Kepengurusan Pesantren Lirboyo Kian Solid

lirboyo.net. Ditandai ketukan palu tiga kali menandakan bahwa kepengurusan Pondok Pesantren lLirboyo masa bakti 2013-2014 M. kemarin hari Senin malam selasa 03 Juni 2013. telah resmi dilantik, bersamaan itu pula kepengurusan P2L periode 2012-2013 M. telah dinyatakan demisioner. Acara pembubaran dan pelantikan tersebut dikemas dalam Rapat Paripurna.

Prosesi acara disamping berjalan dengan khidmat, hadirin anggota sidang juga diliputi rasa penasaran dan tanda tanya, karena mereka belum tahu nanti akan ditempatkan pada posisi mana.

Acara yang bertempat di kantor muktamar tersebut, banyak dihadiri masyayikh dan segenap keluarga besar Lirboyo. Sementara yang didapuk untuk memimpin pembubaran kepengurusan pondok masa bakti 2012-2013 adalah beliau KH. An’im Falahuddin Mahrus, Pengantar Tap BPK-3 oleh KH. M. Anwar Manshur, pembacaan buku TAP BPK oleh KH. Nurul Huda Ahmad dan disahkan oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus yang sekaligus memberikan Mauidzoh Hasanah dan barokah do’a penutup.

Yang paling menyolok perbedaanya dalam struktur kepengurusan tahun depan adalah dari Seksi Keamanan yang semula berjumlah hanya 30 anggota ditambah menjadi 45 anggota seiring dengan bertambahnya jumlah santri pondok Lirboyo yang telah mencapai angka kurang lebih 12.000 santri.

Diantara pesan yang disampaikan oleh beliau KH. M. Anwar Manshur dalam sambutan pengantarnya yaitu  laksanakan khidmah dengan benar-benar ikhlas insyaAllah kelak di rumah hidup kalian akan menjadi barokah. Sudah banyak terbukti, dulu di pondok tidak bisa apa-apa kemudian ternyata di rumah dia menjadi tumpuan masyarakat.

Dalam menjalankan tugas kita harus berjalan bersama, kalau ada kesulitan nanti di musyawarohkan dahulu atau tanya pada yang lebih berpengalaman atau senior, jangan sampai terpecah belah. Supaya jalannya proses pendidikan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Karena tanpa adanya peraturan, kontrolan  dan pengawasan maka akan semrawut, tutur Mbah War (sapaan akrab beliau). Beliau mewakili seluruh dzurriyyah keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo juga mengucapakan jazakumulloh ahsanal jaza kepada santri yang telah merampungkan khidmahnya sampai masa jabatan berahir. (Nang)PenSs

Bercerminlah!!!

Benar memang kata orang, jikalau kita ingin terlihat lebih baik maka bercerminlah. Karena dengan cermin kita bisa mengetahui kotoran atau noda di wajah kita, sekecil apapun itu, bahkan pada bagian-bagian yang tak bisa dijangkau oleh pandangan mata. Tapi sayang, tidak semua orang bisa bercermin, lebih tepatnya tidak mengetahui fungsi cermin yang sebenarnya. Apalagi cermin kehidupan kita. Rasulullah saw telah bersabda:

المؤمن مرآة المؤمن

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.”

Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, seyogyanya kita mengetahui langkah-langkah penggunaan cermin yang benar. Berikut ini beberapa poin yang berhasil pernulis rangkum dari berbagai kata-kata bijak.

Mencari kesalahan, kekurangan juga kotoran yang ada pada diri kita (instropeksi diri). Mungkin kita tidak sadar, bila ternyata baju yang kita pakai itu sobek atau bolong. Atau juga tidak sadar, lebih tepatnya tidak tahu bila ternyata ada noda atau kotoran di wajah kita. Atau mungkin bagi seorang perempuan, dia tidak menyadari bahwa kombinasi perpaduan kosmetik di wajahnya ada yang kurang pas. Semua itu kita tidak bisa tahu dan menilai tanpa menggunakan cermin.

[ads script=”1″ align=”center”]

Begitupun dalam keseharian kita. Bagaimana kita bisa mengetahui kesalahan, kekurangan dan keburukan diri kita jika tanpa melalui orang lain, sabda Rasululloh saw

انّ احدكم مرآة اخيه

“sesungguhnya setiap dari kalian adalah cermin bagi saudaranya”

 Terkadang kita terlena dengan hanya mencari-cari keburukan orang lain, mengumbar kesalahan orang lain, tapi kita tidak pernah melihat dan mengoreksi keburukan, kesalahan dan kekurangan diri kita sendiri. Wajar saja jika pepatah mengatakan, “semut di seberang laut tampak, gajah di pelopak mata tak tampak.“

Itulah kesalahan dan kelalaian kita yang perlu di benahi

Maka dari itu, sebelum kita menilai orang lain, nilailah diri kita sendiri. Seperti maqolah

حاسبوا قبل ان تحاسبوا

“koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi (dihisab)”

 Caranya? Bisa dengan bertanya pada orang lain apa saja kesalahan dan kekurangan kita, atau dengan meresapi kritikan atau ejekan orang lain atau bahkan teman kita sendiri. Khusnudzon sajalah.

Bila dia mengkritik, bukan berarti dia benci atau sengit. Justru itu merupakan bukti bahwa dia sebenarnya perhatian pada kita dan ingin kita merubahnya. Itu merupakan peluang bagi kita untuk mengoreksi dan menyadari kesalahan serta kekurangan kita, walaupun kebanyakan dari kita jika dikritik malah marah-marah, termasuk saya. Astaghfirullahaládzim.

Mengetahui kesalahan yang kecil atau bahkan yang tidak bisa terjangkau oleh pandangan mata (tidak kita sadari). Sering kita merasa apa yang telah kita lakukan sudah dirasa benar tapi belum tentu menurut orang lain seperti itu, karena memang dia melihatnya dari sisi yang berbeda sehingga terkadang kita tidak menyadari kesalahan itu sendiri. Atau juga dalam gagasan, pendapat kita. Sehingga Imam Syafi’i pernah berkata

 رأينا صدق يحتمل الخطاء و رأي غيرنا خطاء يحتمل الصدق

“pendapatku benar tapi juga masih bias salah, dan dapat selainku salah, tapi juga masih bisa benar”

Memperbaiki kesalahan dan bertaubat lebih baik. Setelah kita mengetahui kesalahan kita, tentu kita juga ingin memperbaikinya supaya tidak terulang lagi. Seperti kata pepatah “keledai tak akan pernah jatuh ke lubang yang sama”. Dalam hal itu tentu juga kita membutuhkan orang lain. Tujuannya, supaya kita bisa tahu cara yang benar dalam memperbaiki diri, pendek kata “menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah”.

Dalam hal ini mungkin bisa dengan meminta nasehat, pertimbangan atau kita bicarakan dengan teman. Bahasa gaulnya curhat atau kalau menurut santri musyawarah. Sebagaimana sabda Rasululloh saw

ما خاب من استشار و لا ندم من استخار

“tidak ada ruginya orang yang bermusyawaroh, dan tidak ada sesal orang yang beristikhoroh”

Meneliti ulang hasilnya (evaluasi diri). Setelah kita selesai memperbaikinya, coba kita periksa kembali, siapa tahu masih ada suatu yang tidak benar atau kurang pas. Dalam suatu maqolah dikatakan

إذا تّم الأمر بدأ نقصه

“ketika suatu perkara telah sempurna, baru akan nampak kekurangannya”

Cobalah kita tanyakan lagi pada orang lain, sudah benarkah kita dalam menyikapi dan memperbaikinya? Hal ini bertujuan agar kita mencapai klimaks yang sempurna.

Menyamakan/membandingkan dengan orang lain (barometer standarisasi). Jika kita ngefans pada seorang idola, atau kita melihat orang yang baik, tentu kita ingin meniru dan mengikuti gayanya, katakanlah biar kita sama, setidaknya mirip dia. Begitupun sebaliknya, bila kita melihat seseorang itu jelek, tentu kita tidak ingin seperti  dia. Itu manusiawi memang. Terkadang kita juga perlu menempatkan seseorang sebagai barometer standaritas diri kita. Mau kita jadikan seperti apa diri kita tak lepas dengan memandang orang lain sebagai tolak ukurnya. Siapa orangnya, itu terserah anda.

المرء مع من احبّه

“Seseorang itu akan bersama dengan orang yang ia sukai kelak di hari kiamat”

Dan seperti apa dia, ya itulah perwujudan kita setelah menirukannya.

Jika kita melihat kesempurnaan pada diri orang lain maka jangan hanya kita melihat hasilnya, karena bisa saja itu akan menjadi bayangan semu bagi kita, fatamorgana dan kamuflase belaka. Tapi cobalah kita menilik prosesnya, bagaimana dia bisa mencapai kesempurnaan itu, supaya kita bisa menemukan dan melihat bayangan yang benar-benar nyata.

Atau juga ketika kita tidak ingin menemukan bayangan dalam cermin terlihat buruk maka janganlah memperburuk diri kita. Dalam arti, jika kita tidak ingin orang lain menyakiti atau menghina kita, maka jangan sampai pernah kita menyakiti atau menghina orang lain, pun juga kita ingin dia berbuat baik pada kita maka berbuat baiklah padanya. Karena orang lain adalah cermin nyata bagi kita.

“Apabila baik (amal kita) maka baik pula (balasannya) dan bila buruk (amal kita) maka buruk pula (balasannya)”.

Semoga anda bisa bercermin dan sayapun juga. Amin.

“bercerminlah, maka kamu akan terlihat indah”

Penulis, Abdullah Irsyad, siswa kls 1 Aly Bag. B.03 kmr : M.10

 

Mengenal Fikih Tematis dalam Kitab Mutun Asy-syarif Syaikhona Kholil

Selama ini, literasi kitab fiqh sepertinya terus beralienasi dengan waktu. Pertama, kitab fiqh bercorak deskruktif. Maksudnya, pembahasan masalah berikut penjabarannya (syarah). Kemudian hadir fiqh adaptif, literasi kitab fiqih yang menawarkan lebih sistematis dan sesuai dengan kebutuhan. Seperti  hadirnya  Fiqhul Mâbadi’, kajian fiqh untuk kalangan pemula atau Fiqh al Wadih, yang merespon setiap permasalahan dengan demikian transparan dan sistematis. Kedua bagian ini mempunyai standar dan objek berbeda, maka tidak mengherankan jika satu telah ditinggalkan, maka akan beralih pada yang lainnya.

Di tengah pencarian reposisi yang tepat, ternyata masih terdapat segelintir kitab-kitab fiqh yang mengambil jalan berbeda. Di antaranya adalah kitab Mûtun as-Syarif , karya Syekh Kholil Bangkalan. Kitab satu ini menawarkan konsep yang  jauh berbeda, oleh penulis dibahasakan dengan fiqih-tematis, kajian yang —mungkin— ditunjukkan kepada kalangan pemula (Mubtadi’) dengan otokrasi rukun Islam. Kitab ini berusaha merepresentasi rukun Islam dalam bingkai fiqh sebagai ranah yang selama ini sepertinya hanya berbicara halal-haram. Meskipun banyak kitab-kitab serupa, buktinya kitab satu ini mampu menyajikan dari sudut pandang berbeda.

Melacak Tradisi Keilmuan Syekh Kholil:

Dari Demangan ke Makah al-Mukarromah

        Di penghujung abad 16 masehi, sewaktu nusantara berada dalam pengaruh kolonialisme, lahir beberapa ulama yang terus berkelindan di beberapa masa, memainkan peranannya dalam  percaturan politik kerajaan di saat di mana kerajaan-kerajan Islam mulai tumbuh pesat semenjak pertengahan abad 16 tersebut. Di saat yang bersamaan, tradisi jaringan ulama nusantara berada dalam masa transisi. Mereka tidak melulu bergelut dalam lingkarang halaqoh-halqoh, namun menjadi garda terdepan dalam proses merebut kemerdekan dan melawan feodalisme penjajah.

Menarik alur historis peranan mereka, setidaknya melalui proses fluktuasi; naik turun sesuai dengan kondisi masyarakat. Pada masa-masa tersebut menyeruak pergerakan neo-sufisme dalam kurun waktu berbeda, di antara mereka adalah Nur ad-Din Al-Raniri (1068-1658), ‘Abd al-Rouf Al-Singkel (1615-1693), dan Muhammad Yusuf al-Makasari (1627-1690). Nama terakhirlah yang begitu gigih dalam menggapai proses kemerdekaan, di samping ia sebagai pejuang, juga sebagai tokoh sufi dalam pergerakan neo-sufimenya, menggapai jalan tuhan tanpa menanggalkan keduniawian. Tidak seperti pendahulunya dalam sejarah awal Islam yang menanggalkan keduniawian, al-Makasari berjalan di antara aktifisme yang sangat luas.

Sedangkan memasuki abad 18 tidak mengalami perubahan berarti. Para ulama atap berada di jalurnya, yakni sebagai pengajar agama sekaligus pejuang kemerdekaan. Keilmuan mereka tidak hanya diukur lewat penguasaannya tentang ilmu agama, melainkan sejauh mana peranannya dalam usaha kemerdekaan. Di samping itu, umumnya mereka dipanggil ulama jika telah menguasai beberapa fan ilmu, maka tidak mengherankan jika mereka setelah merampungkan studinya di pesantren, melanjutkan ke beberapa tempat yang menjadi pusat studi Islam, dan salah satunya adalah Makkah, Saudi Arabia yang menjadi jajakan utama mereka waktu itu. Dari bumi halal itulah pelajar Indonesia menjamur untuk belajar ke beberapa ulama setempat, bahkan ada pula yang belajar kepada penduduk pribumi yang puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk mengajar ilmu agama.

Di antara mereka adalah Muhammad Kholil ibn ‘Abd Latif, pemuda sederhana asal Bangkalan, Madura. Merentet alur geologis beliau, Syekh Kholil merupakan putra ‘Abd al-Latif, seorang da’i keliling dari desa Langgundih, Keramat, Bangkalan. Sedangkan Kakeknya adalah Kiai Hamim, yang beristri saudara perempuan Kiai Nur Hasan pendiri pesantren Sidogiri. Masa kecilnya dihabiskan bersama kakak perempuannya, Maryam. Semenjak itu, Muhammad Kholil menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu agama. Menginjak usia dewasa beliau mulai berlabuh ke beberapa pesantren, di antaranya pesantren Bungah, Gresik, yang diasuh oleh Kiai Soleh. Hingga sesaat sebelum melanjutkan studinya ke Makkah, beliau sempat singgah di salah satu pesantren di Banyuwangi.

Sebagai impiannya selama ini, beliau memutuskan untuk belajar ke Makkah, yang saat itu menjadi landmark pusat studi Islam. Dari tempat ini pula hadir beberapa ulama nusantara yang sangat intens memainkan peranannya, seperti Syekh Khotib Sambas; pionir toriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyyah, sekaligus guru mursyid beliau, Syekh Nawawi Banten, dan Syekh Mahfudz Termas. Di samping belajar pada ulama nusantara yang ada di Makkah, tercatat beliau juga belajar pada ulama-ulama setempat, di antaranya Syekh Ali Al-Mishri, Syekh Umar As-Sami; ulama yang namanya sering disebut dalam salah satu catatan beliau, Syekh Khalid Al-Azhari, Syekh Al-Aththar, Syekh Abun-Naja, Syekh Ali bin Muhammad Amin bin Athiyyah Ar-Rahbini, dan masih banyak lagi guru-guru beliau.

Dalam perjalanan panjang ini, Syekh Kholil telah melawati masa pembelajaran yang sangat penting, menjadikan beliau sebagai ulama yang melahirkan  murid-murid yang mewarnai dalam pentas sejarah nasional, seperti KH. Hasyim Asy’ari misalnya; Pendiri Organisasi Nahdlatul Ulama (NU), KH. Abdul Karim; Pendiri Ponpes Lirboyo, KH. Bisri Mustofa, dan masih banyak lagi.

Pun sebagai ulama yang tergolong produktif menghasilkan karya, di antaranya Mûtun as-Syarif, kitab fiqih setebal 52 halaman yang rampung ditulis pada 1299 H. Menurut salah satu sumber, dalam naskah aslinya beliau sering m salah satu gurunya, Syekh Umar as-Sami. Mengakhiri perjalanannya dalam mencari ilmu, Syekh kholil memantapkan dakwahnya dengan menetap di pesantren Demangan, Bangkalan. Mengakhiri bukan berarti untuk menganggap tugas berakhir, melainkan melanjutkan perjuangan panjang para pendahulunya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Mûtun As-Syarif; Mengenal Fiqh-Tematis dari Dalam

        Kehadiran kitab-kitab fiqh macam Mûtun as-Syarif  atau kitab serupa yang pernah ada, tidak berlangsung begitu saja. Kehadirannya melalui proses yang amat panjang, mengisi kekosongan diantara celah-celah yang seringkali terlupakan, seperti kitab fiqh bercorak deskruktif, yang umumnya terdiri dari beberapa jilid dengan mencakup pembahasan yang demikian kompleks. Ada pula kitab fiqh yang disusun dari hasil diskusi (baca: fatawi) dalam forum tertentu. Dan di antara keduanya terdapat literasi fiqih yang mencoba mengambil jalan tengah, salah satunya adalah Mûtun as-Syarif. Kitab setebal 52 halaman ini berusaha menyuguhkan wajah fiqh yang lebih sederhana. Dalam kitab tersebut, beliau merangkainya dengan sistematis, berdasarkan rukn Islam, yang dimulai dari syahadat dan berakhir dengan haji.

Sejalan dengan pengertian fiqh yang selama ini dikenal, Mûtun as-Syarif sebenarnya mampu menyuguhkan wajah fiqh dalam nuansa berbeda; berupaya berelaboraasi antara fiqh dan rukn Islam. Bukan hanya itu, kitab ini mampu mendobrak kejumudan literasi kitab-kitab fiqh yang telah ada, ia memaparkan melalui pendekatan ideologis, berusaha mengambil empati di antara persoalan yang seringkali terlupakan. Menjadikannya alternatif di saat yang lain hanya berkutat dengan persoalan ibadah keseharian (ubudiyyah), pernikahan (munakahah), hubungan entitas sosial (muamalah), dan lain sebagainya.

Pemahaman ini berdasarkan bahwa hukum Islam hanya bercorak ke-fiqih-annya, tidak menyentuh pada dimensi yang lain, semisal tasawuf atau tauhid. Seperti yang didefinisikan Sayyid Abu Bakkar al-Ahdaly al-Yamani as-Syafi’i, fiqh ialah sebuah aturan yang besifat amaliyyah seperti sholat, zakat, dan haji. Bukan ‘itiqodiyah seperti meyakini tentang ke-esa-an Allah swt., pun dihasilkan dari dalil tafsili bukan ijmali seperti taqlid tentang satu masalah. Beliau menyatakan:

العلم باالاحكام الشرعية العملية المكتسب من ادلتها التفصلية

         Dengan demikian, ketika rukun Islam sebagai kewajiban yang pertama kali harus diketahui seorang muslim, mampu diterjemahkan dalam wujud aslinya, yakni sebagai pranata agama. Dengan sendirinya pembaca akan dibawa pada dua tatanan sekaligus. Pertama mengetahui rukun Islam itu sendiri, sekaligus merefleksikannya dalam keseharian. Lantas kenapa dalam Mûtun as-Syarif hanya menampilkan persoalan syahadat, sampai persoalan haji, tanpa menyebutkan pembahasan bab-bab berikutnya?

Menarik dicatat. Seorang dilahirkan membawa fitrah yang sangat mulia, menjadi khalifah di muka bumi. Setiap gerak langkahnya berada dalam lingkaran norma-etika, bahkan untuk persoalan pribadi sekalipun seorang tidak bisa lepas dari aturan. Dalam hal ini adalah aturan menjalankan perintah agama dengan mengamalkan fiqh sebagai sandaran. Melalui kewajiban inilah seorang diperkenalkan pada dua hukum normatif; fardlu kifayah (kewajiban kolektif), yakni kewajiban yang dijalankan oleh sebagian orang, maka kewajiban yang lain dapat gugur dan fardlu ‘ain (kewajiban personal), yakni kebalikannya, ketika telah dilakukan oleh sebagian kelompok, maka yang lain tetap berkewajiban untuk menjalankannya seperti sholat, zakat, dan puasa.

Dan hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Mûtun as-Syarif, pembahasannya seputar syahadat, sholat, sampai haji, tidak lain karena hal itu adalah fardlu ‘ain (kewajiban personal). Sedangkan pembahasan setelahnya seperti jihad, hanyalah fardlu kifayah yang tututan (taklif) akan berkesudahan jika telah dilakukan oleh sebagian orang. Dengan demikian, persoalan yang harus dilakukan pertama kali, mungkin juga yang terdapat dalam Mûtun as-Syarif, adalah mengetahui tentang fardlu ‘ain, baru kemudian mengetahui yang lebih luas dan termasuk dalam kewajiban kifai atau kewajiban kolektif.

Penutup

Selama ini, ‘penikmat’ literasi kitab fiqh di hadapkan pada dua pilihan, pertama memakai kitab fiqh bercorak deskruktif yang umumnya membahas persoalan demikian luas dengan ketebalan berjilid-jilid atau beralih pada kitab fiqh yang relatif  lebih tipis, namun sistematis. Jika memang demikian, tentu keduanya saling bertautan mengisi kekosongan antara satu sama lain.

Mula-mula seseorang akan dituntun mengetahui persoalan (baca: hukum Islam atau fiqh) yang lebih ringan dengan merujuk kitab-kitab fikih yang ringan pula, baru kemudian melangkah yang lebih luas dengan persoalan yang lebih kompleks. Proses ini tentu tidak berjalan dengan sendirinya, melainkan melalui proses yang sesuai dengan kadar kemampuan penikmat fan satu ini. Maka tidak mengherankan jika satu kitab telah dikuasai maka akan beralih pada kitab lainnya, dan begitu seterusnya.

Penulis, M. Ahfasy Syifa’ Afandi, Kru Mading Hidayah

PWNU Jawa Timur Silaturrahim ke Pondok Pesantren Lirboyo

(liboyo.net) Ahad (14/13) Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Rombongan yang dipimpin oleh KH. Mutawakkil Alallah selaku Ketua Tanfidzyah tiba sekitar pukul 10.00 WIB disambut oleh KH. M. Anwar Manshur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dengan menggunakan bus mini dan langsung berziarah ke makam KH. Abdul Karim. Sekitar setengah jam, lalu bersilaturrahim ke rumah KH. A. Idris Marzuqi dan beliaupun sudah menunggunya di rumah.

Kyai Mutawakkil menuturkan silaturrohim ini dibagi 2 rombongan yang satu lagi ke daerah Bangkalan. tujuannya antara lain meminta do’a dan restu untuk kelancaran semua kegiatan dan terselenggarakannya Konferwil pada bulan Juni mendatang. Setelah itu, rombongan beramah tamah di rumah KH. M. Anwar Manshur sekaligus beliau mendampingi Rombongan untuk  melanjutkan agendanya yaitu ke Jombang. (ais)

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah