Tag Archives: madzhab

Dakwah Lintas Aliran

Deskripsi masalah :

Berbagai metode dilakukan untuk menyampaikan ilmu pada pencarinya. Jika di dalam pesantren cara yang paling terkenal adalah sororgan dan bandongan. Akhir-akhir ini kedua metode tersebut bukanlah satu-satunya metode yang dijalankan di pesantren, melainkan masih banyak metode-metode yang lain yang diterapkan biasanya disebut diklat atau seminar.

         Metode pengajaran yang beragam tak ayal membuat orang-orang pesantren terutama kang santri juga memiliki keahlian yang beragam. Ada sebagian santri yang ahli dalam model pengajaran sorogan, ada yang lihai menemani masyarakat dalam memikul beban hidup dengan petuah-petuahnya, mengahadapi kerasnya modernisasi, ada juga yang layak untuk mengisi seminar atau bahkan ahli.

Salah satu teman santri kita misalnya, ada yang pandai dalam berbagai fan ilmu dan lihai pula menyampaikannya pada khalayak umum. Keahliannya tidak hanya diakui oleh kalangan sendiri, melainkan juga kalangan lain yang notabene bukanlah kategori islam aswaja.

Liburan kemarin ketenarannya itu terbukti. Salah satu organisasi yang dibentuk oleh islam radikal mengundangnya untuk mengisi seminar di salah satu acara yang mereka bentuk. Ia berfikir, disalah satu sisi, sebenarnya ia memiliki keuntungan untuk bisa menyampaikan faham isalm Rahmatan Lil Alamin pada kaum radikal. Namun di sisi lain, ia harus rela dianggap radikal pula jika foto-foto seminar tersebar di media sosial atau mungkin muncul anggapan benar terhadap islam radikal, dengan bukti pengisi acara adalah dirinya, dan masih banyak dampak yang lain>

Pertanyaan :

a. Bagaimana hukum mengisi seminar di acara organisasi atau ceramah di organisasi selain Aswaja An-Nahdliyah?

Jawaban :

               Pada dasarnya dakwah kepada ahli bid’ah adalah fardlu kifayah. Namun apabila menimbulkan mafsadah yang kembali pada dirinya, seperti nama baiknya jatuh, maka kewajibannya gugur namun tetap diperbolehkan.

Apabila diyakini atau diduga kuat akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar seperti memperkokoh eksistensi golongan mereka dan merugikan ormas Aswaja An-Nahdliyah, maka tidak diperbolehkan.

Referensi :

  1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz VIII hlm, 40
  2. Al-Adzkar an-Nawawi, hlm. 316
  3. Hasyiyah al-Jamal, juz V hlm. 182
  4. Dan lain-lain

Pertanyaan :

b. Bagaimana metode dakwah yang tepat diterapkan pada golongan-golongan tersebut?

Jawaban :

Disesuaikan dengan kondisi objek dakwah, baik dengan cara hikmah, mauidoh hasanah maupun dengan cara mujadalah dengan rincian sebagai berikut:

  • Dengan cara hikmah dan mauidzoh hasanah apabila ahli bidah mau menerima kebenaran cukup dengan mauidzoh.
  • Dengan cara mujadalah (diskusi) apabila ahli bidah mau menerima kebenaran hanya dengan membuka ruang diskusi.

Referensi :

  1. Ihya ‘Ulum ad-Din, juz I hlm. 97
  2. Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 5
  3. Al-Minan al-Kubro, hlm. 257

Selain membahas dakwah lintas aliran, pada komisi C Bahtsul Masail FMPP XXXVI di Pondok Pesantren Lirboyo juga membahas rebutan hanger dan merusak file penting.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

[Hasil Bahtsul Masail FMPP XXXVI Komisi C]

Status Anjing dalam Sudut Pandang Fikih

Beberapa hari terakhir, publik digemparkan dengan beredarnya unggahan video seorang perempuan yang memasuki sebuah masjid dengan membawa seekor anjing. Lantas, kejadian yang diunggah di beberapa platform media sosial tersebut banyak komentar Netizen perihal hal ini.

Sebagaimana diketahui, anjing merupakan salah satu makhluk Allah swt. yang memiliki memori dalam catatan sejarah, misalkan kisah para Ashabul Kahfi bersama anjingnyayang diabadikan mapan dalam al-Qur’an. Selain itu, banyak pula kisah hikmah yang diwarnai oleh cerita seekor anjing, seperti dalam kitab Shahih Al-Bukhari yang memuat kisah pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Dan yang paling mendominasi khazanah keislaman ialah seputar hukum kenajisan yang melekat pada binatang ini.

Seperti halnya dalam isu dan persoalan apapun, para Fuqaha’ (ulama ahli fikih) tidak selalu monolitik dan seragam. Begitu pula dalam persoalan memandang status kenajisan anjing. Garis besarnya, para ulama terbagi ke dalam dua pendapat mengenai status anjing. Golongan pertama yang menghukumi anjing sebagai binatag najis. Golongan kedua berpendapat sebaliknya.

Perbedaan kedua pendapat ini didasari atas sebuah hadis Rasulullah saw.

طُهُورُ إِنَاءِ أحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الكَلْبُ أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Sucinya wadah kalian apabila dijilat oleh anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dicampur dengan debu.” (HR. Muslim)[1]

Madzhab Hanafi dan Maliki yang menghukumi suci pada anjing memberikan komentar atas hadis tersebut, bahwasanya yang dibicarakan hanya berkutat pada jilatannya. Tidak secara tegas menghukumi kenajisan anjing. Meskipun berpendapat demikian, kelompok ini tetap mengharuskan membasuh sebanyak tujuh kali dengan campuran debu di salah satu basuhannya terhadap benda yang dijilat anjing sebagai bentuk Ta’abudi (dogmatis).

Kelompok kedua yang diprakarsai madzhab Syafi’i dan Hanbali memiliki suara mayoritas dalam persoalan ini. Kedua madzhab ini memberikan rumusan hukum bahwa anjing dan babi, air bekas jilatan keduanya, keringat keduanya, dan hewan turunan dari salah satunya sebagai najis berat (Najis Mugholladhoh).

Berdasarkan hadis di atas, secara tegas golongan ini menilai anjing najis. Penalaran logisnya, mulut adalah bagian dari tubuh anjing yang paling bersih. Bahkan anjing adalah binatang dengan mulut yang paling tidak berbau, karena kerap menjulurkan lidah. Jika mulutnya yang bersih saja mengeluarkan air ludah yang kotor, seperti disebut dalam hadis, apalagi bagian-bagian tubuh yang lain. Ini prosedur berargumen yang di dalam teori hukum Islam disebut mafhum aula, menarik pemahaman dengan realita yang lebih jelas.

Dengan demikian, ketika terkena jilatan anjing, yang wajib dilakukan adalan mensucikan sebagaimana yang telah dijelaskan secara tegas dalam hadis. Imam Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan:

مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ وَلَغَ فِي الإِنَاءِ كَلْبٌ أَيَّ إنَاءٍ كَانَ وَأَيَّ كَلْبٍ كَانَ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ غَيْرَهُ, صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا فَالْفَرْضُ إهْرَاقُ مَا فِي ذَلِكَ الإِنَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ ثُمَّ يُغْسَلُ بِالْمَاءِ سَبْعَ مَرَّاتٍ, وَلاَ بُدَّ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ مَعَ الْمَاءِ

Permasalahan, jika seekor anjing–baik anjing pemburu maupun yang lain, baik besar maupun kecil–menjilat di sebuah bejana mana pun itu, maka wajib untuk menumpahkan isi bejana tersebut, lalu membasuhnya sebanyak tujuh kali. Dan wajib salah satunya dicampur dengan dengan debu.”[2]

[]WaAllahu a’lam


[1] Kifayah Al-Ahyar, vol. I hal. 69, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Syarh Al-Mahalli ‘Ala Al-Minhaj, Vol. I hal. 109, cet. Darul Fikr.

Dualisme Pemikian As-Syafi’i

Dalam bidang fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah mengikuti 4 madzhab, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Di Indonesia, mayoritas umat Islam menganut madzhab Syafi’i. Meskipun demikian, bagi sebagian besar masyarakat, istilah Qoul Qodim dan Qoul Jadid masih terasa asing di telinga mereka. Namun bagi kalangan pemerhati kajian madzhab fiqih, kedua istilah tersebut adalah hal yang sangat populer. Sebab, diskursus kajian madzhab Syafi’i tidak akan pernah terlepas dari perjalanan sejarah intelektual As-Syafi’i yang menjadi cikal bakal munculnya dua istilah yang mewakili dualisme madzhab Syafi’i tersebut.

Sejarah Singkat Qoul Qodim dan Qoul Jadid

Qoul Qodim adalah pendapat Imam Syafi’i yang pertama kali difatwakan ketika beliau tinggal di Bagdad, Irak (195 H). Fatwa tersebut dikeluarkan ketika beliau mendapat wewenang langsung oleh gurunya, yaitu Muslim bin Kholid, seorang ulama besar yang menjadi mufti di Mekah, dan Imam Malik, yang mana tinta emas sejarah mencatatnya sebagai pendiri Madzhab Malikiyah dan yang pertama kali mempunyai inisiatif untuk mengumpulkan hadis dalam bentuk kitab Sunan.

Imam Syafi’i tinggal di Baghdad selama 2 tahun. Sejak itu pula, pengaruh Madzhab Syafi’iyyah mulai tersebar luas di kalangan masyarakat. Kemudian untuk sementara waktu, beliau terpaksa pergi mennggalkan Baghdad untuk pergi menuju Mekah demi memenuhi pangilan hati yang masih haus ilmu pengetahuan. Hal ini lah yang menjadikan Madzhab Syafi’iyyah mengalami stagnansi selama kurang lebih 16 tahun sampai saat kedatangan beliau di Baghdad untuk yang kedua kalinya pada tahun 195 H.

Imam Syafi’i saat kembali ke Baghdad berusaha merawat kembali dan mengembangkan benih-benih madzhab yang telah ditebarkan. Dan pada saat itulah pengaruh Madzhab Syafi’iiyah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Hampir tidak ada lapisan masyarakat Baghdad yang belum tersentuh oleh roda pemikiran Imam Syafi’i.

Di antara pilar pendukung Madzhab Syafi’iyyah yang masyhur adalah Imam Ahmad bin Hambal (yeng kemudian terkenal sebagai pendiri Madzhab Hanabilah/Hambali), Az-Zafaroni, dan Abu Tsur. Empat orang ini lah yang tercatat sebagai periwayat Qoul Qodim yang tertuang dalam kitab Al-Hujjah.

Kemudian Imam Syafi’i terpanggil untuk memperluas lagi ladang dakwahnya. Dengan berbekal semangat dan tekad yang tak kunjung padam, akhirnya Imam Syafi’i memantapkan langkahnya untuk mengembara menuju negeri Mesir. Di sana, beliau mulai meneliti dan menelaah lebih dalam lagi terhadap ketetapan fatwa-fatwanya selama di Baghdad. Maka dari itulah, muncullah rumusan-rumusan baru yang kemudian terkenal dengan istilah Qoul Jadid yang tertulis dalam kitab Al-‘Um, Al-Imla’, Mukhtashor Muzani, dan Al-Buwaiti.

Di antara para pendukung dan periwayat Qoul Jadid yang terkenal adalah Al-Muzani, Al-Buwaiti, Ar-Robi’, Al-Jaizi, Al-Murodi, Al-Harmalah, Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakim, dan Abdullah bin Az-Zubair Al-Makki.

Dualisme Pendapat As-Syafi’i

Sebagian pendapat mengatakan, termasuk Qoul Qodim adalah pendapat Imam Syafi’i setelah keluar dari Irak namun belum masuk dan pendapat tersebut belum ditetapkan di Mesir. Dan termasuk Qoul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’i yang telah ditetapkan di Mesir meskipun diucapkan di Irak.

Menurut Al-Asnawi, pendapat Imam Syafi’i yang tertuang dalam Qoul Qodim merupakan pendapat di luar Mdzhab Syaifi’iyyah, kecuali pendapat tersebut sama dengan Qoul Jadid. Hal ini didasari karena keberadaan Qoul Jadid telah menghapus (Nasikh) terhadap Qoul Qodim. Sebagai bukti, Imam Syafi’i melarang para muridnya untuk meriwayatkan Qoul Qodim dan tulisan-tulisan beliau yang terdapat dalam kitab Al-Hujjah yang tidak cocok dengan Qoul Jadid dihapus menggunakan air. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Tajuddin Al-Kindi (terkenal dengan sebutan Farkah Al-Kindi), ia mengatakan bahwa Qoul Qodim sama sekali tidak bisa digunakan sebagai rujukan untuk berfatwa.

Di lain pihak, syaikh Ibnu Abdis Salam berpendapat, bahwa Qoul Qodim boleh digunakan sebagai tendensi hukum. Sebab munculnya Qoul Jadid bukan berarti menghapus (Nasikh) terhadap ketetapan Qoul Qodim, melainkan hanya sebatas penilaian kuat dan lemahnya suatu pendapat (Tarjih). Dengan pengertian, Qoul Jadid lebih kuat dibandingkan Qoul Qodim tanpa menafikan sama sekali terhadap keberadaan Qoul Qodim.

Dan pada akhirnya, Al-Asnawi berprediksi bahwa khilafiyah atau perbedaan pendapat di atas hanya terfokus terhadap Qoul Qodim yang tidak dicabut secara langsung oleh Imam Syafi’i. Adapun Qoul Qodim yang dicabut secara langsung oleh Imam Syafi’i, para ulama bersepakat atas ketidakabsahannya sebagai madzhab dan tidak boleh digunakan. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat yang dikutip syaikh Abu Hamid dari Az-Za’faroni (periwayat Qoul Qodim), bahwa As-syafi’i telah mencabut sebagian Qoul Qodim sebelum beliau pergi ke Mesir. Meskipun demikian, Qoul Qodim yang telah dicabut yang dianggap sebagai pendapat di luar madzhab. Namun ada sebagian fatwa Imam Syafi’i yang boleh digunakan karena dianggap kuat dari sisi dalilnya menurut penilitian Ahli Tarjih. waAllahu a’lam[]

 

______

Referensi:

Syarah Al-Mahalli ala Al-Minhaj, Sab’ah Kutub Mufidah, Manaqib A’immah Al-Arba’ah, Hamisy Fatawi Al-Kurdi.

 

 

 

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-1)

Ushul fiqih merupakan kekayaan khazanah ilmu keislaman yang  kedudukannya sangat urgen dalam perumusan produk hukum syariat. Karena dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengetahui bagaimana hukum fiqih itu diformulasikan dari sumber-sumbernya. Ilmu fiqih yang berfungsi menyuplai hukum terhadap segala bentuk ibadah, takkan terlahir tanpa adanya ushul fiqih. Dengan pengembangan bidang keilmuan ushul fiqih di era modern seperti saat ini, diharapkan mempermudah kontekstualialisasi fiqih dan menjaganya agar tetap dinamis dan up to date dalam menyikapi problematika umat Islam sesuai tantangan zaman.

Fan ilmu ushul fiqih menjadi sangatlah penting untuk dipelajari, dikaji dan dikembangkan saat ini. Mengingat masalah-masalah baru karena pengaruh teknologi sudah tidak mungkin kita hindari. Masalah lama belum tuntas, sudah muncul permasalahan lagi. Hal tersebut menuntut untuk diberi jawaban dengan tanpa merubah maqashid al-syar’i, apalagi sampai menghilangkannya sama sekali. Sementara rumusan kitab klasik dan nushush al-fuqaha’ relatif tidak memadai, kecuali kalau kita kaji secara manhaji (metodologis) yang dapat dihasilkan dengan memahami ilmu ushul fiqih. Dan kalau kita akan membicarakan epistemologi ushul fiqih secara terperinci, maka seharusnya kita mengaitkannya terlebih dahulu dengan teori-teori pembangunnya. Tetapi dalam tulisan ini, kita hanya membahas epistemologi ushul fiqih secara umum, dan itu pun hanya memakai kerangka muqoddimah (pendahuluan) dalam kitab-kitab ushul fiqih itu sendiri.

Sejarah Singkat Ushul Fiqih

Sebenarnya, istilah ilmu ushul fiqh belum dikenal di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Karena pada masa itu, kebutuhan akan penyelesaian hukum masih ditangani langsung oleh Rasulullah SAW dan permasalahan umat Islam belum begitu kompleks. Setelah beliau wafat, problematika umat Islam semakin berkembang dan seringkali masalah tersebut belum pernah dijumpai pada masa hidup Nabi, sementara kebutuhan akan penyelesaian problematika hukum syariat terus berkembang. Ditambah lagi meluasnya pengaruh Islam ke berbagai jazirah di luar Arab, semakin mendesak dibuatnya peraturan gramatika bahasa Arab demi terhindarnya percampuran dengan tatanan bahasa selain Arab. Maka disitulah umat Islam mulai menggunakan metode ushul fiqih dalam menggali hukum dari Alquran dan Hadis. Begitu seterusnya, metode istinbat al-ahkam menggunakan teori kaidah ushul fiqih digunakan berlanjut pada generasi-generasi selanjutnya.

Ilmu ini baru dikodifikasikan dan dijadikan sebagai cabang ilmu keislaman tersendiri atas prakarsa Muhammad bin Idris as-Syafi’i rohimahullah (w. 204 H) pada abad ke-2 Hijriyyah.  Beliau menulisnya dengan dibantu oleh murid beliau, Robi’ bin Sulaiman al-Murodi untuk dikirim kepada Abdurrahman bin Mahdi. Kemudian surat setebal 300 halaman tersebut dibukukan menjadi kitab ushul fiqih pertama dan diberi nama ar-Risalah. Dalam kitab tersebut, imam Syafi’i menuangkan kaidah-kaidah ushul fiqih yang disertai dengan pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan berbagi keterangan dan metode penelitian. Di dalam kitab tersebut, beliau mengumpulkan rancangan ilmu ushul fiqih para ulama madzhab pendahulunya yang tersebar tanpa dibatasi oleh kaidah-kaidah yang tertata rapi. Namun, mereka dalam merumuskan hukum selalu menyebutkan dalil-dalil yang menjadi pijakannya dan metodologi pengambilan hukumnya.

Ada beberapa hal  yang mendorong imam Syafi’i dalam mengkodifikasikan ilmu ushul fiqih, diantaranya adalah:

  1. Terjadinya perbedaan yang sangat tajam diantara beberapa pendapat ulama madzhab. Seperti perbedaan pendapat antara ulama Madinah dan ulama Iraq.
  2. Menurunnya pengetahuan dzauqul ‘arabiyyah disebabkan banyaknya bangsa selain Arab yang masuk Islam. Dengan demikian diperlukan penjagaan kemurnian tata bahasa Arab demi menghindari kesulitan dalam mengkaji hukum pada dalilnya.

Dan selanjutnya, banyak ulama-ulama yang mengikuti jejak imam Syafi’I dalam mengkodifikasikan ilmu Ushul Fiqih dengan berbagai macam aliran dan metode hingga saat ini.

Bersambung ke Bagian II

Mengenal Konstruksi Madzhab Syafi’i

Madzhab–dalam literatur fiqh istilah ini sering diketemukan–adalah pola pikir dan pola amaliah yang merupakan buah pikir dari seorang mujtahid madzhab, yang disarikan dari al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy dengan metode tertentu. Di masa Tabi’in, islam sampai pada masa supremasi (al-‘ashru ad-dzahabi), dimana khazanah inteletual islam mengalami banyak kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Di masa itu, banyak mujtahid bermunculan hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Namun seiring masa, tidak semua madzhab mampu bertahan. Hingga dewasa ini, madzhab yang memiliki validitas dari segi riwayat dan ajarannya sehingga layak untuk dianut hanya tinggal empat. Yaitu Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad, atau yang sering kita dengar dengan istilah al-Madzahib al-Arba’ah. Diantaranya adalah Madzhab Syaf’i.

Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H.)–yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i–nama besarnya sebagai mujtahid membumi di berbagai penjuru negeri di belahan bumi manapun. Ust. Idrus Ramli mengungkapkan, tidak ada madzhab fiqih yang memiliki jumlah pengikut begitu besar seperti madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Pilipina, Singapura, Thailand, India bagian selatan seperti daerah Kirala, Kalkutta, mayoritas negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Yaman, mayoritas penduduk Kurdistan, kaum sunni di Iran, mayoritas penduduk mesir, penduduk sebagian besar benua Afrika bagian timur dan lain-lain. Di indonesia saja, sudah jamak pesantren dan perguruan islam, dalam bidang fiqh mengikuti pola pikir dan amaliah yang merupakan buah pikir Imam Syafi’i 12 abad yang lalu.

Seperti halnya Ust. Idrus Ramli, Hasan bin Ahmad al-Kaff, dalam taqrirat-nya juga mengungkapkan bahwa mayoritas muslim Sunni di dunia mengikuti Madzhab Syafi’i. Hal ini merupakan prestasi ilmiah yang sangat mengagumkan mengingat jarak masanya lebih dari 1200 tahun atau 12 abad silam. Namun ajarannya masih eksis dan bahkan memiliki penganut (muqollid) terbanyak.

Dari paparan diatas, tentunya ada beberapa faktor logis-historys yang melatarbelakangi eksistensi dan perkembangan madzhab hingga mampu bertahan sekian lama, dan menjadi pilihan sekaligus rujukan mayoritas kaum muslim sunni di dunia. Apalagi sejarah menyaksikan banyak Mujaddid (pembaharu) dari para cendekiawan islam yang merupakan tokoh sentral di masanya masing-masing, lahir dengan latar belakang bermadzhab Syafi’i. Kehadiran mereka pun membawa kemajuan dan perkembangan entitas madzhab dan memperkaya khazanah madzhab. Pada kurun ketiga, tampil seorang cendikia, Abul ‘Abbas bin Suraij sebagai seorang pembaharu. Pada kurun keempat hingga kesepuluh, ada Abu at-Thoyyib Sahl as-Shu’luki, Abu Hamid al-Ghozali, al-Fakhru ar-Razi, an-Nawawi, al-Isnawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, as-Suyuthi, dan masih banyak lagi. Tak dapat ditampik, secara estafet munculnya sederet nama-nama tadi dapat memperkukuh landasan ajaran Madzhab dan melestarikannya melalui karya-karya mereka.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hasan bin Ahmad al-Kaff, mengidentifikasi bahwa perkembangan Madzhab Syafi’i melalui lima tahap. Pertama, adalah tahapan dimasa Muhammad bin Idris yang muncul memperkenalkan dasar pokok pemikirannya. Saat itu kehadirannya mampu memberi warna baru di jazirah Arabia. Ajarannya dianggap moderat. Dalam Manaqib as-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi mengungkapkan, bahwa ajarannya mampu menengahi polemik ilmiah antara golongan tekstualis (ahlul hadist) dari para cendekiawan Hijaz dan golongan rasionalis (ahlur ro’yi) dari para cendekiawan Iraq.

Konon sebelumnya, kedua golongan ini tak pernah menemukan kata mufakat dalam diskusinya. Argumentasi masing-masing golongan tak pernah diterima oleh golongan lainnya. Ironisnya, lama kelamaan perbedaan tersebut selalu saja berujung pada nuansa rivalitas yang memprihatinkan.

Keadaan sedemikian rupa terus berlanjut hingga kemunculan Muhammad bin Idris. Melalui sebuah kitabnya yang berjudul “ar-Risalah” yang menjadi karya pembuka dalam fan ushul fiqh, Muhammad bin Idris mampu memperbaiki keadaan tersebut. Apa yang disampaikannya melalui ar-Risalah mampu menengahi dua golongan tersebut. Melalui ar-Risalah pula, Muhammad bin Idris pun menjadi orang pertama yang mengkodifikasikan metode ilmiahnya dalam menggali hukum al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy.

Kedua, adalah tahapan periwayatan (marhalatu an-naqli). Setelah pendiri madzhab wafat, para muridnya berperan menggantikan peran Muhammad bin Idris dalam meriwayatkan ajaran madzhab. Diantaranya, al-Buaithi, al-Muzani, Robi’ al-Murodi, Robi’ al-Jizi, Yunus bin Abdul A’la, yang pada akhirnya apa yang disampaikan murid-murid as-Syafi’i tersebut dalam literatur fiqih jamak disebut dengan riwayatul madzhab. Periode ini berlangsung sampai wafatnya para murid as-Syafi’i pada kurun ketiga hijriyah.

Ketiga, adalah tahap kodifikasi problematika furu’iyyah (cabangan) madzhab dan pengembangan ranah pembahasan masalah fiqh (marhalatu tadwini furu’i al-madzhab wa at-tawassu’i fi masa-ilihi). Di masa transformasi tahapan ke-dua menuju tahapan ke-tiga, muncul dua golongan yang memiliki pola pikir berbeda dan memiliki kadar riwayat yang berbeda, serta pengembangan yang berbeda pula dalam mengapresiasikan riwayat-riwayat madzhab as-Syafi’i. Dua golongan tersebut dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-Khurosaniyyun dan al-‘Iroqiyyun. Golongan al-Khurosaniyyun diawali oleh al-Qoffal al-Shoghir Abu Bakar al-Mawarzi. Kemudian diikuti oleh Abu Hamid al-Juwaini, al-Fauroni, al-Qodli Husain, dan lainnya. Sedangkan dari golongan al-‘Iroqiyyun, dimulai oleh Abu Hamid al-Isfiroini, dan diikuti oleh al-Mawardi, Abu Thoyyib at-Thobari, al-Bandaniji, al-Mahamili dan lainnya.

Hingga pada kurun ketujuh Hijriyah, tampil dua orang besar dan sering disebut-sebut dihampir semua kitab fiqih syafi’i dalam setiap bab dan fasalnya. Yaitu ar-Rofi’i dan an-Nawawi. Ketokohan mereka sudah tak teringkari lagi. Dua ulama tersebut memiliki peran dan kontribusi besar terkait ajaran-ajaran madzhab syafi’i. Peran mereka dalam koreksi ajaran madzhab sangatlah besar. Melalui karya-karya mereka, semua problema dalam furu’iyyah fiqih berikut dalil-dalilnya menjadi wilayah yang tak terlewatkan untuk dikaji ulang dan dibenahi. Semua riwayat-riwayat madzhab dan qoul-qoul madzhab juga mengalami pen-tarjih-an dalam rangka merumuskan (tahqiq) kembali ajaran madzhab as- Syafi’i. Diantara karya-karya besar mereka adalah; al-Muharror, as-Syarhu as-Shoghir, as-Syarhu al-Kabir (ketiganya adalah karya imam ar-Rofi’i), al-Minhaj, al-Majmu’, Raudlatut Thalibin (ketiganya adalah karya imam an-Nawawi). Inilah tahapan keempat dalam sejarah berkembangnya madzhab syafi’i yang dalam istilahnya disebut dengan marhalatu at-tahrir.

Dominasi ar-Rofi’i dan an-Nawawi dalam filterisasi riwayat dan ajaran madzhab nampaknya masih saja meninggalkan ruang bagi yang lain untuk melengkapi apa yang dianggap masih kurang. Selayaknya, karya manusia tak pernah sampai pada titik kesempurnaan. Pada kurun kesepuluh Hijriyah, kembali tampil dua ulama penyempurna. Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli. Kehadiran mereka berikut karyanya mempertegas eksistensi dan validitas madzhab.

Sesuai dengan hadist Nabi saw. yang menyatakan bahwa, al-quran dan hadist terhenti dan habis ketika Nabi telah mangkat. Sedangkan problema yang mencuat di tengah-tengah masyarakat terkait realitas amaliah mereka tak pernah terhenti dan habis sebelum kiamat tiba. Maka dua sisi ini tak seimbang bila al-quran dan hadist tidak dikembangkan dalam furu’iyahnya.

Sebab, banyak hal-hal baru yang belum terakomodir dalam fatwa-fatwa ulama pendahulu. Hal ini kiranya membutuhkan tindakan pembaharuan dan penyempurnaan. Maka, Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli tampil sebagai kunci kebuntuan tersebut. Melalui karya-karya mereka, keduanya tampil sebagai penyempurna.

Ranah ilmiah baru yang belum terjamah oleh pendahulunya dikupas serta dirumuskan dan dikemas dalam karya mereka. Kurun ini dikenal sebagai tahapan akhir pembangungan konstruksi madzhab syafi’i.

Nah, dari sekelumit kajian sejarah sederhana ini, kiranya begitu besar militansi para ulama syafi’iyah dalam mempertahankan, menyempurnakan, dan menyebarluaskan ajaran madzhab Syafi’i secara estafet dari generasi ke generasi. Hingga kita pun menuai keberkahan, berupa kemudahan dalam mempelajari, menjalankan, dan melestarikan ibadah ala madzhab syafi’i. “Fas-aluu ahla az-dzikri in kuntum laa ta’lamun..”[]

Penulis, M. Shidqi Lubaid