All posts by santri lirboyo

Hukum Salat Menggunakan Masker

Di tengah wabah virus corona atau covid-19, penggunaan masker merupakan hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat, bahkan pada saat salat sekalipun.

Pada dasarnya, memakai penutup mulut ketika salat, seperti masker dan semacamnya, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Saw. melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.” (Faidah al-Qadir, VI/315)

Imam Nawawi menegaskan:

وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ … وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ

“Dan dimakruhkan menurut mulut dengan tangan dalam salat kecuali saat ia menguap… Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan salat.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/719)

Meskipun demikian, jika pemakain masker dalam salat sangat dibutuhkan, seperti karena khawatir terpapar virus corona, maka hal itu tidak masalah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا فِي الصَّلاَةِ وَالإِْحْرَامِ، وَلأَِنَّ سَتْرَ الْوَجْهِ يُخِل بِمُبَاشَرَةِ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ وَيُغَطِّي الْفَمَ ، وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَحُضُورِ أَجَانِبَ، فَلاَ كَرَاهَةَ

“Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika salat dan ihram. Karena sesungguhnya penutup wajah itu menghalangi seseorang yang melaksanakan salat (untuk menempelkan) secara langsung dahi dan hidung serta dapat menutupi mulut. Nabi Saw. juga melarang seorang laki-laki melakukan hal itu. Jika ada kebutuhan, seperti adanya laki-laki lain (bukan mahramnya bereda di dekatnya ketika salat), maka tidak makruh.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXXI/136)

Dengan demikian, menutup mulut menggunakan masker apabila ada kebutuhan semisal mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 diperbolehkan.
waAllahu a’lam.

Pasar Rakyat 2020

Dalam rangka memeriahkan MUNAS IV HIMASAL & Reuni Akbar VI Pondok Pesantren Lirboyo menggelar Pasar Rakyat yang bertempat di Lapangan Barat Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Acara yang dibuka untuk umum ini dimeriahkan oleh grup-grup musik Islami ternama, di antaranya Subbanul Muslimin & Gus Azmi (Probolinggo), At-Taufiq (Madura), Subbanus Salimiyah (Kediri), Gambus Ihsan Latif (Lampung), penampilan para finalis Lomba Rebana se-Karisidenan Kediri, serta Pameran Sejarah & Peninggalan Sesepuh Pondok Lirboyo.

Untuk Anda yang ingin Mendaftarkan Stand, Anda bisa menghubungi nomor
087738885857.
Jika anda ingin mensponsori, Anda bisa menghubungi nomor
08978093033

Informasi lebih lanjut bisa Anda hubungi nomor
085731372011

Memahami Arti Hari Ibu

Sejarah adanya Hari Ibu di Indonesia tepat pada tanggal 22 Desember, ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Peranan ibu dalam kehidupan seseorang tidak bisa digambarkan lagi. Sejak mengandung, melahirkan, sampai anak itu dewasa, ibu merupakan sosok yang tidak pernah berubah. Bahkan tidak pernah tergantikan. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. mengisyaratkan agar berbakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada berbakti kepada ayah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra. yang menceritakan bahwa suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah Saw. untuk menanyakan terkait seorang ibu:

مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ:أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أَبُوْكَ

Siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi: siapa lagi setelah itu?. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi:  siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu  bertanya lagi: siapa lagi setelah itu. Nabi kemudian menjawab, ayahmu.”

Tidak sampai di sana, kemuliaan seorang ibu pernah disinggung dalam hadis lain. Rasulullah Saw. juga bersabda bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatakan dari Anas bin Malik Ra.:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Bagaimanakah maksud dari hadits yang menyebutkan bahwa Surga itu di bawah telapak kaki Ibu? Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha menyebutkan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi:

إِنَّمَا اَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ يُعْطِيْ

Aku adalah pembagi, dan Allah yang memberi.”

Maha suci Allah akan kekuasaan-Nya, bahwa Nabi Muhammad lah kekasihnya yang diberi kekuasaan untuk membagi, bagaimana caranya agar umatnya bisa memperoleh surga dengan cara yang sederhana.

Sayyid Muhammad melanjutkan dalam karyanya bahwa ungkapan Nabi Saw. seperti “Surga di bawah telapak kaki ibu” menjadikan kita umatnya yang ingin menggapai surga bisa tersampaikan, jika mereka menempuh jalan birrul walidain atau berbakti orang tua, berkhidmah kepada mereka, terkhusus kepada ibu. Dengan menempuh jalan itu (birrul walidain) secara absolut dan tanpa kita sadari, sebagai umat kita sudah menjalankan perintah Nabi dengan taat, cinta, dan kasih sayang. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 215-216.

Don Quixote dan Ilusi Khilafah

Melihat kondisi hari ini, entah kenapa saya jadi teringat dongeng Don Quixote, seorang ksatria dari la
Manca karya Miguel de Cervantes. Dikisahkan, seorang lelaki tua bernama Alonzo Quinjano tergila-gila
dengan novel-novel petualangan yang ia baca. Hingga ia pun bertekad untuk menjadi seorang ksatria
yang akan menakhlukkan segala kejahatan dengan segala kisah heroiknya.

Singkat cerita, ia “mengangkat” kuda kurusnya sebagai “Rozinante (kuda sang ksatria)” dan mendapuk
seorang putri petani tua bernama Dulcinea Del Toboso sebagai “tuan putri” yang harus ia perjuangkan.
Tak lupa, ia juga menjuluki dirinya sendiri dengan “Don Quixote”, seorang ksatria dari la Manca.

Kelucuan demi kelucuan pun terjadi, sang Don Quixote mulai menganggap penginapan yang ia sewa
sebagai kastilnya. Sontak ia pun dianggap “gila” oleh pengunjung penginapan tersebut. Tak jarang,
tingkahnya yang lucu menyeretnya ke gerbang kematian.

Dikisahkan sang Don Quixote nyaris merenggang nyawa karena menyerang kerumunan prajurit yang
sedang menggiring tahanan penjara. Ia menganggap para prajurit adalah penjahat yang sedang
menyekap pengikut sang Don Quixote.

Di akhir cerita, Alonzo Quinjano ini pun menyadari bahwa selama ini ia hanya tertipu oleh ilusinya
semata. Kegilaannya selama ini pun berakhir cukup “dramatis”.

Walhasil, “kegilaan” karena ambisi yang terlalu besar dalam arwah “Don Quixote” terlihat merasuki
sebagian dari kita yang sangat percaya dengan kebangkitan khilafah.

Berbagai cara dilakukan mulai dari pendokrinan, anti kebangsaan, anti pancasila, dan sejenisnya sampai
menjatuhkan sistem NKRI dan menganggu stabilitas politik dalam negeri pun mereka lakukan. Pada
akhirnya, semua gerakan tersebut justru menjadi sebuah musibah bagi umat.

Uniknya, “kegilaan” ini akibat ekpektasi berlebihan dengan sistem khilafah yang mereka baca di buku-
buku dokrin mereka. Nyatanya sistem khilafah memiliki banyak kelemahan bila diterapkan dalam kondisi
politik internasional saat ini . Hal ini sama seperti cerita Alonzo Quinjano yang menjadi “gila” sebab
novel-novel heroik yang ia baca dan menjadi “lucu dan merepotkan” ketika ia mewujudkan
“kegilaannya”.

Berambisi untuk menciptakan suatu hal besar yang tidak tepat dengan kondisi dan situasi umat justru
menjadi masalah besar bagi banyak orang. Semoga saja (suatu saat nanti) mereka tersadar seperti akhir
kisah “Don Quixote”.

_____________________
Penulis, M. Tholhah Al Fayyadl, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017. Kini sedang
rihlah ta’allum di Kairo, Mesir.