Tag Archives: santriwati

Sholihah Dalam Dakwah

Lirboyonet, Kediri – Wanita adalah tiang dari segalanya. Dia bisa menjadi penegak di dalam rumah tangganya, bahkan dia bisa menjadi tiangnya negara. Begitu besar peran wanita sehingga dia bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Seorang anak akan mewarisi watak, akhlak, aqidah, dan karakter dari wanita yang melahirkannya. Karena itu kebaikan akan muncul jika di dalam sebuah keluarga terdapat wanita yang baik dan solehah.

Imam Hafidz Ibrahim berkata, “Ibu adalah madrasah (pertama bagi anak), jika engkau telah menyiapkannya, maka engkau telah menyiapkan masyarakat yang berakhlak mulia.”

Oleh karena itu langkah awal bagi wanita adalah membekali dirinya dengan ilmu yang luas dan akhlak yang baik, agar suatu saat ia mendapatkan amanat mendidik anak, maka ia sudah mampu mendidiknya dengan baik.

Begitu pentingnya peran wanita terutama dikeluarganya menjadi salah satu pemicu bagi Santri Putri Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur-an Lirboyo (P3TQ) untuk mengadakan seminar yang bertajuk “Sholihah Dalam Dakwah” guna mendidik santri-santriwati untuk kelak bisa membantu berdakwah bersama keluarganya, yang terlaksana pada Jumat (5/01/18) lalu.

Diantara tempat yang paling baik untuk berdakwah bagi kaum wanita adalah rumah tangga. Keluarga kelompok kecil yang terbentuk dari suami, istri dan anak-anaknya. Pondasi dasar keluarga adalah suami dan istri, yakni pria dan wanita. Mereka berdua inilah yang menjadi benih terbentuknya keluarga yang baik, yang mengatur dan menjaga keluarga mulai dari awal sampai akhir.

Seminar yang dilaksankan Malam Jumat lalu dipimpin oleh KH. Munawwar Zuhri dari Tulung Agung. Acara yang dimulai pada pukul 21.00 Wis berjalan dengan khidmat. Para santriwati begitu antusias dengan pembahasan seminar tersebut. Mereka merasa bahwa menjadi solehah itu begitu penting bagi keturunannya. Acara yang ditutup pada pukul 23.00 Wis itu sebenarnya belum dapat memuaskan para santriwati dari rasa penasaran mereka, karena pembahasan yang sangat dibutuhkan oleh wanita-wanita.

Sebelumnya, pada pagi hari di P3TQ telah digelar acara Penutupan Bahtsul Masa-il yang merupakan agenda tiap tahunnya. dalam Penutupan Bahtsul Masa-il tersebut P3TQ juga mengundang Pondok Putri yang lain, seperti Pondok Sumber Sari dari Pare, Ar- Rifa’i Malang, Pondok Besuk Pasuruan dan Pondok Kecong Nganjuk. Pondok Putri Unit Lirboyo juga tidak ketinggalan untuk diundang.

Bahtsul Masa-il pada pagi itu disajikan dalam 2 jalsah. Jalsah awal di pagi hari dengan pembahasan Dilema Thalaq dan untuk jalsah kedua di siang harinya dengan pembahasan Dilema Saldo.

Untuk hasil keputusan Bhatsul Masa-il bisa dilihat di link berikut.

 

 

Jiwa Jurnalistik di Pesantren Putri

LirboyoNet, Kediri—Hari Jumat adalah hari libur akbar bagi para santri. Hampir seluruh pesantren menjadikan hari Jumat sebagai hari berjenak, hari untuk istirahat dari rutinitas belajar selama enam hari sebelumnya.

Meski begitu, Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ) memiliki pandangan lain. Benar. Hari Jumat adalah hari libur. Tetapi itu bukan alasan untuk tidak memanfaatkannya dengan hal-hal yang lebih positif daripada berjenak dan tidur selama mungkin.

Setidaknya, itu yang diungkapkan salah satu santri. “Setiap harinya, kami cuma memiliki maksimal delapan jam tidur. Tapi di hari Jumat ini, kami tetap tidak ingin melewatkan waktu dengan percuma. Makanya, kami ikut ekstrakurikuler jurnalistik ini,” tutur santriwati yang enggan menyebut namanya ini.

Kegiatan ekstrakurikuler telah ada sejak lama. akan tetapi, ekstrakurikuler jurnalistik baru menjadi program resmi di tahun 2017-2018 ini. waktu kegiatannya dilaksanakan setiap Jumat, mulai pukul 14.30 Wis (Waktu Istiwa), hingga pukul 15.30. karena pesantren ini memiliki dua asrama yang berjauhan, maka kegiatan ini juga dilaksanakan di dua asrama itu: P3TQ Barat dan Timur.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah sekitar dua puluhan santriwati di tiap asrama.  Sepengakuan pembimbing, santri sekarang sudah saatnya menjadi pegiat literasi positif. Memandang, suasana jurnalistik di luar pesantren kini sudah tidak seperti dahulu, yang kompeten, serius, dan kredibel. “Sudah terlalu banyak konten berita dan jurnalistik lainnya yang tidak layak dibaca. Tidak terpercaya. Banyak media yang hanya memberitakan kabar burung yang tak jelas sumber dan arahnya. Maka santri sudah saatnya bisa memproduksi karya jurnalistik yang kompeten, serius dan kredibel itu,” tukas Ustadz Hasan, salah satu koordinator ekstrakurikuler yang ada di pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi ini.

Santri sudah dibekali jiwa kejujuran dan kesederhanaan, yang sangat menunjang kegiatan literasi jurnalistik. Karenanya, dengan kemampuan santri di dalam bidang ini, informasi dan arus pemberitaan dalam bentuk apapun dapat disajikan dengan jujur dan kredibel.][