Tag Archives: Lembaga Pendidikan

HBH Lembaga Ittihadul Muballighin: Meneguhkan Ruh Dakwah

LirboyoNet, -Kediri. Setelah bulan Ramadhan lalu mengemban amanah sebagai “talang” para masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo di masyarakat awam, para delegasi safari Ramadhan pondok pesantren Lirboyo kemarin dikumpulkan untuk sambung silaturahim dalam acara halal bi halal Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM).

Dalam acara yang bertempat di Aula an-Nahdhoh tersebut, ribuan orang bersatu padu dalam riuh rendah suasana ramah tamah. Ramadhan kemarin, Lembaga Ittihadul Muballighin pusat tak kurang memberangkatkan sekitar seribu lima ratus orang delegasi yang dikirim ke berbagai pelosok daerah untuk menegakkan panji-panji dakwah. Dengan titik utama sasaran dakwah masyarakat yang masih awam dalam bidang agama, para delegasi dituntut harus bisa “mencair” dan menyampaikan materi dakwah dengan cara yang kreatif dan mudah diterima.

Berbagai pengalaman delegasi kemarin sempat dibagikan, Badruttamam, salah satu delegasi asal Purworejo mengungkapkan, bahkan ada salah satu delegasi yang menetap disana hingga tiba malam takbiran. Padahal, tugas dari Lembaga Ittihadul Muballighin hanya sampai malam ke-24 Ramadhan. “Bahkan ada delegasi yang ‘ketinggalan’ dan krasan disana sampai hari raya karena di masjid yang ditempati tidak ada imamnya. Jadi, imam yang biasanya mengimami justru ‘mengundurkan diri’.” Ungkap Badruttamam. Ada juga delegasi yang mendapat jatah berdakwah di tempat yang muslimnya masih minoritas. Bahkan lokasi dakwah yang hanya bisa dijangkau dengan perahu.

Tujuan diadakan safari dakwah Ramadhan ini memang untuk melatih mental dan karakter santri. Agar nantinya jika sudah langsung terjun ke masyarakat selepas menamatkan pendidikan di pondok sudah memiliki pengalaman bergaul dengan masyarakat. Seperti yang dulu pernah dipesankan oleh al-Maghfurlah KH. A. Idris Marzuqi, bahwa tujuan utama safari Ramadhan adalah bermasyarakat.

“Tujuannya adalah menanamkan ruh dakwah kepada sampean. Karena santri adalah penerusnya Rasulullah.” Ungkap Ust. Hadi Lukman Hakim, salah satu dewan pengajar Ma’had Ali Lirboyo. “Jadi sekarang kita sedang mengalami krisis ruh dakwah. Karena sekarang dakwah sering mengedepankan kekerasan.” Tambah beliau.[]

Halal Bi Halal Madrasah

LirboyoNet, Kediri— KH. M. Anwar Manshur menyatakan bahwa menjadi pengajar Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), juga bertanggungjawab atas pendidikan moral santri. Karena selain ta’lim, pengajaran ilmu agama dalam kitab-kitab salaf, pengajar juga dituntut untuk men-tarbiyah santri. Berbeda dengan ta’lim, tarbiyah adalah pengajaran santri yang lebih dititikberatkan kepada pengalaman nilai-nilai agama dalam prilaku harian mereka.

“Kita harus bisa mendidik akhlak mereka. Merubah prilaku mereka (agar sesuai dengan nilai islam),” tutur beliau di acara Halal Bi Halal MHM, Senin malam kemarin (10/07).

Menjadi pengajar MHM juga berarti mendapat kesempatan yang baik untuk memperoleh nilai tinggi di hadapan Allah swt. “Karena tidak ada kemuliaan di dunia, kecuali menjadi salah satu dari dua hal: kun ‘aliman au muta’alliman. Menjadi orang alim, berilmu, atau menjadi pencari ilmu,” Imbuh beliau.

Selanjutnya, sebagai khadim Pondok Pesantren Lirboyo, beliau memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin, dan berterima kasih atas kedisiplinan yang terus dijaga.

Sementara itu, KH. Nurul Huda Ahmad berharap, momen halal bihalal ini menjadi landasan bagi hadirin mengikrarkan diri untuk memohon maaf kepada sesama. “Semoga, rangkaian qiyamul lail kita saat bulan Ramadan lalu, menjadi amal yang diterima oleh Allah swt.”

Halal Bi Halal ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo serta segenap pengurus dan pengajar MHM. Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) ini, juga dibacakan beberapa informasi terkait jumlah santri dan pengajar sementara hingga beberapa hari di awal tahun ajaran ini.

Sejarah Baru: Pemberangkatan Guru Bantu

LirboyoNet, Kediri – Sejarah baru tertoreh di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM), Sabtu (30/07). Untuk pertama kalinya, Pondok Pesantren Lirboyo secara resmi menebar santri-santrinya. Mereka ditugaskan untuk berkhidmah. Ratusan daerah menjadi titik tujuan. Bagi beberapa pesantren maupun madrasah, bisa jadi para santri yang mereka minta ini menjadi berkah. Bagi para santri, program wajib khidmah ini menjadi ajang untuk mengharapkan barokah.

Sebenarnya, keputusan untuk membuka diri bagi pesantren dan madrasah luar untuk meminta guru bantu, baru diketok palu bulan Rabiul Awal lalu. “Setelah itu, (para pengurus) rapat secara maraton. Kita cari formula terbaik bagaimana program ini bisa berjalan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana di tahun ini juga,” papar KH. Atho’illah Sholahudin Anwar pagi itu.

Ada banyak pertimbangan dalam memutuskan hal ini. Diantaranya, santri yang tidak mempunyai tanggungjawab khidmah, baik di pondok maupun sekolah, seringkali terlihat resah. Eman sekali jika potensi mereka yang mereka miliki tidak disalurkan dengan baik.

Khidmah adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi itu. Apa yang santri dapatkan di pondok, akan dapat berguna dan tercerna ketika dileburkan dalam khidmah di tengah masyarakat. Maka wajar jika program ini langsung dijalankan bagi santri mutakhorijin (alumnus) periode 1436/1437 H. ini.

Faktanya, program guru bantu sebenarnya bukanlah program yang murni baru bagi Ponpes Lirboyo. Bertahun-tahun lalu, sudah dimulai berdakwah mingguan di daerah-daerah membutuhkan. Semisal, setiap hari Kamis, tidak kurang dari 30 santri diterjunkan ke pelosok desa yang tersebar di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di Jumat paginya, puluhan santri lain juga ditugaskan untuk mengajar di beberapa sekolah di Kota Kediri. Hanya saja, program ini lebih dikembangkan lagi. Bukan hanya masyarakat Kediri yang merasakan alunan dakwah para santri. Kini, madrasah-madrasah di Sumatera dan Kalimantan pun ikut mencicipi ilmu para santri Ponpes Lirboyo.

Memang, program yang terhitung mendadak ini membuat banyak santri kaget. Imam Masyhuri, santri asal Riau yang mendapat tugas khidmah di Gurah, Kediri mengakui hal itu. “Saya sempat shock setelah tahu akan ada kewajiban khidmah. Apalagi saya ditempatkan di Madrasah Ibtidaiyah di Gurah. Hehe. Gawatnya, yang saya pegang adalah kelas dua,” imbuhnya. Memang belum terbayang susahnya. Namun itulah santri. Harus siap sedia diletakkan di manapun.

Beberapa waktu lalu, setelah dibukanya program guru bantu ini, terutama setelah terdengar di berbagai pelosok Nusantara,  ‘jatah’ santri segera habis dalam waktu tidak begitu lama. Padahal, masih banyak pesantren maupun madrasah yang mengantri untuk mendapatkan guru bantu. Walhasil, mereka harus bersabar menanti tahun depan.

Meningkatnya kebutuhan pesantren-pesantren akan hadirnya guru bantu juga terlihat dari ‘ketidaksabaran’ mereka. Beberapa santri diberangkatkan terlebih dahulu ke daerah di mana mereka akan ditempatkan. Itu terjadi pada bulan Ramadlan lalu. Karenanya, acara ini hanya bisa mereka ikuti lewat media sosial dan kabar dari kawan-kawan.

“Yang paling penting adalah, kalian menjaga akhlakul karimah. Bagaimanapun alimnya seseorang, nek ora nganggo akhlakul karimah ora ono regane (kalau tidak berakhlakul karimah, tidak ada harganya),” dawuh KH. M. Anwar Manshur saat memberikan mauidlah hasanah.

“Ojo reno-reno. Ga usah dolanan arek wedok. Nek seneng ditari pisan nang wongtuwone. Pengen rabi ditembung pisan. Timbang plirak-plirik. (jangan macam-macam. Tidak usah pacaran. Kalau suka, bicara dengan orangtuanya. Ingin nikah dibicarakan saja. Daripada melirik kesana-kemari)” sambung beliau, diiringi tawa renyah para santri dan penjemputnya. Perlu diketahui, salah satu syarat untuk meminta guru bantu adalah menjemput mereka di Lirboyo. Walhasil, pagi itu banyak ustadz dan utusan dari masing-masing lembaga pendidikan hadir di gedung LBM.

“Berangkat dan niatlah berdakwah dan nasyrul ilmi. Dakwah paling ampuh adalah dakwah bil fi’li. Itu yang paling mancep di hati masyarakat. Tunjukkan kedisiplinan kalian. Jalan di depan kalian sudah tergelar sayap-sayap malaikat karena ridla atas langkah dakwah kalian,” pungkas beliau.

Semoga apa yang menjadi harapan santri, para penjemput, para pemangku lembaga pendidikan, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Lirboyo, akan senantiasa terwujud dan bendera kalimatillah dapat berkibar di mana-mana. Amin.][

 

Sejarah dan Peran Pondok Pesantren

Sejarah pendidikan agama Islam yang independent, kemudian populer dengan jargon “Pesantren” sebenarnya merupakan sejarah tipologi Institusi Pendidikan Islam yang usianya sudah mencapai ratusan tahun, para ahli sejarah mencatat bahwa eksistensi pondok pesantren telah lahir jauh sebelum Republik Indonesia dibentuk. Hampir di seluruh penjuru Nusantara, terutama di pusat-pusat Kerajaan Islam telah banyak para ulama yang mendirikan pondok pesantren dan menelorkan ratusan bahkan ribuan alumni yang mumpuni di medan perjuangan masyarakat beragama.

Sebagai Lembaga Pendidikan Islam pertama yang mendukung keberlangsungan pendidikan Nasional, Pesantren tidak hanya berkembang sebagai Lembaga yang isinya cuma ngaji dan menelaah kitab salaf melulu, sekaligus juga berperan penting bagi keberlangsungan komunitas yang mempertahankan tradisional sebagai wajah bagi keaslian budaya Indonesia, disamping Lembaganya yang bercorak pribumi (indegenous), pesantren juga mampu merekonstruksi budaya kemarut yang kian menghantam jantung ideology masyarakat Indonesia. Maka dalam Sejarahnya, perkembangan pesantren telah memainkan peran sekaligus kontribusi penting dalam pembangunan Indonesia. Sebelum Kolonial Belanda masuk ke Nusantara, pesantren tidak hanya berperan sebagai Lembaga Pendidikan yang berfungsi menyebarkan ajaran Islam sekaligus juga mengadakan perubahan-perubahan tertentu menuju keadaan masyarakat yang lebih baik (progresif). Sebagaimana tercermin dalam berbagai pengaruh pesantren bagi kelancaran kegiatan politik para raja dan pangeran di-Jawa, kegiatan perdagangan dan pembukaan pemukiman daerah baru. Di saat Penjajah Belanda menduduki Kerajaan-Kerajaan di Nusantara, pesantren malah menjelma sebagai pusat perlawanan dan pertahanan terhadap Kolonial Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan, pasca kemerdekaan tahun 1959-1965, pesantren masih dikategorikan sebagai ‘Alat Revolusi’ dan ‘Bahan Peledak’ yang mampu menghancurkan kelancaran politik yang stagnan. Dan saat memasuki orde baru, pesantren dipandang sebagai ‘potensi pembangunan’ negara bagi masyarakat Indonesia.

Geneologi ideology pesantren dapat dirujuk kepada tumbuh kembangnya pesantren yang cukup panjang. Sebagai salah satu wujud entitas budaya, Pesantren ternyata mampu survive mempertahankan diri ditengah kehidupan masyarakat modern dan kebangsaan global sepanjang jaman. Awalnya, pesantren tumbuh sebagai simbol perlawanan terhadap agama dan kepercayaan poliestik, khurafat dan takhayul. Kehadiran Pesantren di tanah air selalu diawali dengan perang nilai antara “nilai putih” yang dibawa Pesantren dengan “nilai hitam” yang telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Sehingga pertarungan tersebut selalu dimenangkan pihak pesantren sekalipun sinkretisasi antara kejawen dan ajaran Islam sulit dibantahkan.

Kapan dan dimana model pesantren pertama kali didirikan masih terjadi perbedaan. Ada yang mengatakan bahwa pesantren sudah ada sejak abad ke-16 M yang ditandai dengan munculnya karya-karya Jawa klasik, seperti Serat Cabolek dan Serat Centini, sejak abad ke-16 M. di Indonesia telah banyak dijumpai Lembaga-Lembaga yang mengajarkan pelbagai kitab Islam klasik dan disiplin ilmu pengetahuan Islam seperti Fiqh, Aqidah, Tasawuf, dan variable ilmu Islam yang universal. Di samping itu, ada pula yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren tak lain dan tak bukan adalah “jiplakan” dari sistem pendidikan Hindu-Budha pada abad ke-18 M. Dengan demikian, sejak abad ke 19-20, model pendidikan pesantren mulai banyak mengalami perubahan dipelbagai segi sosial sebagai konsekuensi logis dari “muncratnya trend jaman” akibat terpengaruh globalisasi. Bahkan, tidak sedikit akhir-akhir ini dari Lembaga-Lembaga Pesantren yang mulai menerjuni dunia pendidikan sebagai alternative pembangunan bangsa kearah yang lebih baik .

Tidak sedikit kontribusi yang diberikan Pesantren dalam pembangunan nation-state selama ini. Tengoklah pada masa penjajahan, Pesantren telah memainkan perlawanan dan mengambil posisi uzlah sebagai bentuk perlawanan sekaligus pertahanan dari para penjajah. Sebab dari uzlah inilah sebuah pesantren mampu mendapatkan stereotip dari Pemerintah Kolonial yang pada waktu itu dikonotasikan sebagai Lembaga Pendidikan yang semrawut, sehingga banyak orang yang tidak tahu secara jelas sampai mana batas-batas Lembaga Pendidikan Pesantren apakah sebagai Lembaga Sosial, ataukah Lembaga Penyiaran Agama. Banyak para Kyai yang kedudukannya juga ikut-ikut tidak jelas apakah peran mereka sebagai guru, pemimpin spiritual, penyiar agama ataukah sebagai pekerja social, sehingga masih banyak Lembaga Pesantren yang hingga detik ini tidak mendapat stigmatisasi pendidikan, sistem evaluasi, metode pengajaran, dan sebagainya.

Karena anggapan miris Pemerintah Kolonial pada waktu itu, maka Pesantren lebih memprioritaskan diri untuk pengajaran fiqh-sufistik daripada hal-hal yang berkaitan langsung dengan masalah keduniawian. Tentu saja prioritas ini menimbulkan kerugian sekaligus keuntungan. Keuntungannya, pesantren menjelma menjadi Lembaga Pendidikan yang berhasil mengembangkan pertahanan mental spiritualitas, solidaritas, dan kesederhanaan hidup yang kokoh. Namun di sisi lain, kerugian yang harus ditanggung pesantren ialah, pesantren seakan-akan telah terlepas dari kehidupan nyata, tidak membumi, terlalu melangit ke akhirat serta kurang mengapresiasi diri bahkan melupakan kehidupan duniawi.

Pada masa pergerakan dan persiapan kemerdekaan saja, pesantren berperan sebagai pusat perjuangan / gerilyawan seperti Hizbullah dan Sabilillah. Pada masa-masa awal pembentukan Tentara Nasional Indonesia khususnya Angkatan Darat, banyak berasal dari santri dan sedikitnya diwarnai oleh kultur santri. Banyak dari para Kyai dan pengasuh pesantren menjadi pemimpin diplomasi yang cukup piawai untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia melalui penyusunan dasar-dasar institusi negara. Meski saat itu, Lembaga Pendidikan Pesantren masih menjadi Lembaga Pendidikan Agama yang bercorak fiqh-gnostik dan klinik sosial-keagaman masyarakat.

Pada abad ke-20, pesantren mampu mereposisi diri kearah sistem pendidikan yang berorientasi ke arah masa depan dengan tanpa menghilangkan tradisi-tradisi yang baik, dengan berpedoman kepada prinsip “al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah”. Sejak tahun 1970-an, Pesantren mulai mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan dengan berusaha mengadaptasi dan mengakomodasi perubahan-perubahan khususnya di bidang pendidikan, perubahan pendidikan khususnya masalah pendidikan meliputi orientasi pendidikan serta aspek-aspek administrasinya, diferensiasi struktural dan ekspansi kapasitas bahkan transformasi kelulusan yang berkenaan dengan nilai, sikap, dan perilakunya. Pondok Pesantren Lirboyo yang terletak di kawasan Kota Kediri saja pada abad ke-20, mulai mengajarkan pendidikan ketrampilan di pelbagai bidang. Seperti menjahit, pertukangan, perbengkelan, peternakan, dan sebagainya. Pendidikan ketrampilan ini diberikan dengan tujuan supaya civitas pesantren memiliki wawasan keduniawian sesuai profesi yang diinginkan melalui pendidikan ketrampilan, santri tidak hanya fasih dalam  hal-hal yang bersifat karitas atau charitable, tetapi juga professional menghadapi hal-hal yang bersifat sekuler, pragmatis, dan kalkulatif.

Dengan demikian, para sejarawan akhirnya berhasil menyimpulkan bahwa sejarah geneologi sistem pendidikan ala pesantren sebenarnya dapat ditelusuri dari era sebelum masuknya Agama Islam. Istilah pesantren yang berawal dari surau Sunan Ampel dianggap oleh sebagian ahli sejarah sebagai tonggak eksistensi awal munculnya bendera Lembaga Pendidikan Pesantren dalam rangka mentransfomasikan keilmuan dan kebangkitan Islam di Indonesia. Berawal dari tempat inilah, Pesantren menjelma sebagai Lembaga Pendidikan rakyat yang berorientasi mencetak agen-agen perubahan dan pembangunan masyarakat.

Pesantren sebagai Benteng Spiritual
Di samping sistem pendidikannya yang amat sederhana, di dalamnya juga terdapat interaksi sosial antara Kyai atau ustadz yang berperan penting sebagai guru bagi para santri dan telah menjadikan standar pendidikan yang cukup efektif bagi keberlangsungan sumber daya manusia. Kyai, sebagai top leader (uswah) yang menjadi pemimpin tunggal, aktif mengatur langsung komunitas yang diembannya, mulai urusan para tamu, santri baru, penentuan kitab-kitab kajian hingga berbagai aktifitas yang dijalankan dalam tubuh Pesantren. Bertambah banyaknya santri, biasanya menjadikan Kyai menunjuk santri seniornya menjadi Lurah Pondok. Melalui Lurah inilah, semua urusan Kyai didelegasikan. Sejarah metodologi pendidikan salaf semacam ini tak ayal menempatkan Pesantren sebagai “kerajaan-kerajaan kecil” (muluk al-thawaif, emiret), dimana antara satu Pesantren dengan yang lain memiliki aturan dan aktifitas yang berbeda.

Kini, seiring dengan perkembangan waktu, Lembaga yang sering disebut-sebut “tradisional” itu, memasuki era globalisasi dan milenium ketiga dan mendapat sorotan cukup tajam. Masalahnya, meski dikatakan tradisional, toh kenyataannya, Pesantren sampai sekarang masih tetap eksis, bahkan mendapat simpati dan animo masyarakat luas. Terlebih lagi dalam merespon krisis berkepanjangan di Indonesia. Karenanya, topik sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, pelestarian dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tinjau dari berbagai manfaat guna dijadikan sebagai suri tauladan umat.

Hal ini tak lain karena “omongan” para ahli sejarah yang memprediksikan bahwa keberadaan Pesantren di Indonesia merupakan benteng pertahanan terakhir bagi spiritualitas Negara Kesatuan Repuplik Indonesia maupun Umat Islam di negeri ini. Harus di akui bahwa sejarah berdirinya republik ini tak lepas dari jasa para ulama alumnus pesantren, begitu pula dengan lenyapnya komunitas serta gerakan pengacau Republik Indonesia. Bagi umat Islam, melalui Pesantrenlah mereka berharap kontinuitas estafet dakwah Islam terus dilanjutkan. Hilangnya Pesantren, berarti lenyapnya para ulama (agamawan) serta orang-orang shalih. Kalau sudah demikian, maka tinggal tunggu kehancuran keindahan spiritual agama tersebut. Sungguhpun saat ini telah menjamur institusi pendidikan formal yang berlabelkan Islam, akan tetapi out-put Lembaga mereka nyata-nyatanya tidak mampu menelorkan para ulama yang menjadi pewaris para Nabi.

Apalagi jika menengok sejarah penanaman nilai-nilai moral dan metodologi pendidikan salaf bernafas religius seperti yang diterapkan Pondok Pesantren Lirboyo sampai saat ini ternyata mampu membuktikan dirinya mempertahankan anak bangsa dari erosi akhlaq dan dekadensi moral. Pembentukan jati diri manusia yang ber-akhlakul karimah hingga terwujudnya insan paripurna merupakan salah satu misi Lembaga-Lembaga Pesantren Salaf di Indonesia. Sikap Kyai yang tulus, ikhlas, sabar. Tawakal (berserah diri), tawadlu’ (hormat), jujur serta independensi merupakan dinamika energy power bagi nilai-nilai luhur Bangsa dan Negara. Manusia-manusia tipe mereka saat ini sungguh langka ditemukan. Padahal hanya dengan jiwa yang terpatri pada nilai-nilai mulia itulah Bangsa Indonesia bisa terselamatkan dari dekadensi moral serta penyakit-penyakit lain yang akan menyeret Bangsa ke dalam kondisi “krisis” berkepanjangan, tidak mustahil jika nantinya terjadi big bang kehancuran bagi umat manusia.

Sejarah independensi Pesantren dari generasi ke generasi telah membuktikan betapa kokohnya Lembaga-Lembaga ini dalam memikul beban meneruskan perjuangan Nabi dan Rasul. Di tambah, dengan sejarah keberadaan Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam tidak hanya berperan atas unsur politik dan ekonomi, tapi lebih dari itu, ia hadir sebagai bentuk tingginya animo masyarakat atas keilmuan para ulama salaf. Sejak era Kolonial sampai Kemerdekaan, keberadaan Pesantren yang berdiri baik di wilayah pedesaan atau pinggiran. Demografis serta doktrin jihad yang diterapkan, menjadikan Pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan rakyat tetapi telah menjadi simbol kebudayaan Bangsa Indonesia itu sendiri.

Nilai-nilai Pesantren
Harus diakui bahwa pada dasarnya, Pesantren dibangun atas dasar keinginan bersama dua komunitas yang saling bertemu. Komunitas santri yang ingin menimba ilmu sebagi bekal hidup dan kyia/guru yang secara ihklas ingin mengajarkan ilmu dan pengalamannya. Relasi simbiosis mutualisme ini saling melangkapi, santri dan Kyai merupakan dua entitas yang memiliki kesamaan kesadaran dan bersama-sama membangun komunitas keagamaan yang kemudian disebut Pesantren. Kyai, ustadz, dan santri hidup dalam satu keluarga besar berlandaskan nilai-nliai Agama Islam yang dilengkapi dengan norma-norma.

Komunitas keagamaan Pesantren berlandaskan oleh keinginan tafaqquh fî ad-dîn (mendalami ajaran Agama), dengan kaidah yang menjadi soko gurunya, al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Keinginan dan kaidah ini merupakan nilai pokok yang melandasi kehidupan dunia pesantren. Suatu bentuk falsafah yang cukup sederhana, tetapi mampu mentransformasikan potensi dan menjadikan diri Pesantren sebagai agent of change bagi masyarakat. Sehingga, eksistensi Pesantren identik dengan Lembaga pemberdayaan serta pengembangan masyarakat.

Selain kedua nilai diatas, eksistensi pesantren menjadi kokoh karena dijiwai oleh panca-jiwa, Seperti jiwa keihlasan yang tidak pernah didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu, khsusnya material, melainkan karena semata-mata karena beribadah kepada Allah. Jiwa keikhlasan memanifestasikan dalam segala rangkaian sikap dan perilaku serta tindakan yang dilakukan secara ritual oleh komunitas pesantren. Jiwa kiekhlasan ini dilandasi oleh keyaqinan bahwa perbuatan baik pasti diganjar oleh Allah dengan sesuatu yang tak bisa dilukiskan oleh akal.

Selain itu dalam budaya Pesantren salaf juga telah terpatri jiwa kesederhanaan, kata’sederhana’ disini bukan berarti pasif, melarat, miskin, dan menerima apa adnya, akan tetapi lebih dari itu mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, kemampuan mengendalikan diri dan kecakapan menguasai diri dalam menghadapi kesulitan. Dibalik jiwa kesederhanaan ini tersimpan jiwa yang besar, berani, maju, dan pantang menyerah dalam menghadapi dinamika sosial secara kompetitif. Jiwa kesederhanaan ini menjadi ‘baju’ identitas yang paling berharga bagi civitas santri dan Kyai. Apalagi dengan adanya jiwa kemandirian yang peranannya mampu mengurusai persoalan-persoalan internal pesantren, namun kesanggupan membentuk Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang independen, tidak menggantungkan diri kepada bantuan dan pamrih pihak lain. Pesantren dibangun diatas pondasi kekuatan sendiri sehingga banyak dari mereka yang benar benar menjadi merdeka, otonom dan mandiri di dalam budaya Pesantren salaf, biasanya ada jiwa kebebasan dalam mengandalkan civitas Pesantren sebagai manusia yang kokoh dalam memilih jalan hidup dan masa depannya, hanya dengan jiwa besar dan sikap optimis inilah maka dalam lembaran sejarahnya, Pesantren mampu mengahadapi segala problematika kehidupan umat manusia dengan dilandasi nilai-nilai Islam. Kebebasan ini juga berarti sikap kemandirian yang tidak berkenan didikte oleh pihak luar dalam membangun orientasi kepesantrenan dan kependidikan. Sehingga muncullah jiwa jiwa lain seperti ukhuwwah Islamiyyah, jiwa ini memanifesatasi dalam keseharian civitas Pesantren yang bersifat dialogis, penuh keakraban, penuh kompromi, dan toleransi. Jiwa ini mematri suasana sejuk, damai, saling membantu, senasib dan saling mengharagai bahkan saling mensupport dalam pembentukan dan pengembangan idealisme santri.  Semua itu menjadikan Pesantren tetap “bernilai” dan mampu eksis sepanjang sejarah kehidupan dan dinamika jaman. Globalisasi teknologi industry yang massif dan mendunia tidak menggoyahkan eksistensi Pesantren sebagai penjaga sekaligus pelestari nilai-nilai luhur. Dikarenakan Pesantren hanya tergantung terhadap kebenaran mutlak (tuhan) yang diaktualisasi dalam fiqh-sufistik yang berorientasi kepada amalan ukhrawiy, maka kebenaran didalamnya relative bersifat empiris pragmatis dalam memecahkan beragam persoalan kehidupan sesuai dengan hukum agama. Semua aktivitas Pesantren selalu mengacu kepada keseimbangan antara ukhrawiy dan duniawi. Keimanan civitas Pesantren senantiasa memanifestasikan setiap perilaku, sikap dan tindakan sehari-hari. Karena itulah, identitas Kyai dan santri menjadi sesuatu yang layak diteladani bagi setiap pengembangan masayarakat secara utuh.

Nilai kemandirin yang menjadi pondasi eksistensial pesantren merupakan nilai utama paling signifikan bagi perubahan sosial dan budaya yang otonom. Dengan kemandiriannya, Pesantren telah mampu menjelma sebagai creative cultural makers dan figure sang kyai sangat penting dalam kehidupan bermasyrakat. Sehingga, profesi Kyai selain sebagai pengasuh Pondok juga sebagai tokoh masyarakat, mediator, dan pialang. Kenyatan semacam ini tentu saja disebabkan Kyai mempunyai integritas keilmuan tinggi yang mampu mempriteksi kesadaran masyarakatnya sehingga terbentuk komunitas keagamaan dan budaya kemandirian. Dengan kemandiriannya pula, Pesantren mampu terlepas dari jerat-jerat dependensi dan hegemoni pihak lain.

Pesantren, Institusi Pendidikan yang komprehensif
Rentang waktu yang kian panjang mengantarkan berbagai Pondok pesantren mengalami perubahan yang amat signifikan, baik di teropong dari metodologi pendidikan maupun mekanisme struktur pondok pesantren yang diterapkannya. Jika dahulu Pesantren hanya menggunakan sistem bandongan kini telah banyak menggunakan sistem modern. Jika dahulu banyak Pesantren yang masih bergelut dalam khazanah kutub as-salaf sebagai kurikulum pendidikan, kini telah banyak di antara pesantren (meskipun sebagian besar juga belum) yang memasukkan pelajaran umum sebagai kurikulum dalam metodologi pendidikannya, pembaharuan ini tentu saja dinilai sebagai eksistensi Pesantren dengan harapan bahwa kelak para alumninya mampu menggembleng masyarakat dengan berbagai kedisiplinan ilmu yang membumi. Meski di lain pihak, banyak pula sebagian pesantren yang masih memegang teguh corak stagnasi pendidikan salaf (konservatif dan cenderung eksklusif), dengan harapan mampu menjaga ke-orisinal-an substansi pendidikan pesantren seperti yang diinginkan para pendahulunya.

Pondok Pesantren Lirboyo yang berareal di Kawasan Kota Kediri merupakan satu diantara ribuan Pesantren yang hingga kini masih tetap percaya diri memegang teguh corak dinamisasi metodologi pendidikan salafnya. Fenomena ini bukan berarti Pondok Lirboyo antipati terhadap perkembangan modernisasi zaman, terbukti, meski masih memegang teguh corak pendidikan salaf, Pondok Lirboyo banyak mengadakan variable rekonstruksi kegiatan ekstrakulikuler berupa pendidkan bahasa Inggris, Komputer, jurnalistik dan berbagai macam dinamisasi modern yang marak di tengah masyarakat dunia. Wallahu A’lam