All posts by santri lirboyo

Kisah Pertemuan Khalifah Harun ar-Rosyid dan Para Wali Agung dalam Perjalanan Haji

Dikisahkan, Khalifah Harun ar-Rosyid, seorang Khalifah dinasti Abbasiyyah yang terkenal adil dan bijaksana sedang berada dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan haji sang Khalifah bertepatan dengan tahun 188 Hijriah dan merupakan haji terakhir bagi sang Khalifah dalam hidupnya.

Dalam menyusuri ganasnya padang pasir, bertemulah sang Khalifah Harus ar-Rosyid dengan seorang wali besar bernama Imam Fudhoil bin Iyadh.

“Wahai Khalifah yang terlihat indah wajahnya, engkau nanti akan dimintai tanggung jawab atas umat Islam, takut lah engkau akan hari dimana diceritakan dalam al-Quran

إذ تبرأ الذين اتبعوا من الذين اتبعوا ورأوا العذاب وتقطعت بهم الأسباب

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.”

Maka seketika itu juga, Khalifah Harun ar Rosyid menangis dengan sendunya. Terlihat basah janggut putihnya. Begitu juga dengan Sang Sufi Imam Fudhoil bin Iyadh pun ikut hanyut dalam isak tangis. Setelah beberapa waktu, keduanya pun memutuskan untuk berpisah.

“Seandainya aku diberi kesempatan untuk meraih doa yang mustajabah, niscaya akan kupersembahkan seluruh doaku untuk Khalifah Harun ar-Rosyid”

“Karena dengan baiknya sang Khalifah niscaya akan baik seluruh keadaan rakyat, begitu juga ketika sang Khalifah dan rakyat terjaga kebaikannya niscaya akan tentramlah seluruh hamba Allah dan amanlah negara ini,” ujar Imam Fudhoil bin Iyadh dalam akhir perjumpaannya dengan sang Khalifah.

Setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji. Sampailah waktunya bagi sang Khalifah untuk kembali larut dalam kesibukannya melayani rakyat di ibukota Baghdad. Dalam perjalanan pulangnya dari tanah suci, lewatlah rombongan besar sang Khalifah di Kota Kuffah.

Dikisahkan, di kota tersebut terdapat seorang wali agung yang terkenal aneh (jadzab) bernama Bahlul al-Majnun. Kemudian, bertemulah sang Khalifah dengan Sang Sufi Bahlul al-Majnun.

“Wahai Sufi berilah aku nasihat,” pinta sang Khalifah, Sang Sufi pun menyenandungkan sebuah syair yang sangat menyentuh

هب أن قد ملكت الأرض طرأ

ودان لك العبد فكان ماذا

أليس غدا مصيرك جوف قبر

ويحثو عليك التراب هذا ثم هذا

“Bangun lah, bukankah Engkau telah merajai segenap penjuru bumi,”

“Telah merunduk kepadamu hamba Allah, mengapa hal itu terjadi?”

“Bukankah esok hari, liang lahat adalah tempatmu kembali,”

“Dan akan mengubur jasadmu, debu-debu yang berterbangan ini.”

“Sungguh benar engkau wahai Bahlul, adakah petuah lain untukku?,” ujar sang Khalifah dengan penuh takdzim.

“Wahai pemimpin umat, ingatlah barang siapa yang diberikan Allah harta dan keindahan, kemudian ia menjaga keindahannya dan mengawasi kemana dan darimana hartanya datang, niscaya Allah tuliskan ia dalam catatan orang-orang yang beruntung”.

Khalifah Harun ar Rasyid merasa beruntung diberi nasihat oleh Bahlul, Sang Sufi.

“Terima kasih banyak, sungguh kami ingin melunasi hutangmu dengan hadiah yang kami bawa,” ujar sang Khalifah.

“Tak usah engkau lakukan wahai Amirul Mukminin, kembalikan setiap hak kepada pemiliknya, lunasilah hutang kewajiban dirimu atas apa yang Allah berikan kepadamu,” seru sang Sufi.

“Kami sangat ingin memberikanmu sebagian dari harta yang kami miliki agar engkau merasa senang dengan hadiah tersebut,” rayu sang Khalifah.

“Jangan lakukan hal itu wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt. memberikanmu banyak nikmat dan tak lupa Allah juga memberikan hal yang sama kepadaku, aku telah bersyukur diberikan nikmat hidup oleh Allah, berpalinglah tak ada kebutuhan sedikit pun bagi diriku atas hadiah darimu,” ujar sang Sufi.

“Baiklah, terimalah hadiah seratus dinar dari kami,” bujuk sang Khalifah.

“Kembalikan lah harta tersebut kepada setiap orang yang berhak mendapatkannya, apa yang bisa ku lakukan dengan uang sebesar itu ? Berpaling lah sungguh kau telah meremehkan Dzat yang selalu memberikan ku nikmat” jawab sang Sufi.

Maka berpalinglah sang Khalifah Harun ar-Rasyid dan kini ia mendapatkan pelajaran dari seorang sufi seperti Bahlul al-Majnun yang mampu melepaskan jeratan dunia dari hatinya.

Sungguh cerita yang indah, dimana seorang pemimpin memuliakan dengan hormat seorang Ulama. Begitu juga, sungguh mulia seorang ulama yang begitu mencintai pemimpinnya bahkan mau memberikan nasehat tanpa imbalan sedikit pun.

Dikisahkan juga, Khalifah Harun adalah seorang Khalifah satu-satunya dari dinasti Abbasiyah yang pernah berjalan kaki dari kota Baghdad menuju kota Makkah untuk melakukan ibadah Haji.

Diceritakan pada suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad Saw.

“Wahai Harun, sungguh seluruh keputusan telah menjadi tanggung jawabmu, maka berhajilah dengan berjalan kaki kemudian berperanglah untuk menegakkan agama Allah, berilah kelapangan bagi penduduk Haramain (Makkah dan Madinah).”

Maka atas mimpi tersebut, esoknya Khalifah Harun ar-Rasyid berangkat Haji dengan berjalan kaki. Sang Khalifah mengunjungi satu persatu kota saat menuju kota Makkah. Sang Khalifah tidak singgah di sebuah kota dalam perjalanan hajinya kecuali seluruh penduduk kota akan mengagungkannya berkat keadilan sang Khalifah yang sangat terkenal.[]

______________

Refrensi :

Kitab an Nujum Zahirah

Kitab Tarikh Baghdad

Kitab Bidayah wan Nihayah

Penulis, M. Tholhah Al-Fayyad, mutakhorrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017.

Pesan Tersirat Mbah Moen

Cerita ini dikisahkan sendiri oleh KH. A. Shampton Mashduqi. Sewaktu beliau masih nyantri, Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair almaghfurlah) pernah rawuh (datang) ke Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah beberapa saat berada di pondok, Gus Shampton, panggilan akrab beliau, diperintah oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus untuk menemani Mbah Moen. Ketika menemani beliau itulah terjadi obrolan ringan.

“Cung. Awakmu wes pirang tahun mondok (Bocah, kamu sudah mondok berapa tahun)?” tanya Mbah Moen kepada Gus Shampton. Dijawabnya pertanyaan-pertanyaan Mbah Moen dengan penuh takzim. Sampai akhirnya beliau melempar pertanyaan yang tidak terduga, “Awakmu wes ngerti Guo Selomangleng (Kamu sudah tahu Gua Selomangleng)?” Gus Shampton, yang tidak pernah ke mana-mana, menggelengkan kepala. “Belum pernah, Kiai.”

“Santri kok ga eruh Guo Selomangleng (Santri kok tidak tahu Gua Selomangleng).”

Gus Shampton sejak itu hingga selang beberapa waktu kemudian heran: kenapa beliau bertanya seperti itu?

Ternyata Mbah Moen ingin mengetahui seberapa serius seorang santri belajar dan menghafal pelajaran. Kok bisa? Karena santri yang ingin menghibur diri, berekreasi, itu disebabkan pikirannya yang sumpek, susah, penuh. Otak yang digunakan untuk berpikir terus menerus, pasti akan penat. Jika penat, pasti akan mencari cara untuk mengurangi kepenatannya. Entah dengan menghibur diri, atau rekreasi.

Gus Shampton kemudian sadar: Loh, berarti benar. Saya ini termasuk santri yang tidak serius mondoknya. Jarang belajar. Lah wong saya tidak pernah susah. Tidak pernah penat memikirkan pelajaran.

Santri yang tidak pernah penat pikirannya, jenuh, bosan, justru harus dipertanyakan: seberapa serius ia belajar? Seberapa paham ia akan pelajaran yang diajarkan? Jangan-jangan, mondoknya mudah kerasan karena tidak pernah menyibukkan diri dengan belajar dan hafalan. Naudzubillah. []

___

Cerita ini dikisahkan oleh KH. A. Shampton Mashduqi, Malang, dalam Seminar Jamiyah Nahdliyah Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin (M3HM), Kamis 22 Agustus 2019.

Bijak Bermedia Sosial dalam ASWAJA

Ini adalah era globalisasi. Arus informasi mengalir deras tanpa batas. Menembus ruang-ruang kehidupan tanpa memandang keadaan lingkungan. Tatanan kehidupan mudah dipengaruhi oleh media sosial yang menyampaikan berita secara terus menerus.

Santri adalah orang yang mempunyai tugas untuk memberikan pengaruh baik kepada masyarakat. Tepatnya pada Kamis malam Jumat (22/08) santri Pondok Pesantren Lirboyo memadati Aula Al-Muktamar untuk menyimak seminar yang digelar oleh Jam’iyah Nahdliyah Majelis Musyawaroh Madrasah Hidayatul Mubtadiin (M3HM) dengan tema Bijak Bermedia Sosial dalam ASWAJA. Tutor dalam acara tahunan dari M3HM itu sendiri adalah KH. A Shampton Masduqi dan al-Habib Abdul Rasyid.

Sebelum acara seminar dimulai, para santri yang sudah memadati Aula Al-Muktamar disuguhi video dokumenter, tentang awal mula penyebaran Islam di Nusantara yang dilakukan oleh Wali Songo dengan cara yang ramah, tidak mudah marah-marah yang menyebabkan pecah belah seperti yang dilakukan oleh beberapa akun media sosial saat ini.

Benih-benih perpecahan itu, sumbernya adalah berita-berita bohong yang bersifat bombastis dan mengadu domba yang disebarkan oleh akun-akun, yang sebenarnya hanya ingin mendapatkan banyak uang dan tidak menyadari kerusakan yang ditimbulkan, yaitu perpecahan dan dicurinya Sumber Daya Alam Indonesia. Dengan dua tutor yang sangat kredibel dalam bidang itu, para santri dibekali pengetahuan tentang cara mengidentifikasi berita dan menangkal hoax.

Selain itu, kedua tutor membeberkan dampak dakwah instan yang membentuk pemahaman sempit tentang agama, sehingga menjadikan masyarakat mudah menyalahkan hingga mengkafir-kafirkan sesama muslim. Dari keresahan itu, tutor memberi petunjuk kepada para santri akan peluang-peluang strategis dakwah di media sosial.

Dengan semakin banyaknya para santri yang berdakwah di media sosial, diharapkan akan bisa memberikan pencerahan tentang agama Islam yang mendalam kepada masyarakat, sehingga akan membentuk tatanan kehidupan yang tentram, damai dan sejahtera.

Acara ditutup pukul 1.10 Wib dengan bacaan doa yang dipimpin oleh KH. A. Shampton Masduqie.[]

Khutbah Jumat: Etika Kepada Tetangga

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. (أمَّا بعْدُ)، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allh Swt., dengan berusaha sekuat tenaga melaksanakan melaksankan perintah-perintahNya dan menjauhi apa yang yang dilarang olehNya. Diantara sekian banyak perintah Allah Swt. yang disampaikan melalui lisan mulia Nabi agung Muhammad Saw. adalah hendaknya kita sebagai umat islam selalu berbuat dan bersikap baik kepada tetangga, sebagaimana sabda yang indah dari rasul Saw.:

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بَاللَّه وَالْيَوْمِ الآخٍرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: Barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir (kiamat) maka hendaknya memuliakan tetangganya.(HR.Muttafaqun ‘alaih).

Siapa sajakah yang termasuk kategori tetangga dalam ruang lingkup masyarakat?. Menurut penjelasan dari Hujjatul Islam, al-Ghozali bahwa tetangga kita adalah orang yang tempat tinggalnya berada di sekitar rumah kita, hingga hitungan rumah ke empat puluh di semua penjuru arah dari tempat tinggal kita, baik dari arah depan, belakang, kanan, ataupun kiri.

Hadirin Jama’ah Jum’at rahimahumullah…

Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu manusia selalu membutuhkan adanya interaksi dengan sesama dalam semua aspek kehidupan untuk memenuhi segala kebutuhan yang dapat menunjang kelangsungan hidupnya. Sedangkan yang paling intens terjadi adalah interaksi dengan tetangga, dimana setiap harinya kita bertemu, berkomunikasi, saling membantu dan tolong menolong dengan para tetangga.

Sebagai contoh, di saat kita sakit orang yang pertama kali membesuk adalah tetangga kita, di saat tertimpa musibah orang yang paling awal menghibur dan menolong untuk meringankan beban kita adalah tetangga, dan di saat kita mempunyai kesibukan yang membutuhkan bantuan orang lain maka tetangga kitalah yang menjadi orang pertama membantu kita. Oleh karena itu agama sangat menekankan kepada kita para penganutnya untuk selalu berbuat baik kepada tetangga. Rasul Saw. Pernah bersabda :

مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنًّهُ سَيُوَرِّثُهٌ

Artinya: Tak henti-hentinya malaikat Jibril berpesan kepadaku tentang persoalan (berbuat baik kepada) tetangga, sampai–sampai aku menyangka ia akan memberikan hak waris kepada tetangga (HR.Mutafaqun ‘alaih).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Di samping sangat menekankan kepada kita untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, agama kita juga mengancam dengan memasukan ke dalam api  neraka kepada mereka yang menyakiti tetangganya, walaupun orang tersebut ahli ibadah dan ahli ilmu. Sabda Rasulullah Saw.:

وَقِيْلَ لِرَسُوْلِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَ فُلَانَةً تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ الَّليْلَ وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا. فَقَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ فِي النَّارِ

Artinya: Telah dlaporkan kepada Rosulullah, sesungguhnya si fulanah itu selalu berpuasa di siang hari, dan ia selalu beribadah di malam hari, akan tetapi ia menyakiti tetangganya. Kemudaian Rosulullah Swa. Berkata : Ia masuk neraka. ( HR.Ahamd dan Hakim).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang kami hormati…

Di antara sekian banyak sikap dan tindakan baik yang harus diambil dalam interaksi keseharian kita kepada tetangga adalah mengucapkan salam saat berjumpa, membesuknya di saat ia sakit, menghibur dan meringankan bebannya di saat ia tertimpa musibah, memberi selamat saat ia mendapatkan nikmat, ikut bahagia saat ia berbahagia, memaafkan kesalahannya yang pernah ia lakukan, bertutur kata yang sopan dan halus dengan anggota keluarganya, tidak memperbanyak pertanyaan mengenai kondisi internal keluarganya, tidak melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan rasa tidak suka dan tidak nyaman, dan memberi petunjuk padanya tentang hal-hal yang belum ia ketahui baik dalam permasalahan agama atau permasalahan dunia.

Kemudian bila ternyata tetangga kita berlaku  buruk kepada kita, maka dalam hal ini agama mengajarkan untuk bersabar dalam menghadapinya, karean membalasnya dengan kejelekan akan menimbulkan permusuhan yang lebih fatal dan berkepanjangan. Diceritakn dalam sebuah atsar, seorang laki-laki datang mengadu kepada sahabat Ibnu Mas’ud RA. Ia berkata : “ Sesungguhnya aku memiliki tetangga yang selalu menyakitiku, mencaci maki, dan mempersulit aku,” kemudian  sahabat Ibnu Mas’ud RA. menjawab: “ Pulanglah, sesungguhnya ia (tetanggamu) telah durhaka kepada Allah Swt. karena telah berbuat buruk kepadamu, dan selalu taatlah engkau kepada Allh Swt. (selalu berbuat baiklah)dalam  urusan dengan tetanggamu itu”.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang berbahagia..

Didalam menjalankan sikap di atas, syari’at tidak membeda-bedkn latar  belakang agama yang dianut oleh tetangga kita, walaupun tetangga kita non-muslim, kita harus bersikap dan berbuat baik kepadanya. Sebagaimana sabda Rasul Saw.:

اَلْجِيْرَانُ ثَلَاثَةٌ : جَارٌ لَهُ حَقٌّ وَاحِدٌ وَجَارٌ لَهُ حَقَّانِ وَجَارٌ لَهُ ثَلَاثَةُ حُقُوْقٍ. فَالْجَارُ الَّذِيْ لَهُ ثَلَاثَةُ حُقُوْقٍ اْلْجَارُ الْمُسْلِمُ ذُوْ الرَّحْمَةِ, فَلَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ الْإِسْلَامِ وَحَقُّ الرَّحْمش. وَأَمَّاالَّذِيْ لَهُ حَقَّانَ فَالْجَارُ الْمُسْلِمُ لَهُ حَقُّ الْجِوَاِر وَحَقُّ الْإِسْلَامِ.أَمَّاالَّذِيْ لَهُ حَقُّ وَاحِدٌ فَالْجَارُ الْمُشْرِكُ.

Artinyta: Tetangga itu ada tiga macam, tetangga yang memiliki satu hak, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga yang beragama islam dan masih memiliki hubungan keluarga, maka ia memiliki hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara sesama muslim dan hak sebagai keluarga.Tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga yang beragama islam, ia memiliki hak sebagai tetangga dan hak sebagai saudara sesama muslim. Sedangkan tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga yang non-. Muslim. (HRal-Bazzar dan al-Hasan bin Sufyan).

 أَعُوْذُ بِاللَّه مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ .إِنَّ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوْا إِلَى رَبِّهِمْ أُلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ. باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah kedua

 اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ َفَقَالَ تَعاَلَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ َوَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوٍا وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ  واسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Muhasabah di Akhir Hijriyah

LirboyoNet, Kediri – “Momentum awal tahun ini, mari kita gunakan untuk introspeksi diri, untuk muhasabah. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.” Demikian sepetik mutiara yang disampaikan oleh KH. M. Anwar Iskandar dalam acara akbar, istighosah dan doa awal tahun di Masjid Agung Kota Kediri Rabu kemarin (20/09). Lebih lanjut beliau mengingatkan akan jasa Nahdhatul Ulama dalam membangun harkat dan martabat bangsa ini. Sebab, untuk alasan itu jugalah kenapa Nahdhatul Ulama berdiri. “(Salah satu tujuan NU didirikan) untuk mempertahankan bangsa. Jika dulu, masih dalam era penjajahan, maka untuk mengusir para penjajah,” tandas Gus War.

Istighosah dan doa bersama ini sudah menjadi agenda tahunan. Dan tiap tahunnya, ribuan santri Lirboyo “turun gunung” meramaikan acara ini. Mereka tumpah beserta ribuan jamaah lain yang juga turut hadir dari berbagai wilayah di kota Kediri. Acara yang dihadiri oleh para ulama dan umara (jajaran pemerintah) ini dimulai dengan lantunan khidmat baris demi baris bacaan istighosah. Dipimpin oleh KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Maunah Sari, yang juga Rais Syuriyah PCNU Kota Kediri.

Drs. H. Saifullah Yusuf, selaku wakil gubernur Jawa Timur juga turut andil memberikan sambutan singkat. Beliau mengingatkan para jamaah untuk bisa menangkap esensi dari acara istighosah dan doa bersama yang digelar tiap tahun ini. “Kita kumpul di sini, diajak beristighasah. Dengan kata lain, mari kita jadikan Allah sebagai penolong kita. Kalau sudah Allah yang menolong, barang yang mustahil akan terjadi,” beber tokoh yang akrab disapa Gus Ipul ini.

Acara malam kemarin diakhiri dengan untaian doa akhir tahun yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, selaku Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Setiap insan memiliki harapan yang sama, semoga tahun baru ini menjadi tahun yang lebih baik. Bukan hanya dalam hal materi, tapi yang lebih penting adalah dalam urusan bertambahnya ibadah kepada Sang Pemberi Materi./-