Tag Archives: Debat hukum

FMPP Se Jawa Madura ke-31

Perubahan dinamika kehidupan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini akan berbanding lurus dengan munculnya berbagai fenomena aktual yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat. Sebagai instrumen baru dalam tatanan kehidupan, isu-isu tersebut selalu memerlukan sentuhan dan kejelasan hukum terutama dalam tinjauan syariat Islam.

Adalah Bahtsul Masail, sebuah wahana kajian ilmiah ala santri menjadi salah satu upaya responsif pesantren yang selalu hadir dalam memberikan jawaban atas problematika tersebut. Bahkan sudah menjadi realita yang tidak terbantahkan, peranan Bahtsul Masail dalam memberikan solusi terhadap problematika aktual yang muncul di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Berbagai isu pun dibahas di dalamnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan ibadah, mu’amalah, interaksi sosial, bahkan isu-isu kenegaraan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren mempunyai tanggung jawab moral untuk berpartisispasi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan tersebut. Maka dari itu, Bahtsul Masail sebagai tradisi intelektual sudah sejak lama dikembangkan di kalangan pesantren. Bahkan, sebelum Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) berdiri, tradisi halaqoh dan musyawarah yang menjadi cikal bakal lahirnnya forum Bahtsul Masail sudah mendarah daging di pesantren sejak dulu.

Sehingga, sikap kritis, tanggap, dan tanggung jawab terhadap berbagai permasalahan umat yang ditunjukkan oleh pesantren dalam suatu forum Bahtsul Masail tersebut perlu untuk diapresiasi. Terlebih lagi, apabila sistem tersebut tidak sebatas hanya dalam internal pesantren tertentu saja. Namun, mencakup jaringan berbagai pesantren dalam suatu wilayah tertentu. Karena dengan begitu, adanya forum Bahtsul Masail bukan hanya sebatas memecahkan masalah. Melainkan menjadi sebuah ajang silaturrahim untuk mempererat hubungan antar pesantren. Langkah nyata dalam konteks tersebut adalah adanya Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa Madura dan segala bentuk program dan aktivitasnya.

Sejak pertama kali didirikan, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) telah melaksanakan program Bahtsul Masail yang diagendakan di setiap tahunnya. Dan pada tahun ini, ajang diskusi yang paling bergengsi di dunia pesantren tersebut akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Sukorejo, Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur.

FMPP se Jawa Madura yang ke-31 tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 28-29 Muharram 1439 H / 18-19 oktober 2017. Sesuai perkiraan panitia, FMPP tahun ini akan dihadiri sekitar lebih dari 300 santri delegasi dari berbagai pesantren se Jawa Madura. Dari jumlah itu, mereka akan terbagi ke dalam 3 komisi yang memiliki soal pembahasan yang berbeda, yaitu:

 [Komisi A]

Investasi Dana Haji untuk Infrastruktur

Hukum Paytren dalam Tinjauan Fikih Muamalah

Mengubah Status Wakaf Musholla Menjadi Masjid

Cara Memakamkan di Kuburan Berair

Ikan Lele Hilang Akibat Banjir

Ketidakjelasan Penjual Obat

Kejelasan Tentang Udzur ‘Am di Zaman Masa Kini

-Download Materi Komisi A-

[Komisi B]

PERPPU Pembubaran Ormas

Legalitas Amil Zakat Tradisional

Fenomena Jemuran di Pesantren

Hutang Dibayar Hasil Panen

Standart Harga dalam Menghitung Zakat Tijarah

Melepas Hewan Peliharaan Berujung Meresahkan

Dilema Jalan Tol

-Download Materi Komisi B-

[Komisi C]

Kejahatan Saracen

Pencekalan Dai

Membantu Ibadah Orang Tua yang Sakit

Melepas Tanggung Jawab Barang yang Tidak Sesuai Spesifikasi

Menjawab Ucapan Salam yang Berulang-ulang

Memburu Belalang

Problematiaka Orang Yang Istihadhoh

-Download Materi Komisi C-

 

Tiga Puluh Piala Lomba Ilmiah

LirboyoNet, Kediri – Lomba Ilmiah Islami mencapai puncaknya Jumat (25/03) kemarin. Dimulai tiga pekan lalu, lomba ini diakhiri dengan penyerahan piala dan souvenir, sekaligus foto bersama pemenang, panitia lomba, dan dzuriyah muda Ponpes Lirboyo.

Sore itu, panitia agak ketar-ketir. Pasalnya, mendung gelap tidak juga beralih dari atas masjid Lawang Songo. “Tiga tahun terakhir, acara penyerahan hadiah selalu saja diiringi dengan hujan deras. Banyak santri jadi enggan ikut menyaksikan penyerahan,” tukas Aminuddin, salah satu panitia.

Nyatanya, mendung hanya mendung. Hujan yang dikhawatirkan tidak jadi turun. Walhasil, acara semakin meriah dan santri terus berdatangan.

Ada tigapuluh piala yang dibagikan kepada para pemenang dari sepuluh kategori lomba. Ditambah, satu piala bergilir yang diserahkan kepada juara umum. Sepuluh kategori lomba itu antara lain Adzan dan Muroqqi, Hifdzu Alfiyah, Hifdzu Arbain, Hifdzu Jurumiyyah, Musabaqah Qiraatul Kitab Fathul Qarib, Cerdas Cermat Islami, Musabaqah Tilawatil Qur’an, Presentasi Karya Ilmiah, Pildacil, dan Debat Hukum Islam.

Sepuluh lomba itu dipilah. Beberapa sengaja dilaksanakan di Jum’at terakhir, seperti Pildacil dan Final Debat Hukum Islam. Dilaksanakan demikian karena untuk menjaga keramaian dan antusias santri untuk terus mengikuti lomba ilmiah tahun 2016 ini.

Agus Ahmad Kafabihi selaku Ketua Panitia di awal pelaksanaan menegaskan, bahwa lomba ini bertujuan untuk mendorong santri agar semakin giat belajar. Putra KH. Abdullah Kafabihi Mahrus ini menambahkan, beberapa lomba sengaja digiatkan untuk merangkul kemampuan santri yang berkembang, yang tak melulu kitab dan nadzam. Lomba presentasi karya ilmiah misalnya. Ataupun Debat Hukum Islam.

Adapun hari terakhir ini menjadi milik para santri berusia 13 tahun ke bawah. Di sinilah mereka mendapat tempat untuk unjuk aksi lewat lomba Pemilihan Dai Cilik. Sekitar 30 peserta dibagi dalam tiga lokasi: serambi maqbarah, serambi kuning, dan serambi keramik. Dari tiga tempat inilah diambil masing-masing dua finalis.

Mereka yang mendapat kesempatan untuk melaju hingga ke babak final hanya mendapat waktu 15 menit untuk mempersiapkan materi dan mental kembali. Setelahnya, mereka harus mengerahkan kemampuan terbaik, demi memperebutkan juara dai cilik.

Penampilan Kafa Azmi menyita perhatian para penonton. Dengan waktu isitrahat sesempit itu, dia mengajukan tema berlainan dengan yang dibawakannya saat kualifikasi. Judulnya pun tak sederhana, “Korelasi antara Ilmu dengan Amal Shalih”. Santri Pondok Unit HM Al Mahrusiyah ini mengundang decak kagum para penonton dengan bahasanya yang lugas dan santun.

Setelah salat Jum’at, lomba dilanjutkan dengan Debat Hukum Islami. Dibuka dengan perebutan tempat ketiga antara kelas Satu Aliyah dengan Dua Aliyah, perlahan para santri mulai menyemut di serambi.

Diselingi dengan pembagian doorprize bagi penonton, Final Debat Hukum Islami terhelat juga. Juara satu diperebutkan oleh kelas Dua Tsanawiyah dan Tiga Aliyah. Masing-masing peserta membawa suporter. Tema debat “Islam Nusantara, Perlukah?” menjadi semakin menarik dengan hujjah-hujjah yang diajukan peserta.

Debat selesai 30 menit kemudian, dengan iringan riuh tepuk tangan penonton. Panitia segera membereskan meja dan mikrofon, menggantinya dengan susunan piala yang akan dibagikan.

Satu per satu pemenang dipanggil. Nama Himpunan Pelajar Madiun menjadi yang paling banyak didengar. Ini menandaskan, mereka lah yang menjadi Juara Umum pada perhelatan Lomba Ilmiah Islami tahun ini. Juga, ini menjadi kali kedua bagi mereka meraih Juara Umum, setelah tahun lalu mendapat gelar serupa.

Setelah para pemenang mendapat kesempatan berfoto bersama dengan para dzuriyah dan juga panitia pelaksana lomba, rangkaian acara kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Agus Adibussholeh Anwar.

“Sudah selesai hura-huranya. Setelah ini, kalian harus kembali ke aktivitas masing-masing. Masih ada muhafadhoh akhirusanah. Masih ada koreksian kitab. Disiapkan hafalannya. Dilengkapi lagi makna kitabnya,” pesan putra KH. M. Anwar Manshur itu kepada santri, sekaligus menutup perjumpaan sore itu.][