Tag Archives: perjuangan kemerdekaan

Bidah : Spekulasi dan Sejarahnya di Nusantara

Sejarah hebat perjuangan rakyat pribumi yang tak henti-hentinya terhadap penjajahan, penindasan, dan hegemoni asing tak lepas dari pengaruh kyai, guru tarekat, susuhunan dan santri.  Dengan kekuasaan mereka yang didapat dengan keunggulan pribadi dan kharismatik, tidak dengan kekuasaan yang bersifat birokrasi maupun institusional mampu untuk menggalang kekuatan dan kesadaran rakyat tentang arti nasionalisme. Berbagai perlawanan dan upaya dilakukan untuk menghalau penjajahan.

Bangsa Eropa sanggup menjejakkan kakinya di Nusantara setelah berhasil menguasai Bandar Malaka tepatnya pada tahun 1511 M. Pada saat itulah perlawanan pribumi dimulai yang begitu sangat merepotkan penjajah, sehingga bermacam cara digunakan untuk menjinakkan sikap pribumi agar mau menerima mereka, bahkan dengan cara-cara yang tak beradab sekalipun. Rakyat pribumi tak pernah gentar melawan meski hanya bermodal senjata ala kadarnya dan berbanding jauh dengan senjata lawan.

Bahkan catatan sejarah mengatakan, selama kurun awal abad 19 hingga perempat awal abad 20 tak kurang dari 113 jumlah perlawanan yang dipimpin kyai dan ulama. Mereka –penjajah itu­­­­­- baru bisa menyadari bahwa bagaimanapun usaha yang dilakukan untuk membujuk rakyat pribumi  untuk tidak melakukan perlawanan takkan tercapai selagi  masih ada pengaruh islam dengan kyai, guru tarekat, ajengan, susuhunan dan santrinya kepada masyarakat. Sebab mereka ini mempunyai jargon ampuh yang tak mudah padam hanya dengan dentuman meriam: ‘isy kariman au mut syahidan,  hidup  mulia atau mati syahid.

Salah satu upaya penjajah Belanda kala itu adalah menjauhkan masyarakat dengan agama lewat Trias Politiek yang isinya menyangkut imigrasi, edukasi dan irigasi. Yang paling kentara dalam merubah cara pandang masyarakat pribumi dari tiga poin ini adalah poin edukasi.

Kebijakan edukasi yang digagas penjajah berupaya untuk menyetarakan bidang pendidikan antara pribumi dan kulit putih dengan mendirikan sekolah untuk pribumi, mereka sangat percaya diri dan  digadang-gadang cara ini akan keluar sebagai pemenangnya.

Dari sinilah nilai-nilai, gagasan-gagasan, ide-ide dan norma-norma yang berbau Barat-Sekuler ditularkan kepada anak-anak pribumi muslim. Imbasnya, pribumi muslim didikan sekolah semakin condong kepada penjajah dan lupa jati diri. Berbanding sebaliknya, anak-anak didikan pesantren semakin tersadarkan gairah perjuangan dan nasionalismenya untuk  menghadapi penjajah yang dianggap kafir itu. Terjadilah pertentangan tajam dan frontal antara anak-anak didikan pesantren dan didikan sekolahan kolonial yang mengatakan dirinya sebagai “muslim modern” tersebut.

Namun ternyata banyak juga anak-anak didikan sekolah yang sama sekali tak bisa terperangkap dengan jebakan ini. Mereka malah memanfaatkan kesempatan ini dan menjadikannya sebagai alat perjuangan sehingga nasionalisme mereka tetap tumbuh bahkan semakin terwujud. Seperti Ir. Soekarno, HOS. Tjokroaminoto, Dr Soetomo, Moch Hatta, dan Ki Hadjar Dewantoro.

***

Corak Islam di Nusantara ini merupakan hasil asimilasi, akulturasi, dan sinkretisasi  yang berjalan panjang, berabad lamanya. Yang kemudian tumbuh istilah Islam Nusantara, yakni model islam dan tatanannya yang ada di Nusantara yang berbeda dengan corak islam yang ada di daerah lain.

Christian Snouck, seorang sarjana Belanda mengatakan bahwa muslim pribumi–yang di sini berarti pesantren-tidaklah sepenuhnya dikatakan islam, sebab lelakon peribadatannya tidaklah sesuai tuntunan islam dan terdapat unsur tidak islamnya.

Pendapatnya ini kemudian diikuti dengan membuta oleh muslim didikan sekolah. Mereka menyebut kaum pesantren sebagai muslim tradisional yang hidupnya ditandai dengan adat dan tradisi keagamaan berciri khas lokal yang penuh dengan amalan bidah, khurafat, takhayul. Yang dalam sosio-antropologi disebut Islam Jawa. Dan terbagi menjadi muslim abangan, kiyai dan santri.

Selanjutnya dalam perjalanan muslim didikan sekolah kolonial banyak yang mengabdi pada penjajah dengan menjadi pekerja administrasi dan pekerjaan yang lain, mereka dengan bangga diri menganggap dirinya setara dengan orang kulit putih.

Tuduhan-tuduhan tadi hingga sekarang masih riuh dilayangkan kepada kaum santri, bahkan karena ternyata tuduhan itu yang sama sekali tak menjadikan kaum santri bergeming untuk tetap berpegang teguh dengan laku beragama yang diyakini kebenarannya lama-lama semakin tidak beraturan saja, dari satu tuduhan beralih ke tuduhan lain yang berbeda. Tampak jelas mereka mulai berputus asa. [ABNA]

 

 

 

 

__________

Referensi :

Fatwa Resolusi Jihad, perang Rakyat Semesta di Surabaya, Agus Sunyoto.

 

 

 

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

Pendidikan Islam di Indonesia mengalami krisis dewasa ini. Mental gagah para terdidik muslim dalam mengacuhkan dunia kebendaan dan pasrah dalam penghambaan kepada Tuhan, menjadi rikuh dan gagu di hadapan realitas kemodernan. Konsep-konsep dasar yang diperjuangkan Walisongo lewat langgar, dan para penerusnya lewat pesantren, retak dan hampir tumbang. Modernitas, sebuah wacana mutakhir yang salah satu ujungnya adalah materialisme, tidak dapat diterjemahkan, lalu dipahami dengan baik oleh muslim. Tujuan pendidikan dewasa ini bukan lagi untuk menyemaikan hubungan mesra antara batin dengan sang Khalik, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan duniawi dan materialistik.

Sementara, pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Kedatangan Belanda yang membawa kemajuan teknologi, pada saat yang sama dibenci oleh kaum santri. Karena, di samping membawa manfaat teknologi, mereka menyertakan penghancuran mental muslim Nusantara lewat pembaratan nilai (westernisasi). Nilai-nilai Barat (western) dinilai membahayakan karena banyak tema-tema buruk yang menjadi ujung tombak. Rasionalisme, empirisme, dan materialisme didewakan oleh para intelektual Barat sebagai akar-akar kebahagiaan. Nilai-nilai ini bertolak belakang dengan apa yang sedang diperjuangkan kiai, santri dan pesantren. Iming-iming berupa kekuasaan dan kekayaan material dari Barat membuat pribumi, yang telah sengsara fisik dan batin selama ratusan tahun, mengalihkan pandangan mereka dari pendidikan pesantren menuju sekolah ala Belanda. Dampaknya, kiai, santri dan pesantren yang sebelumnya menjadi kekuatan utama dalam menolak kehadiran penjajah, menjadi usang dan terpinggirkan. Tanggungjawab penanaman nilai moral dan etika yang sebelumnya diemban oleh para kiai, tidak mampu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin lembaga pendidikan baru, yakni para lulusan sekolah Barat.

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Indonesia

Islam, atau Timur—dalam dikotomi Timur-Barat sementara pakar sejarah—pernah memberi pengertian pada “ilmu pengetahuan” secara rinci dan sistematis. Al-Ghazali, dengan berpijak pada pengalaman intelektual dan spiritualnya yang serius lagi panjang, menuliskan pengertian-pengertian itu di beberapa lembar kitab Ihya.

Pertama-tama, ia menyebut perlunya membagi ilmu pengetahuan berdasar pada seberapa penting peran ilmu itu dalam mewujudkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan (al-marghub ilaihi) itu bisa jadi kepingan emas, atau kebutuhan duniawi yang lain. Namun Al-Ghazali kemudian mewanti-wanti umat muslim bahwa ihwal duniawi, yang terindera dan bersifat kebendaan, tidaklah patut untuk dijadikan kebutuhan, lalu dengan masif diperjuangkan[1].

Hanya satu hal bagi Al-Ghazali yang layak untuk benar-benar diperjuangkan: pertemuan dengan dzat Tuhan. Pertemuan ini pada hakikatnya akan muncul dalam rupaan kedamaian sejati (al-sa’adah fi al-akhirah) dan nikmatnya berhadap-hadapan denganNya (ladzat al-nadhri li wajhillah). Pada satu titik inilah segala ilmu pengetahuan harus bermuara. Jika tidak, maka tak akan berarti apa-apa selain sebuah kesia-siaan.

Sementara itu, Prof. Naquib al-Attas memberikan gambaran singkat tentang tujuan ilmu, yang inheren dengan kepentingan adab:

“the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[2]

 

[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 15.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 150-151.

<h2 style=”color: white; background-color: green;”>Bersambung ke <a href=”https://lirboyo.net/westernisasi-dalam-pendidikan-islam-di-indonesia-bag-2/”>Bagian II</a></h2>

 

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Kiai Anwar: Pesantren Tak Pernah Ketinggalan Memperjuangkan Kemerdekaan

“(Lirboyo) ini adalah pusat kegiatan gerilya di Jawa Timur. Jadi, santri-santri Lirboyo tidak lepas, artinya tetap ikut berjuang mempertahankan negara kita Republik Indonesia. Banyak santri-santri yang diberangkatkan ke Surabaya. Malah Mbah Kyai Mahrus (KH. Mahrus ‘Ali) sebagai pimpinan Hizbullah Jawa Timur. Sering beliau berangkat ke Surabaya untuk mengantarkan santri-santri yang berangkat ke sana. Dan seluruh pondok pesantren, kyai-kyai yang ada di Jawa Timur, itu berangkat ke Surabaya untuk memutlakkan (kedaulatan) NKRI, negara Republik Indonesia. Jadi, perjuangan pondok pesantren tidak kecil. Semua kyai, santri pondok pesantren berangkat. Dari pondok-pondok yang kecil, kyainya berangkat semua. Jangan dianggap kita diam saja. Tapi sesudah berjuang (selesai) ya sudah, kyainya kembali ke pondok pesantren, santrinya kembali ke pondok pesantren.  Yang meneruskan (perjuangan) banyak, tapi yang kembali ke pondok pesantren lebih banyak, sebab memiliki tanggung jawab untuk membina masyarakat Indonesia untuk betul-betul menjadi masyarakat yang sempurna hidupnya. Utamanya dalam masalah agama. Ini, jadi perjuangannya, pada waktu berjuang prei (libur) semua.

Malah pernah dulu Mbah Kyai Abdul Karim wiridan di dalam, Belanda di sini (sekitar area masjid) mencari Mbah Kyai Mahrus. Ketemu sebenarnya, tapi tidak tahu. Belanda tidak tahu, sebab Kyai Mahrus di lih (ganti) namanya, Rusydi (nama kecil beliau). Jadi ,tidak tahu, (malah) yang dicari Kyai Mahrus. Tapi sebetulnya, Mbah Kyai Mahrus itu sudah ketemu sendiri dengan  Belanda. Ketemu, betul itu. Tapi ditanya, namanya Rusydi, bukan Mahrus.

Lha, Mbah Kyai (Abdul Karim) itu tidak pernah pulang dari masjid. Terus wiridan sama santri. Sebanyak empat puluh santri, itu yang mengikuti wiridan Mbah Kyai (Abdul Karim). Kalau waktu serangan ke Surabaya itu, menghadapnya ke sana, ke Surabaya. Santri-santri diajak wiridan menghadap ke sana (Surabaya) untuk menghancurkan Belanda.

Alhamdulillah, dengan perjuangannya para kyai, Allah memberikan pertolongan, kita diberikan aman sampai sekarang. Jadi ini sejarah Lirboyo, tidak ketinggalan memperjuangkan Republik Indonesia. Termasuk Haji Syafi’ Sulaiman, itu yang masuk menjadi tentara. Banyak yang menjadi pimpinan tentara. Tapi begitu selesai, ya pulang sendiri-sendiri dan tidak diteruskan. Ini adalah perjuangan, demi untuk kemerdekaan tanah negri kita.

Kemudian peristiwa yang kedua, tahun empat puluh delapan, peristiwa Madiun, waktu itu Mbah Kyai (Abdul Karim) akan dibunuh. Sudah masuk di ndalem situ (ndalem KH. Abdul Karim). Sore itu saya bal-balan (bermain sepak bola) –saya maih kecil, masih umur delapan tahun- bal-balan disitu dengan anak Banyuwangi namanya Mahfudz. Mbah Kyai (Abdul Karim) datang ke pondok membawa lampu, supaya diisi minyaknya. Minyaknya habis. Jam satu malam Mbah Kyai (Abdul Karim) mbengok (berteriak),

Coo! Maling! Iki maling nyowo duduk maling bondo!’ (Coo! Ada maling! Ini maling nyawa bukan maling harta!)

Itu sudah masuk di ndalemnya Mbah Kyai (Abdul Karim). Alhamdulillah selamat Mbah Kyai (Abdul Karim). Itu peristiwa empat delapan.

Kemudaian peristiwa enam lima, enam enam (peristiwa PKI), ini pimpinan dari Lirboyo adalah Mbah Kyai Ma’shum (KH. Abdullah Ma’shum  Jauhari). (Beliau) tidak pernah ketinggalan. Bagian PKI yang jaduk-jaduk (sakti-sakti) itu musuhnya Mbah Ma’shum. (Sungai) Brantas itu dulu mengalirnya bukan air, tapi orang. Kiriman dari Blitar, kiriman dari Tulungagung, sampai di Kediri. Ini memang ada yang jaduk, PKI itu jaduk, dibacok tidak apa-apa. Akhirnya ada menjalin (rotan) dari Mbah Kyai Badrus. Itu (PKI) disabet menjalin Alhamdulillah bisa mati. Mandi menjaline timbang pedange.

Niki sejarah, jadi kita tidak pernah ketinggalan dalam memperjuangkan sejarah Republik Indonesia. Maka sekarang Alhamdulillah diteruskan oleh generasi muda, mudah-mudahan kita akan bisa melanjutkan perjuangan dari sesepuh kita semua. ”

 

(Disarikan dari sambutan KH. M. Anwar Manshur dalam Silaturahim Kirab Resolusi Jihad di serambi Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo, Ahad 16 Oktober 2016 M.)