesali sikapku yg hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

*30 tahun Syeikh Sariy menyesali ucapan alhamdulillahnya yg hanya sekali. Beliau menyesal karena sadar -sekejap setelah melafalkan ungkapan syukurnya itu- bahwa dengan ungkapan syukurnya itu berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebalnya hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama.

Beliau tersadar langkah degilnya orang yg mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis.

Alangkah musykilnya orang yg sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya.

||Dikutip dari buku Kompensasi karya Gus Mus.