Menanti Hujan

Menanti Hujan

Oleh: Fas Rori

Sudah lama daerah itu tak tersentuh air langit. Bahkan saking lamanya, penduduk daerah itu sudah lupa atau malah tak tahu kapan terakhir kali hujan turun. Mungkin dulu ketika masa kakek buyut mereka. Padahal daerah-daerah di sebelahnya setiap tahun selalu diguyur hujan. Mungkin daerah itu terkutuk. Tapi bila memang terkutuk, sebab apa? Oleh siapa?

Masyarakat daerah itu hanya mengenal musim panas saja. Mereka tak tahu dengan musim penghujan apalagi musim dingin. Bukan hanya tak tahu, mereka juga tak perduli. Apa guna musim penghujan dan musim dingin jika mereka tak merasakannya?

Mungkin benar daerah itu terkutuk. Sebab seluruh penduduk di situ kebanyakan penjahat dan pendosa. Ada pencuri, begal, mucikari, dan pelacur, itu untuk masyarakat miskinnya. Ada juga tukang nyolong duit rakyat, tukang suap dan mafia pemerintah, yang ini penjahat kelas elit. Ada juga pembunuh bagi mereka yang tak punya kerjaan.
Semua pekerjaan itupun mereka warisi dari orang tua. Yang jadi pelacur adalah anak zina mantan pelacur yang sekarang jadi mucikarinya. Yang begal dan pencuri sejak muda atau bahkan sewaktu masih kecil sudah diajak orangtuanya membegal dan mencuri. Yang koruptur dan tukang maling duit rakyat sudah biasa mendengarkan obrolan ayah dan ibunya tentang bagaimana mencuri dan berapa besar uang yang dicuri. Jadi pekerjaan yang dikerjakan orang-orang daerah itu sudah turun temurun sejak dulu. Entah sudah generasi ke berapa mereka mewarisi pekerjaan-pekerjaan itu. Sudah seharusnya jika daerah itu terkutuk untuk tidak menerima air langit yang suci.

Namun tahun ini terasa berbeda. Cuaca terasa sangat panas walaupun sebelumnya mereka tak pernah merasakan dingin. Lebih panas daripada sebelum-sebelumnya. Keringat seperti tak henti-hentinya mnegalir keluar dari pori-pori.

Belum lagi ditambah air yang kian hari kian menyusut. Walaupun daerah itu bertahun-tahun tak tersentuh hujan, namun mereka masih bisa memanfaatkan air sungai aliran dari daerah sebelah yang lebih tinggi. Tapi kali ini sungai sangat pelit untuk mengalirkan airnya. Mungkin tak lama lagi sungai akan benar-benar kering tak berair.
“Tahun ini rasanya berbeda…,” kata seseorang.
“Iya. Panas sekali,” yang lain ikut bicara.
“Kita mulai kesulitan air.”
“Walaupun di daerah kita tak pernah hujan setidaknya air sungai masih deras. Tapi tahun ini berbeda. Bahkan sekarang air sungai hampir habis.”

“Lama kelamaan penduduk daerah kita ini bisa mati kekurangan air. Kekeringan dan kehausan.”
Perbincangan seperti ini mulai menghiasi pertemuan-pertemuan mereka, selain membicarakan kejahatan. Satu persatu dari mereka mulai berpikir, bagaimana menemukan solusinya, solusi supaya bisa mendapatkan air berlimpah. Akhirnya disepakati untuk menggelar rapat terbuka. Semua warga boleh hadir dan berhak memberikan usulan.

“Kita harus segera berpikir. Air sudah mulai habis,” kata pemimpin rapat yang berprofesi sebagai anggota dewan yang mengatasnamakan rakyat.
“Bagaimana kalau kita menggali sumur,” usul si pembunuh bayaran.
“Jangan! Hanya buang-buang waktu. Di daerah kita sudah ada sumur yang dalamnya sudah sekian meter tapi tetap saja hanya sedikit air yang keluar,” jawab tukang korupsi. “Mending kita usulkan ke pemerintah, kita minta bantuan disediakan air.”
“Halah! Itu cuma akal-akalannya saja. Paling cuma dia yang bisa dapat air,” tukang begal tak terima. “Belum lagi dana administrasi untuk itu sudah pasti dikorupsi olehnya.”
Rapat itu terus diwarnai usul-usulan dan adu argumen yang sepertinya tak akan memecahkan masalah. Padahal sudah setengah hari rapat berjalan. Sudah banyak jam yang mereka habiskan tanpa ada masalah yang dipecahkan.

Di saat rapat hampir tak menemukan solusi apa-apa, tiba-tiba ada seseorang, yang entah pekerjaannya apa, memberikan usulan.
“Bagaimana kalau di daerah kita diadakan pertaubatan massal,” kata orang itu.
“Halah! Jangan sok suci!” yang lain menyahut.
“Bukan begitu… semua orang kan sudah tahu, penduduk di daerah kita hampir semuanya penjahat. Kita tahu penjahat pasti berdosa. Mungkin sebab dosa kita ini, daerah kita tak pernah sama sekali tersentuh air hujan,” ujarnya memberi argumen.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mungkin mereka merenungi apa yang diucapkan si pengusul itu. Mungkin itu bisa menjadi satu-satunya cara menyelesaikan masalah ini. Bukankah air adalah sesuatu yang sangat penting? Bukankah hidup mustahil untuk diteruskan bila tidak ada air?
Seseorang mengangkat tangan. “Saya setuju!” katanya.
“Ya, saya juga,” yang lain menyusul.
“Iya. Saya juga setuju.”
“Setuju!”

Akhirnya disepakati bahwa akan ada pertaubatan massal. Karena di antara para penduduk daerah itu tidak ada yang tahu caranya bertaubat, maka diputuskan untuk mencari seorang kiai atau ustad atau apalah namanya guna membimbing mereka untuk bertaubat.

Namanya Rasyid. Katanya ia alumni sebuah pesantren di kota sebelah. Di sana ia belajar agama lumayan lama dan baru tahun kemarin ia lulus. Salah seorang penduduk daerah itu, yang mengaku sebagai wakil rakyat, yang menemukannya. Ia bertemu Rasyid saat mampir di sebuah masjid di kota sebelah, kebetulan waktu itu sedang kunjungan kerja.

Seluruh warga akhirnya dikumpulkan. Semuanya wajib hadir. Tidak boleh tidak. Tidak ada kecuali. Ustad Rasyid kemudian dipersilakan untuk maju ke depan. Memberikan pengarahan tentang bagaimana caranya taubat.

Setelah membuka ceramahnya dengan salam dan sedikit pembukaan, sang ustad berkata:
“Salah satu sebab diturunkannya musibah adalah karena dosa. Tuhan mungkin marah dan menghukum para pendosa. Karena aturan-aturan-Nya telah dilanggar maka Ia murka. Dan bagi para pendosa, mereka wajib bertaubat. Bukan hanya untuk menghilangkan musibah yang melanda tapi juga supaya segala dosa kita diampuni. Maka dari itu marilah kita sama-sama, mulai detik ini juga, berikrar dan berjanji bahwa segala perbuatan buruk dan menimbulkan dosa kita akhiri. Supaya Tuhan mengampuni kita dan segala musibah Ia cabut.”

Mereka semua mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh sang ustad. Mungkin mereka semua serius ingin bertaubat karena benar-benar sudah tak tahan. Mungkin mereka juga sudah sangat merindukan air hujan.

“Semua sudah siap untuk bertaubat?!” tanya ustad Rasyid dengan lantang.
“Ya. kami siap!” Semua menjawab serempak.
“Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang segala perbuatan dosa kita tinggalkan. Lalu segala kewajiban kita tunaikan. Perbanyaklah sedekah. Bagi yang memiliki rejeki lebih bantulah saudara-saudara kita yang kurang mampu. Tinggalkan kezaliman. Jangan menyakiti orang lain.

“Kemudian mulai besok sampai empat hari ke depan kita berpuasa. Menahan setiap yang dilarang mulai fajar hingga senja. Di hari keempat kita berkumpul lagi disini. Bawa sajadah, kita laksanakan shalat meminta siraman. Bawa juga hewan-hewan ternak; mereka akan ikut mendoakan. Ajaklah anak-anak dan para orang tua, sebab doa mereka mudah dikabulkan.”

Mereka menjalankan segala intruksi yang dikatan oleh ustad Rasyid. Segala yang diperintahkannya mereka patuhi.
Lalu di hari keempat mereka berkumpul kembali. Menjalankan shalat meminta hujan. Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah oleh ustad Rasyid.

“Jika dalam seminggu hujan belum turun, maka kita ulangi lagi ritual puasa dan shalat ini. Mungkin kita harus berusaha lebih keras,” kata Rasyid setelah selesai khutbah.

Setelah ditunggu selama seminggu ternyata hujan belum juga turun. Akhirnya mereka kembali menjalankan puasa selama empat hari lalu berkumpul kembali untuk melakukan shalat. Seminggu setelah shalat kedua, belum juga ada tanda-tanda hujan mau turun. Puasa dan shalat kembali dijalankan.

Sorenya, setelah shalat yang ketiga, langit tampak memudar. Kelabu. Semua penduduk daerah itu menduga sebentar lagi hujan bakalan turun. Wajah-wajah mereka begitu tampak bahagia. Hilanglah segala derita yang diterima sejak buyut-buyut mereka.
Namun setelah menanti berjam-jam hingga berhari-hari kemudian berminggu-minggu hujan tak juga turun. Yang ada hanya langit yang terus menerus mendung, seperti hati mereka yang mulai kembali murung. Mereka terus menunggu. Di samping itu, air semakin menipis. Mungkin dalam hitungan hari air sungai akan benar-benar kering. Sumur juga sudah tidak bisa diharapkan. Sudah sejak berbula-bulan lalu tak mengeluarkan air walaupun hanya setetes saja.

Perbincangan-perbincangan kembali muncul. Mereka mencoba menebak penyebab hujan yang tak kunjung turun.
“Apa ustad itu membohongi kita?” kata mantan mucikari.
“Menurutku tidak. Dia tidak mungkin bohong. Dia pasti tahu kalau bohong itu dosa, dia kan seorang ustad,” jawab eks tukang begal.
“Bisa saja begitu kan?” seseorang yang dulunya pencuri ikut nimbrung.
“Tapi buktinya sudah ada perkembangan; sekarang sudah mendung,” mantan pelacur ikut berkata.
“Mungkin di antara kita masih ada yang belum benar-benar bertaubat. Masih ada yang secara sembunyi-sembunyi melakukan perbuatan dosanya dulu,” seorang anggota dewan memberi argumen. Yang lain mengangguk-angguk, dalam hati menyutujui.
Gunjingan tidak bisa dihindari. Dari belakang mereka saling tuduh antara satu dengan yang lain. Di rumah-rumah obrolan-obrolan tentang siapa yang bersalah semakin ramai. Mantan tukang begal menganggap anggota dewan masih saja korupsi. Bekas pencuri menebak kalau mantan mucikari terus saja menjalankan praktek prostitusi. Yang dulunya pelacur menuduh tetangganya masih mengedarkan narkoba. Dan seterusnya….

Hari-hari mereka lewati dengan menunggu hujan dan terus menggunjing. Mereka sampai lupa kalau menggunjing juga termasuk dosa, bahkan diserupakan memakan daging saudaranya. Atau malah mereka semua tak tahu kalau menggunjing itu juga termasuk dosa. Bisa saja ustad Rasyid lupa menjelaskannya. Mendung masih menyelimuti mereka. Semakin lama, hujan semakin ditunggu, bahkan hingga sekarang.

Baca juga: ISLAM ADALAH KEPATUHAN

Follow ig: @pondoklirboyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.