Kiai Habibullah Zaini Sang Permata Lirboyo

Kiai Habibullah Zaini Sang Permata Lirboyo

Kiai Habibullah Zaini Sang Permata Lirboyo

Oleh; Dr. KH. A. Fahrur Rozi, S.Ag. M.Pd.

Kyai Habib adalah pertemuan dua nasab pendiri pesantren termasyhur di Indonesia, dari jalur ayah beliau adalah putra alm. KH. Muhammad Zaini bin KH. Muhammad Munawwir, pendiri Ponpes Almunawwir Krapyak Jogjakarta (Pengarang Kamus Munawir), sementara ibunya almarhumah Nyai Hj. Qomariyah binti KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo Kediri.

Beliau adalah sosok kiai yang sangat alim, zuhud dan sederhana, setiap waktunya dihabiskan untuk mengajar di pondok pesantren, beliau menjadi rujukan santri dari seluruh Indonesia yang datang ke Lirboyo untuk mengaji kitab – kitab besar bidang hadist, fiqh dan tafsir .

Dengan ketekunan yang luar biasa, beliau mampu membaca kitab mulai pagi hingga malam hari tanpa lelah dan hingga khatam. Sementara para muridnya mendengarkan sambil mencatat makna dari beliau mulai duduk rapi hingga tiduran “mlumah-murep“ tidak kuat mengimbangi istiqomah beliau.

Meskipun sangat alim, namun beliau bersifat khumul, pendiam dan tidak banyak bicara. Beliau selalu menyembunyikan diri dan tidak suka tampil di depan umum kecuali hal yang sangat penting, saya tidak pernah melihat beliau kerso berpidato di pengajian umum atau acara terbuka lainnya, bahkan jika ada seremonial acara kunjungan pejabat tinggi sepenting apapun di Lirboyo beliau sangat jarang sekali berkenan ikut hadir menyambut, beliau lebih memilih berdiam diri dan tidak keluar dari rumahnya .

Kehidupan keseharian beliau amatlah sederhana, dulu di pondok saya sering melihat beliau mencuci mobilnya sendiri setiap pagi, meski banyak santri yang ingin berkhidmah mencucikannya.

Saya ingat beliau mempunyai mobil Isuzu Panther warna biru tahun ’94 yang dipakai hingga puluhan tahun dan tidak suka berganti mobil, meskipun saya yakin beliau pasti mampu membeli alphard seri terbaru seklaipun.

Sikap hidup sederhana sangat tampak dalam pakaian yang dikenakannya , dan sangat berhati hati dalam bekerja, saya dulu sering melihat beliau mengecek sendiri kebersihan warung makan milik beliau di sebelah kamar saya, dan ketika suatu saat saya mengantar titipan amplop seorang pejabat untuk dihaturkan kepadanya, beliau tidak berkenan menerima, beliau masih bertanyan ini uang apa, untuk apa?

Kini, kiai alim dan zahid ini telah pergi, setelah bersabar sekian lama dalam cobaan penyakit yang dideritanya tanpa pernah mengeluh. Empat hari sebelum wafatnya saya masih ditakdirkan menjenguk beliau di RS Haji Surabaya, beliau dalam kondisi sadar dan sejenak menatap saya, saya pun hanya mampu berbisik memohon maaf dan menangis Disampingnya, selamat jalan kiaiku, semoga Allah SWT melimpahkan rahmatNya dan mempertemukan kita kembali kelak di surga. Amin.

Teruntuk beliau al-Fatihah
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، الحمدلله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، اياك نعبد وإياك نستعين، اهدنا الصراط المستقيم، صراط اللذين انعمت عليهم، غير المغضوب عليهم ولا الضالين

Penulis: Dr. KH. A. Fahrur Rozi, S.Ag. M.Pd, Ketua PBNU , Wakil Sekjen MUI dan Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang.

Kontributor: Athori Thohir

Baca Juga; Sejarah Berdirinya Masjid Agung Lawang Songo Pondok Lirboyo

Follow Instagram; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.