Tag Archives: Sholawat

Festival Rebana Santri Ke-9

LirboyoNet, Kediri—Dalam rangka menyabut Haul & Haflah Akhirusanah Pondok Pesantren Lirboyo 109 banyak kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan Haul & Haflah, diantaranya Festival Rebana Santri ke-9. Acara yang dilaksanakan (4/4) di Aula Muktamar ini menampilkan dua seni terbang, yakni Banjari dan Habsyi. Dari dua seni terbang yang dilombakan, kurang lebih diikuti oleh 20 peserta dari masing-masing Himpunan Pelajar Daerah & Unit pondok pesantren Lirboyo.

“Festival rebana santri ini sudah menjadi aktifitas rutin dari kegiatan haul haflah pondok dan madrasah. Selanjutnya disamping kegiatan festival rebana ini, dalam acara haul haflah banyak kegiatan pendukung, seperti yang kita ikuti kemarin kegiatan lomba ilmiah, dan kegiatan pra acara yakni tadarus khotmil qur’an bil ghoib putra pada 23 April 2019 dan juga diikuti 109 khitmil qur’an secara serentak oleh seluruh santri pondok pesantren Lirboyo. Kemudian dilanjutkan dengan tahlil akbar yang insyaallah diimami oleh KH. M Anwar Manshur di Maqbaroh pondok pesantren Lirboyo. Dan malamnya ialah acara inti haul haflah selasa malam rabu dengan penceramah KH. A Musthofa Bisri”. Tutur Bapak Hasbiyallah Abdul Karim dalam sambutannya atas nama ketua Haul & Haflah.

Selanjutnya sambutan sekaligus pembukaan festival rebana santri oleh pimpinan pondok pesantren Lirboyo, Agus H. Adibussoleh Anwar. Pesan beliau kepada peserta ialah “kami sangat mengharapkan dengan diadakannya kegiatan semacam ini (sholawatan) bisa menjadi salah satu metode kita dalam berdakwah dilingkungan masyarakat, dan yang lebih penting lagi ialah kita betul-betul mengharapkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW”.

Festival yang sudah dimulai sejak pukul 09.00 Wis ini diawali dengan sesi Banjari dan siangnya dilanjutkan dengan Habsyi. Dari masih-masih peserta menampilkan kualitas terbaiknya dari mulai kekompakan, lantunan suara, dan kreasi nada. Sehingga membuat para juri kebingungan dalam menyeleksi dari masing-masing peserta. Dan baru menjelang maghrib panitia baru bisa menyeleksi siapa saja yang lolos dalam final festival rebana santri ini.

Acara final festival rebana santri dilanjutkan ba’da isya, dan dari sekian peserta yang lolos dengan menampilkan performa terbaiknya segenap panitia dan dewan juri memutuskan, untuk kotegori Banjari juara 1 diraih oleh grup rebana Salsabila (Surabaya), juara 2 grup rebana Ihya’ussunah (Madura), juara 3 grup rebana Arridwal (Unit HMC), dan untuk kategori jingle terbaik kategori banjari diraih oleh grup rebana Arridwal (Unit HMC). Untuk kategori Habsyi juara 1 diraih oleh grup rebana La Roiba (Banyuwangi), juara 2 grup rebana An Tadula (Luar Jawa), juara 3 grup rebana Al Mujtaba (Unit HY), dan jingle Habsyi terbak diraih oleh grup rebana Ahbabunnabi (Tegal).

Demikian para pemenang festival rebana santri ke-9 pondok pesantren Lirboyo. Dan semoga dengan diadakannya festival rebana santri seperti ini dapat memacu kreatifitas teman-teman untuk bisa lebih baik lagi dalam kesempatan selanjutanya.

Mendulang Manfaat di Lirboyo Bersholawat

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah itulah yang paling tepat untuk menggambarkan majlis  “Lirboyo Bersholawat”. Pasalnya, dalam majlis  yang luar biasa tersebut terdapat banyak fadilah (keutamaan) yang jarang disadari oleh para jamaah yang hadir. Yang mereka sadari ialah bersholawat bersama demi mengharap syafaat baginda Rasulullah SAW. Namun pada kenyataannya, mereka akan mendapatkan pundi-pundi amal yang lebih dari itu. Di antaranya ialah:

Majlis Dzikir

Sudah menjadi sebuah tradisi, di setiap acara yang digelar oleh Pondok Pesantren Lirboyo selalu diselingi dengan pembacaan pembacaan dzikir yang berupa Tahlil dan doa. Tahlil dan doa tersebut ditujukan untuk Muassis (pendiri) dan para Masyayikh yang telah wafat, dan segenap ahli kubur muslimin dan muslimat. Pembacaan al-Qur’an, tahlil, dan doanya akan menjadi pembuka acara “Lirboyo Bersholawat”.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali mengutip salah satu hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik RA mengenai keutamaan majlis dzikir:

 إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ

Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman surga itu?. Beliau menjawab: (yaitu) majlis-majlis dzikir.” (lihat: Ihya’ Ulumuddin, I/34)

Dalam hadis lain disebutkan:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah Ta’ala dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.” (HR. At-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, VI/212)

Majlis Ilmu

Bersholawat bukan menjadi alasan untuk tidak menambah ilmu. Namun alangkah indahnya ketika keduanya dapat beriringan bersama. Seperti halnya mauidzotul hasanah dalam acara “Lirboyo Bersholawat” yang tidak akan pernah terlewatkan.

Pengarang kitab al-Hikam, Ibnu Athoillah Assakandari pernah mengeluarkan kalam hikmahnya dalam kitab Taj al-‘Arus al-Hawi Litahdzib an-Nufus:

لَا يَفْتَكْ مَجْلِسَ الْحِكْمَةِ وَلَوْ كُنْتَ عَلَى مَعْصِيَةٍ ، فَلَا تَقُلْ : مَا الْفَائِدَةُ فِي السِّمَاعِ الْمَجْلِسَ ، وَلَا أَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ؟ بَلْ عَلَى الرَّامِيْ أَنْ يَرْمِيَ فَإِنْ لَمْ يَأْخُذِ الْيَوْمَ يَأْخُذْ غَدًا ، وَلَوْ كُنْتَ كَيِّسًا فَطَنًا لَكَانَتْ حُقُوْقُ اللهِ عِنْدَكَ أَحْظَى مِنْ حُظُوْظِ نَفْسِكَ

Janganlah kamu menghentikan langkahmu untuk menghadiri majlis ilmu yang penuh hikmah,meskipun kamu dalam keadaan maksiat. Janganlah berkata “Apa guna mendengarkan dalam majlis ta’lim? Dan janganlah hadirmu di majlis ta’lim diukur dengan ukuran kamu meninggalkan maksiat. Tetapi Bagi seorang pelempar, yang melemparkan suatu barang, maka ketika dia tidak mendapatkan barang tersebut hari ini, maka ia akan mendapatkanya besok. Meskipun kamu adalah seorang yang sangat pintar, tetapi Allah lebih punya hak untuk dirimu, melebihi hakmu atas dirimu.”

Majlis Sholawat

Bersholawat, bukan hanya sekedar doa untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersholawat juga adalah bukti kecintaan sorang hamba kepada Nabinya. Betapa besar dan agungnya kehebatan sholawat, ia yang memiliki ribuan macam jenis dan nama juga memiliki ribuan macam jenis dan khasiat yang berbeda-beda serta saling melengkapi. Ada sholawat yang jika dibaca akan menghilangkan kesusahan, menarik rizki, bahkan ada yang dijelaskan khasiatnya dapat menjadi wasilah mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Imam Ibnu Hajar menukil maqalah para ulama mengatakan, “Membaca sholawat merupakan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan cara untuk mengagungkan Beliau.” Imam Ibnu Hajar juga mengatakan, “Pada hakikatnya orang yang membaca sholawat adalah orang yang mendoakan dirinya sendiri karena selama kita mau bersholawat kepada Nabi, maka Allah akan membalas pahala sholawat kita. Dan kita yang bersholawat pada hakikatnya juga sedang mengucapkan dzikir. Kala kita mencintai sesuatu, maka kita akan banyak-banyak menyebutkannya.” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Dabbagh memperkuat argumen ini, “Sebenarnya Allah tidak mensyari’atkan sholawat agar manfaatnya kembali kepada Nabi. Namun agar manfaatnya kembali kepada hamba itu sendiri.” []waAllahu a’lam
__________________________

Catatan: Jangan lupa hadir pada “Lirboyo Bersholawat” bersama Habib Syech yang akan diselenggarakan besok, Kamis 15 Maret 2018 di lapangan barat Aula Al-Muktamar, Lirboyo.

Kenapa Sholawat Nariyah?

Mulanya, ia bernama Sholawat Tafrijiyah. Namun, nampaknya sejarawan mempunyai data yang berlainan. Karena di teks yang berbeda, ditemukan bahwa sholawat ini dahulu bernama Taziyah, yang bermula dari penisbatan muasal teks sholawat ini kepada syaikh Ibrahim at-Taziy. Namun pada perkembangannya, ia lebih dikenal dengan “Nariyah”. Mengapa? Di titik ini, perselisihan para sejarawan kembali mengemuka. Di satu kisah, Taziyah bertransformasi menjadi Nariyah hanya sebatas tahrif, memutar kata dengan perubahan pada ‘titik’nya. Di kisah lain, Nariyah muncul sebagai sesuatu yang lebih historis. segolongan Islam di Maroko, ketika ingin mendapatkan yang dikehendaki sekaligus menghindari yang dibenci, mereka segera berkumpul dalam satu majelis. Di dalamnya, mereka membaca shalawat ini sebanyak 4.444 kali. Dus, yang diharapkan akan terwujud segera, bagai api (an-nâr) ketika membakar. Dari kata an-nâinilah nama Nariyah bermula.

Bacaan Sholawat Nariyah yang didapat oleh Sayyid Muhammad Haqqy an-Nazily dari beberapa gurunya sebagai berikut:

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـــــــيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَ تُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلىٰ آلِهِ وِ صَحْبِهِ

 

Ketika kemudian syaikh an-Nazily menerima ijazah sholawat serupa dari Sayyid Muhammad as-Sanusi di gunung Abi Qubais, ada beberapa kalimat yang ditambahkan di akhir sholawat:

 فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

 

Sholawat yang telah ditambah inilah yang sampai turun temurun kepada kita.

Mengenai lafadz مُحَمَّدٍ, sebagian ulama menengara bahwa ada yang lebih indah pengungkapannya, yakni dengan menambah lafadz النبى setelah مُحَمَّدٍ.

Adapun terhadap faedah sholawat Nariyah, ulama memberi beberapa rumusan yang erat kaitannya dengan seberapa banyak sholawat itu diulang. Diantaranya:

  1. Ketika dibaca setiap hari sebelas kali, rizki akan turun dari langit dan tumbuh dari bumi. (Syaikh Muhammad at-Tanusi)
  2. Ketika dibaca setiap selepas shalat sebelas kali, rizki tidak akan terputus dan memperoleh derajat yang tinggi. (Imam Ad-Dainuri)
  3. Ketika dibaca setelah salat subuh 41 kali, apa yang diinginkan akan terwujud.
  4. Ketika dibaca sehari seratus kali, akan terwujud harapan, bahkan lebih dari yang diangankan.
  5. Ketika dibaca sehari 313 kali dengan niat membuka tabir rahasia, ia akan melihat segala hal yang menjadi harapan-harapannya.
  6. Ketika dibaca setiap hari 1.000 kali, maka baginya perkara yang tak bisa dibayangkan oleh siapapun (mâ lâ ain ra’at wa lâ udzun sami’at wa lâ khathr fi qalb basyar/yang tak terindera mata, tak terdengar telinga, dan tak terbesit di hati manusia).

Di lain kesempatan, Al-Qurthubi, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, memberikan satu bilangan khusus untuk membaca sholawat ini, yakni 4.444. Ketika dibaca sebanyak bilangan itu dan disertai dengan tawasul kepada Nabi saw., maka segala harapan, bahkan yang besar pun akan terwujud. Juga, seluruh cobaan (bala’) akan dihindarkan. Wallahu a’lam.][

Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah Untuk Keselamatan Bangsa dilaksanakan pada Sabtu malam Ahad, 02 Shafar 1439 H./ 21 Oktober 2017 M.

Betapa Istimewanya Sholawat

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari seringkali kita lupa untuk melakukan ibadah sunnah. Disaat kita sudah tersibukan oleh urusan dunyawiyah terkadang kita hanya ingat untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat wajib saja, sehingga kita lupa dengan ibadah yang bersifat sunnah. Padahal banyak sekali pahala dan faedah dari ibadah sunnah itu sendiri. Salah satu contohnya adalah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang pahala dan faedahnya begitu besar. Di dalam Alquran maupun hadis banyak sekali perintah untuk kita, agar memperbanyak zikir kepada Allah SWT lebih-lebih sholawat kepada Nabi. Disamping sebagai bentuk ibadah, zikir atau sholawat ini juga bertujuan agar kita selalu ingat kepada Allah SWT dan Nabi-Nya. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa sholawat merupakan zikir yang paling utama. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah sosok makhluk yang utama dan makhluk yang dispesialkan oleh Allah SWT.

Membaca sholawat adalah sebuah bentuk doa kepada Rasulullah SAW, karena berkat jasanya kita semua dapat keluar dari lembah kegelapan menuju alam terang benderang seperti ini. Untuk itu sudah sewajarnya kita berterima kasih kepada Rasulullah dengan mendoakan sholawat kepadanya. Sebagai bentuk rasa syukur dan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengenai sholawat kita bisa melihat dengan jelas di dalam Alquran surat Al-Ahzab  ayat: 56 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikatnya bersholawat untuk Nabi Muhammad, hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.  Ayat Ini adalah perintah untuk kita agar mebaca sholawat. Yang tujuannya adalah mendoakan, menyanjung, dan memuliakan kepada Rasulullah SAW.

Dalam ayat di atas kita juga bisa melihat betapa spesialnya Rasulullah SAW, karena dalam ibadah-ibadah lain Allah SWT hanya memerintahkan kepada hamba-hambanya, namun dalam hal sholawat, Allah SWT menyebutkan bahwa Allah sendiri mendoakan sholawat kepada Nabi, kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikatnya, setelah itu baru Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman agar membaca doa sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk itu, Kalau Tuhan Sang Pencipta dan malaikat saja bersholawat,  kita sebagai umat yang telah diselamatkan oleh Rasulullah sudah seharusnya membaca doa sholawat untuknya dan sebagai bentuk terima kasih kita kepadanya.

Dalam hadis disebutkan bahwa ada perbuatan yang apabila kita melakukanya, maka kita termasuk orang yang tercela:

  1. seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri.
  2. Seseorang yang mengusap dahinya sebelum ia selesai melakukan salat.
  3. Seseorang yang mendengarkan azan namun ia tidak menirukan apa yang diucapkan muadzin.
  4. Seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad SAW disebut akan tetapi ia tidak membaca doa sholawat atasnya.

Disamping sholawat adalah sebuah bentuk ibadah, sholawat juga memliki banyak sekali faedah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barangsiapa yang membaca sholawat tujuh puluh kali, maka malaikat akan mendoakan kepada orang itu dan segala hajatnya akan dipenuhi”. Ini merupakan salah satu dari kehebatan dan keutamaan membaca sholawat. Dalam hadis lain juga dijelaskan bahwa Nabi Muhammad berkata; “Tidak ditemukan dari kalian semua seseorang yang mendoakan salam kepadaku  kecuali malaikat Jibril akan datang kepadaku dan berkata: ‘Wahai Muhammad bahwa fulan bin fulan ini telah mendoakan salam kepadamu’, maka saya (Nabi) berkata: ‘semoga ia mendapat keselamatan, rahmat, dan barokah dari Allah SWT’.”

Begitu banyak fadilah dengan kita membaca sholawat, untuk itu marilah kita memperbanyak bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan membaca sholawat kita akan mendapatkan pahala dan tentunya kelak kita akan mendapatkan syafa’at langsung dari baginda agung Muhammad SAW. []

Jangan Bosan Bersholawat Untuk Umat

Bersholawat, bukan hanya sekedar doa untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersholawat juga adalah bukti kecintaan sorang hamba kepada Nabinya. Betapa besar dan agungnya kehebatan sholawat, ia yang memiliki ribuan macam jenis dan nama juga memiliki ribuan macam jenis dan khasiat yang berbeda-beda serta saling melengkapi. Ada sholawat yang jika dibaca akan menghilangkan kesusahan, menarik rizki, bahkan ada yang dijelaskan khasiatnya dapat menjadi wasilah mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Membaca sholawat bukanlah hal yang percuma. Meskipun Nabi Muhammad SAW telah dijamin keselamatannya oleh Allah SWT, Nabi Muhammad SAW juga telah dijanjikan surga oleh-Nya, namun kita masih tetap disunnahkan mendoakan sholawat untuk Beliau. Bahkan Beliau pernah bersabda, bahwa umatnya yang paling utama derajatnya adalah yang paling sering bersholawat. Dan Beliau juga menyebut orang yang tak membaca sholawat ketika nama Beliau disebut sebagai orang yang pelit.

Imam Ibnu Hajar menukil maqalah para ulama mengatakan, “Membaca sholawat merupakan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan cara untuk mengagungkan Beliau.” Imam Ibnu Hajar juga mengatakan, “Pada hakikatnya orang yang membaca sholawat adalah orang yang mendoakan dirinya sendiri karena selama kita mau bersholawat kepada Nabi, maka Allah akan membalas pahala sholawat kita. Dan kita yang bersholawat pada hakikatnya juga sedang mengucapkan dzikir. Man ahabba syaian kasuro min dzikrihi (Kala kita mencintai sesuatu, maka kita akan banyak-banyak menyebutkannya.)” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Dabbagh memperkuat argumen ini, “Sebenarnya Allah tidak mensyari’atkan sholawat agar manfaatnya kembali kepada Nabi. Namun agar manfaatnya kembali kepada hamba itu sendiri.”

Pada akhirnya, sebenarnya kitalah yang lebih membutuhkan sholawat daripada Nabi. Kita membutuhkan sholawat untuk wasilah. Doa yang kita panjatkan belum akan terkabul dan masih tergantung di langit, sampai akhirnya kita menyisipkan sholawat dalam doa kita. Kemudian barulah doa tersebut diangkat ke langit. Demikian menurut satu riwayat hadis.

Kemudian jika kita renungkan kembali, segala kebaikan yang dilakukan umat Nabi merupakan hal yang diajarkan oleh Nabi. Nabi pernah bersabda, barang siapa yang mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang diajarinya. Pahalanya tak akan putus hingga hari akhir. Salat kita, puasa kita, zakat kita, dan amaliyah-amaliyah lain yang kita lakukan pahalanya juga akan sampai kepada Nabi, karena Beliaulah yang mengajarkan itu semua. Nabi setiap detik mendapatkan pahala dari setiap kebaikan ibadah yang dilakukan setiap umatnya. Pahala yang besarnya hanya mampu dihitung oleh Allah. Lantas masihkah kita berpikir bahwa Nabi membutuhkan pahala sholawat kita?[]