Tag Archives: ekonomi

Menyongsong Revolusi Industri 4.0

LirboyoNet, Kediri- Siang tadi (18/03), Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri menggelar kuliah umum yang bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren Menyongsong Revolusi Industri 4.0” dengan mendatangkan Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, sebagai pembicara. Memanfaatkan momentum tersebut, ratusan mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIT Lirboyo Kediri yang mengikuti acara tersebut memadati ruang auditorium Al-Muktamar.

Dalam sambutannya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang sekaligus Rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri menyambut baik atas terselenggaranya kuliah umum tersebut dengan menjelaskan pentingnya ilmu dalam menjawab tantangan zaman. “Untuk menghadapi dunia ke depan, yang dibutuhkan adalah ilmu.” terang Yai Kafabih.

Sebagai pembicara, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa menjelaskan dengan sistematis dan terperinci perihal revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi dengan segala kemajuannya adalah realita zaman yang seharusnya diimbangi, terutama oleh generasi milenial yang dalam masa pendidikan, baik yang ada di perguruan tinggi maupun pondok pesantren.

Fenomena ekonomi digital di Indonesia telah berkembang pesat saat ini. Semua hal yang berkaitan dengan ekonomi dan industri banyak dilakukan secara online. Di sinilah tantangan generasi milenial seperti kalian harus mampu ikut serta dan mewarnainya demi kekuatan dan kemajuan ekonomi bangsa.” terang bu Khofifah.

Mengimbangi kemajuan teknologi digital tetap saja memiliki dampak negatif yang perlu diantisipasi dan diperangi, salah satunya mewabahnya hoax atau berita palsu. Hal itu disampaikan Guberner Jawa Timur yang baru terpilih ini di akhir sesi kuliah umum yang disampaikannya.[]

Brosur Isntitut Agama Islam TRIBAKTI Lirboyo Kediri :
-Brosur 1
-Brosur 2

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan kehidupan, seakan tidak memberi peluang celah sedikitpun untuk meloloskan perkara tanpa sentuhan hukum syariat. Selain mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Islam juga mengatur hubungan horisontal antar sesama manusia. Maka dari sinilah muncul istilah Fiqih Muamalah yang merupakan implementasi dari hubungan antar manusia tersebut.

Dalam term Fiqih klasik, Fiqih Muamalah menempati tangga urutan kedua setelah pembahasan mengenai praktek ibadah sehari-hari (‘Ubudiyah). Hal ini bukan berarti tanpa dasar, mayoritas para ulama berargumen bahwa hubungan muamalah antar manusia merupakan kebutuhan sekunder yang paling dibutuhkan setelah kebutuhan primer untuk beribadah kepada Tuhannya. Bahkan seluruh pembahasan Fiqih Muamalah telah mencakup seperempat dari semua pembahasan mengenai Ilmu Fiqih.

Urgensitas Fiqih Muamalah

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”, (QS. An-Nisa’: 29).

Islam memiliki perhatian serius terhadap dinamika sosial dan ekonomi umat. Sebab, aktivitas sosial-ekonomi merupakan salah satu pilar dari enam asas primer kehidupan (Al-Mabadi’ As-Sittah) yang menjadi cita-cita Islam (Maqashid As-Syari’ah), dimana Islam hadir untuk melindunginya. Yaitu perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din), perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs), perlindungan intelektual (Hifdhu Al-‘Aqli), perlindungan garis keturunan (Hifdhu An-Nasli), perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal), dan perlindungan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Proyek dari perhatian serius yang diberikan Islam terhadap aktivitas sosial dan ekonomi adalah melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Secara pengertian sederhana, dapat dipahamai bahwa Fiqih Muamalah merupakan sebuah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (maslahat), serta menjauhkan segala kemadaratan yang akan menimpa mereka.

Esensi dan konsep interaksi sosial-ekonomi (Muamalah) yang ditawarkan oleh Islam bukanlah sistem yang berorientasi pada kalkulasi antara untung dan rugi belaka, seperti esensi dari konsep yang ditawarkan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya melahirkan kesenjangan sosial semata. Namun, konsep muamalah yang diusung Islam adalah konsep hubungan interaksi dalam kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan.

Konsep kajian muamalah ini dapat dibuktikan dengan model kajian dan aturan yang dibahas di dalamnya. Seperti pelarangan praktek riba yang menindas, praktek manipulasi (Gharar) yang merugikan, praktek perjudian (Qimar) yang kotor, serta praktek spekulasi (Majhul) yang tidak jelas. Karena pada dasarnya, Islam melalui kajian Fiqih Muamalah melandaskan legalitas di setiap interaksinya, yang mana hal tersebut didasari atas saling rela dari pihak yang melakukan transaksi (An Taradlin). Sebagaimana sebuah hadis:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya Akad Jual-Beli hanya dilandasi saling rela”, (HR. Ibnu Majah).

Dari uraian tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa pemahaman, pengamalan, dan penyebaran Fiqih Muamalah menjadi suatu yang mendesak untuk saat ini.  Fiqih Muamalah merupakan solusi dan inovasi mutakhir di tengah kegersangan spiritual ekonomi umat. Karena prinsip dasar yang ditanamkan Islam dalam proyek membumikan Fiqih Muamalah adalah sukarela (Taradlin), keadilan (Ta’adul), saling membantu (Ta’awun), dan menciptakan kemaslahatan global (Rahmatan lil ‘alamin).

[]waAllahu a’lam

 

 

Talkshow Wirausaha Santri di Bidang Industri Kreatif

LirboyoNet, Surabaya – Ahad kemarin, 30 Oktober 2016, diantara acara pendukung dalam event ISEF (Indonesia Shari’a Economic Festival) adalah Talkshow Wirausaha Santri di Bidang Industri Kreatif. Sebagai pembicara, panitia menghadirkan H. Hadi Rahman, Staf Khusus Menteri Agama RI, Owner Jenahara, Moch. Ghozali, Ketua HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) dan Mohammad Rosihan, Kadin Bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif.

Dihadapan ratusan pengunjung dari berbagai kalangan yang terlihat antusias mengikuti talkshow, pemateri membeberkan banyak hal menarik terkait bagaimana seharusnya para santri lebih berperan dalam bidang ekonomi.

Staf Kementrian Agama RI, setelah memaparkan tentang kondisi ekonomi baik dalam maupun luar negeri berharap, umat muslim atau para santri harusnya lebih produktif lagi. Produktif dalam berbagai hal. Karena sudah waktunya tidak hanya menjadi konsumen, tapi sudah saatnya bisa menjadi produsen. “Produktif dari keilmuan, ekonomi, dan lain sebagainya. Sehingga muslim Indonesia bukan hanya besar kwantitasnya, tapi juga kualitasnya ikut andil dalam berbagai lini,” harap Hadi Rahman.

Menurut Nanida, Owner Jenahara, sebenarnya menjadi wirausaha itu tidaklah sulit. Karena selama ada tekad, pintar mencari peluang, semua pasti bisa. “Dan yang paling penting adalah, ketika memulai sebuah usaha niatkan mencari ridho Allah. Karena dengan niat itu, secara otomatis kita akan menjadi pengusaha yang profesional”.

Hal senada disampaikan oleh Mohammad Rosihan. Bahkan menurutnya, saat ini tidak ada alasan untuk tidak memilih jalur wirausaha. Meskipun banyak hal yang harus dipelajari, kita harus tetap yakin dalam perjalannya nanti hal itu akan ditemukan solusinya. “Bisnis itu seperti naik sepeda. Butuh waktu untuk belajar. Dan meskipun sudah bisa mengayuh, sesekali terjatuh adalah hal yang biasa. Tapi setidaknya, ketika kita jatuh, kita sudah bisa kembali bangkit dan mengayuh lagi”.

“Kegiatan semacam ini perlu digencarkan lagi. Karena setidaknya, setelah dari workshop semacam ini, mindset para santri sedikit berubah. Mereka mulai berpikir, setelah keluar dari pesantren tidak hanya menjadi guru ngaji. Tapi disamping jadi guru ngaji, mereka juga menjadi pengusaha”, terang Ketua HIPSI.

Ketika seorang peserta, Chevi, santri asal Gresik, dalam sesi tanya jawab bertanya tentang trik penjualan, semua pemateri sepakat, saat ini kita harus memanfaatkan era digital dengan berjualan di internet. Baik sekedar di sosial media, ataupun website.][

Pondok Lirboyo Mengikuti ISEF 2016

LirboyoNet, Surabaya – Untuk ketiga kalinya, Bank Indonesia kembali menggelar event ISEF (Indonesia Shari’a Economic Festival). Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo beserta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pada 27 Oktober lalu resmi membuka event ini di Grand City, Surabaya.

Melalui penyelenggaraan ISEF ini, BI berharap ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dapat terus meningkat, baik melalui kajian-kajian yang mendukung maupun pemahaman dan penerimaan masyarakat yang tinggi.

Tahun 2016 ini ISEF dibagi menjadi dua bagian besar, Shari’a Forum dan Shari’a Fair. Shari’a Forum sendiri berlangsung pada 25-28 Oktober kemarin. Kegiatan ini mengangkat dan berdiskusi mengenai berbagai topik dan pengembangan ekonomi syariah. Termasuk pula bagaimana integrasi sisi komersial dan sosial dalam ekonomi syariah untuk meningkatkan stabilitas sistem keuangan.

Untuk Shari’a Fair, konsep yang diangkat adalah aspek-aspek ekonomi syariah yang berpotensi untuk dikembangkan. Shari’a Fair menampilkan rangkaian pameran produk-produk UMKM kreatif berbasis syariah, termasuk produk-produk dari pondok pesantren. Selain itu, ada pula talkshow, workshop, hiburan dan festival kuliner.

Ada 18 pondok pesantren Jawa Timur yang tahun ini mengikuti ISEF, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo. Banyak produk menarik yang ditawarkan stand-stand pondok pesantren, mulai dari kerajinan tangan, makanan olahan, sampai dengan karya tulis para santri. Pameran ini akan berlangsung hingga besok, 30 Oktober 2016.][

Menkeu: Pesantren Potensi Besar Ekonomi Syariah

LirboyoNet, Surabaya – Industri keuangan syariah dunia masih didominasi negara-negara Teluk. Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, sudah sepatutnya ikut memberikan peran signifikan bagi perkembangan keuangan syariah. Meski masih berperan hanya 40 bn USD (bandingkan dengan Malaysia, 415 bn USD) dalam transaksi syariah, Indonesia memiliki peluang yang cukup besar.

Di Indonesia, ekonomi syariah tahun ini memang masih memberikan sumbangsih sebesar 314 triliun, atau 2,6% dari total PDB. Namun ini sebuah kabar bagus, jika kita tahu bahwa ia mengalami kemajuan 10% setiap tahunnya.

Fakta ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kuliahnya di ballroom Grand City, Jumat (28/10). Meski masih didominasi perbankan, menurutnya, industri keuangan syariah di Indonesia memiliki potensi-potensi yang masih bisa ditingkatkan. Semisal sukuk (surat berharga), takaful (asuransi), hingga BMT (baitul maal wa tanwil). Bukan tidak mungkin jika pada 2020 nanti syariah akan melampaui prediksi 3,2% dari PDB.

Apa yang membuat kita harus menanamkan harapan besar pada ekonomi syariah? Ani, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa industri keuangan pada dasarnya selalu berpijak pada trust, kepercayaan. Dalam APBN Indonesia tahun ini, trust itulah yang berusaha diperjuangkan. Pembangunan infrastruktur, pembersihan birokrasi, adalah salah satu usaha itu. Dan trust, adalah elemen terpenting dalam agama. Karenanya, ekonomi syariah, yang notabene berangkat dari agama, sejatinya memiliki peluang sangat besar untuk dipercaya para pelaku ekonomi.

Selain itu, pembangunan negara saat ini yang menjadikan infrastruktur sebagai prioritas, adalah kesempatan bagus bagi ekonomi syariah. Mengapa? Karena keduanya sama-sama mendudukkan aset sebagai instrumen terpenting. Karena prioritas pada aset itu pula yang menjadikan ekonomi syariah dianggap mampu memprediksi resiko lebih jauh.

Karakter syariah yang inklusif dan prudent, bijaksana, adalah juga sebuah nilai unggul. Maka pesantren, sebagai ‘rumah’ dari syariah, semakin ditunggu perannya saat ini. Pesantren, harap Ani, harus memulai memperkenalkan instrumen keuangannya, baik sukuk, takaful, maupun produk-produk lain. Peran inilah yang pada akhirnya akan menjadikan kita sebagai umat yang memberi, bukan umat yang meminta.][