Sabar sering kali kita artikan secara sempit sebagai sikap pasrah atau diam saat tertimpa kemalangan. Padahal, dalam cakrawala pemikiran Islam klasik, sabar adalah sebuah kerja aktif yang amat sistematis.
Rasulullah ﷺ dalam sebuah riwayat membagi sabar menjadi tiga bagian:
الصَّبْرُ ثَلَاثَةٌ: صَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ
“Sabar itu ada tiga: sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan.” (Kitab Tanbih al-Ghafilin, Al-Samarqandi)
Melalui mahakarya Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, kita diajak menyelami lebih dalam bagaimana tiga tingkatan sabar ini bekerja dalam psikologi seorang hamba.
Baca juga: Empat Tipe Manusia Menurut Imam al-Ghazali
1. Sabar dalam Ketaatan
Yang pertama adalah sabar dalam menjalankan perintah Allah. Mengapa ketaatan membutuhkan sabar? Imam al-Ghazali menjelaskan sebuah rahasia psikologis yang mendalam.
Para arif (ahli makrifat) bahkan menyebutkan bahwa di dalam setiap jiwa manusia, terdapat benih kesombongan tersembunyi yang pernah secara terang-terangan Firaun tunjukkan saat berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Bedanya, Firaun memiliki panggung dan kekuasaan absolut untuk mewujudkannya. Namun, kita sadari atau tidak, sifat merasa jadi tuhan ini sering kita praktekkan dalam skala kecil: saat kita marah besar dan meledak-ledak ketika pelayan, asisten, atau bawahan kita melakukan sedikit saja kesalahan dalam melayani kita. Kemarahan yang melampaui batas itu adalah bukti adanya ego kesombongan yang terusik.
Oleh karena itu, tunduk dalam ibadah terasa sangat berat bagi nafsu. Hambatan ibadah ini umumnya lahir dari dua penyakit. Pertama, karena malas dan kedua, karena kikir. Maka, konsisten dalam ketaatan adalah sebuah perjuangan keras melawan ego dan kemalasan diri.
Baca juga: Keutamaan Akhlak dalam Islam dan Dalilnya
2. Sabar dari Maksiat
Yang kedua adalah menahan diri dari kemaksiatan—di mana seluruh jenis maksiat, telah Allah rangkum dalam Al-Qur’an sebagai al-fahsya (keji), al-munkar (kemungkaran), dan al-baghyu (kesewenang-wenangan).
Tantangan terberat dalam fase ini adalah maksiat yang sudah menjadi kebiasaan. Bagi Imam al-Ghazali, kebiasaan itu ibarat watak manusia. Ketika syahwat/keinginan bersekutu dengan adat kebiasaan, maka dua pasukan setan ini akan mengeroyok pasukan iman di dalam dada.
Hal ini terasa paling berat pada maksiat yang sangat mudah dilakukan, yaitu maksiat lisan, ghibah (membicarakan aib orang), dusta, berdebat kusir, hingga memuji diri sendiri secara langsung maupun tersirat.
Menjatuhkan kehormatan orang lain atau mengkritik ilmu dan kehidupan para ulama masa lalu, sejatinya adalah kedok untuk memuji diri sendiri. Di sana ada dua syahwat nafsu yang terpenuhi sekaligus: menjatuhkan orang lain dan mengangkat diri sendiri. Di sinilah ego merasa jadi tuhan itu kembali terpuaskan.
Karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, kita sering kali kehilangan rasa sensitif terhadap dosa lisan ini.
Baca juga: Seputar Mendoakan Orang Lain Diam-Diam
3. Sabar Menghadapi Musibah: Puncak Derajat Spiritual
Yang ketiga adalah sabar terhadap hal-hal yang berada di luar kendali dan pilihan manusia. Mulai dari kehilangan orang-orang tercinta, kerugian harta benda, hilangnya nikmat sehat karena penyakit, hingga hilangnya fungsi panca indera atau organ tubuh.
Menghadapi ujian-ujian tak terduga ini dengan rida adalah salah satu kedudukan spiritual tertinggi dalam Islam. Sahabat Ibnu Abbas RA memberikan rincian yang sangat menarik mengenai tingkatan pahala dari ketiga jenis sabar ini di dalam Al-Qur’an: Mengapa sabar menghadapi musibah mendapatkan derajat paling tinggi, bahkan melampaui sabar dari kemaksiatan? Imam al-Ghazali menjelaskan alasannya: menahan diri dari keharaman adalah perkara yang (secara teori) bisa diusahakan dan dipaksakan oleh setiap orang beriman yang memiliki komitmen. Namun, menjaga hati agar tetap teguh, tenang, dan tidak goyah saat badai musibah tiba-tiba menghantam langsung pada detik pertama—tanpa adanya persiapan—adalah sebuah pencapaian jiwa yang hanya mampu diraih oleh hamba-hamba pilihan.
Baca juga: Meneladani Gaya Bicara dan Artikulasi Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari
Kesimpulan
Sabar, dalam pandangan Islam klasik yang diurai oleh Imam al-Ghazali, bukanlah sikap pasif yang lemah. Ia adalah manajemen ego tingkat tinggi. Sabar adalah perisai saat taat, rem saat maksiat menggoda, dan jangkar pelindung saat badai musibah melanda. Ketiganya membentuk keseimbangan utuh agar spiritualitas seorang muslim tidak sekadar menjadi bahan obrolan, melainkan teraplikasikan secara nyata dalam kehidupan.
Referensi:
- Tanbih al-Ghafilin bi Ahadithi Sayyid al-Anbiya wa al-Mursalin, Abu al-Laits nahr bin Muhammad al-Samarqandi (W. 373 H), Damaskus – Beirut, Cet. III, 1421 H / 2000 M, hlm. 263.
- Ihya Ulumuddin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi (W. 505 H), Dar al-Ma’rifah – Beirut, Jilid 4, hlm. 70-72.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





