All posts by santri lirboyo

Analogi Jumatan Virtual dengan Akad Nikah Online

Sebagian kalangan merumuskan sah pelaksanaan Jumatan virtual dengan pola analogi terhadap kasus akad nikah yang dilakukan secara online. Menurutnya, akad nikah virtual dengan praktek wali dan suami berada di daerah yang berbeda hukumnya adalah sah. Mereka berargumen potensi gharar (spekulasi) sudah tidak wujud di era sekarang, dan ketersambungan ijab kabul secara substantif (maknawiyyan) sudah terpenuhi.

Nah, sebelum masuk ruang diskusi penyamaan hukum Jumatan virtual dengan akad nikah virtual dengan segala dinamika argumentasinya, harus clear dulu hukum pelaksanaan akad nikah secara online, benarkah hukumnya sah?

Nikah online itu problem fiqhnya bukan dari ketersambungan ijab dan kabul atau ketiadaan spekulasi di era android, tetapi karena beberapa hal:

1. Tidak terpenuhinya syarat kehadiran wali, dua saksi dan mempelai pria dalam satu majlis.

Fiqh dasar sekalipun sudah bisa menjawab ketentuan ini, tidak perlu lompat terlalu jauh ke ushul Fiqh. Misalnya seperti ta’bir yg ada dalam Kifayatul Akhyar berikut ini:

[تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، صفحة ٣٥٨]
(فرع) يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل وَيجوز أَن يُوكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج فَلَو وكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج أَو أَحدهمَا أَو حضر الْوَلِيّ ووكيله وَعقد الْوَكِيل لم يَصح النِّكَاح لِأَن الْوَكِيل نَائِب الْوَلِيّ وَالله أعلم قَالَ.

2. Shighat Harus Sharih

Nikah disyaratkan menggunakan shighat sharihah, sementara shighat dengan perantara sambungan internet, telfon dan sejenisnya tergolong kinayah. Seperti keterangan dalam ibarat-ibarat berikut ini:

[الماوردي، الحاوي الكبير، ١٥٢/٩]
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا كَمَا قَالَ النِّكَاحُ لَا ينعقد إلا بصريح اللفظ دون كنايته، وَصَرِيحُهُ لَفْظَانِ: زَوَّجْتُكَ، وَأَنْكَحْتُكَ فَلَا يَنْعَقِدُ النِّكَاحُ إلا بهما سواء ذُكِرَ فِيهِ مَهْرًا أَوْ لَمْ يُذْكَرْ.

[حواشي الشرواني على تحفة المحتاج، ٢٢٢/٤]
(قَوْلُهُ: وَالْكِتَابَةُ إلَخْ) وَمِثْلُهَا خَبَرُ السِّلْكِ الْمُحْدَثِ فِي هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ فَالْعَقْدُ بِهِ كِنَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ.الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهم بن سميط جمع وتقديم : علي بن حسن باهارون ص 246التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإِجارة، فيصح ذلك بواسطة التلفون. أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح، والتلفون كناية

3. Akad nikah didasarkan kepada kehati-hatian

Akad nikah didasarkan kepada kehati-hatian, sebab urusannya berkaitan dengan menghalalkan kemaluan (hubungan intim), sehingga kehormatan kemaluan tidak ternodai. Karena itu disebutkan dalam sebuah kaidah:

يحتاط في الأبضاع ما لا يحتاط في غيرها.

Kesimpulan

Walhasil, Kasus akad nikah online yang dijadikan mulhaq bih / maqis alaih tentang keabsahan Jumatan virtual, tidak memenuhi standart ilhaq/ qiyas. Dalam ushul fiqh, syaratnya maqis alaih, hukumnya harus tsubut (jelas rumusan hukumnya) baik melalui nash, ijma atau kesepakatan dua ulama yang berbeda pandangan.

Lebih problematis lagi jika dikaitkan dengan metode ilhaqul masail binazhairiha. Apanya yang mau diilhaqkan / diqiyaskan bila hukumnya maqis alaih / mulhaq bih saja belum clear, sudah melompat ke teori Ushul Fiqh. Menurut saya lompatan-lompatan seperti ini adalah problem besar ketika penguasaan Ushul Fiqh tidak didasari pengetahuan Furu’ Fiqhiyyah (cabang permasalahan fikih) yang matang dan kokoh.

Solusi

Tidak perlu memaksakan jumatan virtual sepanjang tidak ditemukan argumen yang jelas dari Mazhab Empat. Protokol kesehatan yang tidak memadai di masjid, masih ada solusinya. Misalnya jumatan di rumah, mushola atau tempat lain dengan minimal 3 orang, 4 orang atau 12 orang, mengikuti pendapat Imam Sya’roni yang memperbolehkan berbilangannya jumatan sepanjang tidak menimbulkan fitnah. Kalau memang khawatir tertular, bisa berpedoman kepada khauf yang menjadi udzur jumatan.

Salam hangat untuk semuanya, mohon koreksinya bila saya salah.

Penulis: Muhammad Mubasysyarum Bih (Dosen Ma’had Aly Lirboyo Kediri)

Baca juga:
SEJUTA MANFAAT BELAJAR KAIDAH FIKIH

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Penulis Hafidz Alwy

Sebenarnya disadari atau tidak, dua prinsip yang sangat menentukan langkah umat Islam dalam menjalani kehidupannya, di mana kedua hal ini telah berhasil merubah tatanan dalam kehidupan umat Islam sendiri. Pertama adalah prinsip kekayaan, kedua adalah prinsip pengetahuan.

Selama ini persepsi terhadap kekayaan sudah lebih kepada pandangan negatif. Di mana kekayaan adalah sumber malapetaka, penghalang seorang manusia menjadi hamba Tuhannya karena lebih menghambakan diri pada kekayaan. Dan sederet stigma negatif yang dialamatkan pada kekayaan yang kesemuanya berputar pada kekayaan adalah mudarat.

Sehingga yang terjadi adalah jika ingin berada di jalan yang benar adalah dengan menjauhi kekayaan, menghindar dari gelimang harta dunia. Maka tidak heran jika seseorang yang berpandangan demikian, hidupnya menjauhi segala hal yang menjurus kepada kekayaan. Seperti bekerja keras, banting tulang, belajar ekonomi dan sebagainya. Otomatis kehidupannya pun jauh dari kekayaan.

Salahkah hal itu?

Suatu prinsip yang terbentuk akan tergantung bagaimana suatu pemahaman didapat. Mereka yang berprinsip bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang harus dijauhi biasanya memahami bahwa dalam Islam terdapat dorongan untuk menjauhi dunia dengan hiruk pikuknya karena menjadi sumber kemudaratan. Juga dengan melihat keadaan para panutan umat yang hidup dengan sederhana dan tidak begitu menghiraukan materi dunia.

Namun kiranya perlu meninjau kembali pada pemahaman yang didasarkan pada sikap panutan terdahulu terhadap kekayaan, benarkah mereka menjauhi materi duniawi sehingga menjauhi juga pada kekayaan?

Pertama, adalah yang paling jelas yaitu anjuran yang berulang kali dalam mendermakan harta kekayaan. Dengan anjuran yang paling pokok adalah zakat yang mana telah menjadi salah satu dari lima pilar rukun Islam. Zakat sangat jelas merupakan ajaran yang memerintahkan kepada umatnya untuk membelanjakan hartanya.

Kedua, terdapat ratusan ayat yang mengenai perbuatan baik. Anjuran untuk berbuat baik, beramal salih, beraktifitas yang berkualitas serta imbalan untuk semua itu baik di dunia maupun di akherat. Betapa hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Islam menghendaki segala perbuatan yang bermanfaat, baik dan bagus dalam kehidupan ini.

Ketiga, kiranya perlu menggambarkan bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabatnya terhadap harta. Apakah menjauhi atau malah menganjurkan?

Rasulullah bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Betapa hal ini menunjukkan bahwa pemberi adalah anjuran. Namun jika tidak memiliki apa yang diberikan bagaimana ia akan mendapatkan kebaikan tersebut. Kemudian juga dalam sabdanya : “Sebaik baiknya harta adalah harta baik di tangan orang yang baik.”

Suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid ketika ada utusan dari daerah Khaibar membawa hasil dari aset beliau. Dengan membawa sejumlah uang sekitar dua milyar. Lantas Rasulullah menggelar semuanya itu di samping beliau dan membagi-bagikan kepada orang-orang sampai tidak tersisa satu kepingpun sebelum beliau masuk rumahnya. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan kawanan kambing seluas lembah gunung kepada salah satu sahabat Rasul. Tentu ketika kita melihat bagaiamana dermawannya Rasulullah dan jumlah yang beliau dermakana, betapa menunjukkan bahwa beliau sangat kaya raya.

Kemudian bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Abdurrahman Ibn Auf berkata : “Betapa bagusnya harta ini, dengannya ku bisa menyambung kerabatku, dengannya pula aku mendekatkan diri kepada Tuhanku.” Begitu pula Zubair Ibn Awwam berkata : “Sesungguhnya dalam harta terdapat perbuatan-perbuatan baik, menyambung sanak keluarga, mendermakan untuk menjunjung agama. Begitu pula menstimulus budipekerti yang baik. Pada saat yang sama dalam harta terdapat kemuliaan dunia dan derajatnya. ”

Suatu ketika Umar ibn Khattab berkata : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang lantas ia membuatku kagum. Kutanyakan apa ia memiliki pekerjaan ? Jika dijawab bahwa ia tidak memiliki pekerjaan, maka hilanglah kekagumanku.”

Ia juga menyerukan kepada para fakir miskin : “Wahai para fakir miskin, angkat kepala kalian. Sesungguhnya sarana sudah sangat jelas. Berlomba lah dalam kebaikan, jangan kalian menjadi beban bagi umat Islam.”

Juga kita melihat bahwasannya kehidupan sahabat Rasulullah yang tercitrakan sebagai hidup yang sederhana ternyata tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki harta benda. Bahkan sebaliknya, perputaran perekonomian mereka sangatlah besar. Sebagai contoh :

Umar Ibn Khattab menikahi Umm Kultsum Binti Ali dengan mahar 40.000 (lebih dari 1 milyar, dengan asumsi 1 dirham 3,7 gram perak). Begitu pula Abdurrahman Ibn Auf menikahi seorang muslimah dari warga Anshar dengan mahar 30.000 (hampir satu milyar). Ada salah satu sahabat nabi yang suatu hari merasa gundah gulana karena hartanya menumpuk. Lantas ia mengadukan hal itu kepada istrinya. Oleh istrinya disuruh membagi-bagikan kepada kaumnya. Benar saja, ia membagikan hartanya. Selesai melakukan itu, ia menanyai kepada pegawainya berapa jumlah uang yang keluar? Ternyata 400.000 (kurang lebih 10 milyar)

Begitu pula jika kita lihat jumlah harta yang diwariskan oleh para sahabat ketika meninggal. Ibnu Mas’ud mewariskan 70.000 begitu pula Zubair ibn Awam mewariskan 500.000 ketika meninggal. Bahkan disebut-sebut warisan Umar Ibn Khattab mencapai nilai triliyun.

Bagaimana dengan anjuran miskin versi “mereka” ?

Sebenarnya ketika prinsip kesederhanaan dan menghindari kekayaan ketika diteliti lebih lanjut, selain tidak selalu benar, namun juga membawa kepada pola hidup yang tidak ideal menurut Islam itu sendiri. Karena jika prinsip antipati terhadap kekayaan ini sampai menjadi suatu budaya bagi masyarakat, tentu akan banyak mengalami kemudaratan.

Bagaimana tidak, jika suatu daerah menjadi dominan kemiskinan maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami bencana. Dan itu sangat dijauhi oleh Islam. Dalam Islam sendiri kemiskinan adalah momok yang harus diberantas. Dengan bukti adanya kewajiban zakat, anjuran yang berulang-ulang dalam mendermakan harta dan peduli terhadap sosial.
Sehingga sikap yang anti kekayaan ini tidak bisa dengan begitu saja menjadi prinsip kehidupan. Karena bagaimanapun juga dengan kekayaanlah suatu perjuangan bisa ditegakkan, suatu misi bisa dilaksanakan.

Sehingga pandangan pribadi saya. Kekayaan adalah sesautu yang netral. Tidak bisa disebut sumber petaka juga tidak bisa dikatakan harus dikejar hingga ajal menjemput. Kekayaan adalah sarana. Tergantung yang menggunakannya apakah mau diarahkan kepada kebaikan atau kejelekan.

Islam mengajak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang benar, yang mana tujuan akhirnya bukanlah untuk dipergunakan kesenangan semata. Namun lebih dari itu, sisi kemanusaan, sosial, saling membantu yang mana semua itu adalah tujuan yang mulia dan sangat ditekankan oleh Islam.

Kairo, Pasca Ujian Musim Panas 2019.

Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Baca juga:
KISAH HIKMAH: ANTARA IBADAH DAN KEKAYAAN

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?
SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia

Momentum peradaban Islam pada abad 16 M sampai 18 M ternyata tidak hanya digaungkan bagi kaum Jazirah Arab saja, melainkan ada sebagian kaum muslim non arab ikut berkiprah dalam peradaban tersebut. Salah satunya Syaikh Nawawi Al Bantani Al Jawi Al Makki.

            Kiprah Syaikh Nawawi dalam keilmuan Islam tidak hanya dirasakan bagi kaum muslim pada masa tersebut. Tetapi hingga masa sekarang, umat muslim seluruh dunia masih merasakan manfaat keilmuan beliau melalui karya-karyanya yang masyhur.

            Syaikh Nawawi merupakan seorang ulama Haramain yang lahir di Indonesia pada tahun 1230 H / 1813 M. Beliau berasal dari Tanara, Serang, Banten. Dalam garis keturunan jalur ayah yakni Syaikh Nawawi bin Kyai Umar bin Kyai Arabi bin Kyai Ali bin Ki Jamad bin Ki Janta bin Ki Mas Buqil bin Ki Masqun bin Ki Maswi bin Tajul Arsyi (pangeran Sunyararas) bin Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati).

            Dalam pemberian nama beliau, Kyai Umar sebagai ayahnya bertafa’ulan dengan nama ulama yang masyhur pada masa sebelumnya, yaitu Imam An-Nawawi. Karena kekagumannya beliau kepada ulama ahli fiqih dalam bidang masyhurnya asal Damaskus tersebut. Sehingga Kyai Umar memberi nama putranya dengan nama tersebut.

Pencarian Ilmu

            Pada masa kecilnya, Syaikh Nawawi dididik ayahnya dengan pendidikan dasar-dasar ilmu agama seperti membaca al-Qur’an, gramatika Arab, fiqih, teologi, dan lain-lain. Pada tahun 1821 M tepat usia delapan tahun bersama kedua saudaranya berangkat ke pesantren Kyai Haji Sahal Banten. Kemudian beliau melanjutkan belajar kepada Kyai Haji Yusuf ulama asal Purwakarta. Setelah itu Beliau menempuh belajar di Cikampek dengan mengembangkan ilmu bahasa Arab. Setelah merampungkan pendidikannya di Cikampek, Syaikh Nawawi beserta kedua saudaranya diminta pulang oleh kedua orang tuanya untuk membantu mengajar di pesantren yang diasuh oleh sang ayah.

            Karena kondisi politik di Nusantara yang tidak kondusif, pada tahun 1828 M, beliau meminta izin kepada ibunya untuk pergi menuntut ilmu ke Hijaz. Hingga sampailah beliau di tanah Hijaz dan bertempat tinggal di kampung Al Jawi serta mendapat pembinaan dari kaum muslim Nusantara yang sudah lama mukim di sana.

            Ketika di Hijaz, beliau berguru kepada banyak ulama. Di antaranya adalah Syaikh Junaid Al Batawi, Syaikh Mahmud bin Kannan Al Palimbangi, Syaikh Abdush Shomad bin Abdurrohman Al Palimbangi, Syaikh Yusuf bin Arsyad  Al Banjari, Syaikh Muhammad Shalih Al Mufti Al Hanafi , Syaikh Ahmad Al Dimyati, Syaikh Syaikh Hasbullah, Syaikh Zaini Dahlan, Syaikh Abdul Hamid Daghastani, Syaikh Muhammad Khatib Hambali.

Perjalanan Dakwah

            Pada tahun 1830 M, Syaikh Nawawi Al Bantani sempat pulang ke Nusantara serta ingin mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren ayahnya. Akan tetapi, karena akses beliau terbatas ketika mengajarkan agama Islam dan dakwahnya di Banten yang disebabkan adanya pembatasan gerak serta dimata-matai oleh pihak Belanda, maka beliau lebih memilih kembali ke Hijaz dan bermukim di sana.

            Ketika mengajar di Hijaz, Syaikh Nawawi sangat berpengaruh sekali keilmuannya, sehingga ribuan murid dari penjuru dunia banyak yang menimba ilmu dan keberkahan darinya. Tidak hanya itu, beliau sampai dijuluki imam An-Nawawi shoghir. Dalam berpenampilan, pakaian beliau sangat sederhana, tidak menampakkan ciri khas ulama pada umumnya di tanah Hijaz. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menyurutkan nyali beliau untuk mengajar di serambi Masjidil Haram. Karena yang dicari bagi muridnya adalah ilmunya bukan model pakaiannya.

Karya

            Terbukti dalam karyanya total ada 155 kitab (ada yang mengatakan 99 kitab). Di antara karyanya yang masyhur di kalangan pesantren yaitu Tafsir Al-Munir, Kasyifatu Al-Saja, Mirqoth Al-Shu’ud Al-Tashdiq, Nihayatu al-Zain, Al-Tausyekh ala fathu al-qorib, Uqudu Al- Lujain, Sullam Al-Munajat, Bahjatul Wasail, Tijan Al-Durari, Qomi’ Al- Tughyan, Salalim Al-Fudhola’, Nashaihu Al-Ibad, dan Muraqi Al-Ubudiyah.

            Begitu Tekunnya beliau dalam berkarya, sekali beliau menuliskan karya, di sampingnya beliau sediakan minyak untuk menyalakan lentera penerangan yang banyak. Sehingga ketika minyak dalam tong tersebut habis, maka rampunglah beliau dalam menuliskan karya tersebut. Ketika lentera tersebut belum mati, beliau tidak akan berhenti untuk menulis.

            Syaikh Nawawi wafat pada usia 66 tahun tepat pada tanggal 25 Syawal 1314 H / 29 Maret 1879 M. Beliau dimakamkan di Ma’la berdekatan dengan makam Syaikh Ibnu Hajar dan Sayyidah Asma binti Abu Bakar Ra. Syaikh Nawawi meninggalkan karya yang bermanfaat bagi dunia Islam, sehingga masih dirasakan dan diabadikan sampai sekarang. Dari karya tersebut, banyak bermunculan ulama dan ilmuan muslim yang terilhami darinya. Kita sepatutnya harus melanjutkan estafet di masa mendatang sebagai generasi penerus dari kaum milenial yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.

Referensi:
  • Nawawi Al-Jawi, Muraqi Al-Ubudiyah, Al-Hidayah,Surabaya
  • Ulum Amirul,Al-Jawi Al-Makki Kiprah Ulama Nusantara Di Haramain, Yogyakarta.Global Press
  • Maftuhin Adhi, Sanad Ulama Nusantara, Sahifa, Bandung

Penulis: Muhammad Fahim Bariklana (Asrama Nganjuk)
Editor: M. Chozinul Fahmi

Baca juga:
KITAB SIRAJUT THOLIBIN, KITAB KLASIK KARYA ULAMA NUSANTARA

Simak juga:
Santri Kudu Wani Mlarat

# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia
# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia

Khutbah Jumat: Keimanan Menciptakan Keharmonisan Masyarakat

KHUTBAH I

الحمد لله الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنا بِأَنْواعِ النَّعَمِ ولَطَائِفِ الْإِحْسَان, وفَضَّلَنا عَلى سائِرِ خَلْقِهِ بِتَعْلِيْمِ الْعِلْمِ والْبَيَان, أَشهد أَنْ لاإِلهَ إلَّا الله وأَشهد أَنَّ سَيَّدَنا محمدًا عبدُهُ ورَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

أمَّا بعدُ. فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

فَياعِبادَ اللهِ. اتَّقُوااللهَ  حَقَّ تُقاتِهِ  ولا تَمُوتُنَّ إِلَّا وأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Sidang Jum’at yang dirahmati Allah …

            Di hari dan tempat yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

            Mari kita letakkan sesuatu pada tempat yang selayaknya dan kerjakanlah sesuatu pada waktunya. Ketahuilah bahwa seorang hamba dibangkitkan dalam keadaan bagaimana ia mati. Karena itu janganlah kita mati kecuali dalam keadaan muslim. Sejalan dengan firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ( Q.S. al-Imron : 102 ).

Rasulullah Saw. telah bersabda :

عَنْ أَنَسٍ بن مالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ( متفق عليه)

Artinya : Dari Anasbin Malik r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”( Mutaafaqun ‘alaih).

Hadirin Kaum Muslimin yang berbahagia di sisi Allah …

Hadist ini cukup pendek, tapi makna dan cakupannya sangat luas. Dapat kita ambil beberapa pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya pentingnya persatuan dan kasih sayang. Islam bertujuan menciptakan manusia yang penuh keharmonisan dan penuh kasih sayang. Setiap individu hendaknya berusaha mendahulukan kemaslahatan umum dan kedamaian masyarakat sehingga tercipta keadilan dan kedamaian. Semuanya tidak akan terwujud kecuali jika individu yang ada dalam masyarakat menghendaki kebaikan dan kebahagiaan kepada orang lain seperti ia menghendaki untuk dirinya sendiri. Karena itu Rasulullah Saw. menjadikan sikap ini erat kaitannya dengan keimanan, bahkan menjadi konsistensi keimanan seseorang dalam dimensi kemanusiaan.

Keimanan yang sempurna. Keimanan tidak akan kokoh dan mengakar di hati kita sebagai umat muslim kecuali jika kita menjadi manusia yang baik, menghindari egoisme, rasa dendam, kebencian, dan kedengkian. Kita berusaha menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain sebagaimana menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk kita sendiri.

Peduli terhadap sesama manusia. Termasuk bentuk kesempurnaan iman adalah kepedulian dan kecintaan terhadap sesama manusia termasuk terhadap non-muslim. Mencintai orang- orang non-muslim artinya mencintai mereka agar beriman juga membenci kekafiran dan kefasikan yang mereka lakukan sebagaiamana seorang muslim membenci kefasikan dan kekafiran yang terjadi pada dirinya.

Berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Berlomba- lomba dalam kebaikan adalah merupakan sebagian dari kesempurnaan iman. Karena itu seseorang yang ingin memiliki keimanan dan ketakwaan seperti yang di miliki orang yang lebih saleh bukanlah sesuatu yang salah dan juga bukan sifat dengki, bahkan sikap seperti ini merupakan bukti keimanan seseorang dan termasuk perbuatan yang di isyaratkan Allah dalam firman-Nya :

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya : “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” ( Q.S. al-Muthoffifin : 26 ).

Keimanan menciptakan masyarakat yang bersih dan berwibawah. Hadist yang berbunyi :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Mendorong setiap musim agar senantiasa berusaha membantu orang lain untuk melakukan kebaikan. Karena hal ini merupakan kebaikan dan bukti tanda keimanan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang bersih da berwibawah. Kebaikan akan tersebar luas, kejahatan dan kedzaliman akan tersisih sehingga terciptalah keharmonisan dalam setiap lini kehidupan. Mereka seakan satu hati. Kebahagian saudaranya adalah kebahagiannya, kesedihan saudaranya adalah kesedihannya juga. Masyarakat yang seperti inilah yang seharuslah terbentuk dalam komunitas muslim sebagaimana di sinyalir beliau Rasulullah Saw. dalam hadistnya :

عَن النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى  ( متفق عليه)

Artinya : “Riwayat dari Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka dan saling mengasihinya adalah laksana satu tubuh, jika satu anggota badan mengeluh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut sakit, dan panas turut merasakan sakitnya ”. (H.R.  al-Bukhari dan Muslim).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

Mudah-mudahan khutbah singkat ini bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua, dan di jadikan nilai tambah dalam rangka peningkatan kwalitas iman dan islam kita ke taraf yang lebih baik. Semoga Allah berkenan menjadikan kita semuanya menjadi orang-orang yang istiqomah iman, istiqomah dalam tauhid istiqomah dalam amaliah.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ

تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ.

اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Simak juga:
Kisah Kafur, Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DALAM BINGKAI NEGARA DEMOKRASI

Berbicara perihal amar makruf nahi munkar tidak bisa lepas dari kebebasan. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat bagi rakyat merupakan persyaratan mutlak untuk berlangsungnya sistem demokrasi. Karena hanya dengan kebebasan berpendapat, rakyat dapat berperan sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Namun banyak sekali yang menganggap kebebasan bernegara tanpa memiliki batasan.

Baik batasan agama, hukum, maupun norma sosial. Pemahaman seperti ini, sebenarnya sangat mudah untuk disalahkan. Sebab, secara kemanusiaan, se-bebas apapun orang berbuat sesuatu akan tetap terbatasi oleh kebebasan orang lain.

Kebebasa berbicara (Freedom of Speech)

Kebebasan berbicara adalah saat masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya pada publik tanpa rasa takut. Entah pendapat tersebut berupa kritik atau dukungan terhadap pemerintah.

Hal yang perlu di perhatikan ialah kebebasan berbicara dalam konteks demokrasi bukan untuk bebas melontarkan perkataan caci maki, hinaan, pelecehan, atau ujaran kebencian. Kebebasan rakyat adalah ketika rakyat bebas untuk menyatakan pendapat, kritik, ide, dan pikiran atau gagasannya.

Sehingga, eksistensi rakyat tetap terjamin sebagai manusia merdeka. Inilah koridor kebebasan berbicara yang jadi nilai fundamental dalam demokrasi.

Dalam islam sendiri, kebebasan berpendapat mendapatkan jaminan penuh. Sampai-sampai dalam tataran tertentu, persoalan ini lebih penting dari sekedar kebebasan itu sendiri. Bahkan, telah menjadi suatu kewajiban yang ada dalam bingkai amar makruf nahi munkar. Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis:

قل الحق ولو كان مرّا

“Katakanlah kebenaran meskipun pahit.” [HR. Ibnu Hibban]

Umat islam pada umumnya, ketika melihat kemungkaran nyata wajib baginya untuk mencegah dengan tindakan, lisan, atau ingkar dalam hatinya. Sesuai dengan level kemampuannya. Rasulullah Saw. bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم

“Dari Abi Sa’id al-Khudri R.a. beliau bekata: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa melihat sesuatu yang mungkar, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; ini termasuk dari lemahnya iman.” [HR. Muslim]

Dalam konteks bernegara, islam sangat mengapresiasi kebebasan berbicara. Dalam Islam juga dijelaskan bahwa kebenaran di depan pemimpin yang lalim, dinilai sebagai jihad paling utama.

Sebuah hadis menyebutkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Jihad yang paling utama adalah berkata kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi]

Tatacara amar makruf nahi mungkar

Sudah sepatutnya memerintahkan sesuatu yang baik juga harus dengan cara yang baik. Tidak diperbolehkan memerintah kebaikan dengan cara yang tidak baik.

Imam Zainuddin al-Malibary dalam kitab I’anah at-Thalibin menjelaskan bahwa;

“Kewajiban amar makruf nahi mungkar menjadi gugur, apabila dapat mengancam keselamatan jiwa, harta, anggota tubuh, pelecehan seksual. Atau menimbulkan kerusakan lain yang dampaknya lebih besar.”

Tahapan amar makruf ini meliputi; Ta’rif (memberikan pendidikan atau penyuluhan). Wazh (memberikan peringatan dan nasihat). Ketiga, Takhsyin fi al-qoul (memberikan kritik dan kecaman yang tegas). Keempat, Man’u bil qahri (melakukan pencegahan secara paksa).

Dalam tahapan tersebut, dua tahapan terakhir hanya menjadi hak eksklusif pemerintah atau imam (dalam agama). Saat masyarakat umum yang melakukan hal tersebut, akan sangat berpotensi menimbulkan fitnah.

Standar Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Melaksanakan amar makruf nahi mungkar, memiliki beberapa standar yang harusnya dipenuhi. Agar bisa diterima dan bukan malah menimbulkan penolakan.

Standar ini diantaranya; amar makruf dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu yag luas (baca; alim) agar tahu batasan-batasan hukum. Atau dilakukan oleh orang yang wira’i agar motifnya benar-benar melakukannya dengan ikhlas, bukan karena hawa nafsu.

Atau dilakukan oleh orang yang memiliki integritas moral (akhlak yang baik), agar amar makruf nahi mungkar dilaksanakan dengan cara santun, dan penuh dengan hikmah, serta terhindar dari cara yang tidak sesuai, seperti melakukan perusakan, atau pengeboman ditempat-tempat maksiat, apalagi dilakukan oleh masyarakat umum.

Dalam al-Quran, Allah Swt. telah menyinggung perihal amar makruf nahi mungkar, seperti dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Q.S. an-Nahl; 125]. []

Penulis: Iskandar Nidhom (Santri Pondok Pesantren Lirboyo, asal Bangkalan-Madura)

Baca Juga: RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN | PART 2

Youtube Pondok Pesantren Lirboyo