All posts by santri lirboyo

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf | Thaharah bukan sekedar membersihkan sisi lahiriyah semata, tetapi juga hal-hal yang bersifat bathiniah. Ahli Thariqah menjelaskan bahwa wudhu, mandi, dan tayamum sekaligus dapat membersihkan segenap unsur non-lahiriah di dalam diri manusia.

Air atau debu tidak saja membersihkan kotoran fisik, tetapi secara simbolik ia membersihkan jiwa, pikiran, dosa yang menyangkut hadas kecil dan besar, serta kekhilafan, baik yang dilakukan anggota badan manusia maupun yang terselip dalam pikiran dan jiwa.

Anggota tubuh yang harus dibersihkan ketika berwudhu telah dijelaskan langsung di dalam Firman Allah Swt. Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu hingga kedua sikut dan sapulah kepalamu kemudian basuh kedua kakimu hingga kedua mata kaki.”

Dalam pandangan Ahli Thariqah, anggota tubuh yang harus dibasuh ketika kita berwudhu ternyata anggota badan yang memang paling sering untuk melakukan dosa. Bayangkan saja mengapa yang pertama kali kita membasuh wajah? Karena di sekitar itu terkumpulnya panca indra yang paling rawan dalam melakukan dosa.

Pertama mulut. Berapa banyak orang menjadi korban saban hari karenanya? Baik berupa makian, fitnah, amarah, dusta dan sebagainya. Atau makan dan minum dari barang yang syubhat bahkan mungkin yang haram. Kedua mata. Ia dapat saja melihat atau mengintip objek yang sesungguhnya dilarang. Itu hanya di area wajah saja.

Kemudian kenapa harus mensucikan ‘kedua tangan’? Kita tidak tahu apa dan siapa saja yang pernah kita pegang, remas, tuding atau dipukul oleh tangan kita.

Selanjutnya telinga. Terkadang kita lebih sering menggunakannya untuk mendengarkan musik yang mengajak kita untuk melupakan Tuhan atau hal-hal yang tidak berfaidah lainnya.

 Demikian pula kaki. Ke mana saja kaki kita melangkah setiap harinya? Lebih banyak mana digunakan untuk melangkah ke masjid, tempat-tempat beribadah atau ke tempat-tempat yang penuh maksiat? Yang paling tahu tentang apa saja yang dilakukan oleh anggota badan ialah kita sendiri dan Sang Pencipta. Wajar saja apabila anggota badan tersebut yang diperintahkan oleh Tuhan untuk disucikan.

baca juga: Hukum Membersihkan Make Up Sebelum Wudhu

Kesan Ahli Thariqoh

Ternyata para Ahli Thariqoh di saat berwudhu selalu berdoa saat anggota wudhunya dibasuh atau diusap, supaya terselamatkan dari api neraka dan memberi tanda cahaya terang pada hari kebangkitan di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh anggota tubuh yang selalu dibasuh air wudhu akan menampakan cahaya terang benderang, sehingga menjadi suluh (obor) yang dapat menerangi jalan menuju padang mahsyar bagi mereka orang yang tidak pernah tersentuh oleh air wudhu, ia hanya akan meraba-raba dalam kegelapan.”

Malaikat pun diperintahkan untuk mengindentifikasikan siapa di antara mereka yang taat, yaitu dengan munculnya cahaya terang pada anggota badan yang pernah dibasuh air wudhu.

Oleh karena itu, bagi kita yang selalu berwudhu atau menjaga wudhu, maka anggota tubuh yang dibasuh air wudhu kelak akan memiliki cahaya abadi pada hari kiamat. Kita yang hanya kadang–kadang berwudhu juga akan memiliki cahaya, kadang muncul dan menghilang. Oleh sebab itu, sungguh sangat disayangkan bila seseorang yang tidak dapat mengambil kesempatan untuk mendapatkan cahaya tersebut.

Berangkat dari keterangan tersebut maka kiranya dapat penulis simpulkan bahwa orang yang menjaga wudhu (daimul wudhu) atau selalu dalam keadaan berwudhu memiliki keistiwaan yang sangat luar biasa, baik itu di dunia maupun kelak di akhirat.[]

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf

Penulis: Kang Miftah

tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul Khatimah

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia | Penulis: Segenap PBM Ma’had Aly Smt I-II

Al-Quran, merupakan induk segala jenis ilmu pengetahuan. Melihat tidak ada suatu apapun yang terlepas dari peranan al-Quran. Sebagaimana Firman Allah SWT.

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ (الأنعام :38)

            Artinya: Tidak ada sesuatu apapun yang kami luputkan di dalam kitab. (QS. Al-An’am: 38)

Begitu juga dalam persoalan ilmu kedokteran. Jauh sebelum berkembangnya peradaban, al-Quran telah membahasnya.

Berawal dari sebuah ayat:

 يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ فِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ (النحل:69)

            Artinya: “Dari perut lebah keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Madu adalah sebuah cairan yang mengandung obat. Jika kita mengeksplorasi lebih dalam persoalan ini. Kita akan tahu bahwa sebagian dari prinsip-prinsip kedokteran terkandung dalam kandungan makna ayat tersebut.

 Kajian tentang ayat di atas

Pertama,  kita mengkaji dengan metode Ilmu Tafsir dan Ushul Fiqh. Pada redaksi ayat, huruf  “في” pada lafadz “فيه شفاء” bermakna dzorfiyyah majaziyyah. Dalam pengaplikasiannya bahwa madu adalah dzorof (wadah). Sedangkan obat sebagai madzruf (isi). Wadah pada umumnya lebih luas dari pada isinya, maka bisa menarik kesimpulan bahwa tidak semua obat terkandung sebuah madu.

Status lafadz “شفاء” juga demikian. Karena berupa isim nakiroh yang berada pada susunan kalam istbat (kalimat positif), maka lafadz tersebut termasuk lafadz yang خاص (khusus), dan tidak bermakna umum. Kesimpulan yang dapat kita ambil disini yakni, bahwa madu merupakan obat yang dapat menyembuhkan sebagian penyakit saja.

Mengenai lafadz للناس pada ayat di atas, tidak jauh dengan lafazd sebelumnya. Walaupun merupakan lafadz mufrod ma’rifat yang konsekuensinya termasuk lafadz عام (umum), tapi keumumannya tidaklah menyeluruh—dalam artian bermakna umum. Namun tidak bisa menyeluruh terhadap semua perseorangan. Dalam Ushul Fiqh disebut dengan العام البدلي yang mengandung makna bahwa madu merupakan obat untuk sebagian personal saja.

Walhasil. Dari penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa di dalam madu terkandung sebuah obat untuk sebagian penyakit. Hanya saja tidak secara menyeluruh madu bisa menyembuhkan penyakit, namun hanya sebagian saja.

Kedua, ada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan ayat tersebut. Yakni Nabi pernah didatangi oleh seseorang yang mengadu bahwa saudaranya sedang sakit perut (diare). Kemudian Nabi meminta kepadanya untuk diminumkan madu. Kemudian ia pergi dan mencari apa yang dipinta oleh Nabi.

Tak lama kemudian, ia datang kembali menemui Nabi. Ia mengabarkan bahwa sakit yang diderita saudaranya bertambah parah setelah minum madu. Lantas Nabi tetap memintanya untuk meminumkan madu kepada saudaranya yang sakit. Bahkan hal itu terjadi sebanyak tiga kali. Pada minuman yang ketiga kalinya, akhirnya sakit perut yang diderita oleh saudaranya sembuh.

baca juga: Kopi dan Beberapa Khasiatnya

Hikmah yang dapat diambil

Hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa itu, para ulama berkomentar bahwa alasan Nabi memintanya untuk meminumkan madu adalah karena diare yang diderita olehnya. Disebabkan oleh terkumpulnya kotoran pada perut dan usus yang menyebabkan tercegahnya makanan masuk ke dalam tubuh diolah oleh tubuh dan langsung terbuang begitu saja tanpa adanya pengolahan. Lalu Nabi memerintahkan untuk meminumkan madu kepadanya. Karena madu bersifat panas, madu mampu menghancurkan kotoran yang ada pada perut dan usus.

Lantas, yang menjadi persoalan, mengapa penyakit tidak langsung bereaksi setelah diberi minum dan harus menunggu sampai tiga kali minuman? Hal ini disebabkan dosis yang pertama terlampau sedikit, akibatnya tidak langsung bereaksi terhadap penyakit. Kemudian diperintahkan untuk mengulanginya lagi hingga tiga kali, sehingga kadar dosis yang telah diminum telah sesuai. Dan ia dapat sembuh seperti sedia kala atas izin Allah.

Kolaborasi antara ayat dan hadis di atas, memberi kepada dua kesimpulan yang merupakan sebuah prinsip pada dunia permedisan.

Pertama, dalam pengobatan haruslah mempertimbangkan kondisi suhu tubuh si penderita. Bila kondisi suhu tubuhnya dingin, seperti diare, flu, liver dan sebagainya. Maka mengharuskan diberi obat yang bersifat panas. Karena tabiat penyakit akan sembuh saat diberi obat dengan sifat kebalikannya.

Kedua, sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam dunia medis adalah dosis yang digunakan. Karena apabila kandungan obatnya terlalu rendah, ia tidak akan optimal dalam menyembuhkan. Begitu juga sebaliknya, jika terlalu tinggi, niscaya akan melemahkan tubuh dan memunculkan penyakit lain.

Kendati demikian, diakui atau tidak. Sebenarnya banyak prinsip-prinsip kedokteran yang mengadopsi dari Al-Quran. Hal inilah hanya sebagai contoh kecil. Masih banyak hal lain, tergantung bagaimana sumber daya manusia dalam menyikapi. []

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia

tonton juga: Apa Itu FKI?

Tipuan dari Sang Iblis

Tipuan dari Sang Iblis | Sahabat Abdullah Umi Maktum adalah seorang yang tidak bisa melihat. Suatu hari beliau berangkat jama’ah ke Masjid, di tengah jalan beliau tergelincir dan terjatuh hingga beliau terluka.

Keesokan harinya beliau berangkat jama’ah lagi. Anehnya mendadak saja ada pemuda yang berbaik hati mau mendampingi beliau menuju masjid. Supaya sahabat Ibnu Maktum tidak tergelincir dan jatuh lagi.

Hari-hari berlalu, si pemuda itu selalu setia mendampingi sahabat Ibnu Maktum jikalau hendak berangkat jama’ah lima waktu. Karena didorong rasa penasaran dan rasa terima kasihnya akhirnya beliau bertanya identitas si pemuda. Awalnya si pemuda enggan memberitahu identitasnya. Namun akhirnya ia mau mengaku setelah sahabat Ibnu Maktum mendesaknya. “Saya adalah Iblis yang menyamar, semenjak kamu terjatuh ketika hendak berangkat ke masjid, separuh dari seluruh dosa yang anda miliki berguguran. Dan saya khawatir jikalau anda terjatuh untuk kedua kalinya maka dosa-dosa yang anda miliki akan berguguran semua. Jadi, saya mengantar anda tiap kali berangkat ke masjid untuk memastikan bahwa anda tidak terjatuh lagi di jalan.”

***

Kita telah mengenal iblis beserta setan sebagai musuh para manusia, dan itu bukan main-main, mereka menggoda para manusia agar terjerumus pada kesesatan atau setidaknya pada kerugian. Semacam kisah sahabat Abdullah Ibnu Maktum di atas. Saya teringat ucapan orang tua dulu, bahwasanya setan mencari teman untuk di jadikan ancik-ancik (tempat berdiri) di neraka dengan cara menggoda manusia.

Para Setan dalam beraksi pun memiliki caranya sendiri. Ada yang sudah ahli pada bidangnnya. Sebut saja setan A’war, ia beraksi bagaikan koboy, ia adalah setan yang menggoda manusia sebagai penggoda dalam urusan birahi. Dia membangkitkan birahi seorang pemuda dengan jalan meniupi kemaluanya, dan jika seorang pemudi dia akan meniupi bagian pantatnya. Lantas setan A’war akan tertawa kegirangan ketika kedua muda mudi tadi melakukan perbuatan zina.

Ini baru satu dari sekian banyak jenis Setan. Sebenarnya jenis setan ada banyak sekali. Tapi pada kesempatan kali ini saya lebih ingin menyinggung jenis setan yang sering menggoda para tolabul ilmi, atau bisa kita sebut Santri. Yakni setan yang berjuluk: Setan Nganan

baca juga: Cerpen Santri: Kisah yang Mengisahkan

Mengenal lebih jauh Setan Nganan

Sesuai namanya frasa Nganan yang di ambil dari akar kata kanan memiliki artian identik pada suatu perbuatan baik. Sedangkan setan memiliki pekerjaan yang condong pada perbuatan buruk. Apakah ini bertentangan? Tidak. Karena justru kanan yang di maksud di sini adalah salah satu trik atau tipuan si setan guna menjerumuskan manusia.

Pada umumnya setan menggoda manusia dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Namun setan Nganan ini berbeda, ia menjerumuskan korbannya dengan iming-imingi kebaikan, namun alih-alih mendapatkan kebaikan, justru si korban akan melenceng dari tujuan utamanya. Masih untung, terkadang si korban mendapatkan kebaikan namun dari jalan yang di tawarkan si setan kendati demikian yang didapatkanya itu bukanlah tujuan sebenarnya. Dan kebanyakan selalu berakhir dengan penyesalan si korban karena gagal menggapai kebaikan yang ia incar.

Selain setan Nganan ada pula setan yang menggunakan trik konveksional dalam mengganggu tolabul ‘ilmi. Teringat cerita guru bahasa jawa saya sewaktu SMP dulu. Setan menggangu pencari ilmu dengan tiga cara (trik). pertama, menggunakan tepung. Tepung itu nanti ditaburkan ke muka si pencari ilmu supaya ia mengantuk lantas tertidur. Maka jika ingin menghilangkan efek tepung itu adalah dengan berwudlu.

baca juga: Kebenaran di Kelas Syamsul

Kedua, dengan menggunakan jarum. Konon setan akan menusuk-nusukan jarum tersebut ke pantat seorang pencari ilmu supaya ia merasa tidak betah dan segera hengkang dari majelis ilmu yang ia hadirinya.

Ketiga, adalah jurus pamungkas dan juga merupakan jurus andalan ketika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Yaitu dengan mengalihkan pikiran atau perhatian si pencari ilmu. Sehingga fokus perhatian yang seharusnya dicurahkan pada pelajaran menjadi terganggu sebab memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan saat itu.

Uraian tadi hanyalah sekelumit dari sekian banyak trik setan dalam mengganggu seorang pencari ilmu.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa para setan mengganggu seorang pencari ilmu? Ternyata jawabanya adalah karena mereka takut kepada seorang yang ahli ilmu.

Dikisahkan pada suatu malam setan berputar-putar di sekitar masjid. Usut punya usut ternyata dia sedang kebingungan. Kala itu di dalam masjid ada seorang ahli ibadah yang sedang beribadah dan seorang ahli ilmu yang sedang tertidur. Konon si setan takut menghadapi sang ahli ilmu yang tertidur, bukannya takut pada sang ahli ibadah. Mengapa? karena jika si setan menyesatkan sang ahli ibadah, saat itu juga dia khawatir sang ahli ilmu akan terbangun, dan malah meluruskan kembali si ahli ibadah. Sedangkan setan sendiri tidak mempunyai daya untuk menyesatkan sang ahli ilmu karena kedalaman ilmunya.

tonton juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Maka tidak heran jika dalam kitab ta’limul muta’alim ada klaim bahwa ada satu orang yang alim memberatkan setan ketimbang seribu orang ahli ibadah sa’iya berbunyi:

فإن فقيها واحدا متوارعا # أشدعلى الشيطان من ألف عاب

“Sesungguhnya satu orang ‘alim fiqih yang wira’i itu lebih susah menurut setan ketimbang seribu orang ahli ibadah”

Pada akhirnya jika mungkin Anda merasa sedang berada dalam pengaruh jenis setan manapun, maka berhati-hatilah. Karena alih-alih menemukan jalan sukses malah menuju jalan kerugian. Tentunya dengan selalu bersikap waspada serta meminta perlindungan kepada Allah SWT, dari segala trik dan godaan setan.

Na’udzubillahi min dalik.  

Penulis: M. In’amul Aufa

Tipuan dari Sang Iblis Tipuan dari Sang Iblis
Tipuan dari Sang Iblis Tipuan dari Sang Iblis

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Penulis: Khoirul Umam

Penulisan sejarah memiliki akar kuat dalam peradaban Islam. Sejak era sahabat, hadis Nabi Saw, yang merupakan kabar dari masa lalu, telah diseleksi ketat untuk diriwayatkan. Meski hadis-hadis nabi beserta metode kritiknya (ilmu musthalah al-hadis / naqd al-hadis) baru dikodifikasi sekitar abad 2 hijriyah.

Dari embrio ilmu kritik hadis tersebut, kisah-kisah sejarah sepanjang peradaban Islam—bahkan pra-Islam, dibukukan oleh sejarawan Muslim. Fakta historis itu, tak seperti yang diklaim Jabiri bahwa sejarah dengan metode kritik matan (interpretasi sumber sejarah) adalah hal baru yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun. Juga tak sesuai dengan apa yang dikatakan Arkoun yang mengatakan sejarah tak memerlukan rantai sanad, yang urgen hanyalah kritik matan.

Meski kaidah ilmu hadis tak mudah diimplementasikan dalam menyeleksi sumber sejarah, tetapi historiografi (penulisan sejarah) menggunakan metode ilmu hadis bukan berarti tak dapat diupayakan. Mari kita buktikan, apakah ilmu hadis mempengaruhi penulisan sejarah?

Pengaruh penulisan sejarah dalam ilmu hadis

Jika diamati, banyak sumber-sumber tertulis sejarah Islam tak menyantumkan riwayat. Kalau pun ada, tidak dapat dipastikan semua rantai periwayat sejarah itu absah menurut ilmu hadis. Inilah akar masalah yang terjadi jika ingin membenturkan ilmu hadis dalam sejarah.

Tetapi upaya penyelesaian masalah ini dapat dicairkan melalui kaidah ilmu hadis berupa: “hadis dloif tidak boleh digunakan sebagai landasan hukum syariat dan permasalahan akidah, seperti sifat-sifat Allah SWT. Tetapi hadis dloif dapat digunakan untuk fadloilul ‘amal dan kisah.”

Jika hadis Nabi yang dloif legal sebagai referensi sebuah kisah, maka kisah sejarah dengan jalur penyampaian lemah, legal juga untuk dijadikan sumber sejarah. Yang terpenting adalah menjaga jarak, agar hadis dan kisah sejarah yang dloif (lemah) tidak digunakan sebagai sumber sejarah dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat; seperti sejarah Nabi, Khulafau Rasyidin dan para sahabat.

Alasan kisah sejarah yang memiliki sumber lemah tak lagi berarti. Terlebih banyak sejarawan Muslim ternyata bukan ‘manusia suci’ dalam bidang hadis; sebut saja Al-Waqidi, Muhammad bin Ishaq, dan Saif bin Umar. Beliau bertiga bukan tokoh kompatibel dalam urusan hadis, meski ketiganya adalah tokoh sejarawan besar Muslim.

Karena pendekatan kaidah seputar hadis dloif di atas adalah wajar apabila Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan, “Muhammad ibnu Ishaq adalah pemimpin periwayat kisah-kisah perang, meski ia seorang Mudalis (meriwayatkan hadis yang memiliki kelemahan) ,” “Riwayat hadis al-Waqidi ditinggalkan, meski ilmunya begitu luas”, dan “Saif bin Umar lemah dalam hadis, namun karyanya dapat dijadikan pegangan dalam sejarah.”

Yang menguatkan pendapat Ibnu Hajar adalah pujian Ibnu Khaldun akan kepakaran sejarah al-Waqidi dan Ibnu Ishaq. Meski Ibnu Khaldun sendiri tak luput mengkritik beberapa kisah sejarah yang keduanya ceritakan.

Ilmu hadis lain yang dapat dimanfaatkan dalam penulisan sejarah adalah “ilmu jarh wa ta’dil”. Ilmu tersebut bermanfaat untuk menuliskan sejarah seseorang (biografi). Dalam hal ini Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan:

كُلُّ مَنْ ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُ لَا يَقْبَلُ جَرْحُهُ حَتَّى يَتَبَيَّنُ ذَلِكَ عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ جَرْحِهِ

“Setiap tokoh dengan sifat keadilan yang telah paten tidak dapat dianulir tidak memiliki kredibilitas hingga jelas sebuah hal yang tidak memiliki kemungkinan lain kecuali hal itu menghilangkan kredibilitas sang tokoh.”

baca juga: Kitab Mustolahul Hadis Bagi Pemula

Kaidah ini menyerukan untuk hati-hati dalam mengklaim seorang tokoh dalam alur sejarah yang panjang bahwa ia tak baik atau sesat. Klaim sesat dan menyimpang hanya dapat dibenarkan jika memiliki satu kemungkinan: “dia sesat”.

Karena itu, sangat disayangkan belakangan Ibnu Taimiyah dianulir sesat dalam beberapa diskusi ilmiah hanya dengan menukil satu dua sumber dengan tanpa dibandingkan dengan sumber lain serta tanpa diteliti letak kesalahan dan kesesatan beliau.

Terlebih, Ibnu Taimiyah adalah guru dari al-Hafidz ad-Dzahabi, yang baginya, Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid yang dapat benar atau salah. Juga Ibnu Taimiyah sering disebut dalam kitab-kitab Madzhab Hanbali sebagai “Syaikh al-Islam” dan “Syaikh al-Akbar.” []

tonton juga: Filosofi Ngadep dampar KH. Abdul Karim

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam
Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Referensi:

Ibnu Hajar Al-Asqalany, At-Tahdzib Juz 1 hlm. 344, Juz 2 hlm. 194, dan Juz 7 hlm. 273.
Ibnu Hajar Al-Asqalany, At-Thobaqah Al-Mudalisin hlm. 51
Ibnu Kholdun, Muqadimah hlm. 4
Ad-Dzahaby, Siyar ‘Alami Nubala, Juz 5 Hlm. 142
As-Subki, Ta’liqat Muqadimah Ibnu Sholah, hlm.254
Akram Dziyaul Umri, Manhaj kitabah At-Tarikh Al-islamy, hlm. 341

Lika-Liku Hidup Musthafa Shadiq Rafi’i

Lika-liku Hidup Musthafa Shadiq Rafi’i Sastrawan Tak Bersekolah Tinggi, Tuna Rungu, Patriotis, & Melankolis

Penulis: Arif Fahrijal

Musthafa Shadiq Rafi’i lahir di provinsi Qulyubiyah pada 1 juni 1880 M, tetapi ia menghabiskan hidup di Tanta, Mesir. Meski keluarga dan dirinya hidup di Mesir, tapi moyang ayah dan ibu Rafi’i berdarah Suriah, lebih tepatnya dari Halb.

Rafi’i kecil belajar dan menghafal al-Qur’an, serta kalam-kalam ulama. Setelah itu, Rafi’i masuk sekolah dasar dengan umur lebih dari sepuluh tahun, dan ia baru memperoleh ijazah sekolah dasar pada umur 17 tahun. 17 tahun!

Setelah lulus sekolah dasar, Rafi’i terserang demam tifoid, tubuhnya lumpuh, dan perlahan kehilangan pendengaran. Penyakit itu menyebabkan Rafi’i tak bisa melanjutkan jenjang sekolah formal. Celakanya, Pada umur 30 tahun, ia kehilangan pendengarannya secara total.

Belajar di perpustakaan sang ayah

Begitulah kenyataan, Rafi’i hanya lulus sekolah dasar dan itu pun di umur cukup tua. Tetapi, Rafi’i melanjutkan studi pembelajaran dari perpustakaan sang ayah, Syekh At-Tukhi.

Syekh At-Tukhi menjabat sebagai ahli hukum Islam yang bertugas di beberapa provinsi di Mesir. Ayah sang pujangga ini, selain menjadi juru hukum, Syekh At-Tukhi adalah seorang pedagang impor-expor antar Mesir dan Syam.

Dengan perpustakaan yang besar itu, Syekh Tukhi menjaga kultur keluarganya yang baik. Karena sejak dahulu, dalam keluarga yang bersambung nasab dengan khalifah ketiga Umar bin Khatab itu, telah tumbuh ulama-ulama terkemuka pakar Madzhab Hanafi.

Di perpustakaan sang ayah, Mustafa Shadiq Rafi’i belajar banyak hal dan menunjukan ketertarikan yang besar akan sastra Arab. Hingga Rafi’i sampai pada sebuah dunia baru dalam kepenulisan syair dan prosa. Dunia baru itulah yang membesarkan langsung di Mesir, bahkan dunia.

Pendapat sang pujangga tentang sastra

Bagi Rafi’i, jiwa-jiwa yang terilhami juga membutuhkan sastra untuk melebarkan cakrawala penyajian hakikat dunia ini. Karena segala hakikat itu lebih luhur dan lebih dalam dari sekedar dimengerti oleh keyakinan indrawi atau terkungkung dalam alam hampa pikiran semata. Sebab jika Malaikat dibungkus oleh daging dan darah niscaya ia tak lagi Malaikat.

Karena keelokan sastrawi untuk keindahan sebuah hakikat dunia ini adalah melukiskan segala apa yang mungkin sekaligus lukisan itu akan menggugah hati saat menuturkan hakikat dunia untuk umat manusia.

Bukankah untuk binatang yang merumput, arti padang sabana hijau hanyalah sebuah potret pemuas lapar perut? Tetapi menurut umat manusia dan suku-suku di segala penjuru bumi, padang sabana memiliki artian berbeda-beda menurut ragam bunga-bunga yang tumbuh di sana, bahkan terdengar seruan memanggil untuk sebuah keindahan yang terukir di padang sabana itu. Karena perbedaan manusia dan hakikat dunia yang begitu luas, segala hakikat besar di dunia ini –seperti keimanan, cinta, kebaikan, dan kebenaran- akan memerlukan penulisan ulang dari hati dan jiwa yang baru, sepanjang masa. Dan di sanalah sastra bermain. 

Baca juga: Puteri Sastrawan Besar dan Kesombongan Si Arab

Sisi lain Sosok Musthafa Shadiq Rafi’i

Di dunia sastra yang melambungkan nama Musthafa Shadiq Rafi’i, tersimpan rahasia. Rahasia itu adalah istri Rafi’i yang mendukung penuh kegiatan kesastraannya. Dari dukungan itu, lahirlah karya-karya sastra Rafi’i yang luar biasa dengan corak cinta, kerinduan, sekaligus kebencian, seperi Rasail Al-Ahzan, Auradu al-Waraq, Sahabu al-Ahmar dll.

Meski Rafi’I lebih dikenal sebagai seorang sastrawan, Rafi’I juga membuktikan kepakaran di cabang ilmu Islam. Terbukti karyanya berjudul “’Ijazu al-Qur’an” ditulis dari tangan dinginnya. Dalam kitab itu, ia menjelaskan secara jelas bagaimana sejarah al-Qur’an, kodifikasinya, tata cara & macam-macam bacaan dan sebagainya.

Kepakaran akan sastra dan ilmu Islam terlihat sempurna saat Rafi’i menolak pemikiran liberal Toha Husein melalui sebuah kitab bernama “Tahta Rayati al-Qur’an”. Toha Husein yang menyatakan bahwa mukjizat al-Qur’an hanyalah warisan Arab Jahiliyah dan mencoba menolak mukjizat Nabi dibantai dalam kitab itu.

Selain itu, Toha Husein juga keterlaluan menyerang syaikh-syaik al-Azhar dan para ulama, seakan beliau-beliau adalah sekumpulan orang bodoh. Dengan polosnya Toha Husein berceloteh “Perbedaan antara aku dan para syeikh itu adalah aku Muslim sejati yang memahi Islam dengan benar.”

Sebagai bantahan, Musthafa Shodiq Rafi’i menguntai kata yang menohok “Apakah dia (Toha Husein) seorang Muslim sejati sementara ulama-ulama Muslim bukan Muslim sejati. Dan ulama-ulama itu tak memahami Islam dengan becus seperti Toha Husein? Ya, karena ulama-ulama itu tak mengingkari al-Qur’an dan tak pula mengingkari kenabian seperti Toha Husein!”

Tonton juga: Haul & Haflah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadiin

Perlu dipahami, keadaan mesir waktu itu dibakar oleh isu panas pembaharuan Islam yang diusung kaum liberalis. Dan Toha Husein merupakan salah satu pembesar kaum liberal Mesir. Karena kritik Musthafa Shadiq Rafi’i kepada Toha Husein dan pemikiran liberal lain, Musthafa Shadiq Rafi’i diserang balik dengan isu anggapan bahwa Musthafa Shadiq Rafi’i tak mencintai Mesir, tanah airnya sekaligus status kewarga-negaraanya.

Untuk membantah isu tak benar itu, dalam satu kesempatan ia berkata:

و العادات وحدها التي تجعل الوطن شيئاً نفسياً حقيقياً, حتى ليشعر الإنسان لأرضهِ أمومة الأم التي ولدته , و لقومهِ أبوة الأب الذي جاء به إلى الحياة : و ليس يعرف هذا إلا من إغترب عن وطنه و خالط غير قومه , و استوحش من غير عاداته , فهناك يُثبت الوطن نفسَه بعظمةٍ و جبروتٍ كأنه وحده هو الدنيا

“Hanya kebudayaan yang menkristalkan kebangsaan menjadi sebuah perasaan sejati, hingga seorang merasa buminya begitu bersikap keibuan, seorang ibu yang melahirkan dirinya. Ia merasa kaum se-bangsanya bersikap kebapakan, seorang bapak yang menghadirkan dirinya ke kehidupan ini. Perasaan ini tak ‘kan pernah dipahami kecuali oleh ia yang terasing dari bangsanya, bergabung dengan selain kaum se-bangsa, dan merasa resah dengan selain budayanya. Di sanalah, kebangsaan itu menancap di lubuk hati, dengan keagungan dan tak terbantahkan, bahwa seakan-akan hanya dia satu-satunya dunia.”

Musthafa Shadiq Rafi’i menghembuskan nafas terakhir pada 10 Mei 1937 M. Seperti keinginannya, ia meninggal sebelum renta dan tak berdaya di tempat tidur. []