HomePojok LirboyoPeringatan 7 & 40 Hari serta Fida’ Kubro Wafatnya KH. M. Thohir Marzuqi

Peringatan 7 & 40 Hari serta Fida’ Kubro Wafatnya KH. M. Thohir Marzuqi

0 0 likes 1.9K views share

LirboyoNet, Kediri – Bakda isya malam Jum’at (10/10/13), yang bertepatan dengan tujuh harinya KH. M. Thohir atau adik kandung KH. A. Idris Marzuqi, ratusan santri sudah memenuhi isi serambi. Tak sedikit yang sudah mulai mengantuk,  sebagian yang lain masih tetap dengan mata menyala melihat layar yang disediakan di setiap ruang serambi. Namun hingga pukul delapan kurang, acara tersebut belum juga mulai. Hingga Romo KH. M. Abdul Aziz Manshur rawuh, sekitar pukul 08:12, acara tersebut dibuka di ndalem kasepuhan.

Pembukaan yang dibawakan oleh HM. Mukhlas Noer selaku MC, menyebutkan beberapa nama yang akan mengisi acara tersebut. Yakni pertama, pembacaan ayat suci Al-Quran bittartil, yang dilantun syahdukan oleh Ajmil Ikhwan, santri kamar N7 yang dengan daya pikatnya, mampu menghening ratakan suasana.

Kemudian disusul pembacaan surat Yasin oleh KH. Abd. Hamid Abd. Qodir, dan belaiu, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. A. Idris Marzuqi sendiri yang langsung menyambungnya dengan pembacaan tahlil. Setelah usai, Yai Aziz memberikan sambutannya perihal ucapan terimakasih kepada para hadirin, para santri, dan orang yang bersangkutan.

Beliau juga sempat menuturkan pentingnya acara seperti ini, Sebagian yang bisa kita ambil pelajaran adalah: Barang siapa yang mendoakan orang yang telah meninggal, niscaya orang-orang akan mendoakannya ketika ia meninggal kelak.

Selepas itu,  acara Fida’ Kubro segera pindah lokasi ke serambi masjid yang telah dipenuhi oleh santri. Diawali dengan pembacaan Al-ikhlas 100 kali, oleh HM. Mukhlas Noer, dan dipuncak acara KH. M. Abd. Aziz Manshur kembali mengisi acara dengan Mauidzhohnya yang mendapat tanggapan indah oleh semua santri. Beliau menuturkan beberapa pentingnya mendoakan orang yang telah wafat. Keutamaan menghadiri acara seperti itu, dan beberapa kisah pembawa hikmah tentang kematian dan orang yang telah meninggal itu sendiri,

“Orang atau mayat yang diziarahi pada hari Jum’at, sesungguhnya bisa melihat sang peziarah yang mengunjunginya seolah hanya terpisah oleh kaca yang bening.” Tentunya, santri manapun itu, seperti apapun ia, yang ikut membacakan bacaan dalam acara tersebut, telah disaksikan sendiri oleh KH. M. Thohir, pada malam itu. Betapa beruntungnya.

Dan beliau juga menjelaskan bahwa orang dalam kubur itu merindukan sanak keluarganya, berikut orang yang dekat dengannya untuk datang berziarah.

ما ميت في قبره الا كالغارق المتغوث  يرجو دعاء الى اقاربه واحبته واصدقائه-

Yang artinya kurang lebih: tak ada seorang mayyit di dalam kuburnya kecuali ia laksana orang yang tenggelam, ia membutuhkan doa (sebagai penolong) dari kerabatnya, orang yang dicintainya, dan teman-temannya”

Acara tersebut ditutup dengan do’a. semoga kita mendapatkan barokah ilmu yang banyak lantaran menghadiri acara tersebut, Aminallahumma amien.

Peringatan 40 hari

Hujan mengguyur lirboyo sejak siang, langit mendung menyelimuti suanan 40 hari wafatnya KH. Tohir Marzuqi. Peringatan ini sedikit berbeda dengan 7 hari, pasalnya tidak bertepatan malam Jum’at, sehingga santri tidak bisa mengikuti karena aktivitas pondok. Selain Dzuriyah juga pengurus dan pengajar diundang serta masyarakat lirboyo dan sekitarnya.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB diawali dengan qiratul qur’an bittartil, selanjutnya membaca surah Yasin yang dipimpin oleh KH. Abdul Hamid Abdul Qodir dari Pondok Ma’unah Sari dan dilanjutkan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur sekaligus doa. Suasana begitu tenang dan khidmat sampai acara pada sambutan atas nama keluarga yang diwakili oleh KH. A. Idris Marzuqi, beliau menyampaikan rasa terimakasih atas kehadiran para tamu dan juga minta maaf mungkin dalam penyambutan dan hidangan kurang berkenan dihati para tamu, diakhir sambutannya beliau juga menyampaikan maaf atas nama almarhum mungkin selama hidupnya mempunyai kesalahan begitu juga ketika ada yang masih mempunyai hak adami dengan almarhum mohon menghubungi keluarga. (ais)