HomeArtikelBidah : Spekulasi dan Sejarahnya di Nusantara

Bidah : Spekulasi dan Sejarahnya di Nusantara

0 3 likes 195 views share

Sejarah hebat perjuangan rakyat pribumi yang tak henti-hentinya terhadap penjajahan, penindasan, dan hegemoni asing tak lepas dari pengaruh kyai, guru tarekat, susuhunan dan santri.  Dengan kekuasaan mereka yang didapat dengan keunggulan pribadi dan kharismatik, tidak dengan kekuasaan yang bersifat birokrasi maupun institusional mampu untuk menggalang kekuatan dan kesadaran rakyat tentang arti nasionalisme. Berbagai perlawanan dan upaya dilakukan untuk menghalau penjajahan.

Bangsa Eropa sanggup menjejakkan kakinya di Nusantara setelah berhasil menguasai Bandar Malaka tepatnya pada tahun 1511 M. Pada saat itulah perlawanan pribumi dimulai yang begitu sangat merepotkan penjajah, sehingga bermacam cara digunakan untuk menjinakkan sikap pribumi agar mau menerima mereka, bahkan dengan cara-cara yang tak beradab sekalipun. Rakyat pribumi tak pernah gentar melawan meski hanya bermodal senjata ala kadarnya dan berbanding jauh dengan senjata lawan.

Bahkan catatan sejarah mengatakan, selama kurun awal abad 19 hingga perempat awal abad 20 tak kurang dari 113 jumlah perlawanan yang dipimpin kyai dan ulama. Mereka –penjajah itu­­­­­- baru bisa menyadari bahwa bagaimanapun usaha yang dilakukan untuk membujuk rakyat pribumi  untuk tidak melakukan perlawanan takkan tercapai selagi  masih ada pengaruh islam dengan kyai, guru tarekat, ajengan, susuhunan dan santrinya kepada masyarakat. Sebab mereka ini mempunyai jargon ampuh yang tak mudah padam hanya dengan dentuman meriam: ‘isy kariman au mut syahidan,  hidup  mulia atau mati syahid.

Salah satu upaya penjajah Belanda kala itu adalah menjauhkan masyarakat dengan agama lewat Trias Politiek yang isinya menyangkut imigrasi, edukasi dan irigasi. Yang paling kentara dalam merubah cara pandang masyarakat pribumi dari tiga poin ini adalah poin edukasi.

Kebijakan edukasi yang digagas penjajah berupaya untuk menyetarakan bidang pendidikan antara pribumi dan kulit putih dengan mendirikan sekolah untuk pribumi, mereka sangat percaya diri dan  digadang-gadang cara ini akan keluar sebagai pemenangnya.

Dari sinilah nilai-nilai, gagasan-gagasan, ide-ide dan norma-norma yang berbau Barat-Sekuler ditularkan kepada anak-anak pribumi muslim. Imbasnya, pribumi muslim didikan sekolah semakin condong kepada penjajah dan lupa jati diri. Berbanding sebaliknya, anak-anak didikan pesantren semakin tersadarkan gairah perjuangan dan nasionalismenya untuk  menghadapi penjajah yang dianggap kafir itu. Terjadilah pertentangan tajam dan frontal antara anak-anak didikan pesantren dan didikan sekolahan kolonial yang mengatakan dirinya sebagai “muslim modern” tersebut.

Namun ternyata banyak juga anak-anak didikan sekolah yang sama sekali tak bisa terperangkap dengan jebakan ini. Mereka malah memanfaatkan kesempatan ini dan menjadikannya sebagai alat perjuangan sehingga nasionalisme mereka tetap tumbuh bahkan semakin terwujud. Seperti Ir. Soekarno, HOS. Tjokroaminoto, Dr Soetomo, Moch Hatta, dan Ki Hadjar Dewantoro.

***

Corak Islam di Nusantara ini merupakan hasil asimilasi, akulturasi, dan sinkretisasi  yang berjalan panjang, berabad lamanya. Yang kemudian tumbuh istilah Islam Nusantara, yakni model islam dan tatanannya yang ada di Nusantara yang berbeda dengan corak islam yang ada di daerah lain.

Christian Snouck, seorang sarjana Belanda mengatakan bahwa muslim pribumi–yang di sini berarti pesantren-tidaklah sepenuhnya dikatakan islam, sebab lelakon peribadatannya tidaklah sesuai tuntunan islam dan terdapat unsur tidak islamnya.

Pendapatnya ini kemudian diikuti dengan membuta oleh muslim didikan sekolah. Mereka menyebut kaum pesantren sebagai muslim tradisional yang hidupnya ditandai dengan adat dan tradisi keagamaan berciri khas lokal yang penuh dengan amalan bidah, khurafat, takhayul. Yang dalam sosio-antropologi disebut Islam Jawa. Dan terbagi menjadi muslim abangan, kiyai dan santri.

Selanjutnya dalam perjalanan muslim didikan sekolah kolonial banyak yang mengabdi pada penjajah dengan menjadi pekerja administrasi dan pekerjaan yang lain, mereka dengan bangga diri menganggap dirinya setara dengan orang kulit putih.

Tuduhan-tuduhan tadi hingga sekarang masih riuh dilayangkan kepada kaum santri, bahkan karena ternyata tuduhan itu yang sama sekali tak menjadikan kaum santri bergeming untuk tetap berpegang teguh dengan laku beragama yang diyakini kebenarannya lama-lama semakin tidak beraturan saja, dari satu tuduhan beralih ke tuduhan lain yang berbeda. Tampak jelas mereka mulai berputus asa. [ABNA]

 

 

 

 

__________

Referensi :

Fatwa Resolusi Jihad, perang Rakyat Semesta di Surabaya, Agus Sunyoto.