Tag Archives: mengajar

Semangat Menularkan Ilmu

Pengajaran dan pendidikan merupakan elemen terpenting dalam rangka membumikan ilmu pengetahuan. Sebagai pemegang estafet keilmuan untuk generasi masa depan, seorang guru atau pendidik memiliki keistimewaan yang begitu tinggi. Bahkan banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mengapresiasi peran dan jasanya.

Dalam rangka memberikan spirit dalam mengemban amanah mengajar, setidaknya para guru atau pendidik dapat memahami hal-hal berikut:

Mengajar adalah Ibadah

Mengajar ilmu agama merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pernah mengutip salah satu hadis yang berbunyi:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dan jika berkat pengajaranmu Allah SWT memberi petunjuk kepada seseorang, maka bagimu itu lebih baik dari pada dunia beserta isinya”.[1]

Selain itu mengajar merupakan salah satu bentuk dari upaya untuk mengamalkan ilmu yang dijanjikan Allah SWT untuk mendapatkan ilmu yang belum diketahuinya. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ تَعَالَى عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan memberikan ilmu yang belum pernah diketahuinya”.[2]

Mengajar adalah Proses Belajar

Salah satu metode belajar paling efektif adalah mengajar. Sebagaimana pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Yusuf dari madzhab Hanafiyah:

بِمَا اَدْرَكْتُمُ الْعِلْمَ ؟ قَالَ مَا اسْتَنْكَفْتُ مِنَ الْإِسْتِفَادَةِ وَمَا بَخِلْتُ مِنَ الْإِفَادَةِ. وَقِيْلَ لِإِبْنِ عَبَّاسَ بِمَا اَدْرَكْتَ الْعِلْمَ ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سُؤُوْلٍ وَقَلْبٍ عُقُوْلٍ

Abu Yusuf ditanya; Dengan apa kau mendapatkan ilmu?. Ia menjawab; Dengan tidak henti-hentinya belajar dan tidak pelit untuk mengajarkan. Ibnu Abbas juga pernah ditanya; Dengan apa engkau mendapatkan ilmu?. Ia menjawab; Dengan banyak bertanya dana akal yang jenius”.

Jawaban yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Yusuf sangat benar. Karena pada kenyataannya, ketika seseorang memiliki tuntutan mengajar secara otomatis ia memiliki tuntutan untuk menguasai materi yang harus diajarkan. Bahkan banyak sekali realita yang mengatakan ketika seorang guru banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru di tengah-tengah proses mengajar.

Mengajar adalah Kegiatan Paling Bermanfaat

Manfaat mengajar tidak hanya kembali kepada para santri atau murid. Namun pada hakikatnya proses mengajar memiliki kemanfaatan yang kembali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri“. (QS. Al-Isro’: 7) []waAllahu a’lam

 

__________

[1] Ihya’ Ulumuddin, I/10, cet. Darul Fikr.

[2] Bahru al-Fawaid, hlm 100.

Siswa Tiga Aliyah Siap Berkhidmah

LirboyoNet, Kediri—Khidmah adalah proses penempaan diri untuk membentuk karakter santri sebelum akhirnya betul-betul pulang dan bertempat di sekeliling masyarakat. Begitulah kira-kira apa yang disampaikan ustadz Thohari Muslim, pemateri Diklat Khidmah dan Mengajar yang diselenggarakan Kamis (02/02) kemarin.

Di awal materi, ustadz Thohari mengingatkan bahwa program wajib khidmah ini adalah kesempatan mulia yang diberikan oleh pesantren kepada para santri. “Jangan malah ngersulo (resah). Lihat mustahiq (guru) sampean. Mereka bertahan tidak hanya setahun, tapi sampai lima tahun, sembilan tahun.” Dengan berkhidmah dan mengajar, santri akan mempunyai kesempatan untuk menutupi kekurangan yang ada. “Sederhananya, mengajar itu belajar lagi,” jelas beliau.

Tidak ada kamus minder dalam berkhidmah. KH. Marzuqi Dahlan, atau Kiai Juki, sendiri telah mewanti-wanti santri untuk tetap mendedikasikan diri dalam proses ajar-mengajar, di manapun. “Isone alif ba ta yo diulangne alif ba ta, iso Sullam yo diulangne Sullam, (bisanya alif ba ta ya diajarkan alif ba ta, bisanya Sullam (kemungkinan besar kitab Sullam Taufiq, ­-Red) ya diajarkan Sullam), ungkap beliau menirukan maqalah Kiai Juki.

Tentu perjalanan khidmah nanti tidak bisa semulus yang dibayangkan. Akan ada halangan-halangan yang tidak diprediksi. Beliau memberi misal, “waktunya mengajar, ternyata ada undangan tahlilan di tetangga. Ini tidak bisa kita kukuh mengajar. (jika begitu) Akan dikucilkan masyarakat. Mengajar juga tidak bisa disampingkan. Lalu bagaimana? Titik tengahnya, tetaplah mengajar, meskipun sebaris. Setelahnya, baru hadiri undangan.” Dengan begitu, kita tidak meninggalkan tanggungjawab sebagai pengajar, juga tetap memiliki hubungan baik dengan masyarakat sekitar.

Acara sore itu adalah salah satu hajat dari tiga lembaga inti dalam naungan ponpes Lirboyo, yakni Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), Pondok Pesantren Lirboyo (P2L), dan Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM). Tujuannya, materi-materi yang disampaikan akan dapat menjadi bekal bagi para siswa kelas III Aliyah untuk menghadapi program wajib khidmah. Sehingga, mereka akan lebih siap dalam menerima tugas khidmah nanti.

Selain ustadz Thohari Muslim, acara yang digelar di Aula Al-Muktamar ini juga mendatangkan tutor lain, ustadz Zahrowardi, yang sama-sama alumni ponpes Lirboyo, dan telah mendapat peran penting di tengah masyarakat.

Beliau lebih dulu memberitahu para peserta bahwa afât (penyakit) yang paling berat kala berkhidmah nanti adalah hubbul jâh (cinta kedudukan) dan hubbul mâl (gila harta). “Ini yang nanti akan menjadi fitnah bagi kita,” tuturnya.

“Namun yang pasti, dalam bermasyarakat, jangan sampai menolak permintaan mereka. seberat apapun,” lanjutnya. Beliau memberi alasan, jika sekali saja permintaan itu ditolak, akan menutup peluang berperan di tengah-tengah mereka. Selain itu, beliau juga berpesan untuk menambah pengetahuan tentang kondisi dan lembaga-organisasi yang sedang berjalan, “pahamilah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah, bukan sekedar jamaah. Struktural, tidak hanya kultural.” Karena dengan terjun dalam organisasi, atau paling tidak mengetahui gerak-geriknya, akan dapat membantu kita untuk menentukan langkah dalam berkhidmah.][

Permohonan Guru Bantu Resmi Dibuka

LirboyoNet, Kediri—Setelah diresmikan pada tahun lalu, program Guru Bantu Pondok Pesantren Lirboyo mendapat apresiasi cukup hangat di kalangan para pemohon. Pada bulan Syawal lalu, yakni pemberangkatan perdana program ini, ada sekitar 130 santri yang disebar di penjuru negeri. Dari sekitar Kediri sendiri, hingga provinsi paling utara Indonesia, Aceh. Mereka dirasa memenuhi kebutuhan para pemohon, baik menjadi guru di pesantren, instansi pendidikan formal, maupun lembaga pendidikan lain.

Seperti diketahui sebelumnya, program ini bermula dari kebutuhan lembaga pendidikan di banyak daerah akan tenaga ajar. Dengan adanya santri yang diterjunkan ke berbagai daerah itu, diharapkan kebutuhan tenaga ajar dapat teratasi.

Karena dinilai mendapat sambutan yang baik, program ini dibuka kembali tahun ini. Bagi para pengampu yayasan pendidikan ataupun lembaga lain yang menginginkan guru bantu, Ponpes Lirboyo telah membuka pintu untuk mendaftarkan yayasannya sebagai penerima guru bantu.

Sesuai dengan amanah masyayikh, program ini sebenarnya bukan hanya bermanfaat bagi para yayasan penerima guru bantu. Hal yang juga menjadi harapan masyayikh adalah program ini bisa melatih santri untuk berkhidmah di tengah masyarakat. Selain itu, mereka juga dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi diri mereka, sehingga ketika benar-benar pulang ke tempat tinggalnya kelak, mereka akan dapat bergumul di lingkungan masyarakat dengan baik.

Tentu, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah yayasan sebelum permohonannya bisa diterima. Diantaranya, mengajukan surat permohonan resmi, yakni berlogo, berstempel, dan bertanda tangan pengasuh lembaga.  Selain itu, juga wajib melengkapi profil lembaga, seperti daftar pelajaran yang akan diajarkan guru bantu, jumlah santri, dan beberapa hal-lain.

Bagi para pemohon, keterangan teknis, formulir pendaftaran dan lainnya bisa didownload di sini.